Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 35 : King and Queen


__ADS_3

Abhlesh kini menghabiskan waktunya di ruangan kerja miliknya. Segala permasalahan Kaspian dengan Teokrasi membuat dirinya menghela napas panjang. Ditambah federasi yang sepertinya menjadi pion bagi Gaia.


"Apa Aurora dijadwalkan kembali hari ini?"


Pertanyaan itu sudah Abhlesh ulang beberapa kali sejak dirinya mendapat kabar itu. Tingkat kemampuan Aurora yang tinggi membuatnya dengan mudah menjalani segala pelatihan Madam Perceval. Bahkan Elizabeth sendiri yang memberikan pelatih untuk Aurora dan gadis itu melewatinya dengan baik.


"Bagaimana dengan Igrit dan Ashe?"


Kali ini Abhlesh menoleh pada Claude yang ikut membantunya dalam pekerjaan. Pria itu hanya menghela napas ketika Abhlesh membawa nama Ashe.


"Mereka berdua cukup merepotkan dan sepertinya akan kembali bersama Aurora."


Claude menyandarkan tubuhnya di sofa dan kembali menghela napas panjang.


"Apa Ashe kembali membuat ulah?"


Abhlesh tersenyum getir ketika melihat ekspresi lelah Claude.


"Bukan hanya masalah, dia bahkan membuat kediaman Perceval heboh. Si gila itu mengejar Leo dan ... seharusnya Anda tau kelanjutannya."


Abhlesh menahan tawanya mendengar berita itu. Sepertinya medan perang sudah membuatnya terlalu serius hingga berita tentang Ashe dan Leo dia lupakan.


"Apa Leo baik-baik saja?"


Claude hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun tangannya kembali terhenti dan menoleh pada Abhlesh.


"Semalam Hektor dan Emerson menemukan sesuatu di Teokrasi. Kurasa itu adalah hal yang Anda cari Pangeran."


Berita yang Claude sampaikan membuat Abhlesh terdiam. Seharusnya dia masih berada di Teokrasi saat ini, namun masalahnya dengan Gaia membuat Mana miliknya tidak stabil.


"Perintahkan mereka untuk mengawal benda itu. Kau tahu yang kita hadapi kali ini jauh lebih besar dari Federasi."


Claude mengangguk dan menghela napasnya. Pekerjaan yang seharusnya ringan kini kembali rumit karena masalah Kaspian dengan Gaia.


"Apa Anda yakin akan melawan makhluk itu Pangeran?"


Abhlesh menundukkan kepalanya, jauh di dalam dirinya jelas tidak ingin membawa Kaspian dalam bahaya. Namun Dewa gila itu jelas tidak akan membiarkan Kaspian begitu saja. Perang besar dan segala gejolak di daratan utama pasti lambat laun akan mempengaruhi Kaspian.


"Apa kau yakin Kaspian akan terhindar dari gejolak perang?"


Nada bicara Abhlesh yang berbeda membuat Claude diam. Dirinya menyetujui apa yang Abhlesh katakan, terlebih Kaspian memang memiliki kekuatan yang berbeda.

__ADS_1


"Maaf, kurasa kita memang tidak punya pilihan lain."


Claude tertunduk, dirinya menahan kesal dan amarah yang dia tujukan pada Gaia. Dewa itu terlalu gila untuk sesuatu yang disebut Dewa.


"Tugasmu hanya mempersiapkan segalanya. Aku orang bertanggung jawab atas apapun yang kalian lakukan. Bahkan jika harus menjual jiwaku pada iblis sekalipun."


Kalimat Abhlesh membuat Claude dan Nana termenung. Pangeran yang di hadapan mereka sudah terlalu banyak mengorbankan dirinya untuk Kaspian. Terlebih masalah kutukan yang dia derita menambah daftar mengerikan di buku takdirnya.


"Aku tidak ingin mendengar perdebatan dalam masalah ini. Segala hal tentang Gaia harus dirahasiakan, kalian adalah orang-orang yang aku percaya. Akan kupastikan Gaia menerima semuanya."


Abhlesh berdiri dan beranjak keluar dari ruangan kerjanya. Meninggalkan Claude yang tertunduk karena merasa bersalah.


"Satu hal lagi. Kudengar Aurora mengetahui sesuatu tentang masalah ini. Kuharap kau bisa mengatasinya Claude."


"Permintaan Anda saya terima Yang Mulia."


Kali ini Abhlesh benar-benar meninggalkan ruangan itu dan bergerak menuju pelabuhan Airship.


Sementara itu di kediaman Perceval, Aurora tengah bersiap untuk berangkat kembali menuju ibu kota Kaspian. Meski dirinya masih diselimuti berbagai pertanyaan, namun dirinya hanya bisa menghela napas. Segala informasi tentang jiwa yang Lignum katakan seolah menghilang. Bahkan satu-satunya sumber informasi yang dia harapkan kini sudah menghilang.


"Apa kamu siap Aurora?"


Suara Elizabeth memecah lamunan Aurora. Dirinya menoleh pada Elizabeth yang tersenyum dengan wajah cantik abadinya.


Elizabeth mendekati Aurora dan menyentuh hidung gadis itu.


"Igrit memiliki alasan untuk itu semua Dear. Percaya padanya, pria itu jauh lebih peduli tentang masalah ini dari pada apa yang kamu pikirkan."


Aurora sekali lagi menghela napasnya dan berusaha tersenyum. Apa yang Elizabeth katakan ada benarnya. Seharusnya Aurora hanya fokus pada tujuannya menjadi seorang Ratu.


"Yakinkan dirimu Aurora. Fokus hanya pada tujuanmu sebelum datang ketempat ini. Kurasa menjadi ratu bukan hal yang sulit bagimu kini."


Aurora tersenyum mendengar ucapan Elizabeth. Kini langkahnya harus pasti dan kuat. Tidak lagi ada keraguan dalam hatinya, segala hal tentang etika, norma dan segala hal yang dia pelajari di Perceval menjadi pegangan bagi Aurora.


Kini dirinya mantap untuk menemui Abhlesh dan membantunya. Meski pengalamannya belum sebanyak Elizabeth, namun ajaran wanita itu sudah mendarah daging baginya.


"Baiklah Madam, kurasa Anda benar."


Elizabeth tersenyum mendengar kalimat Aurora. Mereka berdua memasuki Airship dan menuju ibu kota Kaspian. Perjalanan yang bisa memakan waktu berhari-hari kini dapat ditempuh hanya dalam beberapa jam.


Ketika Ibu kota Kaspian sudah berada di depan mata, Aurora merasakan kerinduannya semakin memuncak. Bahkan ketika Airship baru berhenti, Aurora sudah bergerak menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Selamat datang Aurora."


Senyum Abhlesh adalah hal pertama yang menyambutnya. Wajah tampan yang Aurora rindukan kini berada di hadapannya.


"Lama tidak berjumpa Pangeran."


Aurora tersenyum, tata krama yang dia pelajari menahan langkahnya untuk berlari ke arah Abhlesh.


"Kamu terlihat semakin cantik Aurora."


Aurora tertunduk, tatapan Ablesh membuat wajahnya memerah. Rasa rindu dan segala hal tentang Abhlesh kini sudah memuncak. Dirinya tidak menjawab kalimat Abhlesh dan berjalan ke arah sang Pangeran.


"Apa kamu merindukanku?"


kalimat Abhlesh dibalas anggukan Aurora. Tempat ini terlalu ramai bagi mereka untuk bermesraan dan ditambah Elizabeth yang juga berada di sana.


"Kuharap kalian berdua masih mengingat tentang norma dan etika bangsawan, Pangeran dan Putri Kaspian."


Kalimat Elizabeth membuat Abhlesh tertawa kecil dan menyambutnya.


"Maafkan aku ibu, kurasa kecantikanmu kini sudah tersaingi oleh Aurora."


Elizabeth mendekat ke arah Abhlesh. Tidak ada satupun yang protes dengan tingkah Elizabeth karena memang dirinya termasuk orang yang paling berpengaruh di Kaspian. Serta fakta bahwa Abhlesh adalah cucunya menambah alasan orang-orang untuk menutup mata dengan perlakuannya terhadap Abhlesh.


"Mulut nakalmu selalu membuatku khawatir. Membandingkan kecantikan seorang wanita itu adalah hal yang tabu. Kau harus tahu itu."


Elizabeth membawa Aurora pergi bersamanya dan meninggalkan Abhlesh. Pria itu hanya menggeleng dan mengikuti langkah mereka dari belakang. Namun langkah Abhlesh terhenti ketika Igrit berdiri di sampingnya. Alasan Elizabeth membawa Aurora karena Igrit ingin berbicara dengannya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"


Abhlesh menoleh pada Igrit dan pria itu mengangguk.


"Gaia membawa Aurora dalam masalah ini. Kurasa bintang hitam memang jalan satu-satunya untuk menurunkan Gaia dari tahta miliknya."


Abhlesh menatap wajah Igrit dengan serius. Bola mata pria itu sudah berubah dan sepertinya Igrit sadar bahwa Abhlesh sudah menemukan salah satu dari dua bintang hitam.


"Kuharap keputusan generasi ini adalah hal yang tepat. Aku akan membantumu, meski harus kembali mengulang sejarah."


Mereka berdua pergi ke tempat yang berbeda. Meski kerinduan Abhlesh pada Aurora belum terobati, masalah ini adalah prioritasnya. Karena itu dia menyerahkan Aurora pada Elizabeth yang mengerti segalanya. Semoga langkahnya kali ini membawa dirinya keluar dari semua kegilaan ini.


***********

__ADS_1


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa rate 5, vote, like dan komen yang banyak ya 😌 dukungan adalah cara untuk membuat cerita ini terus berlanjut 😌


Sampai jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋🤩


__ADS_2