Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 9 : Tears


__ADS_3

Pov 1. Aurora


Darahku seakan menghilang ketika sudut tajam pedang itu melekat di leherku. Besi tajam yang dingin itu seakan berasal dari titik terdalam jurang kematian. Pandangan mata pria yang menggunakan penutup mata di Kanan matanya, seakan malaikat kematian yang meminta nyawaku.


"Kenapa kau melindunginya?"


Pria itu berucap dengan pandangan yang benar-benar mengerikan. Matanya seakan berusaha merobek leherku dan membuang jiwaku dalam jurang tanpa batas. Sementara Iva, dirinya juga mengalami hal yang sama denganku.


Dua orang pria mengarahkan pedangnya di leher kami. Sementara pria yang berada di hadapanku, hanya memandang kami dengan mata birunya yang seperti kristal. Mata yang begitu dingin layaknya lautan es yang mengerikan.


Keadaan rumit ini akibat perbuatan Iva yang berlari ke arahku. Iva mungkin menyangka, pria yang sebenarnya adalah Pangeran Kaspian itu ingin menyakitiku dan Iva berniat menolongku. Tapi hal itu justru membuat situasi semakin sulit.


Melihat Iva yang berlari ke arahku, Pria bermata satu yang berada di samping Pangeran bergerak. Dia mengayunkan pedangnya ke arah Iva. Tubuhku secara reflek melindungi Iva yang berada di lintasan ayunan pedang itu.


Aku sudah bersiap dengan kematian yang akan menjemputku. Berakhir di pedang itu atau berakhir di tiang gantungan tidak ada bedanya, pikirku sambil berusaha menutup tubuh Iva dengan tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mataku ketika pedang itu berada sangat dekat dengan leherku.


Ketika aku membuka kelopak mataku secara perlahan. Ketika itulah aku dan Iva berada di situasi ini. Terjepit oleh dua orang pria yang mengarahkan pedangnya pada kami.


"A-ampuni dia Yang Mulia, bi-biarkan hamba yang menanggung hukumannya."


Aku dan Iva mengucapkan kalimat itu hampir secara bersamaan. Pangeran itu memandang wajahku. Matanya seakan sebuah mata pedang yang menusuk bola mataku dan mencari sesuatu di dalamnya. Napasku seakan terhenti ketika menunggu jawaban pria itu.


Pedang pria bermata satu itu masih menempel dan menggali semakin dalam di leherku. Darah segar mengalir perlahan dari goresan yang terbentuk di leherku. Aku merasakan tubuh Iva yang gemetar dan telapak tangannya begitu dingin. Kami seakan menari di tepi jurang kematian dan menjadikan malaikat kematian sebagai partner dansa bagi kami. Hingga Pangeran itu akhirnya menyentuh tangan pria yang menempelkan pedangnya di leherku.


"Hektor,Emerson."


Pria bermata satu itu terlihat kesal dengan perintah itu. Sementara aku, hanya terdiam dan mengumpulkan darahku setelah pria itu menjauhkan pedangnya dari leherku. Aku sama sekali tidak menyangka hal selanjutnya justru membuat duniaku berputar sepenuhnya.

__ADS_1


"Berdirilah, lantai ini terlalu kotor untukmu."


Ucapan Pangeran itu diikuti tangannya yang berniat membantuku untuk berdiri. Tubuhku seakan kaku ketika hal itu terjadi. Darahku yang tadinya menghilang seakan kembali dan mengalir deras menuju otakku. Jantungku berdegup tak beraturan ketika mata kristal itu menatap lembut ke arahku.


Aku melirik ke arah Iva dan masih tidak percaya dengan segala hal yang Pangeran itu lakukan. Hingga kudengar Pangeran itu menghela napasnya dan menggenggam tanganku. Dia menuntun tubuhku berdiri dengan begitu lembut dan sangat berhati-hati.


Aku melihat dengan jelas wajah pria bermata satu yang berada di samping Pangeran itu terperangah. Wajahnya seakan menunjukan ekspresi tidak percaya dengan apa yang pangeran itu lakukan. Pangeran itu sepertinya tidak peduli dengan ekspresi mereka dan tersenyum kearahku.


"Ashe, bawa gadis ini ke Kaspian dan sisanya ...."


Jantungku seakan berhenti ketika menunggu keputusan Pangeran itu. Keputusannya untuk Raja Arcadian dan Ratunya serta Putra Mahkota Arcadian. Mataku melihat ekspresi Pangeran itu yang kembali menjadi dingin. Mata itu memandang rendah pada Raja Arcadian yang bersujud di lantai sambil terus memohon ampunan.


Seorang wanita berambut merah mendekatiku dengan senyum indah di wajah cantiknya. Dia membawaku keluar dari ruangan itu sebelum aku sempat mendengar keputusan Sang Pangeran. Wanita itu bahkan menutup telingaku ketika kami berjalan keluar dari ruangan itu. Kulihat Iva mengikutiku dari belakang atas izin Pangeran.


Wanita itu membawaku keluar dan seseorang menungguku di luar ruangan itu. Seorang prajurit dengan pakaian lengkap serta helm yang menutupi kepalanya. Prajurit itu memberi hormat pada wanita berambut merah yang menuntunku keluar.


Wanita itu menepuk pundakku dan berbalik kembali masuk ke dalam ruangan tahta. Aku melihatnya melambaikan tangan dengan senyum manis yang semakin berubah ketika wajah itu berpaling dariku. Senyuman itu seakan hanya sebuah formalitas yang dia lakukan untuk membuatku tidak takut dengannya.


Aku hanya menundukkan kepalaku ketika prajurit itu menuntunku menuruni anak tangga. Di luar sana terdengar suara riuh dan teriakan yang membuat jantungku kembali terpacu. Pikiranku bermain dengan imajinasi yang ada di benakku. Aku sadar, bahwa apa yang wanita bernama Ashe itu katakan bisa saja benar.


Langkahku semakin berat ketika suara riuh di luar gerbang istana semakin terdengar jelas. Samar-samar aku mendengar mereka meneriakkan kata yang benar-benar membuat darahku seakan berhenti mengalir. Mereka meminta eksekusi publik atas seluruh keluarga kerajaan.


Ketika mereka semua melihatku menuruni tangga, ketika itu teriakan mereka berubah menjadi umpatan dan cacian. Beberapa dari mereka bahkan melempar benda-benda ke arahku. Prajurit Kaspian yang berusaha menahan mereka terlihat kewalahan dan berusaha melindungiku dengan tubuhnya.



Aku terus berjalan di bawah lemparan umpatan dan cacian rakyat Arcadian. Dalam setiap langkahku, aku mendengar teriakan seorang wanita yang meminta anaknya untuk kembali. Aku mendengar teriakan seorang ayah yang meminta putrinya untuk di keluarkan dari kamar selir Raja. Aku mendengar teriakan pemuda yang meminta keadilan atas kematian ayahnya di tangan prajurit Arcadian dan segala hal yang menjadi penyakit kerajaan Arcadian tumpah di hadapanku.

__ADS_1


Air mata menemani langkahku menyusuri hukuman publik yang mengerikan ini. Tanpa sadar sebuah batu berukuran telapak tangan melayang tepat ke arahku. Ketika batu itu berjarak beberapa meter dari wajahku, ketika itu juga aku melihat seseorang yang berdiri di hadapanku.


"Apa kau baik-baik saja?"


Suara itu terdengar begitu familiar di telingaku. Ketika Aku mencoba mengangkat wajahku, ketika itu juga mataku seakan tidak percaya dengan Apa yang kulihat. Pikiranku berkecamuk. Di satu sisi aku sangat senang ketika melihat wajah pria itu. tetapi di sisi lain, aku sangat takut ketika menatap mata itu.


Mata kristal biru dari seorang Pangeran Kaspian. Kehadiran pangeran itu dan apa yang dilakukannya membuat semua orang terdiam. Ketika dia menghalau batu yang mengarah padaku, ketika itu juga rakyat Arcadian berlutut dan memberi penghormatan padanya.


Pria itu tersenyum padaku dan meminta salah satu pelayan bernama Nana untuk membawaku ke ruangan yang berada di benda itu. Sementara dirinya kembali berjalan menuju Altar yang terletak di depan gerbang istana. Ketika itu aku sempat melihat Raja Arcadian di seret dengan tali dan di bawa menuju altar itu.


Nana membawaku pada salah satu ruangan yang terletak di bagian dalam benda itu. Ruangan seperti kamar yang cukup nyaman dan dijaga dua orang prajurit berpakaian lengkap. Di luar kudengar teriakan itu kembali bergema dan semakin kuat.


Aku menutup mataku dan seluruh air mata memaksa keluar membasahi pipiku. kuserahkan tubuhku pada ranjang empuk yang berada di ruangan itu. Hal yang membuat air mata ini keluar bukanlah kematian ayahku atau ibuku, melainkan rasa malu yang membawaku pada kenyataan. Kenyataan bahwa aku hidup di atas penderitaan rakyat Arcadian dan tertawa tanpa tahu apapun tentang kondisi sebenarnya dari rakyat kerajaanku.


Tangisanku membawaku dalam penyesalan dan semakin menarik tenagaku. Membawaku dalam pelukan mimpi dan tenggelam di dalamnya. Berharap semua ini hanya mimpi buruk dan aku terbangun di kerjaan Arcadian yang makmur, Arcadian yang dulu berada di tangan Raja sebelum ayahku.


********


Waaaah! bagaimana tentang Pov kali ini? menarik bukan melihat perasaan seorang putri raja yang menerima eksekusi publik serta dilema nya ketika bertemu Abhlesh 😂


Jangan salah sangka dulu! Abhlesh belum bucin ya hahaha dia hanya seorang pria yang melindungi wanita 😌😂


Oh iya, untuk bagian Princess Aurora akan selalu Pov 1 ya guys, biar kalian merasakan bagaimana perasaan princess itu bahahahaha


Thanks buat yang udah baca dan jangan lupa Rate 5, vote, like dan komen jika kalian suka dengan cerita ini 😌


Sekali lagi terima kasih dan sampai Bye2 👋😘

__ADS_1


__ADS_2