
"Selamat malam Putri tidur."
Abhlesh mengucap kalimat itu di saat dua kelopak mata Aurora terbuka. Gadis itu awalnya tersenyum dan kembali tertidur. Aurora masih menganggap kejadian ini hanya mimpi. Abhlesh tertawa kecil dengan tingkahnya dan membelai lembut rambutnya.
"Kamu bisa tidur sampai kapanpun, tapi sebelum itu ... bisakah kita makan terlebih dahulu?"
Abhlesh membisikkan kalimat itu pada Aurora. Gadis itu langsung membuka kedua matanya dan Abhlesh menahan tubuh Aurora ketika gadis itu hendak melepas pelukannya. Aurora sama sekali tidak bisa melawan dan kembali jatuh dalam pelukkan itu.
"Kumohon, bisakah kita menghabiskan malam ini setidaknya hingga aku selesai makan?"
Abhlesh menatap Aurora dengan sedikit memohon. Tatapan pria itu seakan hal yang membuat Aurora mabuk di dalamnya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada Abhlesh dan mengangguk lemah.
"Kalau begitu, bisakah kamu bantu aku duduk Aurora? seseorang tidur terlalu nyenyak dan membuat tubuhku kaku."
Kalimat godaan Abhlesh membuat Aurora tersipu malu dan mengangguk pelan. Gadis itu membantu tubuh Abhlesh duduk. Pria itu terlihat sangat senang dengan reaksi Aurora. Pipi gadis itu yang memerah seakan lukisan terindah baginya.
"M-maaf Yang M-"
Abhlesh menahan kalimat Aurora dengan telunjuknya.
"Jika kamu mengucap kalimat itu, semua yang kurasakan akan terasa hampa Aurora."
Abhlesh tersenyum dan menahan Aurora yang akan menjauhinya. Gadis itu benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Kepalanya terisi segala hal tentang apa saja yang mungkin dia lakukan selama tidurnya. Dirinya seakan ingin keluar dari ruangan ini dan berteriak untuk melepas semua rasa malunya.
Abhlesh yang belum puas menggoda Aurora menahan gadis itu dan memaksanya tetap di ruangan ini. Senyum manis Abhlesh serta tatapan sayu mata birunya membuat Aurora tidak lagi sanggup berkata. Bibir gadis itu seakan kelu dan pipinya semakin merona.
"Tetap di sampingku Aurora, tolong jangan siksa aku dengan jarak."
Abhlesh menahan tubuh Aurora yang ingin bangkit. Napas gadis itu berubah tidak beraturan dan Abhlesh dapat merasakan telapak tangan gadis itu yang dingin. Pikiran Aurora sedang berkecamuk, di satu sisi dirinya ingin tetap di sini dan kembali dalam pelukan pria yang dia dambakan. Namun di sisi lainya, gadis itu ingin keluar dan berteriak agar terlepas dari tekanan yang memabukkan ini.
"Kumohon."
Sekali lagi Abhlesh memintanya untuk tetap di samping Abhlesh. Aurora menatap wajah itu, dirinya seakan menginginkan tatapan itu terus berada di hadapannya setidaknya untuk malam ini. Menyerah adalah jalan terbaik dalam pikiran Aurora. Dirinya menghela napas panjang dan mengangguk lemah sekali lagi.
__ADS_1
Abhlesh tersenyum dan mengecup lembut kening Aurora. Hal yang sama sekali belum pernah Aurora alami terjadi malam ini. Aurora terdiam, tubuhnya kaku dan darahnya seakan mengalir tidak beraturan. Serangan itu seakan sesuatu yang sangat fatal bagi Aurora yang selalu membayangkan itu semua. Abhlesh tertawa melihat reaksi gadis itu dan menyentuh bibir Aurora.
"Jika kamu tetap seperti itu, aku bisa berpindah ke bibir indah ini."
Aurora reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan dan berpaling dari Abhlesh. Segala hal yang pria itu lakukan malam ini membuat kewarasan Aurora hampir mencapai batasnya. Detak jantungnya seakan ledakan meriam yang tidak beraturan. Otaknya seakan mengirim sinyal pada seluruh tubuhnya akan sentuhan lembut yang Abhlesh lakukan.
Fantasinya mulai liar dan membayangkan jika itu adalah bibir Abhlesh, gadis itu mungkin akan pingsan. Wajahnya memerah dan Abhlesh sekali lagi menggodanya dengan meniup lembut leher gadis itu dari belakang.
"Ak!"
Aurora berbalik dan menatap Abhlesh dengan wajah kesal. Tubuhnya sangat sensitif malam ini dan tiupan Abhlesh membuat seluruh indranya menajam. Tubuhnya seakan mengalami kejutan listrik yang sangat kuat dan mengambil sedikit tenaganya.
"Hahaha maaf, kamu terlalu manis malam ini, aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk menggodamu."
Aurora menepuk ringan dada Abhlesh dan pria itu hanya tertawa. Suara ketukan memecah kemesraan mereka dan Aurora merapikan pakaiannya yang kusut karena berbaring terlalu lama. Gadis itu turun dari ranjang dan duduk di kursi yang berada di samping Abhlesh.
"Masuk."
"Maaf mengganggu Yang Mulia."
Janet dan Nana memberi hormat. Abhlesh membalasnya dengan senyuman dan mempersilahkan mereka berdua untuk berbicara.
"Yang Mulia, makan malam akan kami bawakan ke ruangan Anda, apa Nona Aurora akan bergabung bersama Anda."
"Tentu saja, maaf merepotkan Janet."
Janet hanya tersenyum dan bersama pelayan lainya wanita itu mengatur segalanya. Hingga akhirnya Abhlesh dan Aurora kini duduk saling berhadapan di balkon kamar Abhlesh. Suasana balkon yang tenang dan sentuhan romantis Janet membuat makan malam itu menjadi sangat cocok untuk mereka.
Abhlesh sangat menyukai suasana ini. Sementara Aurora, gadis itu terlihat gugup. Selama hidupnya baru kali ini Aurora merasakan makan malam bersama orang yang spesial baginya. Beberapa kali gadis itu terlihat merapikan gaunnya serta rambutnya.
"Kamu tetap cantik Aurora, meski dengan rambut berantakan atau gaun yang kusut sekalipun."
Abhlesh tertawa kecil melihat Aurora yang tidak menghiraukan kalimat itu dan tetap ingin terlihat sempurna di hadapan Abhlesh.
__ADS_1
"Yang Mulia tidak tahu bagaimana perasaan seorang gadis jika berada di hadapan orang yang spesial baginya."
Aurora yang mulai terbiasa dengan godaan Abhlesh membalas pernyataan tadi dengan kalimat itu. Abhlesh kembali tertawa kecil dan Aurora sedikit kesal dengan tingkah jail pria itu.
"Kenapa Anda tertawa Yang Mulia?"
Aurora mengungkapkan kekesalannya dan menatap Abhlesh dengan pipi yang merona. Gadis itu seakan berusaha melawan semua perasaannya agar dapat melalui semua ini dengan sadar.
"Maaf dear, Aku hanya senang mendengar ucapanmu."
Abhlesh membalas tatapan Aurora dan ekspresi pria itu terlihat sangat bahagia.
"K-kenapa?"
Aurora membalas kalimat Abhlesh dengan sedikit tertunduk.
"Setidaknya malam ini aku tahu ... Aku tahu bahwa diriku spesial di matamu."
Abhlesh tersenyum dan mulai menyantap hidangan yang tersaji di hadapannya. Aurora yang mendapatkan kalimat itu menjadi semakin gugup. Namun entah bagaimana, berada di hadapan Abhlesh seakan sesuatu yang membuatnya dapat melalui itu semua dengan perasaan puas. Sementara Abhlesh, pria itu seakan mendapatkan sebagian hidupnya yang hilang dan berusaha menikmati setiap momen itu dengan indah.
Mereka menghabiskan malam di balkon itu dengan penuh kemesraan dan tawa kecil di antara mereka. Menutup malam dengan memandangi bintang yang menghiasi langit malam Kaspian. Mereka berdua seakan dua merpati yang terlibat kasih dan mustahil untuk dipisahkan.
Tetapi akankah kisah itu selalu berjalan lancar? setidaknya serahkan saja semua itu pada takdir. Hal yang membuat mereka bimbang, khusus untuk malam ini mereka buang hingga ke ujung dunia. Benar-benar malam yang indah bagi mereka hingga akhirnya berpisah dan kembali terlelap di peraduan masing-masing. Menunggu mentari yang akan tersenyum karena dua hati berhasil bertemu dalam keadaan yang indah dan semoga akan tetap indah.
*****
Wah wah wah udah sampai di chapter 18 aja ni 😂
Lumayan juga ya godaan Abhlesh 😌 kudu belajar ni gue wkwkwk
Thanks buat yang udah baca, jangan lupa Vote, Like dan komen serta Rate 5 jika kalian menyukai cerita ini 😌 dukungan adalah kunci kisah ini tetap berlanjut hehehe
sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa di next episode, Sampai Bye2 👋😘
__ADS_1