Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 10 : Sleeping Beauty


__ADS_3

Abhlesh berjalan menyusuri koridor Leviathan. Pria itu terlihat sangat lelah, dia telah melakukan banyak hal dan menghadapi manusia paling melelahkan dalam hidupnya. Kini pria itu berada di hadapan pintu sebuah ruangan.


Nana yang seharusnya berada di dekatnya harus melakukan sesuatu atas permintaannya. Kini pria itu terduduk di sofa yang membelakangi ranjang miliknya. Di dalam pikirannya segala hal berputar, dia berpikir tentang kelangsungan Arcadian dan apa yang akan dilakukan setelahnya.


Segala hal itu membuatnya menghela napas panjang. Dia berdiri dan mengambil sesuatu yang bisa melepas dahaganya di dalam lemari yang terletak di dekatnya. Sebotol wine menjadi pilihannya untuk melepas segala rasa penatnya.


Abhlesh mengambil gelas wine yang tersusun rapi di atas meja kecil di sampingnya. Dia mendinginkan wine itu dengan Mana miliknya dan menuangkan wine itu di gelasnya. Embun dari wine dingin menjejak di gelasnya.


Pria itu benar-benar menikmati waktu santainya. Dia menyandarkan tubuhnya dan sekali lagi menghela napas panjang untuk melepas lelahnya. Segelas wine dingin yang menemaninya seakan membawanya bebas sejenak dari segalanya. Namun sesuatu tiba-tiba membuat dirinya siaga.


Mata biru itu mencari sesuatu yang berada di kamarnya. Sebuah suara yang berasal dari suatu tempat di kamarnya. Suara itu seakan terdengar begitu dekat darinya dan ketika dia menoleh kebelakang, matanya seketika terbelalak. Seorang gadis yang seharusnya tidak berada di ruangan itu, kini tertidur pulas di hadapannya.


Wajah gadis itu begitu tenang dan jejak air mata terlihat di wajah indahnya. Gadis itu seakan menghabiskan seluruh tenaganya untuk menangis dan terlelap di atas ranjang Abhlesh. Abhlesh kembali menghela nafas melihat keadaan gadis itu, dia sebenarnya ingin membangunkan gadis itu. Tetapi ketika melihat wajah itu, Abhlesh hanya tersenyum dan berjalan ke arahnya.



Satu hal yang membuat Abhlesh sedikit kaget. Gadis itu memiliki daun telinga yang berbeda dari manusia pada umumnya. Daun telinga gadis itu mengingatkan Abhlesh pada kisah tentang Raja Arcadian. Seorang Raja yang memiliki Ratu dari ras Elf.


Raja Alfred Arcadia, adalah raja yang memerintah sebelum Luxius. Kematiannya yang aneh, serta ratunya yang menghilang membuat kisahnya menjadi terkenal. Abhlesh teringat akan kisah itu ketika melihat wajah cantik Aurora, serta sifat Aurora yang berbeda dari Luxius serta keturunannya.


Abhlesh semakin penasaran dengan gadis ini. Apa yang dia sembunyikan dan apa yang membuatnya melakukan hal itu. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benak Abhlesh. Mata birunya memandang gadis itu dengan serius, dan wajah gadis itu terlihat tenang.


Abhlesh tersenyum dan memilih untuk menarik selimutnya agar menutupi tubuh gadis itu. berada satu ruangan dengan seorang putri yang bisa saja keturunan Elf jelas membuat jiwa Abhlesh bergetar. Tetapi pria itu memilih bertahan sebagai Gentleman dan menyelimutinya.


Abhlesh kembali duduk di bangku itu dan kini dirinya memutar posisi duduknya. Abhlesh kini menatap gadis itu dan penasaran akan reaksinya. Reaksi ketika melihat seorang Pangeran yang hampir mengambil nyawanya duduk tepat di hadapannya ketika kali pertama dia membuka kelopak matanya.


Abhlesh menuangkan wine di gelasnya dan merapikan pakaiannya. wajah gadis itu sama sekali tidak berubah dan tetap tenang dalam tidurnya. Hingga ekspresi gadis itu berubah, gadis itu seakan mengalami mimpi buruk dan air mata kembali mengalir di pipinya. Abhlesh bergegas mendekatinya dan mengusap lembut pipi gadis itu.


"Hey, kamu baik-baik saja?"


Apa yang Abhlesh lakukan membuat mata gadis itu terbuka dengan cepat. Mata biru Abhlesh yang seperti kristal terkunci dengan bola mata biru muda yang berkilauan layaknya ada jutaan bintang di dalamnya. Gadis itu reflek mendorongnya dan mundur serta menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"A-ap-ap-apa yang kau lakukan, umm!"


"Ssst! kau bisa menarik perhatian semua orang."


Abhlesh yang termundur beberapa langkah langsung bergerak cepat untuk menutup mulut gadis itu. Mata birunya menatap gadis itu dengan serius. Sementara gadis itu hanya bisa mengangguk dan matanya berkaca-kaca.


"Jangan berteriak, ok?"


Gadis itu kembali mengangguk dan Abhlesh perlahan menjauhkan telapak tangannya dari bibir gadis itu. Wajah mereka kembali berdekatan, Abhlesh merasakan detak jantung gadis itu yang seperti orang sedang berlari. Pandangan mereka kembali terkunci dan Abhlesh perlahan menjauhinya.


"Maaf aku mengganggu tidurmu."


Abhlesh berjalan menuju lemari minuman dan mengambilkan segelas air untuk gadis itu. Pria itu sebenarnya menahan jiwanya yang memberontak dan memilih untuk mengalihkan semuanya. Sementara Aurora, gadis itu benar-benar kaget dan memeriksa segala pakaiannya dan bernapas lega ketika tidak satupun yang lengket di tubuhnya berkurang.


Aurora memandang Abhlesh yang membelakanginya. Wajah gadis itu memerah mengingat apa yang baru saja terjadi. Dia baru saja mendorong seorang pangeran dan hal itu membuatnya sedikit takut. Tetapi dia lega ketika pangeran itu mengucap kata maaf padanya. Setidaknya hal itu menjadi indikasi bahwa pangeran itu tidak akan menghukumnya.


Kini Pangeran itu berdiri di hadapannya yang hanya tertunduk di tepi ranjang. Abhlesh menyodorkan gelas berisi air pada Aurora, gadis itu menyambutnya dan hanya tertunduk di bawah pandangan Abhlesh. Aurora masih malu dengan apa yang ia lakukan dan wajahnya memerah karena tadi Abhlesh tiba-tiba menutup mulutnya.


"Bagaimana keadaanmu?"


Abhlesh melempar pertanyaan itu untuk memecah keheningan di antara mereka.


"Ha-hamba baik-baik saja Yang Mulia."


Abhlesh menghela napasnya ketika mendengar jawaban gugup dari Aurora.


"Apa kau takut padaku?"


Gadis itu terlihat panik dan perlahan berusaha melirik Abhlesh. Mata biru Abhlesh yang seakan danau es memandangnya dingin. Aurora kembali menundukkan pandangannya dan mengangguk lemah.


"Kenapa?"

__ADS_1


Kata itu seakan hukuman mati bagi gadis itu. Pikirannya berkecamuk dan berputar untuk mencari jawaban yang tepat. Dalam hatinya dia menyesal karena mengangguk membalas pertanyaan tadi. Sesekali dia kembali melirik Abhlesh dan melakukan hal yang sama ketika pandangan mereka bertemu.


"A-apa Anda akan ... m-membawa saya menuju Kaspian?"


Abhlesh tidak menjawab pertanyaan itu dan berjalan menuju jendela yang berada di ruangan itu. Aurora mengikuti langkah Pangeran itu dengan matanya. Ketika Abhlesh membuka tirai itu, Aurora melihat gumpalan awan dan seekor burung yang terbang di luar kaca itu. Abhlesh mengisyaratkan agar gadis itu melihat sendiri melalui jendela yang ada di hadapannya.


Aurora sedikit ragu dan tubuhnya seakan terpaku di tempat itu. Abhlesh yang melihatnya menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya hari ini.


"Kamu mau berjalan ke sini atau digendong?"


Mendengar kalimat itu, Aurora menggeleng dengan wajah memerah dan berjalan perlahan menuju pria itu. Wajahnya masih tertunduk dan Abhlesh melihat itu sebagai sesuatu yang menarik baginya. Seorang putri yang terlihat begitu malu-malu di hadapannya membuat pria itu sedikit tertarik dengannya.


Aurora memandang melewati jendela itu. pandangannya di sambut lautan awan yang berkumpul sangat indah. Ketika dia melihat ke bawah, matanya terkunci pada sebuah danau dengan bangunan yang ada di atasnya. Serta sebuah kota yang sangat besar menjadi hal yang membuatnya terperangah.



"Selamat datang di Kaspian."


*********


Wahahahaha jiwa lelakinya meronta hahaha


FYI ras Elf itu terkenal akan kecantikan mereka, makanya si Abhlesh matian2 nahan jiwa lelakinya yang berkobar 😂


Tapi tenaaaaangggg Abhlesh itu True Gentleman 😎, scene yang kalian harapkan tidak akan terjadi bahahahhaa


Semua visual adalah milik ownernya, FFXII dan WLOP.


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa Rate 5, Vote, like dan komen jika kalian suka dengan cerita ini 😌


Sampai jumpa di next chapter, Sampai Bye2 👋😘

__ADS_1


__ADS_2