Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 11 : Moody Princess


__ADS_3

Aurora kini duduk di atas sofa dan wajahnya terlihat lelah. Gadis itu seakan baru saja melewati masa tersulit dalam hidupnya. Menghadapi seorang pria yang sedingin es benar-benar membuatnya lelah. Belum lagi pandangan mata biru yang dalam dan menyeramkan bagi Aurora.



Namun entah kenapa gadis itu merasakan sesuatu dari Pangeran. Hal yang benar-benar asing hingga membuatnya bingung dan hanya bisa menghela napas panjang. Kini dirinya sudah tidak lagi berada di ruangan itu, di satu sisi gadis itu lega tapi di sisi lain dia ingin tetap berada di ruangan tadi bersama Pangeran.


"Argh! tenang Aurora! kau sudah gila ya!"


Aurora melawan segala hal yang membuatnya berpikir bahwa berada di ruangan itu bersama sang Pangeran adalah sesuatu yang menyenangkan. Dia bahkan mulai meragukan kewarasannya ketika jantungnya berdegup kencang saat memikirkan wajah Pangeran yang sangat dekat dengannya. Perasaan gadis itu menjadi tidak karuan, dan kini dia hanya bisa membenamkan kepala nya di bantal dan berteriak sekuat tenaga.


Sementara di depan pintu itu Abhlesh memandang Aurora dengan tatapan aneh. Aurora yang tidak sadar tetap tenggelam dalam hayalannya, sementara Abhlesh hanya berdiri dan mengamati gadis itu.


"Aurora."


Ada apa dengan mata itu! mata itu seakan menjebakku dalam pandangannya!


"A-"


Belum lagi wajah tampan itu! kenapa dia harus membekapku dengan pandangannya, dan wajahnya juga sangat dekat denganku! apa dia tidak sadar kalau wajah tampannya bisa membunuh setiap wanita di dunia ini!


"Ehem!"


Aurora tersentak, gadis itu tersadar dari lamunannya. Seluruh wajahnya memutih seperti kertas dan berubah memerah ketika kepalanya menoleh layaknya robot yang kekurangan pelumas. Di depan pintu itu Abhlesh berdiri menatapnya dengan senyum di wajah tampannya.


"Apa sudah selesai?"


Aurora menundukkan wajah nya yang memerah dan mengangguk pelan.


"Sebentar lagi Nana dan beberapa pelayan akan datang untuk membantumu ... setelah itu datang ke ruanganku dan bersiap."


"B-bersiap untuk apa Yang Mulia?"


"Menemaniku di karpet merah."


Abhlesh keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Aurora. Gadis itu tidak menyangka bahwa Pangeran Kaspian memintanya untuk berjalan bersamanya di karpet merah. Segala macam pikiran terlintas di benak gadis itu. Hingga wajahnya memerah ketika memikirkan adegan di mana Pangeran itu menggandeng dirinya di karpet merah.


Aurora merebahkan tubuhnya di sofa dan sesekali wajahnya tersenyum. Hari ini benar-benar hari yang aneh dalam hidupnya. Kerajaan Arcadian yang merupakan tempat kelahirannya telah runtuh, dan kini dirinya berada dalam jebakan Abhlesh yang sedikit demi sedikit menarik hatinya. Dia hanya bisa menerawang nasibnya yang bisa saja berubah atau mungkin malah bertambah rumit.


********

__ADS_1



"Anda benar-benar cantik Putri Aurora!"


Salah satu pelayan wanita memuji wajah anggun serta menawan Aurora. Gadis itu dibantu pelayan kerajaan untuk mempersiapkan dirinya bertemu Pangeran. Nana hanya mengawasi jalannya proses itu tanpa ekspresi sama sekali. Bagi Nana, Aurora hanya sesuatu yang Abhlesh titipkan padanya dan hal itulah yang membuat Nana mau mengatur segalanya.


Jika bukan karena perintah Abhlesh, Nana mungkin akan meninggalkan gadis itu dan memilih bersama tuannya. Di Kaspian, Abhlesh sangat dicintai dan dihormati. Hal itu yang membuat Nana menganggap Putri Aurora hanya seorang putri yang beruntung.


Nana sama sekali tidak mengetahui alasan Abhlesh membawanya, tetapi Nana tetap menghormati Aurora. Cerita tentang Aurora yang menerjang lintasan pedang Hektor demi melindungi pelayannya, sedikit membuat Nana menaruh rasa hormat. Tapi tetap saja, Aurora bukan majikannya dan mungkin belum menjadi majikannya.


Aurora memandang wajah Nana yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Gadis itu penasaran dengan Nana yang menjadi pelayan pribadi Abhlesh. Bagaimana mungkin gadis itu bisa bertahan di hadapan tekanan Pangeran Kaspian yang begitu dingin. Sementara dirinya, Aurora bahkan tidak sanggup menatap mata biru kristal itu.


"Apa ada yang salah Putri Aurora?"


Pertanyaan Nana membuat Aurora tersadar dan tersenyum pada Nana.


"Boleh aku bertanya sesuatu Nana?"


"Silahkan."


Aurora sedikit ragu ketika mendengar jawaban singkat Nana serta tatapan tajam gadis itu.


"Hmm ... Apa kamu tidak takut dengan Yang Mulia?"


"Apa kalian bertiga sudah siap?"


Nana memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu dan mengabaikannya. Ketiga pelayan lainnya memberi hormat pada Aurora dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu. Nana menutup pintu itu dan berbalik pada Aurora yang sedikit takut dengan sikap Nana.


"Pertanyaan Anda tadi ... tolong jangan ulangi pertanyaan itu pada pelayan lainnya."


Nana berjalan ke arah Aurora yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu merapikan rambut Aurora dan memeriksa beberapa hal agar kondisi gadis itu sempurna.


"Pangeran Abhlesh adalah pangeran yang di cintai rakyatnya, bahkan para pelayan bisa saja tersinggung dengan pertanyaan Anda tadi Tuan Putri."


Aurora terdiam, dirinya tidak sanggup berkata apapun. Nana tersenyum padanya dari pantulan cermin yang ada di hadapan mereka.


"Anda tidak perlu tegang Tuan Putri, Pangeran Abhlesh tidak seperti yang ada dalam pikiran Anda."


Nana menyelesaikan tugas terakhirnya dan berdiri di samping Aurora.

__ADS_1


"Maaf"


Aurora merasa bersalah dengan pertanyaannya. Nana membalasnya dengan senyum dan menuntun Aurora berdiri serta membukakan pintu untuk gadis itu. Nana membawa Aurora di hadapan pintu ruangan Abhlesh dan mengetuknya.


Seorang pelayan wanita keluar dan ketika melihat wajah Aurora dan Nana, pelayan itu kembali masuk. Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka dan Abhlesh sudah bersiap dengan pakaiannya.


Nana dan pelayan wanita di ruangan Abhlesh memberi hormat dan meninggalkan mereka berdua. Aurora masih tidak sanggup menatap mata biru Ablesh dan jantungnya masih berdetak cepat ketika berada di dekat sang Pangeran. Abhlesh mengulurkan tangannya agar bisa menuntun Aurora berjalan bersamanya.



"Kamu terlihat sangat cantik Aurora."


Pujian dari Abhlesh membuat jantung Aurora seakan tidak beraturan. Wajah gadis itu memerah dan perlahan gadis itu menyambut tangan Abhlesh yang menunggunya. Abhlesh tersenyum dan menuntun gadis itu berjalan menuju gerbang keluar Leviathan.


Nana dan Pelayan wanita yang ada di ruang itu mengikuti mereka dari belakang. Ketika sampai di depan gerbang itu, Emerson dan Ashe memberi hormat pada Abhlesh. Aurora yang gugup ikut memberi hormat pada Emerson dan Ashe. Emerson menatap Aurora dengan mata sayunya sementara Ashe tersenyum padanya.


"Selamat datang di Kaspian, Tuan Putri Aurora."


Ashe menggandeng tangan Aurora dan Abhlesh hanya bisa menghela napas melihat tingkah wanita itu. Sementara Emerson melihat wajah Aurora dari dekat. Pria itu seakan tidak mengerti konsep jarak dalam memperhatikan seseorang.


"Yang Mulia, Kapan kau akan menikahinya? kurasa gadis ini cocok menjadi Ratu Kaspian."


Kalimat Ashe seakan bom atom di telinga Aurora dan Emerson hanya mengangguk setuju dengan kalimat itu. Sementara Abhlesh, pria itu hanya tersenyum pada Aurora dan meminta Ashe untuk berhenti mengganggu Aurora.


Aurora yang saat itu tidak tau apa-apa hanya bisa termenung dan memandangi mereka bertiga dengan wajah memerah. Abhlesh yang masih menggenggam tangan Aurora menuntunnya untuk berjalan menuruni anak tangga. Di hadapan mereka ratusan orang berkumpul untuk menyambut raja mereka. Dalam teriakan yang riuh itu Abhlesh mendekatkan wajahnya ketelinga Aurora.


"Kurasa ... kerajaan ini memang butuh Ratu sepertimu."


Aurora reflek melihat ke arah Abhlesh dan pria itu hanya tersenyum. Emerson dan Ashe berusaha menahan tawa mereka ketika melihat wajah Aurora yang kembali memerah seperti kepiting rebus karena perkataan Abhlesh. Hari ini benar-benar hari yang aneh pikir Aurora dan berusaha menahan dirinya.


********


Waaaaah udah balik lagi ke kaspian nih.


Btw Nana itu ga benci ama Aurora ya, dia cuma ga suka seorang perempuan yang lemah 😂


FYI Nana dan Emerson itu kakak adek 😂 sementara Ashe ..... masih rahasia ahaha


kalau kalian di posisi Aurora bakalan ngapain tu 😂 , gue tim Abhlesh sih bahahaha

__ADS_1


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa vote,like, komen dan Rate 5 jika kalian suka dengan cerita ini 😌


Sampai jumpa di next episode ya, Sampai Bye2 👋😌


__ADS_2