Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 33 : Aurora


__ADS_3

Pov 1. Aurora


Aku terbangun di atas sebuah altar yang telah hancur. Akar pohon raksasa membuat tempat ini berantakan. Namun bukan itu yang membuatku heran. Semenit yang lalu aku masih membaca buku rahasia Madam. Kini aku menemukan diriku berada di tempat yang asing.


Pohon raksasa yang menjulang tinggi menembus awan berdiri kokoh di hadapanku. Namun suasana di tempat ini sangat familiar bagiku. Sesuatu seolah mengatakan padaku bahwa tempat ini adalah tempatku untuk kembali.


Tapi entah kenapa semuanya begitu hening. Suara dahan dan angin bahkan menghilang dari pendengaranku. Berganti suara detak jantungku yang seirama dengan rasa takut dan penasaranku. Kini aku berdiri dan berjalan ke arah pohon itu. Sebuah istana yang hancur dan reruntuhan kuno terbentang di hadapanku.


"Selamat datang Elf."


Suara wanita memecah lamunanku. Aku mencari asal suara itu namun di tempat ini hanya aku sendiri tanpa seorangpun berada di tempat ini.


"S-siapa kamu?"


Tawa kecil terdengar dari segal penjuru. Bulu romaku berdiri dan suara itu kembali menghilang.


"Aku lupa kamu adalah Half."


Kalimat itu membuatku waspada. Bagaimana mungkin suara itu tahu fakta tentang darahku yang memiliki campuran. Aku hanya menunggu suara itu kembali terdengar dan berusaha keluar dari tempat yang mungkin hanya dunia mimpi ini.


"Aku adalah sesuatu yang memulai semuanya. Mati lalu kembali hidup. Namun hidupku memakan banyak hal berharga dari makhluk lain."


Suara itu terdengar menyedihkan dan penuh penyesalan bagiku. Meski aku tidak mengenal wanita pemilik suara itu, namun entah kenapa rasa sedihnya seolah merasuki jiwaku.


"Apa maksud perkataanmu? bagaimana mungkin kamu hidup dengan mengorbankan orang lain."


Lagi-lagi suara tawa kecil memenuhi sekelilingku. Aku berusaha mengendalikan Mana yang ada dalam tubuhku. Merasakan aliran Mana adalah hal yang Madam ajarkan padaku.


"Pohon? kamu adalah pohon itu?"


Tidak ada jawaban dari pertanyaanku. Aku merasakan Mana yang luar biasa dari pohon raksasa di hadapanku. Mana itu bergerak dan akarnya membentuk tubuh seorang wanita yang berdiri di hadapanku.



Wanita itu hanya berdiri di tempatnya dan tubuhnya masih melekat pada akar pohon itu. Wajah wanita itu tersenyum ke arahku. Matanya terlihat menyimpan kerinduan dan kesedihan yang mendalam ketika menatapku.


"Kamu adalah Elf pertama yang menginjakkan kaki di tempat ini setelah ratusan tahun."

__ADS_1


Aku sedikit mundur ketika wanita itu ingin menjangkau tubuhku. Melihat reaksi yang kuberikan, wanita itu tersenyum. Dia seolah sadar bahwa aku masih curiga dan menjaga jarak dengannya.


"Sesuatu mengundang jiwamu ke tempat lain, Aku mengalihkan kekuatannya dan hal itulah yang membuatmu ada di tempat ini."


Aku terdiam mendengar ucapan wanita itu. Sesuatu yang bisa bermain dengan jiwa hanya para dewa. Jika demikian, bagaimana mungkin wanita yang merupakan perwujudan dari pohon raksasa itu dapat melawan kekuatan para Dewa.


"Sebenarnya siapa dirimu? kenapa pandanganmu terlihat sedih ketika melihatku."


Wanita itu tersenyum mendengar pertanyaanku. Dia seolah ingin memeluk diriku dan menghabiskan waktu bersamaku di tempat ini. Itu semua terlihat dari tatapan matanya yang penuh dengan kerinduan.


"Dahulu kala ketika Gaia menciptakan dunia ini, aku adalah kehidupan pertama yang dia ciptakan, Gaia memberiku nama עֵץ הַחַיִּים ."


Kata terakhir yang wanita itu ucapkan sama sekali tidak pernah kudengar. Bahasa yang mungkin telah lama hilang dan tentu hal itu membuatku penasaran.


"Maaf, tapi aku tidak bisa mendengar nama yang kamu ucapkan."


Wanita itu tersenyum. Dia seolah ingat akan sesuatu dan menyentuh lehernya.


"Lignum atau Pohon kehidupan. Nama itu yang penduduk dunia ini berikan padaku. Tapi kamu bisa memanggil dengan nama Lignum"


Aku terdiam mendengar nama pohon kehidupan. Nama itu tertulis di buku yang kubaca sebelum aku berakhir di tempat ini.


Aku mengangguk dengan kalimat Lignum. Bagiku pohon kehidupan adalah tempat yang ingin kulihat dan buku kuno itu menceritakan tentang para Elf yang tinggal di sana. Tetapi perkataan Lignum seolah mengatakan bahwa Elf sudah lama menghilang dari pohon kehidupan.


"Kenapa dengan ekspresi bingung itu? kamu pasti bertanya mengapa tidak ada Elf di tempat ini bukan?"


Aku mengangguk mendengar pertanyaan Lignum. Semuanya seolah menjadi teka-teki rumit bagiku. Alasan Lignum membawaku padanya juga menghantui pikiranku.


"Setelah aku dihidupkan kembali, jiwaku saat itu masih sangat tidak stabil. Gaia mengambil alih tubuhku dan dia meminta hal yang paling berharga dari tiga pemimpin ras saat itu."


"Tiga pemimpin ras?"


Aku hanya pernah mendengar tentang peperangan besar di daratan. Namun aku tidak menyangka bahwa perang itu bahkan membuat pohon kehidupan musnah.


"Ya, tiga pemimpin tertinggi yang mewakili dunia. Ratu Luthien memberikan keabadiannya, Gabriel memberikan sayapnya dan-"


Lignum terdiam, sesuatu seolah menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak punya banyak waktu lagi. Tujuanku membawamu ke tempat ini adalah untuk memberimu peringatan."


Kalimat Lignum membuatku bingung. Dia bahkan belum memberiku penjelasan dan kini dia terlihat terburu-buru.


"Peringatan? peringatan tentang apa?"


"Menjauh dari jiwa yang kelam, jiwa itu adalah pemegang kontrak tertinggi dan Gaia sangat tidak suka pembangkang."


Kalimat Lignum membuat otakku berpikir keras. Bagaimana mungkin aku tahu siapa pemilik jiwa itu dan bagaimana rupanya.


"Tidak ada waktu lagi, jiwa itu memiliki umur yang jauh lebih tua dari tubuh aslinya, kontrak yang dia pegang adalah kontrak-agh!"


"Lignum!"


Aku berusaha mendekat namun Lignum seolah melarangku. Dia terlihat menahan rasa sakit yang sangat kuat dan salah satu dahan miliknya patah. Dahan raksasa itu terjatuh dan membuat dentuman yang sangat besar. Getarannya membuatku kesulitan menahan keseimbangan tubuhku.


"Jauhi jiwa itu! jiwa itu memulai kembali peperangan dengan Gaia dan kuharap kamu tidak terlibat di dalamnya. Jika dia menghidupkan kembali badai, maka-agh!"


Satu lagi dahan raksasa itu patah. Setiap rahasia yang Lignum beberkan seolah membuat tubuhnya tersiksa. Aku hanya bisa terdiam dan berusaha menangkap semua perkataannya.


"Maka pasukan kematian akan kembali berjalan di tanah ini! jauhi jiwa itu! jika kau terlanjur bersamanya, katakan bahwa membangkitkan dua bintang hitam hanya akan membawa dirinya tenggelam dalam ta-"


Lignum tidak lagi dapat berbicara. Tubuhnya berubah menjadi kayu dan dengan sisa tenaganya, Lignum melepaskan Mana miliknya. Membuatku seolah di tarik oleh sesuatu yang sangat kuat dan terhempas di lantai.


Aku berusaha mengatur napasku yang bergerak sangat cepat. Tubuhku bergetar hebat dan perkataan Lignum memenuhi pikiranku. Sesaat sebelum aku meninggalkan tempat itu dan kembali di tubuh asliku, aku mendengar suara yang mengerikan dan memanggil namaku.


Suara itu masih terngiang di telingaku. Nada yang penuh dengan amarah dan terdengar mengerikan. Pemilik suara itu terdengar begitu kesal dengan ulah Lignum dan untuk menahannya masuk, Lignum harus mengorban dua dahan raksasa miliknya. Aku bertekad untuk memecahkan misteri itu dan tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Lignum.


Jiwa yang kelam adalah hal yang harus kucari. Abhlesh mungkin bisa membantuku, namun kudengar permasalah di Teokrasi masih berada di tangannya. Sementara Madam, kurasa madam mungkin bisa membantuku, semoga saja.


*******


waw Aurora mulai dibawa2 ni wah bahaya2 🙄


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa rate 5, vote, like dan komen yang banyak ya 😌 dukungan adalah cara untuk membuat cerita ini terus berlanjut 😌


Nama Lignum di ambil dari bahasa Latin, Lignum vitae yang berarti pohon kehidupan.

__ADS_1


Sampai jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋🤩


__ADS_2