
Disinilah mereka sekarang berada di ruangan yang berwarna kuning dan putih. Ruangan itu tidak terlalu sempit, tetapi tidak juga terlalu luas.
Suasana di ruangan itu cukup mencekam, karena disana sudah ada pak Bimo yang menatap mereka berdua dengan mata yang mengintimidasi. Aura guru itu memang sangat menakutkan jika ia sedang menghadapi anak - anak yang suka membuat masalah di sekolah.
" Kalian berdua.!"
" Kalian nggak kapok - kappa apa membuat masalah. Lihat. ! Buku catatan saya aja sudah penuh dengan nama kalian."
" Kalian suka sekali sih membuat masalah."
" Kalian itu seharusnya menjadi contoh yang baik untuk adik kelas kalian, sekarang bapak mau nanya, kalian bisa nggak menghitung sudah berapa kali kalian masuk ke ruangan bapak.?!"
" Tidak kan." Jawab pak Bimo.
Bintang dan Deon pun hanya memutar bola mata mereka malas ke arah pak Bimo.
" Nih guru kapan nyelesaiin ceramahnya sih." Gerutu Deon dalam hati.
" Bosan, Pak Bimo makan apa sih, kok bisa - bisanya ia nyerocos dari tadi nggak berhenti - berhenti sih. Nggak capek apa." Bintang berucap dalam hati.
Mereka berdua hanya duduk menyaksikan ceramah panjang pak Bimo. Sedangkan Pak Bimo masih dengan ceramah panjang lebarnya itu, entah kapan ia akan berhenti.
" Bisa diam nggak sih pak.! Berisik tau nggak, sakit nih telinga saya." Kata Deon yang sudah bosan mendengar Pak Bimo.
" Kamu ya. Dinasehatin malah begitu respon kamu. Harusnya kamu itu bersyukur. Saya ini nasehatin kamu demi kebaikan kamu sendiri dan itu juga sebagai tanda saya itu menyayangi kalian berdua." Kata Pak Bimo panjang kali lebar. Nah kan mulai lagi kan ceramahnya, bukannya berhenti malah makin ditambahin.
__ADS_1
" Nan-"
" Stop.!" Belum sempat Pak Bimo menyelesaikan ucapannya Deon pun langsung memotongnya. Benar - benar murid nggak ada akhlak.
" Sekarang bapak kasi tau aja hukuman kita berdua."
" Tapi bapak berakin hukuman Bintang pak, karena ia yang mulai duluan." Lanjut Deon.
Bintang pun lantas menegakkan tubuhnya setelah mendengar perkataan Deon, ia tidak terima.
" Nggak bisa gitu dong." Protes Bintang tak terima.
" Kan lo yang mulai duluan, jadi otomatis hukuman lo harus lebih berat dari gue."
" Ng -"
" Disini bapak ya yang berhak mengambil keputusan." Kata pak Bimo.
" Baiklah karena kalian sudah membuat kesalahan." Jeda pak Bimo sambil berpikir.
" Sepulang sekolah kalian harus membersihkan wc di sekolahan ini." Putus pak Bimo.
" Hah.!" Deon dan Bintang bersamaan.
" Kok gitu sih pak. Pak di wc bau pak. Iyuh.. " Protes Deon.
__ADS_1
" Pokoknya keputusan bapak sudah bulat.!"
" Nggak ada yang boleh protes."
" Masalah bau tidaknya itu adalah konsekuensi yang harus kalian tanggung siapa suruh kalian buat ulah."
Bintang dan Deon pun hanya pasrah dengan keputusan pak Bimo si guru BK. Karena mereka mau protes pun tak berguna sampai mulut mereka berbusa pun pak Bimo tak akan mengubah keputusannya. Malahan mungkin saja hukuman mereka akan ditambah.
......................
Di dalam kelas XI MIPA 2
Fiona pun terus melihat Jam yang melingkar di tangannya ia tidak sabar menunggu pulang sekolah, karena ia ada janji dengan seseorang. Iapun senyum - senyum sendiri di tempatnya.
Kebetulan guru tidak masuk ke kelasnya. Naura yang melihat Fiona senyum - senyum sendiri pun menegurnya.
" Fi. Lo nggak kesambet kan." Kata Naura.
" Hah.?"
" Habisnya kamu senyum - senyum sendiri aku pikir kamu kesambet."
" Enggak kok." Kata Fiona malu, pasalnya ia kepergok senyum - senyum sendiri oleh temannya. Bahkan disangka ia lagi kesambet.
To be continue
__ADS_1
see you in the next episode 💖💖