
SABIT PENCABUT NYAWA kebingungan karena berhadapan dengan senjata yang berasal dari alam nya.
Lagi-lagi wanita yang di bawah pengaruh kekuatan jin itu kabur.
"Dia kabur lagi..!" Rianti mulai kesal main kejar-kejaran.
"Aku sudah menandainya ada kristal es yang menempel di badan mereka. Buka portal..!" Riad bersiap membuka portal dibantu 4 anggota lain, karena dibutuhkan 5 orang untuk membukanya.
"Kenapa bisa bertemu dengan sekelompok orang yang menyusahkan itu, ke mana lagi kita harus sembunyi" wanita pucat ketakutan.
"Jangan takut.. kita bergabung saja di keramaian" Jin menyarankan.
Mereka berpindah ke tengah pasar membawa bakul belanjaan pura-pura membeli bahan untuk memasak.
Wanita pucat membaur di tengah-tengah orang banyak, namun tanpa dia sadari Riad ada di samping membayar belanjaan nya.
"Berapa buk belanjaan istri saya..?" tanya Riad ke pedagang rempah.
"90 ribu aja, suami ibu ganteng sekali ya, suaranya menyejukkan" puji ibu pedagang.
"Dia.." belum sempat wanita berkelit.
"Kami baru menikah buk istri saya masih canggung" Riad mengangkat tangan kanan wanita hingga terlihat cincin kristal indah melingkar di jarinya.
Riad pun menunjukan cincin yang sama di jari kanan nya.
"Wah.. cincin yang indah" ibu pedagang kagum.
Riad menarik wanita itu keluar dari pasar dengan AURA GENGGAMAN PEMBEKU yang mana objek yang terkena hanya bisa mengikuti gerakan orang yang menggenggam tangan nya.
Sesampainya Riad bergabung dengan anggota timnya Rianti langsung menampar wajah wanita itu.
"Kemana jin itu.. dan tamparan tadi karena kau dekat-dekat dengan suami ku" Rianti tak kuasa menahan rasa cemburu.
"Sudah aku duga kalian hanya mengejarnya, carilah dia" wanita berkata dengan santai.
"AURA API KEHIDUPAN..." Jay mengunakan auranya membakar kontrak jiwa yang ada di tubuh wanita itu hingga jin alam kematian datang.
"Bedebah.. kalian.." Jin yang datang marah.
"AURA PERISAI.." Khan dan Khim memasang pembatas berlapis.
"Sekarang kau tak bisa kabur lagi!" Khim mulai kesal.
"AURA PETIR GABUNGAN.." Tim Angin yang memiliki gen elemen bawaan keturunan klan petir mengunakan kekuatan garis keluarga yang sama memisah kan antara jin dan wanita itu.
"Tidakkkkk.. aku tak mau terpisah dari wanita ini.. arkkkk.." bayangan hitam mulai terlepas dari wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu meronta-ronta kesakitan hingga pingsan.
Wanita itu menua menjadi nenek-nenek renta.
Jin yang marah ingin mengeluarkan kekuatan nya namun Tim Angin menggunakan Aura penyegel.
"AURA SEGEL KABUT PETIR.." Tim Angin menjebak jin menjadi gumpalan kabut seperti asap yang menggumpal menyerupai awan kecil yang dialiri kilatan petir.
Mereka segera pulang ke Benteng Nafas Patikaman melewati portal membawa jin yang tersegel dan nenek yang renta itu.
Namun umur nenek itu sudah mencapai batas nya dia menghembuskan nafas terakhir sesampainya di sentral pusat.
"Semoga nenek bisa beristirahat dengan tenang dan diampuni segala dosa-dosanya.." hanya doa yang bisa mereka ucapkan terlepas perbuatan yang dilakuan nya semasa hidup semua dikembalikan lagi pada yang maha kuasa.
Ruang penyegelan sekarang dijaga ketat tak mau hal serupa terulang lagi.
Karena merasa aman hingga sempat lengah beberapa segel yang dicuri entah dibawa ke mana jejak nya sudah hilang.
Di kediaman Ryuhei.
"Dengan segel ini aku akan membuka pengekang jiwa istriku, bersabarlah sayang di malam bulan purnama aku akan membangkitkanmu lagi dan kita akan membalas dendam pada Klan Ninja itu!" Ryuhei mempersiapkan ritual.
"Ryuna aku pulang.." Riad kembali ke rumah nya yang ada di gunung belerang.
"Sayang.." Ryuna memeluk dan mencium suami tampan nya itu.
"Tentu saja mereka baik sekali bahkan terlalu perhatian, aku senang ada mereka di sini jadi aku tidak begitu kesepian" Ryuna berterima kasih.
"Istri aku semakin gendut perut nya besar" Riad mencium perut istrinya yang hamil besar.
"Kamu mau mandi biar aku temenin" Ryuna menawarkan.
"Aku sudah mandi sebelum pulang, kan dari luar banyak terpapar macam-macam aku tak ingin istri sakit gara-gara aku" Riad tersenyum, maid yang melihat kemesraan mereka menahan gejolak hati yang juga ingin diperlakukan seperti itu.
"Makanan sudah siap tuan.." Maid memberitahu.
"Makan dulu sayang, eh Rianti mana ya?" Ryuna baru nyadar.
"Ada beberapa hal yang harus dia urus mungkin malam baru bisa pulang" Riad memberitahu.
Riad harus menetralisir rasa pusing nya dengan cara harus berlama-lama bersama Ryuna, selain karena memang cinta sekali dengan wanita pujaan hati nya itu.
Di tempat lain.
Madi yang membuat rumah di tepian sungai antara wisata lembah dalam dan danau cermin, tepat nya wilayah kekuasaan wanita air.
__ADS_1
Madi dan Sora yang telah menikah merasa bahagia bisa bersama.
"Kamu gak mau ada yang bantu-bantu di rumah?" Madi menawari.
"Gak usah ada wanita lain di sini.. aku bisa segini saja gak ada apa-apanya bagiku" Sora yang memang sudah terbiasa melakukan berbagai hal sendiri.
"Aku membawakan tanaman baru tuh pot nya ada di luar" Madi menyenangkan hobi istrinya.
"Lanjutin masak ya cintaku, aku mau lihat bagus gak yang kamu bawa, kalau bagus aku juga akan kasih kamu yang spesial" sambil tersenyum centil Sora melangkah keluar.
Madi membereskan masakan istri nya yang tinggal disajikan saja ke meja makan.
"Gimana.. kamu suka?" tanya Madi ke istrinya yang menata susunan pot tanaman hias yang ada di halaman depan rumah nya yang berpagar bunga dan dikelilingi pohon bambu.
"Aku suka banget.. peluk.." Sora meminta manja.
Setalah memeluk dan mencium istrinya, Madi mengendong Sora ke ruang makan.
Di gunung belerang tak jauh dari rumah Riad.
"Miyuki.. aku pulang.." Jay mencari istrinya ke setiap sudut ruangan.
Ternyata Miyuki sedang ada di ruang sauna.
"Kamu di sini gak menyambut aku pulang?" Jay bertanya.
"Justru aku tau kamu pulang aku mau mengeluarkan keringat ku, sebelum berkeringat karena mu, mau di sini apa di kolam" Miyuki mengajak.
"Di tepian kolam yang berawal dari sini" Jay melepas rindu dengan istrinya yang galak itu.
Di dalam Benteng Nafas Patikaman.
"Eh.. istriku sudah pulang" ucap Ares yang baru kembali dari tugas itu.
"Iya duluan aku selesainya ketimbang kamu, mau langsung apa gimana?" Khim mengajak suaminya.
"Gaslah.." Ares tersenyum melihat istri cantiknya setelah beberapa hari bersama tim nya yang pada ngebucin.
Masih di lingkungan Nafas Patikaman.
"Sepertinya anak kita perlu seorang adik" Khan berbicara dengan istrinya.
"Dia sering main sama anak-anak yang dalam masa pelatihan di sentral pusat, tapi kasian juga sih.. mau bikin debay mumpung aku dalam masa subur nih?" istri Khan yang jelita siap.
Bersambung...
"Sampai jumpa" 👋
__ADS_1