Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 32 : Chaos


__ADS_3

Puluhan Airship menembakkan meriam mereka ke arah pertahanan kota Suez. Ledakan demi ledakan memecah keheningan fajar yang telah kotor diwarnai peperangan. Meriam-meriam itu berhasil melumpuhkan pertahanan kota Suez tanpa perlawan berarti. Tetapi meski begitu pasukan Kaspian masih belum bisa mendekat masuk menuju kota Suez.


Abhlesh hanya memandangi menara tertinggi kota Suez. Menara yang menjulang ratusan meter di atas tanah itu berdiri dengan kokoh. Menara itu bernama Tower of Babel, menara yang dibangun oleh salah satu ras yang menghilang dari daratan utama. Legenda mengatakan menara itu dibangun dengan tujuan untuk menemui para dewa.


Menara itu adalah salah satu tujuan Abhlesh sampai di kota Suez. Dirinya tidak melihat peperangan yang terjadi di hadapannya dan sesuatu seolah memanggilnya. Pandangannya menghitam dan dirinya tenggelam dalam kegelapan yang menarik jiwanya.


"Jadi kau akhirnya memanggilku?"


Suara Abhlesh menggema dalam kegelapan. Hingga sebuah cahaya menerangi tempat dia berpijak dan terus melebar hingga memperlihatkan sebuah ruangan yang sangat besar.


"Selamat datang jiwa yang dikutuk hahaha."


Suara itu terdengar seperti hinaan bagi Abhlesh. Dirinya berusaha mencari sumber suara itu dan hanya menemukan mural aneh yang tercetak secara perlahan di hadapannya. Mural itu seolah gambar yang bergerak dan menceritakan pada Abhlesh segala hal yang terjadi pada dunia ini. Dimulai dari seorang wanita yang terlihat kesepian dan hanya seorang diri.


Wanita itu terlihat bersedih dan sedetik kemudian gambar itu kembali berubah. Kini wanita itu di temani oleh tiga anak kecil yang mungkin adalah anaknya. Namun wajahnya kini terlihat kembali bersedih ketika dua anaknya mati di bunuh oleh saudara mereka sendiri.


"Bagaimana dengan pertunjukan kecil itu?"


Abhlesh reflek berbalik dan melempar ratusan jarum es yang dia ciptakan dengan Mana miliknya. Ratusan jarum itu terhenti tepat di hadapan wanita yang tadi berdiri di belakang Abhlesh.



"Jangan terburu-buru."


Wanita itu adalah Gaia. Sihir seperti milik Abhlesh bahkan tidak bisa menyentuhnya. Kini wajahnya menoleh pada Abhlesh dan keempat tangannya masih dengan buku dan kecapi.


"Kau ingin bertemu denganku bukan?"


Abhlesh tidak menjawab pertanyaan Gaia. Dia masih sangat waspada dengan pergerakan Gaia. Bagi Abhlesh, Gaia bukan lawan yang mudah dan jelas dia tidak mungkin bisa mengalahkan Dewa. Namun amarah dan dendam yang dia rasakan membuatnya tetap ingin bertarung.


"Keluarkan tubuh aslimu!"


Gaia tertawa mendengar kalimat Abhlesh. Dia menutup buku yang ada di tangannya dan berjalan mendekat pada Abhlesh. Langkah demi langkahnya membuat bulu kuduk Abhlesh berdiri. Seluruh indra Abhlesh berteriak seolah mengatakan bahwa apa yang ada di hadapannya sangat berbahaya.


Kini wanita itu berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya terlihat kaku dan sangat mirip dengan boneka kayu. Abhlesh berusaha menenangkan dirinya, berada di hadapan wanita itu sudah cukup membuat seluruh tubuhnya bergetar.

__ADS_1


"Lihat dirimu, kau bahkan tidak bisa menahan aura benda ini."


Kalimat wanita itu jelas merendahkan Abhlesh. Bagi dewa seperti Gaia, Abhlesh hanyalah seorang bocah ingusan yang ingin bertarung dengan Dewa. Abhlesh sadar akan hal itu dan perlahan berusaha menggerakkan tubuhnya.


"Kau bahkan tidak bisa bergerak."


Tawa kecil terdengar dari boneka itu. Abhlesh berusaha memanipulasi Mana miliknya. Namun hal itu seolah sia-sia dan dirinya semakin terperangkap.


"Kau! aku berjanji akan mem-"


"Diam."


Hanya dengan satu kata dari Gaia dapat membuat Abhlesh diam. Dewa seperti dirinya sangat mudah mengendalikan tubuh atau pikiran makhluk yang lebih rendah darinya.


"Hahaha cukup ikuti panggung yang disiapkan untukmu anakku."


Gaia semakin mendekatkan wajahnya pada Abhlesh. Kini mereka hanya berjarak beberapa centimeter dan Abhlesh dapat melihat jelas wajah tubuh palsu Gaia. Tanpa ekspresi dan matanya sangat kosong layaknya jurang tanpa dasar.


"Hancurkan Teokrasi dan berjalan mendekat padaku, anakku."


Suara itu masih memanggil namanya, mendayu dan terdengar sangat merdu. Abhlesh menoleh ke kanan dan ke kirinya. Namun tidak satupun yang membuatnya menemukan asal suara itu.


"Kau mencariku Kaspian?"


Suara anak kecil terdengar di telinga Abhlesh dan membuatnya berbalik. Ketika itu juga Abhlesh melihat seorang anak perempuan berdiri dan tersenyum padanya.


"Kau memiliki jiwa yang aneh."


Abhlesh masih mengira yang ada di hadapannya kini adalah Gaia. Namun gadis itu hanya tersenyum padanya. Abhlesh tidak tahu bahwa Gaia memiliki bentuk tubuh lain selain wanita tadi.


"Apa maksudmu, jangan samakan aku dengan Gaia."


Kalimat gadis itu membuat Abhlesh terdiam. Dirinya sadar bahwa apa yang ada di hadapannya bukan makhluk biasa.


"S-siapa kau?"

__ADS_1


Gadis itu tersenyum, matanya yang merah dan rambut putih miliknya sangat kontras satu dengan yang lainnya. Wajah gadis itu terlihat tanpa ekspresi, namun sesekali senyum indah terlihat di wajahnya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, kembalikan peperangan di daratan utama dan aku akan membantumu."


Gadis itu kembali tersenyum. Ruangan itu perlahan retak dan gadis itu sama sekali tidak terpengaruh. Hingga semuanya pecah layaknya kaca dan membawa mereka berdua di tengah kegelapan.


"Apa maksudmu? aku hanya ingin merubah takdirku dan menghapus kutukan ini!"


Abhlesh menatap tajam pada mata merah gadis itu. Namun tatapan Abhlesh seolah tidak berpengaruh padanya.


"Hanya itu tugasmu Kaspian, bawa peperangan di daratan ini dan aku akan membantumu. Waktuku sudah habis, cari aku di tempat paling gelap namun terang dan jangan bangunkan sebelum kau memutar balik daratan ini."


Abhlesh termenung dengan kalimat gadis itu. Senyum gadis itu yang tadinya manis berubah menjadi bengis dan mata itu mengingatkan Abhlesh dengan makhluk yang menguasai malam, Vampire.


"K-kau! aku tahu siapa kau!"


"Hahaha sampai jumpa lagi Kaspian."


Gadis kecil itu menepuk telapak tangannya. Abhlesh seolah ditarik oleh tenaga yang sangat kuat dan bergerak turun. Hingga ketika dirinya membuka matanya, perang baru saja dimulai sama seperti ketika dia kehilangan kesadarannya. Abhlesh menghela napasnya dan kembali memusatkan pikirannya pada Teokrasi.


Segala hal yang dia alami sekarang membuatnya termenung. Perkataan gadis kecil itu seolah iblis yang menggodanya untuk terus mengibarkan bendera perang. Namun Gaia juga meminta hal yang sama padanya.


Abhlesh melihat keadaan Teokrasi yang hancur dan rusak akibat ulah pasukannya. Namun negeri ini sudah rusak bahkan sebelum Kaspian menyerang. Gaia yang menciptakan panggung baginya benar-benar membuat Teokrasi rusak. Negeri yang tentram dan makmur berubah brutal dan mengerikan. Abhlesh menghela napas panjang sekali lagi dan berniat memulai perang tapi bukan untuk Gaia.


Dirinya akan merubah daratan ini menjadi Kekaisaran miliknya dan merubah sejarah sekali lagi. Meski dia harus menjual jiwanya pada gadis itu, Abhlesh akan melakukannya. Gaia bukan pilihan bagi Abhlesh dan dirinya ingin mematahkan takdir mengerikan yang Gaia perlihatkan padanya.


Sebuah pemandangan yang membuat jantungnya hancur. Gaia memperlihatkan Aurora yang bersimbah darah di tangannya dan Setelahnya semua penglihatan itu terputus. Apa yang Abhlesh lihat membuat tekadnya bulat. Jika dewa adalah lawan baginya, maka gadis kecil itu pasti menjadi pilihannya.


********


Perang, kutukan, Dewa dan cinta. ribet banget idup lu Abh 😂


Terima kasih buat yang udah baca, jangan lupa Rate 5, Vote, like dan Komen banyak2 ya 😌 dukungan adalah kunci jalannya cerita ini 😌


sekali lagi terima kasih dan Sampai Jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋🤩

__ADS_1


__ADS_2