
Aurora kini berdiri di hadapan Abhlesh. Mereka berada di ruang kerja Abhlesh dan keluar dari pesta lebih awal. Madam Elizabeth memberi mereka waktu berdua dan wanita itu yang mengambil alih acara. Kini Abhlesh tersandar di kursi kerjanya. Pria itu menghela napas panjang seakan melepas seluruh beban dalam kepalanya.
"Jadi ... kamu ingin pergi?"
Abhlesh menatap tajam mata Aurora. Gadis itu seakan merasakan sesuatu yang membuatnya ragu. Aurora kini berada dalam dilema, di satu sisi dirinya tidak ingin pergi dan jauh dari Abhlesh. Namun di sisi lain, dirinya merasa belum pantas dan kesempatan kali ini tidak boleh dia lewatkan.
"A-aku merasa diriku belum pantas untukmu Abh dan Kaspian butuh seorang Ratu yang bisa berdiri di sampingmu."
Tidak ada formalitas dalam tiap kalimat Aurora. Dirinya seakan seorang gadis yang meminta izin pada lelakinya untuk belajar di negri lain. Layaknya kisah yang sudah-sudah, Abhlesh jelas menentang itu semua. Dirinya tahu bagaimana kerasnya Elizabeth dalam mendidik.
Bagi Abhlesh, gadisnya tidak akan sanggup menjalani itu semua. Namun apa yang Aurora katakan membuat otaknya tersentak. Perasaan yang tadi menguasai pikirannya perlahan mulai reda. Dirinya telah buta, rasa ingin memiliki Aurora seutuhnya membuat Abhlesh kehilangan arah. Hampir saja dirinya tenggelam dalam kebutaan yang menimpa ayahnya.
Abhlesh menghela napas dan berdiri. Dirinya mendekati Aurora yang tertunduk seakan takut dengannya. Abhlesh sama sekali tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Namun dia yakin akan satu hal, Aurora melakukan ini semua karena dirinya ingin bersama Abhlesh dan berakhir dengan kisah yang indah.
Aurora berjuang agar cintanya tidak menjadi penghalang bagi Abhlesh. Dirinya tidak ingin cinta yang hanya terjejak di bibir dan menghilang bersama alunan musik sedih angin di musim gugur. Dirinya ingin menjadi kekuatan bagi Abhlesh, menjadi pelengkap dalam kekurangan cintanya. Jika memang menggapai Abhlesh butuh berdarah, maka Aurora akan berdarah untuk prianya.
"Izinkan aku memelukmu malam ini, sebelum aku harus menahan rindu tanpa dirimu esoknya."
Aurora mengangguk lemah dan menatap wajah Abhlesh. Pria itu kini telah berdiri di hadapan Aurora, memeluknya dengan erat seakan hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.
"Abh ... berjanjilah padaku."
Aurora menatap wajah Abhlesh dari dalam pelukkan itu. Wajah mereka sangat dekat, Aurora bahkan dapat merasakan hangat tubuh Abhlesh serta alunan napasnya yang seakan menari lembut di kulitnya.
"Apa kamu akan memintaku untuk terbiasa tanpamu? hal itu sama saja seakan mengambil udara dari hidupku."
__ADS_1
Aurora tersenyum, gadis itu menatap mata biru kristal yang kini berada di hadapannya. Gadis itu menggeleng, matanya menatap sayu pada Abhlesh dan membalas pelukan prianya.
"Berjanjilah untuk tetap menyimpan namaku di hatimu."
Aurora membenamkan wajahnya di dada Abhlesh. Sementara pria itu, dirinya hanya tersenyum dan membalas pelukkan Aurora semakin erat. Abhlesh mengelus lembut rambut gadis itu dan mendekatkan wajahnya ke telinga Aurora.
"Bahkan jika kamu memintaku untuk melepaskan namamu, aku tidak akan melakukannya."
Abhlesh meniup kecil telinga Aurora yang memerah. Gadis itu tersentak dan berusaha kabur dari pelukan Abhlesh. Namun tenaga pria itu jauh lebih kuat dan Aurora hanya bisa pasrah. Dirinya semakin tenggelam dalam pelukan Abhlesh dan berkali-kali pria itu membuatnya bergetar.
Abhlesh tersenyum bangga ketika melihat wajah memerah Aurora dan tatapan sayu gadis itu. Bagi Abhlesh, tatapan itu terlihat sangat menggoda dan seakan menantangnya untuk bertingkah lebih dari yang tadi. Namun Abhlesh hanya mengecup kening Aurora dan mengelus rambut gadis itu.
"Jadilah Ratuku dan aku berjanji, kamu akan merasakan semuanya."
"Apa sudah selesai bocah nakal?"
Mendengar kalimat itu tubuh Abhlesh seakan di sambar petir. Senyum di wajahnya hilang dan berubah menjadi wajah gugup. Dirinya sangat mengenali suara itu, suara orang yang paling dia takuti di seluruh Kaspian. Bahkan Hektor dan Igrit tidak sanggup berlawanan dengan wanita yang kini berdiri di belakang Abhlesh.
Pria itu berusaha terlihat sopan dan menahan bobot tubuh Aurora. Baginya tubuh kecil Aurora jelas bukan sesuatu yang berat, tapi tekanan di tempat itu seakan bertambah ratusan kali lipat. Dirinya perlahan berbalik dan melihat seorang wanita cantik berambut merah muda yang tersenyum padanya.
Di kerajaan Kaspian, hanya ada dua orang sanggup membuat Abhlesh merasakan takut. Pertama adalah Janet dengan segala larangannya dan kedua adalah wanita yang berdiri di belakangnya. Elizabeth Perceval, nenek sekaligus ibu asuh bagi Abhlesh. Wajah Elizabeth yang terlihat awet muda kini terlihat semakin cantik dengan segala riasan dan gaun yang dia kenakan. Tapi mata Elizabeth seakan sebuah tombak yang siap menembus leher Abhlesh kapanpun.
"Abhlesh Kaspian, apa kamu sudah selesai?"
Abhlesh berdiri tegak mendengar kalimat itu dan mengangguk. Dirinya bahkan tidak sanggup menatap mata Elizabeth dan memalingkan wajahnya ke atas. Dirinya tetap menahan Aurora dengan tangannya agar gadis itu tidak terjatuh. Sementara Aurora berusaha merapikan tubuhnya dan berdiri tegap dengan sedikit bertahan pada lengan Abhlesh.
__ADS_1
Tingkah mereka berdua seolah sepasang kekasih yang tertangkap basah oleh ibu mereka. Elizabeth menghela napas dan mendekati mereka berdua. Abhlesh masih trauma dengan tatapan tajam Elizabeth, sementara Aurora hanya bisa tertunduk.
"Aku anggap semua ini tidak pernah terjadi ..."
Elizabeth mendekat pada Abhlesh dan kini berdiri tepat di hadapan Pangeran Kaspian. Matanya menatap tajam pada Abhlesh dan pria itu hanya bisa menahan napasnya.
"Dan untukmu pangeran nakal ... aku tidak akan mengizinkanmu bertemu atau berkirim surat dengan Nona Aurora selama satu bulan pertama dirinya berada di tempatku."
Abhlesh terperangah, kalimat itu seakan sesuatu yang menarik seluruh kesadarannya. Dirinya seakan tenggelam dalam lautan kalimat yang mengikatnya dan menyiksanya dalam kelam. Ekspresinya yang menganga membuat Elizabeth menahan tawanya. Wanita itu sebenarnya tidak ingin menghukum mereka, tapi apa yang mereka lakukan membuat Elizabeth tidak tahan untuk berbuat jail pada mereka.
"Kalau begitu selamat malam Pangeran."
Elizabeth berbalik dan menatap Janet yang sejak tadi bersamanya.
"Janet, bawa Nona Aurora dari bocah itu dan persiapkan segalanya agar malam ini dia bisa ikut denganku ke kota kristal."
Janet menuntun Aurora yang hanya bisa pasrah. Mereka meninggalkan Abhlesh yang masih tenggelam dalam kalimat Elizabeth dan tersadar ketika mereka sudah menghilang dari pandangannya. Abhlesh menyandarkan tubuhnya pada pintu ruangan kerjanya dan menghela napas panjang. Malam itu teriakan Abhlesh memenuhi ruangan kerjanya dan para pelayan istana hanya bisa menggeleng melihat tingkah Pangeran Kaspian yang lagi-lagi kalah dari Madam Elizabeth.
*******
Wah bakalan pisah nih 😅 moga aja dua2nya bisa menahan rindu ya hahahahaha
Thanks buat yang udah baca, jangan lupa Rate 5, share, like dan komen jika kalian suka dengan cerita ini 😌 dukungan adalah kunci berlangsungnya cerita mereka hehehe
Sekali lagi terima kasih, Sampai Jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋😍
__ADS_1