
Fiona berjalan dengan muka yang sangat kesal, bagaimana tidak uang jajannya yang ada di dompetnya habis semua gara - gara Mak Lampir untung saja sebelumnya ia sudah makan di kantin.
" Emang dasar ya, itu Mak Lampir minta ganti rugi nggak main - main. Kalau nggak dikasi urusannya nanti panjang. Huft." Kata Fiona yang masih memaki - maki Mak Lampir.
Tak Lama iapun baru tersadar.
" Eh. Gue kok bisa sampai kesini ya." Fiona bingung, dia baru tersadar bukannya berjalan ke kelas ia malah ke taman.
" Aduh Fiona. Fiona. Ini semua gara - gara Mak Lampir.!" Setelah mengatakan itu Fiona pun menendang kaleng minuman yang ada didepannya.
Dan
Duk.!
" Aduh.!"
" Tamat sudah riwayatku hari ini." Kata Fiona yang melihat kaleng yang ia tendang tadi mengenai seseorang, dan yang lebih mengejutkan lagi seseorang itu adalah.
Bintang.
__ADS_1
Bintang yang mukanya sudah memerah menahan amarah pun menghampiri orang yang melemparinya kaleng minuman, sehingga mengenai kepalanya. Padahal Bintang lagi duduk menenangkan dirinya di bawah pohon mangga, eh tiba - tiba kaleng minuman terbang mengenai kepalanya.
" Kamu kan, yang melempar kaleng ini." Kata Bintang yang sudah berada di depan Fiona.
" I.. I.. Iyya. Maaf." Jawab Fiona dengan gugup, sambil menggigit bibir bawahnya kuat - kuat sangking gugupnya.
" Tamatlah riwayatku hari ini." Batin Fiona, yang sudah berkeringat dingin. Apalagi ditambah dengan adanya Bintang di dekat Fiona. Sekarang Fiona sudah tidak tau lagi.
Perasaan Fiona sekarang campur aduk, antara senang, dan sedih, senangnya untuk pertama kalinya ia dapat melihat Bintang dari jarak dekat, sedihnya ia khawatir Bintang akan sangat membencinya setelah kejadian ini. Atau yang lebih parahnya Bintang tidak akan mau melihat mukanya setelah ini. Banyak pikiran - pikiran negatif yang berputar di otak Fiona, Misalnya saja Bintang akan membalasnya dengan cara melempar kembali kaleng itu ke kepala Fiona, atau mengadukannya ke guru BK, Dan masih banyak lagi.
" Kenapa kamu melempar kaleng ini.?" Kata Bintang dengan nada dingin khas seorang Bintang.
" Aku disini bukan ditanah.!" Kata Bintang, karena Fiona terus saja menundukkan kepalanya. Lalu Fiona pun mendongakkan kepalanya melihat Bintang.
Kedua Iris berbeda warna itupun bertubrukan.
Deg.!
Deg.!
__ADS_1
Bunyi detak jantung keduanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Kalau Fiona mah jangan ditanya lagi, pasti jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari biasanya, jika ia berpapasan dengan Bintang, atau hanya menatap Bintang dari jauh pun tetap saja jantungnya itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Apalagi sekarang Bintang sudah tepat berada di depan matanya.
Tapi Bintang. Tidak biasanya jantung Bintang berdetak secepat itu, apakah ada masalah dengan jantungnya atau ada hal lain, yang menyebabkan jantung seorang Bintang Adipranata berdetak lebih cepat dari biasanya.
" Kayaknya, gue nggak punya riwayat penyakit jantung deh. Tapi kenapa dengan jantung gue." Batin Bintang bingung.
" Sebagai tanggung jawab lo, karena sudah melempar gue dengan kaleng ini. Mulai sekarang lo harus jadi babu gue." Kata Bintang, yang entah kenapa ia bisa mengatakan kalimat itu. Bintang sendiripun bingung dengan kalimat yang diucapkannya. kenapa, kenapa ia mengatakan kalimat itu.
" Hah. Gu.. gue. Jadi babu." Kata Fiona, dengan bingung sekaligus kaget.
" Hm. Tidak ada kata penolakan." Kata Bintang. Lalu iapun berkata lagi.
" Dan, itu dimulai besok." Katanya, lalu iapun berlalu pergi meninggalkan Fiona di taman itu sendirian. Dengan kondisi Fiona, masih berdiri mematung.
" Apakah gue harus senang, atau sedih." Batin Fiona, yang masih berdiri di taman itu, padahal Bintang sudah meninggalkannya sejak tadi.
To be continue
see you in the next episode 💖💖
__ADS_1