
Langit cerah, berwarna biru. Sepertinya alam pun ikut merasakan lebahagiaan Fiona saat ini. Bagaimana tidak bahagia, saat ini ia bisa sedekat itu dengan sang pujaan hati. Orang yang selama ini ia kagumi diam - diam, ya meskipun sikap Bintang masih sedingin es, tetapi Fiona tetap merasa bahagia bisa naik motor berdua dengan Bintang.
Angin bertiup perlahan, dan membuat rambut Fiona berterbangan, cuaca yang sejuk karena waktu juga baru menunjukkan pukul 09:30 pagi. Jangan ditanya lagi kenapa mereka tidak sekolah, padahalkan waktu menunjukkan masih Jam sekolah. Itu semua karena, saat ini Fiona sedang sakit. Sebelum Fiona pulang ia sudah meminta izin ke Guru di sekolahnya dengan alasan ia sakit, dan Bintang juga ia meminta izin untuk mengantarkan Fiona pulang. Tapi kita nggak tau ya, apakah Si Bintang akan kembali lagi ke sekolah atau tidak.
Kembali lagi, dengan Fiona dan Bintang. Saat ini suasana begitu canggung diantara mereka berdua tidak ada yang berani membuka obrolan terlebih dahulu, baik itu dari Fiona ataupun Bintang. Mereka sama - sama Diam, sepertinya mulut mereka telah diberi lem.
Tiba - tiba
Di tengah perjalanan, motor Bintang tiba - tiba berhenti.
" Turun.!" Perintah Bintang dengan nada dingin khas seorang Bintang Adipranata.
Sedangkan Fiona, perasaannya sudah campur aduk. Banyak pikiran negatif yang ada di otaknya saat ini, ketika Bintang tiba - tiba menghentikan motornya, dan memintanya untuk turun.
Fiona menduga Bintang akan meninggalkan dirinya di tengah jalan, dalam keadaan sakit.
" Nggak mau.!" Tolak Fiona sambil menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mau melakukan apa yang diperintahkan Bintang tadi.
" Turun.!!" Perintah Bintang sekali lagi, tetapi kali ini dengan nada sedikit tinggi.
" Aku nggak mau ditinggal sendiri disini." Cicit Fiona, lengkap dengan gelengan kepalanya.
" Huft. Turun,! gue mau periksa ban motor gue dulu. Kalau nggak gue tinggalin beneran lo disini." Ancam Bintang.
" Owh. Gitu, tapi beneran kan kamu nggak akan ninggalin aku disini.?" Kata Fiona memastikan. Tapi tak dibalas sama sekali oleh Bintang.
__ADS_1
" Ck.Dikacangin." Kata Fiona sambil berdecak kesal karena pertanyaannya tak dijawab oleh Bintang.
Tak lama kemudian setelah Bintang selesai memeriksa ban motornya iapun berkata.
" Bannya bocor." Dua kalimat yang singkat jelas, keluar dari mulut seorang Bintang Adipranata.
" Jadi gimana dong." Keluh Fiona.
Fiona melihat ke kiri dan ke kanan, sambil sesekali mengelap keringat diwajahnya menggunakan tangan. Lalu iapun berkata.
" Disini nggak ada tukang tambal ban ya.?" Tanya Fiona.
" Ada. Di depan." Balas Bintang.
" Jauh nggak.?" Tanya Fiona tetapi tidak dijawab oleh Bintang. Malahan sekarang Bintang sudah mendorong motornya.
" Tunggu.!" Teriak Fiona, sambil mengejar Bintang yang sudah jauh didepan.
" Huft..Capek.!" Kata Fiona setelah ia berada di dekat Bintang.
Tiba - tiba di saat mereka asyik mengobrol, eh tidak - tidak mereka tidak mengobrol, karena cuman Fiona saja lah sendirian yang berbicara, sampai tenggorokannya hampir kering, karena terus berbicara. Ada sekelompok preman yang menghampiri mereka berdua. Jumlah preman itu adalah empat orang.
" Hai cantik." Goda preman pertama ke Fiona sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Ih. Kenapa tuh orang sakit mata kali ya." Batin Fiona dalam hati.
__ADS_1
" Kalian mau apa.?" Tanya Bintang dingin.
" Menurut lo.! Pekerjaan kita biasanya ngapain." Kata Preman kedua yang mukanya sedikit menakutkan. Sambil menaikkan sebelah alisnya.
" Cepat serahin semua barang - barang berharga kalian. Kalau tidak." Ancam Si preman dengan menodongkan pisau ke arah Bintang dan Fiona. Sehingga Fiona sedikit menggeser tubuhnya ke arah Bintang. Lalu iapun memegang jaket Bintang dengan kuat sambil menggigit bibir bawahnya dengan kuat, sangking takutnya.
" Beraninya pakai senjata." Kata Bintang sambil tersenyum miring. dan bersiap - siap untuk bertarung dengan keempat preman itu.
" Kalian bertiga serang dia.!" Perintah preman yang mukanya sedikit menyeramkan dari yang lainnya, dan sepertinya dia adalah ketua dari kelompok preman ini.
Bugh...
Bugh....
Krekk.
Bagitulah bunyi pertarungan antara Bintang dan ketiga preman yang menyerangnya tadi.
Sementara Fiona sekarang ia saat ini sedang berdiri mematung menyaksikan pertarungan antara Bintang dan ketiga preman itu. Namun sebelum Bintang bertarung dengan ketiga preman itu, ia terlebih dahulu meminta Fiona agar sedikit menjauh atau mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Ketika Si ketua kelompok preman tadi menyaksikan ketiga anak buahnya dikalahkan oleh Bintang dengan begitu mudahnya. iapun lalu dengan secepat kilat ia sudah berada di belakang Bintang dan bersiap - siap menancapkan pisaunya di bahu Bintang,
Dan...
To be continue
__ADS_1
see you in the next episode 💖💖