Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 29 : Kaspian Mad Dog and Blind Priest


__ADS_3

Kaspian kini mengalami kembali situasi panas yang pernah menimpa mereka. Perbatasan yang diancam dari dua sisi membuat fokus mereka terpecah. Hal itu sedikit membuat Kaspian harus mempercepat pergerakan pasukan mereka. Menghapus musuh satu persatu adalah hal yang mereka pilih.


Kini perbatasan Kaspian dan Teokrasi semakin memanas. Airship terlihat mulai memenuhi kastil pertahanan dan melakukan patroli di bagian yang rawan. Sementara prajurit dan semua orang yang terlibat dalam perang ini sibuk mempersiapkan semuanya.


Kondisi di tempat ini jauh berbeda dengan perbatasan Federasi yang masih dalam tahap saling menunggu. Di sini bentrokan-bentrokan kecil sudah terjadi dan Kaspian masih bermain secara bertahan.


Para petinggi masih menunggu keputusan akhir dari Abhlesh dan hari ini adalah hari terakhir. Hektor dan Emerson sudah bersiap di Airship paling depan. Mereka berdua memang dikenal selalu berada di bagian paling depan. Sesaat kemudian suara Abhlesh terdengar di pengeras suara yang terpasang pada seluruh Airship.


"Semua unit bergerak menuju ibu kota Teokrasi, hancurkan semua fasilitas militer dan tangkap mereka yang mencurigakan."


Suara Abhlesh menggema dan disambut teriakan prajurit serta wajah khawatir beberapa dari mereka.


"Penyelamatan ras lain adalah prioritas misi ini, semoga kemenangan selalu bersama kalian ... semua unit! bergerak menuju ibu kota!"



Kalimat Abhlesh membuat seluruh Airship bergerak. Jumlah mereka yang banyak dan berbagai ukuran membuat suara gemuruh layaknya badai. Pergerakan mereka hampir mustahil untuk dihentikan kecuali jika Teokrasi memiliki alat yang sama dengan mereka.


Namun tentu peperangan tidak selalu berjalan lancar. Pasukan Teokrasi yang melihat mereka tetap berusaha menjatuhkan Airship dengan panah dan batu yang dilontarkan dari alat perang mereka. Hal kecil seperti itu bukan masalah bagi Airship yang memiliki pertahanan sihir yang melapisi mereka.


"Seperti biasa, tidak ada pekerjaan."


Emerson menghela napas dan berbaring di sofa yang ada di ruangan utama. Abhlesh dan Hektor tidak peduli dengan tingkahnya. Mereka masih fokus dengan kondisi perang yang semakin berjalan memanas. Pasukan Kaspian tidak hanya masuk melalui jalur udara. Jalur darat juga merupakan bagian dari serangan mereka.


Airship yang bertugas membawa pasukan turun dalam jumlah besar. Benda itu menurunkan semua prajurit dan menguasai pertahanan Teokrasi dalam waktu sangat singkat. Kejadian itu terus terulang hingga matahari menyentuh ufuk barat dan tenggelam membawa malam.


Keadaan yang gelap membuat pasukan Teokrasi kewalahan. Mereka tidak menyangka Kaspian tetap melanjutkan serangan mereka. Bahkan kini Hektor dan Emerson yang sudah mulai bosan akhirnya dilepas.


"Woho! akhirnya!"


Emerson berdiri di pintu keluar yang sebentar lagi terbuka. Di sampingnya Hektor terlihat sama bersemangatnya.


"Jangan terlalu bersemangat, Teokrasi bukan lawan yang bisa kalian remehkan."


Abhlesh memberikan mereka sedikit peringatan mengingat kali ini Airship sedikit kesusahan. Pasukan Kaspian yang sejak tadi berhasil menaklukan kastil-kastil yang mereka lalui dengan mudah akhirnya terhenti. Teokrasi memberikan perlawanan yang kuat ketika mereka menyentuh kota Aneta.


Kota yang terkenal memiliki pertahanan sihir yang kuat. Beberapa Airship bahkan harus kembali ke Kaspian karena menerima serangan yang cukup kuat.


"Hey Pangeran, apa wanita itu kuat?"


Emerson menunjuk seorang wanita yang berdiri di atas menara kota Aneta. Wanita itu mengenakan pakaian layaknya petinggi Teokrasi. Wanita itu terlihat sibuk mengarahkan sihirnya pada Airship yang berusaha menurunkan pasukan Kaspian.

__ADS_1


"Wanita itu ada dalam daftar, kurasa dia urusanmu."


Abhlesh berbalik dan meninggalkan mereka. Emerson tersenyum setelah mendapatkan kalimat dari Abhlesh. Pria itu langsung melompat dan terjun bebas ke arah wanita itu. Sementara Hektor mengarah pada tempat lain yang sepertinya berkecamuk.


Kaspian melepaskan dua kekuatan individu terkuat di pasukan mereka. Dua orang yang mungkin akan merubah jalan peperangan dan menjadi penentu kemenangan di kota Aneta. Sementara wanita tadi, dirinya tidak menyadari bahwa Kaspian Mad Dog mengarah padanya.


*******


#sudut pandang teokrasi#


Beberapa saat sebelumnya ....


Suara gemuruh memecah keheningan malam kota Aneta. Seluruh pasukan pertahanan bersiap menghadapi serangan besar-besaran Kaspian yang mengejutkan banyak pihak. Mereka bergerak tanpa bisa Teokrasi hentikan sama sekali.


Kabar tentang jatuhnya kastil-kastil pertahanan berdatangan layaknya hujan. Tiga mantan Kardinal yang diasingkan di kota Aneta hanya bisa menghela napas mereka. Mereka semua adalah korban dari perubahan aneh Teokrasi yang menjadi brutal. Nama mereka dikenal bahkan hingga kerajaan Kaspian.


"Kurasa Teokrasi memang harus di hapuskan."


Kalimat itu keluar dari mulut satu-satunya wanita di antara mereka.


"Jaga ucapanmu Eve."


Wanita yang bernama Eve itu menoleh pada pria yang membalas kalimatnya.


Pria itu hanya diam dan menatap tajam pada Eve. Mereka berdua menunjukkan sikap saling berlawanan sejak awal.


"Eve, Jhon, pertengkaran kalian tidak akan mengubah apapun, pertahankan Aneta, setidaknya itu mungkin adalah tugas terakhir kita dari para Dewa."


Kalimat dari pria yang paling tua membuat Eve dan Jhon menundukkan kepala mereka. Pria itu adalah mantan Kardinal tertinggi Teokrasi yang ikut diasingkan. Pria itu mengambil gelas wine yang terletak di atas meja dan meminum habis isinya. Dua orang yang melihat tindakan pria itu berlutut.


"Dengan ini kulepas kalian sebagai penyampai pesan para dewa dan tentukan takdir kalian sendiri."


Pria tua itu rubuh setelah mengucap kalimat terakhirnya. Wine yang dia minum berisi racun yang memang telah dia persiapkan. Menghianati Teokrasi adalah hal yang sama dengan menghianati dewa. Karena hal itulah pria tua itu lebih memilih mati dan melepas dua orang murid kesayangannya untuk menentukan takdir mereka sendiri.


Jhon dan Eve hanya bisa tertunduk. Mereka bahkan tidak bisa menguburkan mayat guru mereka karena tujuan mereka hanya satu. Keluar dari ruangan ini dan bertarung sampai titik darah penghabisan.


"Jhon, kuserahkan pasukan padamu, senang bisa mengenalmu saudaraku."


"Semoga Dewa kembali menjadikan kita saudara."


Eve berdiri dan berjalan menuju menara tertinggi Kota Aneta. Sementara Jhon bergerak dengan cepat memimpin pasukan untuk terus bertahan hingga titik darah penghabisan. Misi mereka adalah mengulur waktu selama mungkin dan mengurangi kekuatan Kaspian meski hanya beberapa.

__ADS_1


Eve berdiri di atas menara itu dan melihat puluhan benda raksasa yang mengepung kota Aneta. Wanita itu menghela napasnya dan mengarahkan telapak tangannya pada salah satu benda itu. Partikel cahaya berkumpul di tangannya dan membentuk pilar cahaya yang mengarah pada benda itu.


Pilar itu seakan laser yang menembus apapun dan menghantam benda raksasa yang menjadi targetnya. Hal itu dia lakukan beberapa kali dan berhasil membuat targetnya mundur. Kini dirinya menargetkan salah satu yang paling besar dari benda-benda itu.


Ketika itulah dirinya melihat seorang pria melesat ke arahnya. Pria itu tersenyum padanya dan ekspresi pria itu membuat seluruh bulu kuduk Eve berdiri. Dirinya yakin pria itu mengincarnya dan meminta prajurit yang ada di dekatnya untuk bersiap.


Pria itu melesat dan menghantam tempat di mana Eve tadi berdiri. Hantaman yang sangat keras membuat lantai itu hancur. Namun pria itu berdiri dan menatap Eve dengan Ekspresi yang sama.



"Hey kau, namamu Eve bukan?"


Pertanyaan pria itu tidak bisa Eve jawab. Dirinya seakan berada di hadapan binatang buas dan seluruh indra miliknya mengirim sinyal bahaya ke otak. Wanita itu menggenggam erat tongkat sihir miliknya. Tangannya bergetar hebat hanya karena pria itu berdiri di hadapannya.


"S-serang!"


Salah satu prajurit yang ada di dekatnya berteriak dan memicu prajurit lainnya. Mereka semua secara serentak mengepung pria itu dan Eve berusaha menghentikan mereka. Dirinya sadar pria itu bukan orang sembarangan dan yang mereka lakukan hanya perbuatan sia-sia.


"Kalau begitu mari berdansa denganku hahahahaha!"


Apa yang terjadi setelah kalimat pria itu membuat Eve terdiam. Dirinya tidak sanggup menahan rasa takutnya dan berusaha keras tetap berdiri. Pria itu kini menatapnya dengan wajah yang berlumuran darah dan senyumnya semakin membuat Eve pucat.


"Sekarang giliranmu hehehe."


*********


Wah wah, perang perang dan perang ckckckc


Btw kenapa mereka bertiga diasingkan ya 🤔


Kasian Eve harus jumpa sama Mad Dog 😂


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa Rate 5, like, vote dan komennya jika kalian suka dengan cerita ini 😌 dukungan adalah cara untuk membuat kisah ini berlangsung 😌


Sekali lagi terima kasih, Sampai Jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋😎


Bonus :


Visual Eve


__ADS_1


Semua gambar dan visual adalah milik dari ownernya, Airship berasal dari game LAST EXILE dan sisanya dapat dari Pinterest 😎


__ADS_2