
Abhlesh dan Aurora saling berhadapan di bangku gazebo taman. Suasana di antara mereka sangat kaku dan Abhlesh sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Tujuan dirinya memanggil Aurora ke tempat ini adalah untuk mengetahui sesuatu tentang gadis itu.
"Bagaimana keadaanmu?"
Abhlesh memecah keheningan di antara mereka dan menatap lurus pada Aurora. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya dan sesekali melirik ke arah mata biru itu.
"Se-semuanya baik-baik saja, Yang Mulia."
Abhlesh mengangguk kecil dengan jawaban itu. Pria itu menyodorkan sebuah surat yang sejak tadi tergeletak di sudut meja.
"Baca dan katakan pendapatmu."
Aurora mengangguk lemah dan mengambil surat itu dengan perlahan. Gadis itu seakan berada di tengah tekanan udara yang kuat dan menyesakkan napasnya. Aurora membaca surat itu dengan perlahan.
Mata gadis itu seakan kaget dengan isi surat itu dan tangannya sedikit bergetar. Surat itu adalah surat yang Kaisar Naga kirimkan pada Abhlesh. Isi surat itu meminta Aurora dan dengan begitu mereka akan mengampuni Kaspian. Segala macam pikiran berkecamuk di dalam benak gadis itu.
Satu hal yang membuat gadis itu takut adalah perang yang terjadi karena dirinya. Kaspian yang merupakan Kerajaan yang damai dan makmur akan jatuh dalam api peperangan. Kaisar Naga memiliki hubungan baik dengan Arcadian, dan Kaisar itu memang menaruh hati pada Aurora sejak lama.
Berita tentang jatuhnya Arcadian dan Aurora yang dibawa menuju Kaspian pasti sudah sampai di telinga mereka. Hal itulah yang membuat surat ini sampai ke tangan Abhlesh.
"Jadi bagaimana pendapatmu?"
Pertanyaan Abhlesh memecah rentetan pikiran Aurora. Gadis itu berpikir keras alasan dan tujuan Abhlesh bertanya padanya. Namun tatapan pria itu seakan tidak memberi Aurora banyak waktu dan air mata mulai mengalir di pipi gadis itu. Abhlesh hanya memperhatikan gadis itu dan sama sekali tidak bergerak.
Abhlesh menunggu respon gadis itu dan jika tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, hari ini juga Aurora akan mengalami nasib yang sama dengan Luxius dan keturunannya. Gadis itu menahan tangisnya dan menghela napas sambil terus berusaha untuk memandang Abhlesh. Mata biru dingin itu memandang Aurora dengan tatapan yang sama dinginnya.
Aurora bertahan dengan semua itu dan membalas tatapan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan tangis dan napasnya seakan sesak. Gadis itu kembali menghela napas panjang dan mulai membuka mulutnya.
"Ji-jika Kaspian ... j-jika Kaspian harus berperang dengan Kaisar Naga ...."
Kalimat gadis itu terputus dan bibirnya bergetar. Aurora berusaha menahan tangisannya serta dirinya berusaha terlihat tegar di mata biru itu.
"Jadi lebih baik bagimu jika Kaspian berperang?"
Ekspresi Abhlesh seketika berubah. Mata itu seakan lautan es yang siap menelan apapun yang jatuh di atasnya. Sementara Aurora masih berusaha mengumpulkan tenaganya dan menghela napas panjang.
"S-saya belum selesai Y-Yang Mulia."
Abhlesh menghantam meja itu dengan telapak tangannya dan permungkaan meja itu membeku. Aurora berusaha menahan rasa takutnya dan kali ini dirinya bertekad untuk melawannya.
"Be-berikan hamba pada Kaisar Naga ... agar Kaspian y-yang makmur tetap da-damai."
Abhlesh tersenyum tanpa Aurora sadari. Pria itu puas dengan jawaban Aurora. Sementara Aurora, gadis itu kini berlutut dan kepalanya tertunduk.
__ADS_1
"Apa kau menganggap Kaspian akan damai karena keputusanmu?"
Aurora hanya terdiam. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa, kepalanya hanya tertunduk dan air mata mengalir dari matanya. Dia sadar dia hanya seorang gadis lemah, seorang gadis yang hanya berfungsi sebagai alat tukar di manapun dirinya berada.
Abhlesh menatap gadis itu tanpa menyuruhnya untuk berdiri. Mata itu semakin membuat Aurora sadar akan posisinya. Apa yang di alaminya kemarin hanyalah permainan Abhlesh dan semua hayalannya hanya fana. Hatinya mulai menangisi dirinya yang menyedihkan.
"Igrit akan mengantarmu pada Kaisar itu sore ini."
Abhlesh berdiri di hadapan Aurora yang berlutut. Gadis itu menahan tangisnya dan mulai mengasihani dirinya sendiri.
"Apa kau berpikir dirimu hanya sebuah barang?"
Aurora tersentak dengan pertanyaan itu. Selama ini dirinya memang hidup dalam bayangan itu. Wajahnya serta rupanya yang menawan hanya sebuah alat tukar untuk sesuatu yang membawa keuntungan bagi kerajaannya. Meski hingga kini hal itu belum terjadi, gadis itu yakin dirinya hanya sebuah barang di mata Raja dan di mata Abhlesh.
"Apa kau pikir dirimu pantas untuk ditukar dengan kedamaian Kaspian?"
Pertanyaan itu lagi-lagi dilemparkan padanya. Gadis itu termenung, air matanya terus mengalir di wajah cantik itu. Abhlesh berlutut di hadapan gadis itu dan mengangkat wajahnya dengan lembut. Mata biru itu kini berada sangat dekat dengan wajah Aurora. Pria itu tersenyum, matanya menunjukan kehangatan yang tidak pernah Aurora lihat dari sosok Abhlesh sebelumnya.
"Biarkan aku yang menjawab pertanyaan tadi, dirimu tidak pantas dan selamanya tidak akan pantas untuk jatuh ketangan siapapun, tidak selama aku masih hidup dan kerajaan ini masih berdiri."
Aurora berusaha mencerna kalimat Abhlesh dan gadis itu hanya termenung. Kalimat Abhlesh seolah mengatakan bahwa Aurora tidak akan pernah pergi darinya selama pria itu masih hidup dan kerajaan Kaspian masih berdiri.
Abhlesh membantu gadis itu berdiri dan memeluknya. Pelukan yang begitu hangat dan lembut membuat tangisan Aurora pecah. Dirinya sadar bahwa Abhlesh tidak akan menjadikannya sebagai alat tukar.
Aurora melepaskan segala emosinya. Apa yang dia pikirkan selama ini tentang Abhlesh sepenuhnya salah. Pria itu mungkin memang dingin, tetapi dia akan melindungi seluruh rakyatnya dan apa yang menurutnya berharga baginya.
"Igrit akan menyampaikan pesan untuk Kaisar itu, apa kamu ingin menyampaikan sesuatu?"
Aurora menggeleng dan hanya membenamkan wajahnya dalam pelukan Abhlesh. Gadis itu seakan menemukan oasis dalam gurun hidupnya yang gersang. Dirinya seakan kembali pada tempat yang dapat dia sebut rumah.
"Aku pernah melihatmu sebelumnya."
Suara itu datang dari arah belakang Abhlesh. Seorang pria berambut kuning berjalan mendekati mereka berdua. Ekspresi pria itu datar dan seakan tanpa emosi.
Abhlesh menuntun Aurora untuk duduk. Abhlesh bahkan menyeka air mata Aurora yang masih membekas di pipinya. Kini Aurora sedikit tenang dan pria asing itu berdiri di samping Abhlesh layaknya Knight yang melindungi tuannya.
"Maaf Sir ..."
"Igrit."
"Sir Igrit pernah melihat saya?"
Igrit hanya mengangguk dan ekspresinya seakan tidak tertarik dengan Aurora. Pria itu berdiri di belakang Abhlesh yang kini kembali duduk di posisi sebelumnya.
__ADS_1
"Igrit pernah bertemu dengan Ratu Halet."
Abhleh menambahkan kalimat itu dan Aurora seakan baru pertama mendengar nama itu. Gadis itu seakan tidak mengetahui tentang Raja Alfred yang memiliki Ratu seorang Elf.
"Hmm ... bukankah Raja Alfred memiliki Ratu bernama Isabella dan Ratu Isabella adalah ibu-"
"Kau salah, Halet adalah ibumu dan Alfred adalah Ayahmu, Luxius idiot itu merubah sejarah Arcadian dan mengubur identitasmu."
Aurora terdiam. Informasi yang dimuntahkan padanya seakan gelombang kejut yang membuka seluruh tabir. Rahasia kelam Arcadian yang sama sekali tidak pernah dia ketahui. Kini dirinya dihadapkan pada sesuatu yang berada di luar dugaannya. Dia hanya bisa termenung dan memandang Igrit seakan tidak percaya.
Igrit tidak melanjutkan kalimatnya dan mendekati Aurora. Pria itu masih dengan wajah tanpa ekspresinya dan Abhlesh tersenyum pada Aurora.
"Tahan sedikit, Igrit akan menunjukkan sesuatu padamu."
Ketika kalimat itu selesai keluar dari mulut Abhlesh, ketika itu juga Igrit menempelkan jempolnya di dahi Aurora dan gadis itu langsung kehilangan kesadarannya.
*********
Waaaah udah di chapter 13 nih yeeee 😤
Aurora maaf ya, Abhlesh hanya ngetes jalan pikiran mu jadi harap maklum ya hahaha
btw igrit ngapain tu 🤔.....
Thanks buat yang udah baca 😌 jangan lupa like, komen, vote dan Rate 5 nya jika kalian suka dengan novel ini 😌
Sampai jumpa di next episode ya 😌, sampai Bye2 👋😁
Visual untuk Beberapa karakter udah keluar Yeeeeee
Ashe
Visual Ashe di ambil dari karakter Miss Fortune dari game LOL 😌
Igrit
Sementara Igrit di ambil dari Pinterest, Gambar2 itu murni milik ownernya dan tidak menghapus atau mengurangi watermark.
Kira2 dua itu dulu bahahaha Sampai Bye2 All 😌
__ADS_1