Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 14 : Memories


__ADS_3

Kesadaran Aurora menghilang ketika ibu jari pria itu menekan dahinya. Dirinya terbangun dalam sebuah ruangan yang berisi banyak sekali cermin. Setiap cermin memiliki permukaan layaknya air dan berbaris rapi sejauh mata memandang. Aurora yang dirasuki rasa penasaran mengarahkan jarinya pada cermin itu, hingga seseorang menahan tangannya dan membuatnya tersentak.


Seorang pria tiba-tiba menahan tangannya dan berdiri di samping Aurora. Gadis itu tersentak dan berusaha melepaskan tangan pria itu. Namun cengkeramannya sangat kuat dan ketika Aurora melihatnya, pria itu adalah Igrit.


"S-Sir Igrit, ap-"


"Jangan sentuh cermin itu sebelum kuperintahkan."


Igrit menarik tangan Aurora dan membawa gadis itu menjauh dari cermin itu. Mereka berjalan menyusuri tempat yang seperti lorong dan penuh dengan cermin-cermin lainnya."


"Di mana kita Sir?"


"Memorimu, dan cermin itu adalah apa yang kau lihat semasa hidupmu."


Aurora memandangi tempat itu dengan takjub. Tempat yang penuh dengan cermin serta memori semasa hidupnya. Kini mereka berdiri di hadapan sebuah cermin yang terletak cukup jauh dari cermin pertama.


"Sentuh permukaan cermin itu dan jangan tenggelam di dalamnya."


Kalimat Igrit sedikit membuat Aurora ragu. Namun tatapan itu seakan memaksanya untuk menyentuh cermin itu. Gadis itu perlahan menyentuh cermin yang ada di hadapannya. Ketika jarinya bersentuhan, ketika itu juga dirinya seakan tersedot masuk ke dalam cermin itu dan seluruh informasi seakan masuk ke dalam otaknya seperti sebuah film yang di putar dengan cepat.


Aurora berusaha bertahan dan merasakan cengkeraman tangan Igrit yang semakin kuat. Ketika gadis itu hampir kehilangan kesadarannya, ketika itu juga Igrit menariknya. Wajah Aurora sangat pucat, tubuhnya lemas dan kehilangan banyak sekali tenaganya. Sementara Igrit hanya memandangnya tanpa ekspresi sama sekali.


"Apa yang kau dapatkan?"


Kalimat Igrit membuat Aurora sadar. Dalam proses yang mengerikan tadi Aurora seakan melihat segala hal yang telah dia lupakan. Ingatan masa kecil yang mustahil dia ingat seakan tertulis jelas di benaknya.


"Sir, s-siapa wanita cantik yang ada dalam cermin itu?"


Igrit memaksa Aurora untuk bangkit dan melakukan sesuatu pada tubuhnya. Semua rasa letih dan trauma yang Aurora rasakan menghilang tanpa jejak.


"Ibumu, Ratu Halet, kita tidak punya banyak waktu, kau harus melakukan hal yang sama di cermin lainnya."


Aurora mengangguk lemah, dirinya sangat ingin mempertanyakan segala hal. Namun Igrit selalu membalasnya dengan dingin. Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam sini, dirinya sama sekali tidak memiliki emosi. Dia bahkan tidak bisa menangis ketika informasi mengenai kematian Ayahnya masuk ke dalam benaknya.

__ADS_1


Cermin terakhir telah dia sentuh dan ketika dirinya hendak bertanya, ketika itu juga Igrit mendorong punggungnya. Apa yang Igrit lakukan memaksa kesadaran gadis itu kembali pada dunia nyata. Ketika dirinya sadar, Aurora langsung menarik napasnya dalam-dalam seakan kehilangan oksigen.


Aurora menatap Igrit dengan tatapan yang penuh air mata. Dirinya tidak menyangka bahwa Igrit membawanya pada fakta yang mengerikan tentang Arcadian dan masa lalunya. Igrit hanya berdiri di samping Abhlesh tanpa sedikitpun melihat ke arah Aurora.


"Apa kamu sudah tenang?"


Abhlesh memecah rentetan pertanyaan di benak Aurora. Gadis itu menundukkan kepalanya dan kembali menangis. Abhlesh menyeka air mata gadis itu dan tersenyum padanya.


"Ceritakan padaku tentang hari itu, hari di mana Luxius mendapatkan semuanya."


Aurora mengangguk lemah. Bibirnya bergetar ketika menceritakan tentang kematian Raja Alfred ayahnya dan ibunya yang melarikan diri tanpa sempat membawanya. Luxius dan Isabella mengangkatnya menjadi putri kerajaan karena mereka tidak bisa membunuh Aurora kecil. Dirinya dilindungi Mana ibunya yang seorang Elf dan berakhir dibesarkan dengan penuh kebohongan.


Luxius berniat memberikan Aurora pada Kaisar Naga atas bantuan mereka dalam kudeta. Bahkan Kaisar Naga sendiri yang turun tangan membunuh Raja Alfred di hadapan bayinya sendiri. Kematian yang sangat tragis dan membuat jantung Aurora seakan diremas dan dihancurkan berkeping-keping.


Kini gadis itu hanya tertunduk dan menyisakan penyesalan serta kesedihan yang mendalam. Abhlesh mengusap punggung gadis itu dan berusaha membuatnya tenang.


"Kau bisa bertemu dengan Halet jika kau mau."


"Ya, kamu bisa saja bertemu dengan Ratu Halet, tapi tidak secepat itu, Elf bukan ras yang mudah percaya ras lain dan untuk kasus ibumu ...."


Igrit memberikan sesuatu pada Abhlesh. Sebuah benda yang mirip dengan lencana dan terbuat dari kayu. Di lencana itu terukir sebuah lambang yang Aurora kenal. Lambang itu selalu dibawa oleh ibunya kemanapun dan Aurora memiliki benda itu dalam kotak perhiasan miliknya.


"Lambang ini, adalah lambang kerajaan Elf dan Ibumu adalah salah satu dari keluarga kerajaan, karena itu tidak mudah untuk bertemu Halet."


Abhlesh memberikan benda itu pada Aurora. Benda itu ternyata memang miliknya yang tertinggal di istana Arcadian.


"Jadi bagaimana saya bisa bertemu dengannya Yang Mulia?"


"Igrit yang akan mengurus semuanya dan apa yang perlu kamu lakukan sekarang adalah ...."


Abhlesh berdiri di samping Aurora dan mendekatkan wajahnya ke gadis itu.


"Persiapkan dirimu untuk menemaniku dalam festival dan jamuan makan malam istana malam ini."

__ADS_1


Abhlesh meninggalkan Aurora yang hanya bisa tertunduk malu. Igrit mengikuti Abhlesh dan menepuk lembut pundak Aurora. Gadis itu menatap Igrit dan memberi hormat serta berterima kasih padanya. Igrit hanya membalas semua itu dengan lambaian tangan yang mengisyaratkan bahwa itu bukan apa-apa. Hingga akhirnya Janet dan Iva berlari ke arah Aurora gadis itu tetap tersenyum dan kembali menangis di pelukan Janet.


*******


"Bagaimana dengan gadis itu?"


Igrit melempar pertanyaan pada Abhlesh yang berjalan di depannya.


"Tidak buruk, hanya saja gadis itu perlu sedikit didikan dari Janet dan beberapa hal tentang Kaspian."


"Apa Anda menyukainya?"


Langkah Abhlesh terhenti. Pria itu berbalik dan senyum dingin terukir di wajahnya. Senyuman yang selalu Igrit lihat ketika pria itu tidak menyukai pertanyaan seseorang. Igrit menghela napas berlalu di hadapan Abhlesh.


"Kalau Anda tidak cepat bergerak, bisa saja gadis itu diambil orang lain."


Abhlesh terdiam dengan kalimat Igrit dan tersenyum pada pria itu.


"Seperti kisah Naga yang kehilangan cintanya karena kalah dalam persaingan dengan seorang manusia?"


Abhlesh tertawa lepas, sementara Igrit menghela napas dan memilih untuk tidak berdebat dengan Abhlesh. Igrit seakan menerima pernyataan Abhlesh dan begitu pula sebaliknya. Kini mereka berjalan menuju barak militer dan Abhlesh sangat menantikan hari ini. Hari di mana salah satu benda ciptaannya akan tampil dalam hukuman yang akan dia berikan pada Kaisar Naga.


Igrit yang akan menjadi eksekutor dalam misi kali ini hanya menggeleng melihat Abhlesh yang kegirangan. Abhlesh berjalan dengan senyum sumringah dan sesekali terdengar suara nyanyian keluar dari mulutnya. Sementara kaisar Naga? orang itu bahkan tidak mengetahui bahwa sebentar lagi Kekaisarannya akan rubuh dan tanpa perlawanan.


*******


Waaaaaahhhhh udah sampai di chapter 14 dan semoga terus berlanjut hehehe


Thanks buat yang udah baca 😌


Jangan lupa Rate 5, vote, like dan komen jika kalian suka dengan cerita ini 😌, dukungan adalah kunci lanjutnya cerita ini 😂


Sampai jumpa di next Chapter dan Sampai Bye2 👋😁

__ADS_1


__ADS_2