Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 4 : King Chamber


__ADS_3

Abhlesh terbangun dengan rasa letih yang benar-benar merasuki tubuhnya. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang merupakan pelayannya sejak kecil. Seorang wanita yang terlihat membereskan sesuatu di atas meja kecil di sampingnya.


"Janet? di mana ... ugh"


Abhlesh yang baru saja sadar dan memaksa bangkit harus merasakan rasa sakit di kepalanya. Janet yang duduk di samping Abhlesh sontak melihat ke arah sang Pangeran yang terbaring lemah di ranjangnya. Tanpa aba-aba Janet mendekat dan membantu Abhlesh.


"Nana! panggil Dokter segera!"


Nana yang juga berada di ruangan itu bergegas berlari keluar dan memanggil Dokter Istana. Sementara Abhlesh berusaha untuk duduk tetapi tubuhnya masih sangat lemah. Hal itulah yang membuat Janet membantunya agar bisa duduk.


"Apa yang terjadi dengan upacara pemakamannya Janet?"


Abhlesh masih mengumpulkan tenaganya dan hal pertama yang ia tanyakan adalah upacara kematian Ayahnya. Janet memberikan sebuah minuman hangat yang telah diracik oleh Dokter istana. Minuman itu merupakan pesan dari Dokter agar segera diminum jika sang Pangeran terbangun.


"Prosesi pemakaman berjalan lancar Yang Mulia dan Yang Mulia kehilangan kesadaran tepat setelah semua ritual pentingnya selesai"


Abhlesh menundukkan pandangannya dan memberikan cangkir itu pada Janet.


"Aku bertemu dengan ibuku Janet."


Janet yang mendengar kalimat itu begitu kaget hingga menumpahkan sisa air yang berada di cangkir itu.


"Ma ... maksud anda Yang Mulia?"


Janet seakan takut hal yang Raja Alexander alami akan terulang pada Pangeran yang ia hormati. Abhlesh hanya tertunduk dan butiran air mata mengalir di wajah tampannya. Janet yang memang sudah bersama Abhlesh sejak dia masih bayi reflek memeluknya. Entah sejak kapan air mata wanita itu ikut mengalir seakan mengikuti suasana hati Abhlesh yang bersedih.


Pelayan wanita lainnya hanya menundukkan kepala mereka. Beberapa dari mereka bahkan tidak sanggup dan mulai ikut membuat ruangan itu banjir dengan air mata. Sementara Abhlesh tertawa kecil dalam pelukan Janet.


"Aku berhasil mengatakannya Janet, aku berhasil menyampaikan rindu ini padanya"


Abhlesh mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Janet yang masih memeluknya. Abhlesh mengusap punggung Janet dan memintanya melepaskan pelukan karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Abhlesh mengusap air mata Janet dan kali ini gilirannya yang menenangkan Janet, seorang pria seperti Abhlesh jelas tidak tega melihat orang yang paling dekat dengannya menangis di hadapannya.


"Tenang Mom, aku tidak akan jatuh dalam lubang yang sama dengan Ayahku"


Abhlesh memang sejak kecil kehilangan ibunya dan Janet yang berjasa merawatnya. Hingga tiba di mana Abhlesh memanggilnya dengan sebutan 'Mom'. Awalnya Janet kaget ketika mendengar Abhlesh kecil yang memanggilnya dengan sebutan 'Mom', tetapi karena Janet yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri hal itu membuat dirinya semakin menyayangi Abhlesh.


Janet hanya bisa tertunduk dan kini Abhlesh tersenyum padanya dengan wajah yang tampannya itu. Bagi Janet wajah itu seakan wajah anaknya sendiri yang masih membutuhkan sosok seorang ibu. Abhlesh membuka selimutnya dan duduk di tepi ranjang miliknya.


"Janet, bisakah kau bawakan padaku baju ganti? semua ini membuat tubuh ku gerah"


Abhlesh sengaja mengalihkan perhatian Janet padanya agar wanita itu tidak tenggelam dalam kesedihnya. Janet yang sadar akan hal itu bergegas meminta pelayan lainnya untuk menyiapkan semua kebutuhan. Agar dirinya bisa membantu Abhlesh membersihkan keringat yang menempel di tubuhnya.


Janet berbeda dengan pelayan wanita lainnya yang mungkin akan mimisan dengan tubuh sempurna Abhlesh. Bagaimana mungkin seorang wanita normal tidak terpesona dengan Abhlesh. Seorang Pangeran yang jelas memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang sempurna serta sifat yang benar-benar sempurna.


Namun hal itu semua tidak berlaku bagi Janet. Janet sudah menganggap Abhlesh layaknya anak sendiri dan Abhlesh juga merasakan hal yang demikin darinya. Karena alasan itulah Abhlesh tidak keberatan jika Janet yang membantunya. Sebelum semua itu dimulai, Janet meminta seluruh pelayan wanita di ruangan itu untuk berbalik.


"Hahaha Mom, selalu tegas seperti biasa"

__ADS_1


Abhlesh tertawa kecil melihat Janet yang mengatur para pelayan yang sedikit enggan untuk berbalik badan. Janet membalas kalimat Abhlesh dengan tatapan yang kesal. Serta kembali mengatur para pelayan muda yang sudah keburu jatuh dengan pesona Abhlesh.


Beberapa saat kemudian Janet membantu Abhlesh untuk membersihkan tubuhnya. Setelah semuanya selesai, seseorang mengetuk pintu ruangan itu dari luar. Nana dan Dokter istana masuk dan disambut senyuman Abhlesh yang terlihat sudah mulai membaik. Nana kembali pada posisinya berdiri di samping Janet dan Dokter istana dengan tenang melakukan tugasnya.


"Sepertinya keadaan Pangeran sudah mulai membaik, kondisi Pangeran sepertinya bukan karena emosi atau apapun, tapi sepertinya kondisi ini karena suplai Mana pangeran yang tidak stabil"


Dokter meminta izin untuk menyentuh dada Abhlesh. Agar dirinya bisa menyalurkan Mana miliknya untuk dapat membantu kondisi Mana Abhlesh yang tidak stabil. Ya Mana, suatu energi yang membuat dunia ini berbeda.


Mereka yang memiliki jumlah Mana yang besar bisa memanipulasinya dan menggunakan Mana tersebut untuk banyak hal. Bahkan segala bentuk penyembuhan di dunia ini memerlukan Mana. Bagi mereka yang hanya memiliki suplai Mana yang sedikit hanya akan menjadi manusia normal lainnya yang tidak dapat memanipulasi Mana.


Sementara mereka yang dapat melakukannya disebut Mage. Abhlesh memiliki suplai Mana yang sangat besar namun Mana miliknya sedikit tidak stabil. Menurut mereka yang ahli di bidang itu, Abhlesh terlahir dengan Mana yang sangat besar dan tubuhnya tidak sanggup menahan Mana miliknya. Karena hal itulah yang menyebabkan dirinya terkadang harus beristirahat lebih.


Abhlesh melakukan segala cara agar Mana miliknya dapat stabil dan dia berhasil melakukannya. Namun akibat kondisinya yang tidak stabil sejak kematian Raja Alexander. Tubuh Abhlesh harus beristirahat total selama beberapa hari agar semuanya kembali normal. Metode pengobatan yang dilakukan Dokter istana padanya merupakan metode standar untuk kasusnya.


Setelah dirasa cukup Dokter meminta izin untuk pamit dan memberikan Abhlesh petunjuk serta apa-apa yang boleh serta tidak boleh ia kerjakan. Serta tidak lupa memberinya intruksi pada Janet agar menjaga sang Pangeran Kaspian. Ablesh yang menjalani pengobatan menuruti semua perkataan dokter dan kondisinya akhirnya membaik setelah 2 hari menjalani masa istirahat.



"Kenapa wajah Anda murung Yang Mulia?"


Nana yang membantu Abhlesh berpakaian memperhatikan ekspresi Abhlesh yang terlihat sedikit murung.


"Ah, Aku hanya teringat akan pesan Ibuku Nana"


Kali ini Abhlesh berusaha tersenyum dan berjalan ke arah balkon kamarnya.


Nana memberi hormat dan bergegas keluar ruangan. Sementara Abhlesh mengumpulkan semua energinya untuk hari ini dan bergegas menuju ruangan Ayahnya. Claude merupakan seorang Asisten pribadi Abhlesh yang termasuk dalam orang-orang kepercayaan Ablesh.


Claude juga merupakan tangan kanan Abhlesh dalam urusan ekonomi serta pemerintahan. Walau pun Abhlesh di cintai seluruh rakyat Kaspian, ia tetap harus mempercayakan beberapa hal hanya pada orang-orang yang ia percayai. Claude adalah salah satunya.


*******


Seseorang mengetuk pintu ruangan Raja Alexander. Nana yang berada di ruangan itu bergegas keluar untuk memastikan siapa yang mengetuk. Nana kembali masuk dan mengatakan bahwa Claude sudah datang dan meminta izin untuk masuk.


Abhlesh memberi izinnya tanpa basa-basi dan seorang pria memasuki pintu itu ketika Nana membukanya. Pria itu adalah Claude, seorang pria yang memiliki postur tinggi serta wajah yang tampan. Claude membungkukkan badannya memberi hormat pada Abhlesh yang duduk di sofa.


"Maaf membuat anda menunggu Yang Mulia"


"Tidak masalah, kau bisa duduk Claude dan bagaimana kabar mu?"


Abhles menyambut Claude dengan hangat dan memintanya untuk duduk di sofa yang berada di hadapan Abhlesh.


"Tidak terlalu buruk Yang Mulia"


Abhlesh tertawa mendengar jawaban Claude yang terkesan santai dan sedikit tidak sopan jika berbicara dengan seorang Pangeran seperti Abhlesh, Namun Abhlesh sama sekali tidak peduli akan hal-hal seperti itu.


"Jadi ... apa tujuan Yang Mulia memanggil ku ke tempat ini?"

__ADS_1


Claude sebenarnya sangat tidak menyukai ruangan Raja Alexander. Serta Claude termasuk dalam golongan orang yang menganggap bahwa Alexander adalah seorang Foolish King dan berada di ruangan Raja itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Meski Claude tau Abhlesh sangat mencintai Ayahnya, Claude sama sekali tidak pernah menyembunyikan kekesalan nya terhadap Raja Alexander. Abhlesh tidak peduli akan hal itu serta menyodorkan sepucuk surat yang ia temukan di dalam laci Ayahnya.


Claude mengambil surat itu dan membaca isinya. Ia menghempaskan surat itu di meja dan wajahnya terlihat sangat kesal. Nana yang berdiri di depan pintu terperanjat dan wajahnya memutih.


"Apa maksud semua ini Pangeran! orang itu bah ...."


Abhlesh memotong ucapan Claude dengan telapak tangan yang terbuka.


"Biar ku jelaskan Claude dan simpan amarahmu, Kau mengagetkan Nana."


Claude sadar bahwa amarahnya membuatnya lupa diri. Dia lupa bahwa dirinya sedang berada di hadapan seorang Pangeran yang sebentar lagi menjadi seorang Raja. Ia meminta maaf pada Abhlesh serta Nana yang wajahnya masih pucat karena perbuatan Claude.


"Sudah, Kalau begitu mari kita lanjutkan."


**********


sampai sini dulu ya All 😌


untuk visual karakter SBB :


Abhlesh



Janet , FYI janet itu berumur 30 tahun dan umurnya saat Abhlesh lahir sekitar 13 tahun, di umur segitu Janet sudah menjadi Pelayan utama Ratu Cleo 👌




Claude



Hektor



Nana



Daaaan 5 Maid yang berada di ruangan Abhlesh 😂



Sausnya berasal dari Pinterest 🙇‍♂️

__ADS_1


Sampai jumpa di next chapter ya All, Sampai Bye2 👋😍


__ADS_2