Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 16 : Embrace Me


__ADS_3

Aurora terdiam di kamarnya. Gadis itu menghela napasnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Matanya menatap nanar langit-langit kamar yang penuh dengan ornamen.


Pikirannya melayang jauh seakan menembus segalanya. Wajahnya memerah ketika mengingat segala hal yang dialaminya malam ini. Mata biru yang dulunya dingin dan menyeramkan, kini perlahan mencair dan membawa kehangatan baginya. Tatapan yang seakan mata pedang itu, kini seakan sentuhan lembut yang membawa Aurora terbang.


Gadis itu menghela napas dalam dan sesekali tersenyum. Pelukan pertama yang pria itu berikan padanya seakan sebuah oasis. Dirinya seakan terbang dari neraka dan dibawa ke dalam taman surga yang menenangkan. Segala permasalah dalam dirinya seakan ilusi ketika pelukan hangat itu mendekap dirinya.


Aurora kini terjebak dalam perangkap sempurna Abhlesh. Wanita yang dulu menganggap dirinya hanya alat, perlahan mulai menjadi seorang gadis. Membawa perasaannya menuju permungkaan dalam belaian manja dan penuh kasih sayang pria itu. Sungguh dunianya seakan berputar ketika pertama mata biru itu memandangnya.


Aurora melihat sekelilingnya. Dirinya kini berada dalam kamar yang jauh lebih mewah dari kamar pribadinya di Arcadian. Pelayan yang menghargainya dan Janet serta Iva yang benar-benar menyayanginya. Namun gadis itu seakan bimbang. Pikirannya terbawa dalam politik kerajaan dan segala hal tentang pernikahan yang bersyarat.


Ketika dia membawa topik itu pada Abhlesh, pria itu hanya tertawa dan menggodanya. Abhlesh mengatakan pada Aurora bahwa Kaspian bukan kerajaan kuno yang mengejar tradisi. Pangeran itu bahkan mengatakan walaupun Aurora adalah rakyat biasa sekalipun, tidak akan ada yang menghalangi mereka untuk bersama. Kalimat yang membuat Aurora mengubur wajahnya semakin dalam pada dada bidang itu ketika di balkon sore tadi.


Kini dirinya sendiri, menatap pintu kamarnya dan berharap sosok itu kembali datang. Bayangannya seakan merasuk dalam diri Aurora, memaksanya berfantasi menghabiskan malam bersama Pangeran. Wajahnya memerah ketika pikirannya melayang dan mulai bermain dengan perasaannya. Gadis itu menutup dan mengubur wajahnya pada bantal dan berteriak kecil.


Kini dirinya tenggelam dalam fantasinya yang bisa saja menjadi nyata. Hal yang mungkin hanya ilusi kini mulai terlihat nyata baginya. Seorang Pangeran berkuda putih yang membawanya pada taman yang indah dan menyenangkan. Menghabiskan waktu berdua di sana dan tenggelam dalam cinta dan kemesraan.


Sesekali Aurora memeluk tubuhnya sendiri karena fantasinya. Dirinya seakan merindukan kembali pelukan itu dan segala hal tentang pria itu. Tingkah manisnya ketika di balkon dan segala hal tentang kata manis yang selalu dia bisikan di telinga Aurora kembali terngiang. Napas yang lembut dan menggetarkan jiwa serta indranya membuat Aurora tersenyum sembari menutup wajahnya dengan bantal.


Abhlesh benar-benar menancapkan perangkapnya pada gadis itu. Menawan hatinya dan membangkitkan cinta yang dulu mulai padam. Kini gadis itu hanya tersenyum sendiri dalam kamarnya dan pikirannya penuh dengan mata biru yang indah itu serta wajah tampan yang menawannya. Pikirannya terus melayang hingga dirinya tertidur menghadap pintu kamarnya, berharap fantasinya menjadi nyata dan tenggelam dalam tidurnya.


Sementara itu saat yang sama di ruangan lainnya, Abhlesh tersandar di kursi ruangan kerjanya. Matanya tertuju pada pintu keluar ruangan. Berkali-kali pria itu berjalan ke sana dan kembali duduk di kursi miliknya. Pikirannya melayang membawanya pada Aurora.


Gadis itu kini mulai memenuhi pikiran Abhlesh. Wajah cantiknya serta sikap manja dan pemalunya membuat Abhlesh tidak bisa melupakannya. Dirinya seakan ingin menemani gadis itu tidur malam ini. Mendekapnya dalam pelukan dan tenggelam dalam kemesraan sepanjang malam. Namun Abhlesh hanya bisa menghela napas.


Hatinya seakan ragu ketika mengingat omongan gadis itu. Akankah dirinya benar-benar ada dalam hati gadis itu? atau hanya sebuah perasaan yang menghormatinya sebagai seorang Pangeran. Abhlesh sekali lagi menghela napasnya dan menghabiskan wine di tangannya. Dirinya masih teringat akan ekspresi wajah Aurora, ekspresi ragu dan penuh bimbang terlukis dalam lamunannya.


Abhlesh kini hanya bisa menatap langit-langit ruangannya. Membayangkan gadis yang menawan hatinya dalam pikiran dan perasaan yang cukup rumit. Abhlesh mengingat kejadian di balkon ketika wajahnya berada sangat dekat dengan bibir itu. Mata gadis itu tertutup dan seakan mengundang Abhlesh dalam kehangatan yang mungkin selama ini dia cari. Namun Abhlesh yang gugup justru menempelkan dahinya dan membuat alasan konyol atas tingkahnya.

__ADS_1


Abhlesh tertawa kecil dengan sikapnya. Dia masih ingat ketika pertama kalinya mereka berduaan. Wajah Aurora yang terlelap seakan sesuatu yang membuatnya candu. Meminta jiwanya untuk memiliki gadis itu seutuhnya. Namun sekali lagi Abhlesh harus bertingkah bodoh dan merusak semua kesempatannya.


Kini pria itu hanya bisa menatap dalam pada langit-langit yang membawanya dalam fantasi asmara miliknya sendiri. Seorang Pangeran berdarah yang meminta hati seorang Putri yang Indah. Abhlesh menatap nanar pada telapak tangannya, akankah Aurora menerima Pangeran berdarah sepertinya? ataukah Aurora akan terkurung dalam sangkar emas jika bersamanya. Bayangan akan gadis yang dia cintai terkurung dalam paksaan dan menangis dalam tawa membuat jiwa pria itu remuk.


Kini dirinya hanya bisa menatap pintu ruangannya. Meski jiwanya memaksa untuk pergi menemui gadis itu, Abhlesh tetap menahannya. Berkali-kali dia berusaha mengalihkan perhatiannya pada meja kerja yang penuh dengan dokumen. Namun semua itu seakan sia-sia, tidak peduli berapa banyak pun pekerjaan yang dia selesaikan. Pikirannya tetap terkunci pada gadis itu.


Aroma gadis itu yang menawan indranya serta gerak gemulai tubuh indah yang hanya bisa dia tahan, membuatnya tersiksa. Pria itu sekali lagi berjalan menuju pintu itu. Berdiri seperti pecundang yang takut akan penolakan dan kembali tenggelam dalam lautan hayal yang tak berujung.


Abhlesh menghela napas dan kembali duduk di kursi miliknya. Pria itu menuangkan wine dan menghabiskan malam dalam fantasi serta kerinduan yang hampir memuncak. Sementara jiwanya meronta meminta cinta untuk menguasainya.


Pria itu berharap gadis itu menunggunya malam ini. Namun langkahnya seakan beku dalam bimbang dan tertahan dalam ragu. Sementara wanitanya, gadis itu menginginkan sosoknya datang dan memeluknya malam ini. Bersama mereka larut dalam hal paling memuakkan dalam hidup. Saling menunggu satu dengan yang lainnya dan tersiksa dalam rindu yang tertawa pada sikap mereka.


Abhlesh yang menatap pintu itu seakan beradu pandang dengan Aurora yang tertidur menghadap pintu kamarnya. Mereka menghabiskan malam dalam kerinduan dan membisu dalam jarak yang sangat dekat. Sementara takdir seakan memaksa mereka merasakan tatapan satu sama lain dan bermain dengan hati mereka dalam keraguan.


Hingga pagi menjelang Abhlesh hanya bisa terjaga sepanjang malam sementara Aurora terbangun dengan wajah yang penuh kecewa. Abhlesh tertawa ketika mentari menyambutnya dan Aurora memerah ketika sinar itu menyinari ruangannya. Mereka seolah menikmati proses ini dan segala hal yang menawan hati mereka tanpa tau pendapat masing-masing. Sungguh takdir mempertemukan dua hati yang sama dan memaksa mereka tenggelam dalam proses. Akankah takdir akan membawa mereka bersama? atau mereka akan tenggelam dalam keraguan dan berakhir fana layaknya fatamorgana.


********


Pria itu seakan melewati malam tanpa tidur. Namun senyumnya tetap menyambut Aurora pagi itu. Aurora tersipu dan pikirannya kembali membayangkan hal tadi malam. Pipinya sedikit memerah dan membalas senyum itu dengan manis.


"Kamu terlihat cantik pagi ini Aurora."


Aurora yang duduk berhadapan dengan Abhlesh tersipu dengan kalimat itu. Gadis itu berusaha fokus pada hidangan yang ada di hadapannya. Namun tatapan itu menawannya.


"Terima kasih Yang Mulia."


Aurora membalas dengan pipi yang sedikit memerah.

__ADS_1


"Ah ... bolehkah kucium pipi meronamu itu?"


Abhlesh tanpa sadar mengucap kalimat itu. Aurora yang mendengar kalimat itu langsung menatap Abhlesh dengan wajah yang memerah. Gadis itu tidak menyangka Abhlesh cukup berani di hadapan semua pelayan yang terhenti karena ucapan itu.


"Y-yang Mulia?"


Abhlesh berdiri dan berjalan ke arah Aurora. Langkah pria itu terlihat sedikit sempoyongan dan tatapan tajamnya membuat wajah Aurora semakin memerah. Pria itu kini berada di hadapan Aurora.


"Kamu sungguh sangat cantik Aurora."


Aurora hanya bisa menarik napas dalam ketika wajah Abhlesh mendekat padanya. Tatapan pria itu terlihat sayu dan Aurora menutup matanya. Pikirannya melayang dan bibirnya siap menerima apapun yang akan Abhlesh lakukan.


Namun ketika itu juga tubuh Abhlesh rubuh dan tersandar di pelukan Aurora. Wajah gadis itu seketika pucat ketika melihat Abhlesh yang tersandar di tubuhnya. Aurora menahan tubuh Abhlesh agar tidak jatuh dan wajahnya terlihat panik.


"Y-Yang Mulia!"


Aurora berusaha menyadarkan Abhlesh yang kini terlihat sangat nyaman menyandar di tubuh gadis itu. Namun wajah itu berbanding terbalik dengan suasana ruangan yang berubah kacau ketika Abhlesh rubuh di hadapan Aurora.


Bahkan Hektor yang mendengar keributan itu masuk dan melihat Aurora yang panik serta Abhlesh yang berada di pelukkan gadis itu. Hektor membawa tubuh Abhlesh dan Aurora mengikuti pria itu menuju kamar Abhlesh. Sepanjang perjalanan mereka, Abhlesh menyebut nama Aurora dan gadis itu hanya menatapnya dengan wajah khawatir.


*********


Waaaah efek nahan semalaman berakhir kacau hahahaha


Kasian Aurora sekali lagi kena php 😂


Btw Narasi penuh di awal chapter itu penggambaran perasaan mereka berdua yang sama2 gundah wkwkwkwk

__ADS_1


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa rate 5, vote, like dan komen jika kalian suka dengan novel ini, dukungan adalah kunci cinta mereka semakin bersemi wkwkwkwkw 😂


sampai jumpa di next episode ya, Sampai Bye2 👋😘


__ADS_2