
#Warning! Bagian ini mengandung kekerasan dan jika tidak menyukainya bisa skip hingga tanda (******) terlihat. Happy Reading#
Kaisar Naga adalah orang yang terkenal akan sikap kejinya. Orang itu bahkan rela membunuh seluruh anggota keluarganya hanya untuk mendapatkan kekuasaan sebagai Raja di kerajaannya. Ketika menjadi seorang Raja, pria itu sama sekali tidak peduli dengan rakyatnya dan hanya berfokus pada pelebaran daerah kekuasaannya. Hingga akhirnya kerjaannya melahap habis kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.
Kesombongan membawa dirinya pada perilaku tidak puas dan selalu menginginkan lebih dari orang lain. Dirinya bahkan menamai dirinya sebagai Kaisar. Menurutnya di dunia ini tidak ada satupun kerajaan yang sanggup melawan kerajaannya dan hal itu membuatnya terus melebarkan daerah kekuasaan.
Dirinya sama sekali tidak peduli dengan daerah kekuasaannya dan hanya berambisi untuk menaklukan seluruh daratan di bawah namanya. Menjadikan dirinya sebagai Kaisar tertinggi dan memimpin hingga ratusan tahun. Setidaknya hal itulah yang pria itu impikan.
Hingga suatu hari orang yang dia kirim untuk memata-matai Arcadian mengirimkan berita padanya. Berita berupa jatuhnya Arcadian di tangan Kaspian dan putri Aurora yang menjadi incarannya dibawa menuju Kaspian. Pria itu sangat marah, dia menghantam meja yang ada di hadapannya hingga hancur berkeping-keping.
Dalam emosinya pria itu mengirim surat pada Kaspian dan bahkan dengan lantang mengatakan akan menyerang Kaspian jika tidak menuruti kemauannya. Baginya Kaspian hanya satu dari sekian banyak kerajaan yang harus dia musnahkan. Batas kesabarannya habis ketika Kaspian mengirim surat itu kembali serta berbalik mengancamnya.
Pria itu berlari keluar ruangannya dan berniat mengincar pengantar pesan Kaspian. Dirinya akan menjadikan pengantar surat itu sebagai contoh agar Kaspian mengerti bagaimana kemarahan seekor naga. Kini dia berdiri di hadapan pria tampan yang melihatnya tanpa ekspresi. Pria itu bahkan tidak berlutut atau bersujud di hadapannya.
"Apa kau yang mengantar surat dari Kaspian?"
Kaisar Naga tersenyum bengis pada pria yang berdiri di hadapannya.
"Apa kau yang memakai nama Naga?"
Wajah Kaisar Naga sedikit terkejut dan kembali tersenyum bengis mendengar jawaban pria itu.
"Kalau iya kena-"
Kalimat itu terputus ketika tubuh raksasa itu terpental jauh dan menembus bangunan yang ada di belakangnya. Kaisar Naga sama sekali tidak dapat melihat pukulan itu dan seluruh tulang di tubuhnya seakan patah. Dirinya hanya bisa merangkak keluar dari reruntuhan itu.
"Namaku Igrit, kudengar di kekaisaranmu terdapat Naga, apa benar?"
Igrit berdiri di hadapan Kaisar itu dan menarik kaki Kaisar itu keluar dari reruntuhan. Keadaan pria itu sangat memperihatinkan dan tubuhnya tidak dapat dia gerakkan. Cengkeraman tangan Igrit sangat kuat dan membuat tulang di kaki pria itu remuk. Igrit melemparkan rubuh raksasa itu di lapangan istana miliknya.
__ADS_1
"Bukankah kau Kaisar Naga yang terkenal itu?"
Kaisar Naga sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Igrit. Semua ini seakan mimpi buruk baginya dan Igrit seperti dewa kematian yang mengunjungi mimpinya. Seluruh tubuhnya seakan tidak bisa di gerakkan hanya karena satu pukulan dari Igrit.
Nama Naga yang dia gunakan hanya sebagai simbol agar dirinya terdengar kuat dan menakutkan. Kini nama itu justru membawanya pada kehancuran. Dia tidak menyangka jika Kaspian memiliki petarung yang sangat kuat.
"A-ampuni aku tuan."
Igrit mendekati Kaisar itu dan menjambak rambut pria itu, mengangkatnya dan kini pandangan mereka beradu. Kaisar itu sadar bahwa apa yang ada di hadapannya bukan manusia. Bola mata Igrit terlihat berbeda, bola mata itu berwarna emas dengan pupil lurus layaknya bola mata Naga.
"Apa kau mengampuni semua Raja yang mengatakan hal yang sama?"
Kaisar itu seakan sadar akan kata-katanya dan tetap berusaha meminta pengampunan. Pria itu sebenarnya masih berharap agar prajuritnya dan penjaga istana menyelamatkannya. Namun pria itu sadar sesuatu yang aneh sedang terjadi di tempat ini.
Di tempat ini hanya Igrit dan dirinya yang bisa bergerak. Hawa dingin mengalir di seluruh tubuhnya dan mata pria itu menjadi tidak fokus. Dia berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman Igrit yang sangat kuat.
"Kau baru sadar?"
******
Di balkon istana Aurora memandangi kota Kaspian yang sangat meriah dengan segala festival dan acara yang kota itu adakan. Pemandangan kota diikuti sinar senja yang menyambut malam menemani dirinya di balkon itu. Gadis itu membebaskan dirinya dari suasana acara yang begitu melelahkan.
Dirinya yang harus menemani Abhlesh ketika memasuki ruangan, kini menjadi sorotan. Seluruh Bangsawan Kaspian dan delegasi dari kerajaan lain bergantian menyapanya. Gadis itu sendiri harus berdiri bersama Abhlesh selama beberapa jam dan dirinya seakan mengerti mengapa pria itu sangat di hormati.
Abhlesh mengetahui hampir segala hal di kerajaannya dan tak jarang sesekali dirinya memberi nasehat pada Bangsawan. Mereka kadang tenggelam dalam pembahasan mengenai teritori dan ekonomi kerajaan. Aurora yang sama sekali tidak mengerti harus rela termenung dan memasang wajah manis di hadapan semua orang.
Kini gadis itu menghela napas panjang dan seorang pria berjalan mendekatinya. Pria itu adalah Abhlesh bersama senyum di wajah tampannya. Aurora kini tidak lagi takut dengan pria yang ada di hadapannya dan malah sesuatu seakan muncul dalam hatinya. Abhlesh seakan sesuatu yang sangat berharga baginya. Namun di lain sisi, dirinya merasa tidak pantas bersama Pangeran Kaspian yang hampir memiliki segalanya.
__ADS_1
Tanpa sadar gadis itu kembali menghela napas. Abhlesh yang melihatnya seperti itu hanya tersenyum getir dan memberikannya segelas minuman yang dia dinginkan dengan Mana miliknya.
"Kenapa dengan wajah itu?"
Abhlesh melempar pertanyaan itu dan menyodorkan segelas wine pada Aurora. Gadis itu tersenyum pada Abhlesh dan kembali tertunduk setelah menerima minuman itu.
"Apa sesuatu membuatmu tidak nyaman?"
Aurora menggeleng dengan pertanyaan itu dan kembali menghela napasnya. Beberapa Bangsawan yang sejak tadi memperhatikan mereka perlahan meninggalkan mereka berdua.
Abhlesh sama sekali tidak peduli dengan mereka dan tetap menatap wajah cantik Aurora yang terlihat bersedih.
"Apa kamu sakit?"
Abhlesh mendadak menempelkan dahinya di kepala Aurora. Aurora yang mengalami hal itu hanya menutup matanya dan terlihat pasrah. Abhlesh tertawa kecil melihat respon gadis itu dan membelai lembut rambutnya.
"Belum saatnya aku untuk menciummu Aurora, tidak kusangka kamu sangat terburu-buru."
Abhlesh kembali tertawa kecil ketika melihat wajah gadis itu yang memerah dan menunduk malu.
"D-dasar playboy!"
Abhlesh kali ini tidak dapat menahan tawanya dan Aurora menepuk ringan dada Abhlesh hingga berakhir dengan kepalanya yang bersandar di dada bidang itu. Abhlesh membelai lembut rambut gadis itu dan tertawa kecil karena tingkahnya. Mereka berdua menghabiskan senja itu di balkon dengan canda dan sesekali Abhlesh membuat wajah gadis itu memerah serta beberapa teriakan terdengar dari Bangsawan wanita yang diam-diam mengintip mereka dari balik pintu kaca itu.
*********
Waaaah chapter 15 harus di tutup dengan scene yang gimana gituuuh 😌
Btw semua gambar dari novel ini adalah milik owner dari gambar tersebut dan bukan punya saya, gambar2 itu semua berasal dari Pinterest dan beberapa hasil karya dari WLOP serta final fantasy series dan Karakter Abhlesh serta Astrid adalah karakter WHO MADE ME PRINCESS/suddenly i became a princess 👏👏
__ADS_1
Thanks buat yang udah baca dan jangan lupa Rate 5, vote, like dan komen jika kalian suka dengan novel ini 😌
Sekali lagi terima kasih dan Sampai Bye2 👋😘