Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 21 : Duchess Perceval


__ADS_3

Duchess Elizabeth Perceval, seorang wanita yang memiliki julukan Flower of Society. Meski di umurnya yang sudsh menginjak 60 tahun, wanita itu masih terlihat cantik. Bahkan ketika Aurora pertama kali bertemu dengannya, Aurora menyangka dia bertemu dengan orang yang salah. Kini wanita itu kembali duduk di hadapannya.


Wanita itu tersenyum melihat Aurora. Namun matanya seakan menilai setiap gerak gerik Aurora. Pandangannya seolah sesuatu yang memaksa Aurora untuk tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan ketika Aurora memberi hormat padanya, wanita itu hanya membalasnya dengan senyum. Tanpa basa-basi dirinya langsung meminta Aurora untuk duduk di hadapannya.


Posisi mereka yang berhadap-hadapan, membuat Aurora sedikit gugup. Sementara Elizabeth meminta semua pelayan untuk meninggalkan ruangan kecuali Nana. Nana mengambil posisi di sudut ruangan dan bersiap jika dirinya dibutuhkan.


"Apa kamu yang bernama Aurora?"


Pertanyaan wanita itu sedikit membuat Aurora heran. Bukankah dirinya pernah bertemu Aurora ketika bersama Abhlesh di jamuan makan istana kala itu. Namun Aurora memilih untuk mengangguk dan tersenyum.


"Kamu tidak perlu gugup dear."


Wanita itu tersenyum melihat senyuman Aurora yang sedikit dipaksakan.


"Tapi bukan berarti kamu boleh melepas tata krama."


Elizabeth menatap tajam pada Aurora. Dirinya seakan mencari celah pada gadis itu. Sementara Aurora, dirinya kini tengah berusaha menenangkan dirinya agar terus menatap mata Elizabeth.


"Bolehkah saya bertanya tujuan Anda memanggil saya Madam?"


Elizabeth menghela napasnya mendengar kalimat itu. Tatapannya berubah dingin dan wajahnya kini tanpa ekspresi.


"Apa kamu ingin menjadi Ratu?"


Pertanyaan itu membuat Aurora terdiam. Dirinya tidak menyangka Duchess yang terkenal langsung melempar pertanyaan itu padanya. Pikiran Aurora berkecamuk, dirinya bahkan tidak tahu harus berkata apa. Sementara Elizabeth, wanita itu bahkan sama sekali tidak melihat wajah Aurora dan menikmati secangkir teh di tangannya.


Susana ruangan itu sedikit berat. Aurora masih belum mampu menjawab pertanyaan itu dan Elizabeth sama sekali tidak merubah pertanyaannya. Wanita itu seakan menunggu respon Aurora tanpa memandang wajahnya.


"A-apa maksud-"


"Aku benci orang yang bertele-tele, kau hanya perlu menjawab ya atau tidak."


Elizabeth langsung memotong kalimat Aurora. Gadis itu merasakan tekanan yang berbeda dari Elizabeth. Dirinya kini teringat ucapan Janet yang mengatakan bahwa Duchess Perceval jauh lebih mengerikan dari Hektor. Kini dirinya merasakan tekanan sesungguhnya dari Duchess Elizabeth Perceval.


"Aku sama sekali tidak menginginkan kau menjadi Ratu."


Aurora kini tertunduk, gadis itu berusaha melawan perkataan Elizabeth. Namun sesuatu seakan menahannya, dirinya seakan menerima perkataan itu mentah-mentah.

__ADS_1


"Seorang Ratu tidak boleh tunduk di hadapan bawahannya."


Aurora kini menatap wajah Elizabeth. Dirinya seakan meminta penjelasan dari kalimat itu. Elizabeth sama sekali tidak menatap Aurora, wanita itu seakan kembali menunggu respon Aurora.


"Apa Abhlesh memintamu untuk menjadi Ratunya?"


Aurora kembali menundukkan kepalanya. Dirinya seakan di hadapkan pada kenyataan yang pahit. Posisinya sebagai Putri dari kerajaan yang kalah melemahkannya. Bagaimana mungkin dirinya dapat mengimbangi Abhlesh yang merupakan Pangeran Kaspian.


"Kau terlalu lemah."


Elizabeth kembali melempar pernyataan yang membuat Aurora semakin tersudut. Dirinya seakan berada di bawah siksaan kata yang mengerikan.


"Bagaimana mungkin kau ingin menjadi Ratu? lihat dirimu, kau bahkan tidak bisa membela dirimu sendiri."


Elizabeth menatap Aurora yang tertunduk. Wanita itu terlihat kecewa dengan gadis yang ada di hadapannya. Dirinya tidak menyangka Aurora menerima semua perkataannya. Elizabeth menghela napasnya dan berdiri.


"Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku hari ini, temui aku kembali di taman bunga Cleo region sore ini."


Elizabeth meninggalkan Aurora yang masih tertunduk. Gadis itu seakan menahan air mata atas dirinya yang bahkan tidak mampu membela dirinya sendiri. Aurora melepas air matanya ketika Elizabeth sudah benar-benar pergi dari ruangan itu.


"Nana, apa aku benar-benar menyedihkan?"


"Madam Elizabeth hanya meminta Anda untuk menjawab pertanyaannya, saya sarankan Anda memikirkan jawabannya Tuan Putri."


Aurora mengangguk lemah dan meninggalkan ruangan itu. Dirinya masih tenggelam dalam penyesalannya akan dirinya sendiri. Kini Aurora melangkah lemah menuju ruangannya. Tenggelam dalam renungan yang membuatnya berkali-kali menghela napas panjang.


Ketika dirinya sampai di kamar miliknya. Aurora melepas semua emosi yang tertahan. Dirinya menangis dan berteriak, tetapi tidak sekali pun dirinya menyalahkan Elizabeth dan segala pertanyaannya. Aurora sadar akan kelemahannya, gadis itu juga sadar akan posisi Elizabeth yang tentu menginginkan Ratu terbaik bagi Kaspian.


Namun tetap saja, pertanyaan-pertanyaan tadi seakan petir yang menyambar di telinganya. Pernyataan Elizabeth yang sangat tajam layaknya mata pedang membuat Aurora kembali termenung. Dalam keadaannya saat itu seseorang mengetuk pintu kamarnya. Aurora mendengarkan suara Janet yang meminta izin untuk masuk.


"Apa Anda baik-baik saja Tuan Putri?"


Janet tersenyum melihat keadaan Aurora yang tenggelam dalam bimbang. Dirinya seakan mengerti kenapa Aurora menjadi seperti saat ini.


"Apa Madam Elizabeth menanyakan sesuatu pada Anda?"


Janet menghampiri Aurora yang terduduk di pinggir ranjang. Wanita itu menyeka air mata Aurora dan menatapnya dengan wajah yang tersenyum.

__ADS_1


"Putri Aurora, apa menjadi Ratu Pangeran Abhlesh begitu berat bagi Anda?"


Aurora mengangguk lemah. Dirinya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika gadis lemah seperti dirinya menjadi Ratu dari kerajaan yang kuat seperti Kaspian. Janet kini duduk di sebelah Aurora, pandangannya seakan mengingat kejadian di masa lalu.


"Apa Anda tahu alasan dari pertanyaan Madam Elizabeth?"


Aurora terdiam, dirinya sama sekali tidak memikirkan alasan Elizabeth bertanya padanya. Dirinya terlalu takut dan tenggelam dalam setiap perkataan Elizabeth


"Madam Elizabeth adalah istri dari Duke Perceval, seorang Duke yang sangat baik dan bijak, Pangeran Abhlesh bahkan menangisi kematian beliau, apa Anda tahu apa yang terjadi setelah kematian Duke?"


Aurora menggeleng lemah, tatapannya terkunci pada Janet. Matanya seakan meminta Janet menceritakan segalanya.


"Madam Elizabeth bahkan tidak bisa menangisi suaminya, dirinya dipaksa selalu kuat dan menerima jabatan sebagai Duchess Perceval, seorang wanita yang baru kehilangan suami yang paling dia cintai harus tenggelam dalam politik Kaspian yang kala itu hancur."


Aurora terperangah, tidak sedikit pun terlintas dalam pikirannya bahwa Elizabeth mengalami itu semua. Janet tersenyum melihat ekspresi gadis itu dan mengelus lembut rambut Aurora.


"Jika bukan karena Madam Elizabeth, Kaspian mungkin sudah tenggelam dalam peperangan dan Pangeran Abhlesh mungkin telah tewas."


Janet berdiri di hadapan Aurora. Wanita itu tersenyum pada Aurora dan menatap dalam wajahnya.


"Madam Elizabeth mungkin hanya ingin memastikan apakah Anda pantas berdiri di samping Pangeran Abhlesh dan menjadi Ratu Kaspian, kuatkan diri Anda Putri Aurora, Pangeran mungkin menginginkan Anda untuk menerima tantangan ini, Anda bukan gadis lemah dan Pangeran tahu itu."


Aurora tertunduk mendengar ucapan Janet. Dirinya seakan mendapat dorongan yang dia perlukan untuk menjawab pertanyaan itu. Baginya kini, tidak ada yang lebih berharga dari Abhlesh.


"Janet, bisakah kamu bantu aku untuk bersiap menemui Madam Elizabeth?"


Janet tersenyum mendengar kalimat Aurora yang kini dipenuhi rasa percaya diri. Dirinya melihat mata Aurora yang penuh dengan rasa percaya diri. Janet memanggil beberapa pelayan yang sejak tadi menunggu di luar. Wanita itu mempersiapkan Aurora yang akan kembali menantang rintangan yang Elizabeth berikan.


Sementara Aurora, gadis itu berusaha menguatkan dirinya dan bertekad untuk memulai segalanya. Dirinya tidak lagi tenggelam dalam keraguan dan langkahnya terlihat kuat ketika menyusuri koridor menuju Cleo region. Aurora kini telah mengambil langkah yang akan merubah hidupnya selamanya dan dirinya tidak akan pernah menyesali keputusannya hari ini. Seorang Putri yang akan dikenal sebagai Ratu paling di banggakan Kaspian kini memulai langkah pertamanya.


*********


Duchessss Perceval! aku padamu 😂


60 tahun, awet muda hahaha resepnya masih misteri hahaha


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa rate 5,share, vote, like dan komen jika kalian suka dengan cerita ini 😌 dukungan adalah kunci berlangsungnya cerita ini 😌

__ADS_1


sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋😘


__ADS_2