
Eve membuka matanya dan melihat dirinya berada di dalam sebuah ruangan. Rasa sakit menyerang kepalanya yang terasa sangat berat. Dirinya berharap semua kejadian yang ada di ingatannya hanya sebuah mimpi buruk. Namun ruangan ini seolah menghapus harapannya.
Dirinya berusaha berdiri tetapi seluruh tubuhnya kaku. Eve ingat kejadian yang dia alami dan hal terakhir yang dia lihat. Masih segar di ingatannya wajah pria itu yang membuatnya merinding. Dirinya berharap tidak bertemu pria itu lagi.
Sosok itu benar-benar membuatnya takut dan seluruh kemampuan bertarungnya seakan hilang di hadapan pria itu. Tatapan mata pria itu seakan sesuatu yang mengambil jiwanya.
"Kau sudah bangun?"
Suara itu seakan halilintar yang menyambar pendengarannya. Seorang pria memasuki ruangan dan berdiri di sampingnya. Eve mengenali wajah dan mata kristal biru itu. Pria itu adalah Pangeran Kaspian yang memimpin langsung penyerangan ini.
"Kau? siapa kau?"
Eve sekali lagi melihat Abhlesh yang berdiri di hadapannya. Ada sesuatu yang membuatnya berpikir bahwa pangeran di hadapannya bukan pangeran yang pernah dia lihat. Seluruh kardinal memiliki penglihatan yang berbeda dari orang umum atau pemilik Mana lainnya. Mereka dapat melihat jiwa seseorang yang telah dewa tentukan sejak dalam rahim ibunya.
Eve adalah salah satu orang yang pernah melihat Ratu Cleo ketika sang Ratu mengandung. Dirinya masih ingat dengan jiwa yang ada di dalam rahim wanita itu. Sesuatu yang jauh berbeda dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Pria di hadapannya jauh lebih kelam dan jiwanya seakan telah hidup lebih tua dari umurnya.
"Ternyata kau memang orang itu."
Abhlesh kini duduk di samping ranjang wanita itu. Dirinya sedikit memanipulasi Mana miliknya untuk membuat Eve tidak bisa bergerak. Hal itu jelas membuat Eve berusaha melepaskan diri dan tentu itu semua sia-sia. Abhlesh jauh lebih kuat darinya dalam sihir dan manipulasi Mana.
"Si-siapa kau?"
Eve semakin dihantui ketakutan setelah mata kristal biru itu semakin menatapnya tajam. Abhlesh sebenarnya tidak ingin melakukan ini semua, namun ada hal yang harus dia pastikan.
"Apa kau tahu sesuatu tentang Pohon Dunia?"
Pertanyaan Abhlesh membuat Eve terdiam. Di dunia ini hanya Teokrasi dan beberapa Kardinal yang tahu tentang pohon dunia. Seorang Pangeran yang berasal dari kerajaan kecil seperti Kaspian tidak mungkin mengetahuinya. Namun Eve kembali ingat, Pohon Dunia di bangkitkan dengan mengorbankan satu hal paling penting dari pemimpin setiap tiga ras kala itu.
"A-apa maksudmu? K-kardinal yang diasingkan sepertiku tidak mungkin mengeta-"
"Aku yang bertanya dan kau yang menjawab, jangan buat kesabaranku habis dengan pertanyaan bodohmu."
Abhlesh terlihat mengerikan di mata Eve. Jiwa pria itu yang berbeda dengan manusia pada umumnya serta usia jiwanya yang jauh lebih tua dari umurnya membuat Eve semakin yakin.
__ADS_1
"K-kau reinkarna-"
Kalimat Eve terputus, tubuhnya berubah kaku dan udara di sekitarnya berubah menjadi lebih dingin. Bibirnya menggigil menahan dingin yang semakin menusuk tulangnya. Dirinya lupa jika mereka yang melakukan reinkarnasi memiliki satu hal yang harus mereka lepaskan. Gaia bukan dewa yang baik dan bukan pula buruk. Hanya saja dunia ini selalu punya harga dalam setiap hal yang dilakukan.
"Aku yang bertanya dan kau yang menjawab, apa kau mengerti Kardinal Eve?"
Kalimat Abhlesh membuat Eve seakan berdiri di hadapan malaikat kematian. Dirinya berusaha mengangguk lemah meski sangat susah untuk bergerak di bawah tekanan Mana pria itu.
"Kalau begitu mari kita mulai."
Abhlesh melepas ikatan Mana miliknya. Dirinya tidak ingin Eve tewas hanya karena hal itu. Terlalu banyak hal yang ingin dia tanyakan pada mantan Kardinal yang masih memiliki pemberian dari Gaia.
"Apa kau tahu tentang Pohon Dunia?"
Eve mengangguk pelan. Dirinya tidak lagi memiliki pilihan, Teokrasi yang telah hancur harus dia bangun kembali dan mungkin membantu pangeran ini adalah keputusan yang tepat. Setidaknya itulah yang dia pikirkan mengingat Gaia selalu memiliki alasan dalam setiap tindakannya.
"P-pohon Dunia dijaga oleh 4 Dewa yang dihukum d-dan daerah itu tidak bisa dijangkau d-dengan mudah."
"Apa kau tahu tentang perjanjian tiga ras?"
Eve mengangguk, dirinya tahu tentang perjanjian yang melibatkan tiga ras terkuat kala itu untuk membangkitkan Pohon Dunia. Namun dirinya masih belum mengerti kenapa Abhlesh menanyakan hal itu.
"P-perjanjian yang menyebabkan Raja Elf kehilangan keabadian, pemimpin clan Angelus kehilangan kemampuan terbang dan-"
Eve tidak melanjutkan kalimatnya. Dirinya ingat tentang seorang Raja dari ras manusia yang ikut dalam perjanjian itu. Matanya berusaha melihat kembali jiwa Abhlesh dan dirinya sadar, pria di hadapannya adalah pemegang perjanjian itu.
"Raja dari manusia memberikan hal yang paling berharga dari mereka bukan?"
Kalimat Abhlesh terdengar sedikit kesal dan mata pria itu seakan memikirkan sesuatu.
"A-apa Anda p-pemegang kontrak?"
Abhlesh mengangguk lemah. Pria itu seolah tenggelam dalam kesedihan dan pikirannya kembali terpecah.
__ADS_1
"Seorang Raja yang harus mengorbankan hal yang paling berharga bagi manusia, bukankah hal itu terdengar menyedihkan?"
Eve tidak tahu harus berkata apa mendengar kalimat tragis dari Pangeran di hadapannya. Legenda tentang Raja Kaspian ternyata disebabkan mereka semua adalah pemegang kontrak.
"Hal yang terikat dalam jiwaku bukan lagi sebuah kontrak, ini semua terlihat seperti kutukan bagiku."
Abhlesh menundukkan kepalanya. Dirinya masih kesal tentang semua fakta yang dia temukan ketika usianya masih menginjak lima tahun. Hal itu juga yang membuatnya memberanikan diri menjumpai ayahnya yang kala itu seakan membencinya.
"J-jangan katakan Anda ingi-"
"Tidak, menghancurkan Pohon itu tidak akan memutus kutukan ini, aku hanya ingin mencari kembali perhatian Gaia dengan membangun Kekaisaran sekali lagi, dan sepertinya aku hanya berjalan di takdir yang dia tentukan."
Kalimat itu terdengar mengerikan bagi Eve. Dirinya membayangkan gejolak perang yang akan kembali berkobar di seluruh daratan utama. Namun Eve sedikit ragu dengan alasan Pangeran itu, dirinya seolah berusaha menipu takdir dan entah bagaimana Gaia memberikannya jalan.
Gejolak perang kembali di buka untuknya. Teokrasi bahkan tidak bisa menghentikan semua ini, mereka hanya pion bagi dewa mereka dan Eve sadar, semua ini adalah panggung yang Gaia persiapkan untuk pria di hadapannya.
"A-apa Anda akan menghancurkan Teokrasi?"
Mata biru Abhlesh menatap tajam pada Eve. Wanita itu kembali merasakan tekanan dari Mana milik Abhlesh. Pria yang sulit ditebak dan penuh misteri itu membuat Eve semakin takut. Dirinya ingat perkataan Kardinal tertinggi yang mengatakan bahwa Teokrasi akan dihancurkan oleh badai dari yang berasal dari laut yang kecil.
Kalimat itu mendapat perhatian dari seluruh petinggi Teokrasi dan bertahun-tahun mereka mengawasi kerajaan yang berbatasan langsung dengan selat atau teluk. Mereka tidak sadar bahwa badai itu berasal dari Kaspian. Laut kecil yang disebutkan adalah sebuah danau raksasa yang terletak di kerajaan itu.
Kini Mana dari Pangeran itu seakan merenggut kesadarannya. Dirinya melihat secara samar-samar mata Abhlesh yang terlihat menyimpan kesedihan. Jiwanya yang terbelenggu kutukan membuat pria itu tenggelam dalam kesedihan. Eve menyadari bahwa Gaia sengaja membuat Teokrasi melakukan langkah brutal untuk mengeluarkan Pangeran berdarah dari sangkarnya. Kesadarannya semakin menghilang dan hanya ada satu hal yang terlintas di pikirannya saat ini. Membantu Pangeran berdarah mungkin adalah takdir yang Gaia tentukan baginya.
*******
Waw Fakta tentang kutukan dan reinkarnasi Abhlesh kelihatan sama Kardinal Eve 😅
Kira2 mau ngapain lu Abh 😅
Terima kasih buat yang udah baca, jangan lupa Rate 5, like, vote dan komen banyak2 ya 👌😌 dukungan adalah cara untuk membuat cerita ini semakin berlanjut 😌
Sekali lagi terima kasih , sampai jumpa di NEXT CHAPTER! Sampai Bye2 👋🤩
__ADS_1