Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 6 : Kaspian Pride


__ADS_3

#Perhatian mengandung kekerasan, jika tidak ingin membaca di mohon untuk skip hingga (*****) terlihat, Happy reading.#


Hektor berjalan memasuki sebuah lorong yang terletak di bagian bawah tanah istana. Di bagian kanan lorong itu terjajar rapi ruangan-ruangan penjara. Ruangan yang berisi mereka yang menghancurkan kehormatan Kaspian.


Hektor sama sekali tidak melirik atau bahkan melihat ke arah mereka. Dia terus berjalan menyusuri lorong gelap dan basah itu yang di hiasi lampu penerang seadanya. Lokasi penjara itu berada di bawah tanah istana dan tempat itu merupakan tempat terburuk di Kaspian. Di ujung lorong itu terdapat sebuah ruangan yang paling di takuti di Kaspian yaitu ruang introgasi.



Dari ruangan itu terdengar teriakan kesakitan dan suara seseorang yang bekerja dengan benda-benda yang terbuat dari besi. Di bawah sini suara seperti itu sudah biasa terdengar dan menjadi irama pengantar tidur bagi penghuni tempat ini.


Hektor membuka pintu itu dan di dalamnya seorang pria menoleh melihatnya. Pria itu menoleh sambil terus membenamkan kepala seseorang ke dalam bak berisi air. Pria itu adalah Emerson, Knight yang bertugas mengawasi jalannya introgasi di ruangan itu dan tak jarang dia sendiri yang harus turun tangan.


"Bagaimana keadaan Pangeran?."


Emerson tetap membenamkan kepala pria malang itu sembari melempar pertanyaan pada Hektor. Bagi Hektor, pemandangan seperti itu adalah hal yang biasa di bawah sini. Emerson bahkan melakukan tugasnya sambil tersenyum pada Hektor.


"Keadaannya sudah semakin membaik."


Emerson menarik keluar kepala orang itu yang mulai kehabisan napas. Hektor melihat wajah pria itu benar-benar babak belur dan pria itu berusaha bernapas dengan sisa tenaganya. Emerson kembali membenamkan kepala pria itu ketika napasnya mulai stabil. Hal itu terus berlanjut selama beberapa menit kedepan dan Hektor hanya melihat semua itu dengan tatapan dingin.


"Apa kau dapat sesuatu?."


Emerson menarik kembali tubuh pria itu dan membaringkannya di lantai. Pria itu berusaha bernapas dan tubuhnya terlihat sangat lemas.


"Tidak banyak ... hanya beberapa nama yang memang sudah masuk dalam daftar."


Pria itu menatap Emerson dengan mata yang benar-benar ketakutan.


"Hey tuan pelayan, sudah cukup istirahatnya? mari kita dengar lagi cerita yang tadi terputus di antara kita."


"Am ... pun ... a ... ti ... k ..."


Emerson menutup mulut pria itu dengan tangan kirinya yang dibungkus sarung tangan hitam.


"Sssst, aku hanya mau mendengar nama dan darimana kau berasal, bukan curhatan tentang masalahmu tuan"


Pria sadar ia benar-benar berurusan dengan kerajaan yang salah. Ia ingat ketika pimpinannya menugaskan dirinya untuk menyelinap di kerajaan Kaspian. Mengumpulkan informasi tentang kematian Ratu Cleo dan keadaan Raja Alexander serta informasi penting lainnya.


Namun rencana semakin berubah ketika kerajaannya merencanakan kehancuran Kaspian dari dalam. Mereka melakukannya dengan cara membunuh Perdana Menteri Spencer Perceval. Rencana itu berjalan lancar hingga tahap di mana perdana menteri yang mereka kendalikan berhasil menjabat.


Mereka mulai melakukan korupsi serta segala hal yang menyebabkan Kaspian berada di ambang kehancuran. Tapi rencana itu harus hancur di tangan Pangeran Abhlesh yang melakukan pembersihan besar-besaran di kalangan para bangsawan serta penjabat pemerintahan. Hingga dirinya tertangkap dan berada di ruangan ini.


Pria itu sama sekali tidak mengetahui bahwa Pangeran Abhlesh sudah lama mempunyai daftar nama mereka. Hal itu tidak di sadari kerajaan mereka dan menganggap Abhlesh sama bodohnya dengan Ayahnya yang menjadi Raja yang gagal. Keadaan semakin memburuk ketika satu-persatu mata-mata dari kerajaan pria itu menghilang dan kini ia tau apa penyebabnya.


Emerson mengambil sebuah besi yang berbentuk seperti jarum. Besi itu sedikit lebih lebar dan panjangnya seukuran telunjuk orang dewasa dan Emerson sama sekali tidak mengikat orang itu. Ketika dia melihat Emerson yang membawa benda itu, pria itu berusaha merangkak menjauhinya.


"Hey tuan, apa kau pernah dengar soal tingkat rasa sakit di ujung jari?."


Emerson menahan tubuh pria itu dengan kakinya. Dia menginjak tepat di bagian keseimbangan manusia yang jika di tekan manusia tidak akan bisa berdiri. Pria itu menggeliat berusaha kabur dan tubuhnya seperti binatang yang melakukan segala cara untuk kabur.

__ADS_1


Namun hal itu jelas sia-sia. Kini Emerson duduk di atas punggungnya dan menarik tangan kiri pria itu. Menahan salah satu jari pria itu dan ketika pria itu berusaha meliriknya dengan wajah panik, Emerson mendekatkan wajahnya beberapa inchi dari telinga pria itu.


"Darimana kau berasal?."


Satu pertanyaan yang Emerson lontarkan di ikuti jarum yang masuk di sela-sela kuku jempol pria itu. Teriakan yang kesakitan serta beberapa butir air mata terlihat ketika besi itu di putar dan di gerakan ke kanan dan ke kiri. Rasa sakit yang pria itu rasakan benar-benar di luar batas dan pria itu berusaha menggigit lidahnya untuk mengakhiri hidupnya.


Tentu saja hal itu sudah dalam prediksi Emerson yang lebih dulu melakukan sesuatu pada pria itu. Emerson menggunakan Mananya agar pria itu tidak bisa melakukan bunuh diri. Kini pria itu terjebak dalam siksaan Emerson dan sekarang 5 jari kirinya sudah terhias dengan jarum yang lekat di sela-sela kuku.


"Heal."


Pria itu kembali berteriak ketika Emerson melakukan teknik penyembuhan luka tepat di tangan kiri pria itu. Apa yang Emerson lakukan membuat daging pria itu menutup dan mengunci jarum di dalamnya. Emerson memutar dan memainkannya kembali membuat hal itu akan menciptakan rasa sakit yang sama seperti ketika jarum itu pertama kali masuk.


Penyiksaan itu berlangsung selama berjam-jam dan Emerson melakukan segala hal yang ia bisa untuk menikmati teriakan pria itu. Mulai dari kuku yang di tusuk dan di cabut, tulang kering yang di hantam dengan besi yang menciptakan benjolan sebesar bola kasti. Segala hal yang menciptakan rasa sakit tidak tertahankan bagi pria itu dan tentu tidak dapat membunuhnya.


Jika keadaan pria itu mulai kristis, Emerson menggunakan Mana miliknya untuk mengembalikan keadaan tubuh pria itu. Emerson lalu mengulang semua proses itu kembali dari awal. Hingga pikiran pria itu menjadi sangat kacau dan dalam putus asanya pria itu akhirnya menyerah.


"Ar .... ca ... dia ...."


"Apa yang kau katakan tuan?"


Emerson mendekatkan wajahnya pada pria itu dan 'Arcadia' adalah nama yang keluar dari mulutnya. Hektor yang sejak tadi hanya menonton berjalan menuju pria itu. Hektor berjongkok di hadapan pria itu agar pandangan mata mereka setara. Ia menjambak rambut pria itu dan menatap wajah yang benar-benar penuh dengan siksaan.


"Siapa nama orang yang mengirim mu?."


Pria itu sudah tidak sanggup lagi bertahan dan membongkar segala rahasia yang ia ketahui. Pria itu menyanyikan irama yang Hektor dan Emerson tunggu. Hingga akhirnya sesi tanya jawab mereka selesai dan pria itu kembali mendekam dalam penjara bawah tanah dalam keadaan 'rusak'.


Semua kriminal yang masuk dan yang keluar dari ruangan itu akan mengalami hal yang sama. Mereka akan mengalami siksaan dan ketika pikiran mereka mulai tersita rasa sakit, Emerson menyerang pikiran mereka. Emerson menyerang dengan Mana miliknya dan hal itu membuat korbannya dengan mudah berbicara tanpa sedikitpun kebohongan.


Emerson mencuci tangannya di wastafel yang berada di ruangan itu sementara Hektor duduk dengan wajah yang serius.


"Whisky?"


Emerson mengeringkan tangannya dan mengambil dua buah gelas kaca bening dan sebotol minuman dari lemari. Emerson duduk berhadapan dengan Hektor dan menuangkan whisky itu di gelas Hektor. Hektor mengambil gelas itu dan menghirup aroma kayu tua yang sangat kuat melalui hidungnya. Hal itu adalah sesuatu yang selalu dilakukan ketika menikmati minuman itu.


"Bourbon?"


Emerson tersenyum dan menegak minuman itu dengan cara yang sama.


"Jadi apa yang akan Pangeran lakukan, mengingat prediksinya lagi-lagi tepat sasaran."


Emerson menyandarkan tubuhnya dan menatap Hektor dengan serius.


"Kemungkinan besar Pangeran akan mengirim 'Hadiah' yang sama pada Arcadian."


Mendengar itu Emerson menghela nafas panjang dan kembali menuangkan minuman itu di gelas ketiganya. Mungkin jika orang awam yang melakukannya hal itu terlihat berlebihan dan bisa saja efek alkohol dari minuman itu mulai bekerja. Tapi hal itu tidak cukup untuk membuat Emerson atau Hektor yang merupakan seorang Knight kehilangan kesadaran atau mabuk. Hal itu karena Knight di Kaspian menjalani latihan agar tubuh mereka tahan terhadap racun dengan cara rutin meminum racun itu sendiri.


"Jika Arcadia sama seperti Kerajaan Roche, maka kau tau akhirnya akan seperti apa."


Hektor menghabiskan minuman di gelasnya dan bangkit dari kursi itu.

__ADS_1


"Aku akan pergi menuju Pangeran dan menjemput Astrid, gadis kecil itu mungkin sudah membuat pusing Pangeran"


Emerson ikut bangkit dan mengembalikan gelas-gelas itu setelah membilasnya dengan air dan meletakan botol minuman itu kembali ke tempatnya.


"Kalau begitu aku ikut, sudah lama sekali sejak terakhir aku melihat Astrid"


Emerson mendahului Hektor dan berjalan dengan cepat menuju tempat di mana Abhlesh dan Astrid berada. Hektor hanya menggeleng melihat tingkah Emerson yang benar-benar berbeda jika menyangkut perkara anak kecil. Hektor menyusul Emerson yang lebih dulu berlalu meninggalkannya.


"Setidaknya bersihkan aroma itu dari baju mu idiot".


************


Abhlesh berbaring di bawah bayangan pohon yang berada di taman bunga itu. Sementara Astrid sibuk memainkan bunga dan menghias pakaian serta rambut sang pangeran dengan bunga. Tawa kecil mereka mewarnai taman itu dan kedekatan mereka benar-benar seperti seorang ayah yang menjaga putri kecilnya.


Hampir segala hal dari diri mereka nyaris sama. Di mulai dari rambut yang berwarna emas dan mata biru yang sangat indah seperti sebuah kristal. Kini gadis kecil itu duduk menghadap Abhlesh.


"Kakak, Astid mau tanya bole?"


Abhlesh mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Hmmmm ... mama selalu bilang kalau kakak itu kesepian, apa kakak kesepian?"


Abhlesh tertawa kecil mendengar pertanyaan polos gadis itu dan ketika melihat wajah Astrid yang heran Abhlesh mengusap lembut kepala gadis itu.


"Selama Astrid ada di sini, Janet, Nana dan semua orang di istana, kakak tidak akan kesepian"


"Benalkah?"


Abhlesh mengangguk dan bangkit untuk duduk, sementara Astrid hanya tertunduk sambil memainkan bunga di tangannya.


"Kenapa Astrid?"


Gadis itu menatap wajah Abhlesh dan berdiri melekatkan kelopak bunga di sela daun telinga Abhlesh.


"Itu hadiah dali Astid, kalau kakak kesepian Astid yang akan teman kakak hehehe"


Astrid berlari ke arah Nana dan mengajak Nana untuk bermain dengannya. Sementara Abhlesh hanya tertawa kecil melihat tingkah keponakannya. Melihat senyuman serta kegembiraan dua gadis itu Abhlesh bertekat untuk menjaga kerajaan Kaspian dari setiap gangguan dan ancaman.


Walaupun itu akan membuatnya menjadi Raja yang di takuti kerajaan lain. Setidaknya hal kecil seperti yang ada di hadapannya tidak bisa terhapus dari tanah Kaspian. Bukan hanya di dalam istana miliknya tapi di seluruh tanah Kaspian.


***********


Bagaimana dengan chapter kali ini? jika bagian penyiksaan sedikit menganggu maafkan saia hahaha bagian itu penting untuk kelangsungan cerita ini dan membangun jembatan menuju kejutan untuk selanjut-selanjutnya wkwkwkw


tenang Abhlesh masih raja yang baik kok, tapi seorang Raja tidak akan berarti jika tidak bisa melindungi hal paling kecil dari kerajaannya 😌


Thanks bagi yang udah baca dan jangan lupa like, komen dan Vote nya ya hehehe jasa mu takkan ku lupakan 👌😌


Sampai dsni dulu untuk chapter ini , Sampai Bye2 👋😘

__ADS_1


Visual Emerson



__ADS_2