
Aurora menatap nanar pada wajah tenang itu. Dirinya seakan tenggelam dalam rasa khawatir yang sangat dalam. Kepalanya terisi segala hal tentang sesuatu yang bisa saja terjadi pada sang Pangeran. Meski Dokter istana telah memintanya untuk tetap tenang, tentu saja hal itu tidak sepenuhnya membuat Aurora merasakan ketenangan. Tangannya terus menggenggam telapak tangan dingin Abhlesh yang masih terbaring di ranjangnya.
Hanya suara napas pria itu yang membuat Aurora masih merasakan kehidupan darinya. Dirinya semakin khawatir ketika melihat wajah itu yang seakan bergelut dengan rasa sakit. Sesuatu seakan membuatnya harus menahan sakit dalam mimpinya. Gadis itu menggenggam erat tangan Abhlesh dengan kedua tangannya. Dirinya terus berdoa dan meminta pada apapun di luar sana agar Abhlesh bisa melalui itu semua.
Kondisi Abhlesh kali ini kembali disebabkan Mana miliknya yang menjadi tidak stabil. Hal itu terjadi akibat pria itu menghabiskan malamnya dengan terjaga semalaman. Kini dirinya harus menahan pergerakan Mana dalam tubuhnya dan berjuang dalam alam bawah sadarnya.
Butiran air mata mengalir dalam setiap embusan napas gadis itu. Sesekali dirinya memastikan bahwa Abhlesh masih terlelap dan kembali menundukkan kepalanya. Tanpa sadar gadis itu mengalirkan Mana miliknya yang terbalut dengan segala cinta serta keikhlasan hatinya. Gadis itu sama sekali tidak mengetahui hal itu dan tetap tenggelam dalam kesedihan.
Dirinya merindukan senyuman serta tingkah manis Abhlesh yang bisa membuatnya tersenyum. Dirinya merindukan pelukan yang bisa menghilang kapan saja. Kini dirinya hanya bisa berdoa, meminta agar para Dewa menuntun Abhlesh kembali padanya.
Di dalam sana, Abhlesh seakan berjuang. Wajahnya kembali seakan menahan sakit dan tubuhnya kini semakin dingin. Aurora berusaha menghangatkan tubuh pria itu dengan memeluknya. Gadis itu melakukan segala hal untuk membuat tubuh pria itu tetap hangat. Wajahnya terlihat panik ketika napas pria itu seakan membeku.
Aurora bahkan rela harus merasakan dinginnya tubuh Abhlesh yang berjuang melawan Mana miliknya. Aurora sama sekali tidak peduli jika hal itu akan membahayakan dirinya. Di ruangan itu hanya ada dirinya dan pelayan di balik pintu sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya.
Dirinya terus memeluk erat Abhlesh. Tubuh pria itu perlahan mulai menghangat dan wajah pria itu terlihat sedikit tenang. Aurora menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Memastikan detak jantung pria itu dan alunan napas yang seakan melodi kematian baginya.
Sementara Abhlesh, pria itu kini terjebak dalam ruangan yang gelap. Dirinya seakan melayang dalam ruangan hampa yang tidak pernah dia datangi sebelumnya. Tubuhnya dingin, bahkan dirinya bisa melihat napasnya yang membeku. Abhlesh sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Kegelapan itu seakan menahan seluruh tubuhnya dan mematikan indranya. Perlahan kesadarannya mulai padam, seluruh memori tentang hidupnya serta kehidupannya sebelum menjadi Pangeran Kaspian kembali terlintas.
Abhlesh hanya tersenyum. Dalam benaknya, mungkin hari ini adalah hari terakhirnya dan mungkin dirinya telah mati di luar sana. Dalam keheningan itu Abhlesh teringat akan wajah seseorang. Wajah seorang gadis yang entah kenapa sangat dia rindukan. Gadis itu seakan bersedih dan melihat ke arahnya.
"Kenapa dirimu bersedih Aurora?"
__ADS_1
Abhlesh mengucap kalimat itu sembari memejamkan matanya. Sungguh, bayangan itu adalah ilusi yang paling tidak ingin pria itu lihat saat ini.
"Jangan bersedih, kamu adalah alasanku kini untuk tetap hidup ... air matamu seakan mencabik jiwaku Aurora."
Tidak peduli berapa kalipun Abhlesh berbicara, gadis itu hanya tertunduk. Abhlesh melihat wajah gadis itu yang masih bersedih dan mengulurkan tangannya. Dalam keadaan seakan terikat, Abhlesh berusaha menggapai tangan itu.
Pria itu berusaha sekuat tenaga menggerakkan seluruh tubuhnya atau bahkan dia berharap hanya tangannya saja yang bisa bergerak. Namun semua kegelapan ini seakan menahannya. Memaksanya terus menjauh dari tangan itu dan membawanya dalam jurang tanpa dasar.
Abhlesh terus berusaha dan kata putus asa tidak ada dalam kamus pria itu. Dirinya bahkan berusaha mengeluarkan segala Mana miliknya yang seakan menghilang. Dalam pertarungannya, gadis itu terus memanggil namanya. Suara Aurora seakan membantu Abhlesh dalam pertarungannya membebaskan ikatan dirinya.
Ketika tangan kanannya terbebas, Abhlesh berusaha meraih tangan gadis itu. Kegelapan itu seakan tidak rela melepas Abhlesh yang berusaha menggapai Aurora.
"Lepaskan!"
Dirinya bangkit dan tubuhnya seakan kembali seperti semula. Abhlesh kini merasakan Mana miliknya yang kembali padanya. Wajah pria itu terlihat lelah, tetapi senyum simpul terlihat di wajah tampannya. Dirinya sama sekali tidak menyangka Aurora akan menjadi kunci dirinya bertahan.
"Baiklah, mari kita selesaikan."
Abhlesh menggenggam cahaya itu. Tubuhnya seakan dipenuhi energi dan sesuatu seakan menariknya ke atas. Abhlesh memejamkan matanya dan ketika dia membuka kelopak matanya. Aurora tertidur di pelukannya, wajah gadis itu terlihat lelah dan penuh rasa khawatir.
Air mata bahkan mengalir di pipinya. Abhlesh menyeka Air mata gadis itu dan membalas pelukannya. Mereka berdua kini saling berhadapan dan Aurora masih terlelap. Gadis itu beberapa kali menyebut nama Abhlesh dalam tidurnya.
__ADS_1
"Maaf telah membuatmu khawatir Dear."
Abhlesh membelai lembut rambut Aurora dan mengecup keningnya. Sebuah ciuman pertama yang berani dia berikan pada gadis itu. Aurora tersenyum dalam tidurnya dan bergerak semakin dalam pada dekapan Abhlesh.
Abhlesh memeluk erat Aurora seakan tidak ingin kehilangan gadis itu hari ini, besok atau mungkin selamanya. Dirinya sudah tenggelam dalam lautan cinta pernah yang dia hindari. Sementara Aurora, gadis itu juga merasakan hal yang sama dan terjebak dalam perangkap cinta Abhlesh. Berdua mereka menghabiskan hari dalam pelukkan dan rasa nyaman layaknya oasis di tengah gurun sahara.
Abhlesh tidak lagi memperdulikan reaksi gadis itu. Semua ini sudah menjadi bukti baginya bahwa Aurora merasakan apa dia rasakan. Aurora bahkan tertidur dengan nyaman ketika Abhlesh membelai lembut rambutnya. Gadis itu sepertinya sangat lelah dengan kesedihan dan rasa khawatir yang menderanya.
Hawa dingin dari tubuh Abhlesh membuatnya tertidur dan tanpa dirinya sadari, kini dia berada dalam pelukkan Abhlesh yang sangat dia rindukan. Terkadang takdir memang punya caranya sendiri untuk menyatukan dua hati yang gugup.
Abhlesh tersenyum dan kembali larut dalam tidurnya. Memeluk bidadarinya agar tidak terbang menjauhinya. Sementara Aurora memeluk tubuh Abhlesh seakan Putri yang takut kehilangan Pangerannya.
Hingga malam menjelang, mereka tetap dua sejoli yang takut kehilangan bagian dari hidup mereka. Melewati malam dalam senyuman dan terjaga dalam suasana yang menyenangkan. Semoga saja.
*******
aaaahhhhh sweeet wkwkwkwkw
ga tau mau bilang apa lagi 😂
thanks buat yang udah baca, jangan lupa Vote, like dan komen serta Rate 5 jika kalian menyukai cerita ini, dukungan adalah kunci berlanjutnya kisah mereka 😌
__ADS_1
sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa di next episode! Sampai Bye2 👋😘