
Langkah Aurora sedikit ragu-ragu. Hari ini seharusnya Aurora dijadwalkan untuk menemui mentor yang mengajarkan tentang sihir. Namun langkah Aurora justru membawanya di hadapan ruangan Elizabeth.
Aurora sedikit ragu ketika berniat untuk mengetuk. Namun belum sempat dia mengetuk, seorang pria membuka pintu itu dari dalam. Dirinya adalah Leo yang memang selalu berada di dekat Elizabeth.
"Madam memintamu untuk masuk Nona Aurora."
Leo tersenyum pada Aurora yang tertunduk malu. Gadis itu seperti seorang anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan.
"A-apa saya mengganggu Madam?"
Elizabeth hanya mengisyaratkan Aurora untuk duduk dan menunggunya. Pekerjaan Elizabeth sepertinya sangat banyak mengingat pergerakan suplai untuk perang yang semakin meningkat. Di tambah permasalah Kaspian dengan Federasi yang menambah daftar pekerjaan Elizabeth.
Beberapa menit berlalu dan Elizabeth menghentikan aktifitasnya. Elizabeth menyandarkan tubuhnya dan menikmati teh yang telah disiapkan untuknya.
"Kuharap kamu menemuiku karena sesuatu yang penting Aurora."
Aurora sedikit ragu, nada bicara Elizabeth mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ingin membuang waktu.
"Maaf Madam, apa Madam tahu sesuatu tentang Lignum."
Elizabeth menatap tajam pada mata Aurora. Dirinya menangkap pertanyaan yang berbeda dari gadis itu.
"Apa kamu mendengar nama itu dari buku?"
Aurora reflek memandang wajah Elizabeth. Dirinya tidak menyebutkan bahwa Lignum adalah sebuah nama.
"B-bagaimana Madam tahu itu adalah sebuah nama?"
Elizabeth sadar kesalahannya. Pekerjaan yang cukup berat serta menumpuk membuat konsentrasinya sedikit menurun.
"Seseorang yang kukenal pernah menyebutnya."
Elizabeth berusaha menutupi sesuatu tentang Lignum. Namun Aurora melihat tatapan Elizabeth yang mengarah pada Leo.
"A-apa Madam bisa menjelaskan tentang jiwa yang kelam?"
Kali ini Elizabeth menghela napas panjang. Dirinya menatap wajah Aurora seolah mengatakan ini bukan waktu yang tepat.
"Apa kamu yakin ingin mengetahui semuanya?"
Pertanyaan Elizabeth dibalas anggukan lemah Aurora. Dirinya ingin mengetahui tentang semua itu, namun Elizabeth terlihat bingung harus berkata apa.
"Begini saja, seseorang akan menjelaskannya padamu. Orang itu akan datang seminggu dari sekarang. Kuharap kamu bisa menunggu selama itu."
"A-apa itu berarti Madam mengetahui sesuatu?"
__ADS_1
Elizabeth hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya. Dirinya seolah tidak ingin pertanyaan menjawab pertanyaan Aurora. Keputusannya tadi sudah bulat dan Aurora harus menunggu.
"Kamu bisa melanjutkan pelajaran Aurora, ada hal yang terkadang tidak perlu kamu ketahui, dan ada pula hal yang tidak perlu kubuka padamu."
Aurora berdiri dan memberi hormat mendengar jawaban Elizabeth. Dirinya mengerti posisi Elizabeth yang seolah melindunginya, namun tetap saja rasa penasaran memburunya. Terlebih semua ini mulai terlihat aneh baginya.
Kini dirinya menyusuri koridor menuju tempat mentor sihirnya. Meski penuh dengan rasa kecewa, Aurora tetap melanjutkan pelajaran. Menjadi Ratu dan berada di samping Abhlesh tetap tujuan terbesarnya. Hanya saja masalah tentang jiwa yang kelam membuat Aurora terjebak dalam rasa penasaran.
Hingga seminggu berlalu dan kabar tentang kemenangan Kaspian kembali membanjiri daratan. Semua rakyat Kaspian menyambut pasukan yang pulang dengan membawa rasa bangga. Namun Aurora hanya diam di kamarnya dan menunggu janji Elizabeth.
Hingga ketika Elizabeth memanggilnya, Aurora langsung bergegas ke sana. Ketika sampai, dirinya dikejutkan dengan Igrit yang ada di dalam ruangan itu. Bola mata emas itu mengunci Aurora hingga membuatnya gugup.
"Kamu ingin bertanya tentang Lignum? Igrit akan menjawabnya."
Aurora masih berdiri di pintu masuk. Dirinya teringat bagaimana Igrit membawanya ke alam yang aneh kala itu.
"A-apa Sir Igrit akan membawaku kembali ke tempat itu?"
Igrit hanya diam dan Elizabeth menghela napas panjang.
"Dunia yang kamu maksud itu hanya untuk menunjukkan masa lalu, Igrit tidak mungkin melakukan itu dalam hal ini."
Aurora berjalan pelan menuju sofa, dirinya duduk di samping Elizabeth dan Igrit berada di hadapan mereka.
"Jadi, apa yang Lignum katakan?"
"Lignum mengatakan tentang perjanjian 3 pemimpin ras dan ketika dirinya menjelaskan, sesuatu seakan menghalanginya."
Aurora menatap wajah Igrit yang seperti memikirkan sesuatu. Namun mata itu kembali menatap Aurora.
"Teruskan."
"Saat itu lignum mengatakan bahwa saya harus menjauhi jiwa yang kelam, jiwa itu memiliki umur lebih tua dari tubuh aslinya dan jiwa itu adalah pemegang kontrak."
Mendengar itu Igrit semakin menekan Aurora untuk membuka semuanya. Tatapan yang tadinya masih bisa Aurora tahan, kini berubah menjadi mata yang memiliki pupil lurus layaknya reptil.
"Igrit, auramu."
Satu kalimat Elizabeth membuat Igrit menghela napas. Dirinya tidak sengaja melepas aura yang seharusnya dia sembunyikan dalam dirinya.
"Maaf, lanjutkan."
Aurora mengangguk lemah. Kejadian tadi seakan sesuatu yang menyedot habis tenaganya. Aurora sekarang semakin percaya bahwa Igrit adalah Naga dan bukan manusia.
"Lignum juga mengatakan sesuatu tentang membangkitkan badai dan dua bintang hitam, serta sesuatu tentang pasukan-"
__ADS_1
"Kematian?"
Aurora mengangguk mendengar kata itu keluar dari mulut Igrit. Sementara Elizabeth terlihat menyandarkan tubuhnya di sofa. Masalah yang Aurora katakan seolah menjadi sesuatu yang semakin berat untuk mereka.
"Apa lagi yang dia katakan?"
Igrit kembali meminta informasi dari Aurora. Namun kali ini nadanya sedikit ringan dan tidak ada tekanan di dalamnya.
"L-lignum juga mengatakan soal Jiwa yang memulai peperangan dengan G-gaia."
Ketika nama itu keluar dari mulut Aurora, ketika itu juga udara di ruangan berubah semakin berat. Igrit menatap tajam pada mata Aurora. Dirinya seolah menggali bola mata Aurora dan melihat langsung ke dalam jiwanya.
Igrit menghela napas dan keadaan kembali normal. Semua tekanan yang tadi Aurora rasakan menghilang tanpa jejak. Menyisakan Igrit yang tertunduk.
"J-jadi apa Sir Igrit bisa menjelaskan padaku semuanya."
Aurora sedikit ragu dengan permintaannya. Namun rasa penasaran menguasai benaknya.
"Aku hanya bisa menjawab 3 hal, dan kuharap kau tidak mencari jawaban lainnya."
Aurora ingin sekali protes dengan syarat dari Igrit. Tetapi Igrit membuatnya takut dan Aurora memilih menerimanya.
"Yang pertama, Lignum adalah anak dari Gaia atau bisa kubilang Gaia sendiri yang menciptakannya. Kedua, dua bintang hitam yang dia sebutkan adalah dua pemimpin tertinggi pasukan kematian, seorang wanita yang memiliki 7 jiwa serta seorang pria yang memiliki takdir aneh. Serta yang ketiga, Gaia mengambil sesuatu yang paling berharga dari ketiga pemimpin kala itu."
Igrit menatap Aurora seolah memintanya menyebutkan tiga hal itu.
"Ratu Elf memberikan keabadiannya, pemimpin Angelus memberikan sayapnya dan manusia ...."
Aurora diam, dirinya masih belum mengetahui tentang apa yang di ambil dari manusia.
"Cinta, raja itu memberikan cinta sebagai harga bagi manusia dan pengorbanan mereka justru berakhir kacau."
Aurora terdiam, dirinya tidak menyangka bahwa untuk membangkitkan Lignum, raja manusia mengorbankan hal yang paling penting dalam dirinya.
"J-jika dia mengorbankan cinta maka ...."
"Salah satu yang dia cintai akan berakhir tragis. Gaia akan mengambil satu yang paling dia cintai namun tidak merusak keseimbangan dunia."
Kalimat Igrit membuat Aurora sadar akan sesuatu. Dirinya sadar bahwa apa yang akan diambil Gaia adalah orang terdekat pemegang kontrak. Semua itu terdengar seperti kutukan dan jelas bukan kontrak. Namun Igrit tidak mau membuka semuanya pada Aurora.
Pria itu beralasan bahwa Aurora masih belum pantas untuk berdiri di tempat itu. Namun entah kenapa sesuatu seolah berbisik padanya dan memaksa jiwanya untuk menggali lebih dalam. Bisikan yang membuat hatinya bimbang dan memilih untuk mengabaikan ucapan Igrit. Curiosity killed the cat, semoga Aurora memilih langkah yang tepat dalam masalah ini.
********
Thanks buat yang udah baca, jangan lupa rate 5, vote, like dan komen yang banyak ya 😌 dukungan adalah cara untuk membuat cerita ini terus berlanjut 😌
__ADS_1
Sampai jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋🤩