
Elizabeth kini duduk di gazebo taman bunga. Dirinya menikmati keindahan taman dengan secangkir teh di tangannya. Taman bunga Cleo adalah hal yang paling dia nantikan jika berkunjung ke istana Kaspian. Segala kenangan tentang masa lalu putrinya seolah kembali hidup di taman ini.
Kini Elizabeth tidak hanya sekedar menikmati keindahan taman. Dirinya menunggu seorang gadis yang mungkin akan menemuinya. Harapan akan gadis itu sebenarnya tidak terlalu tinggi. Namun Elizabeth tetap memilih untuk menunggunya.
"Apa menurut Anda dia akan datang Madam?"
Knight yang berdiri di sampingnya terlihat ragu ketika menanyakan hal itu. Namun Elizabeth sama sekali tidak peduli. Jika dirinya sudah membuat janji dengan seseorang, maka harus ditepati meskipun orang itu tidak datang atau membuatnya kecewa. Setidaknya mengorbankan waktu untuk tahu karakter seseorang bukan hal yang membuatnya berat.
"Kau terlalu banyak bicara Leo."
Elizabeth membalas pertanyaan Leo dengan singkat. Wanita itu seakan mengisyaratkan agar Leo jangan mencampuri urusannya kali ini dan diam sebelum Elizabeth menyuruhnya untuk pergi. Leo hanya tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya memberi hormat.
Suasana kembali tenang dan suara burung yang berkunjung membuat taman itu semakin hidup. Mentari semakin tergelincir dan menunjukkan cahaya jingga lembayung senja. Elizabeth menghela napas dan berniat meninggalkan tempat itu. Dirinya sudah tidak lagi berharap pada gadis itu. Namun langkahnya terhenti ketika Aurora terlihat berlarian di lorong menuju taman Cleo.
Elizabeth tersenyum dan sesaat kemudian wajahnya kembali tanpa ekspresi. Dirinya tidak ingin gadis itu melihatnya tersenyum, terlebih untuk saat ini. Matanya menatap tajam pada gadis yang terlihat panik ketika melihatnya. Gadis itu kini berada di hadapannya dan napasnya terdengar sangat cepat.
"Apa kamu berlari ke tempat ini?"
Pertanyaan itu membuat Aurora berdiri tegak dan mengatur napasnya. Dirinya tidak menyangka Elizabeth menunggunya hingga detik terakhir waktu sore. Kini seluruh istana telah diterangi penerangan yang berasal dari lampu-lampu yang terpasang di setiap sudut istana.
"Maaf membuat Anda menun-"
"Cukup, aku tidak mau membuang waktu lagi, katakan apa yang ingin kamu katakan, sebelum aku bosan dan benar-benar meninggalkan tempat ini."
Elizabeth memotong kalimat Aurora dan berjalan menuju gazebo yang tidak jauh dari mereka.
"Tunggu apa lagi? jangan katakan kamu ingin berbicara sambil berdiri?"
Elizabeth menghela napas ketika melihat Aurora bergegas menyusulnya. Kini mereka duduk saling berhadapan dan beberapa pelayan menuangkan teh di cangkir mereka.
"Jadi ... apa yang ingin kamu sampaikan?"
Pertanyaan itu Elizabeth katakan tanpa memandang wajah Aurora. Gadis itu mulai merasakan tekanan yang sama dari Elizabeth seperti ketika di ruangan siang tadi. Wanita itu terlihat santai, tapi sesuatu seolah membuat aura Elizabeth berbeda. Aurora mengatur napasnya agar tetap tenang dan berusaha bertahan dalam tekanan Elizabeth.
__ADS_1
"Saya datang untuk menjawab pertanyaan Madam di ruangan pertemuan siang tadi."
Elizabeth tidak merespon perkataan Aurora dan mengalihkan pandangan pada taman bunga. Elizabeth seakan tidak peduli apapun yang Aurora katakan padanya. Dirinya seolah menunjukkan bahwa Aurora tidak lagi ada dalam pandangannya dan gadis itu harus menyerah sebagai Ratu Kaspian.
"Pertanyaan yang A-"
"Aurora Arcadian, apa menurutmu bangsawan memiliki banyak waktu?"
Aurora terdiam, dirinya tidak menyangka Elizabeth memotong kalimatnya bahkan tanpa melihat kearahnya. Wajah cantik Elizabeth membuat Aurora sedikit takut dan merasa bahwa wanita yang ada di hadapannya benar-benar menakutkan. Elizabeth dapat dengan mudah membuat orang lain merasa terhina dan rendah hanya karena dirinya tidak menatap orang itu.
"Tidak madam."
"Kalau begitu bicara, maaf jika diriku tidak mengetahui tata krama di Arcadian, tapi di sini ... tidak ada bangsawan yang punya banyak waktu."
Elizabeth melirik kecil pada Aurora. Dirinya menunjukkan sikap yang sangat keras dan tajam pada gadis itu. Elizabeth seolah seorang Ratu yang memojokkan pelayannya.
"Jadi apa jawaban dari pertanyaanku?"
Aurora berusaha mengimbangi aura dari Elizabeth yang terus menekannya. Gadis itu berusaha keluar dari tekanan Elizabeth dan berdiri di panggung yang sama dengan wanita itu. Namun semakin dirinya berusaha, semakin kuat tekanan itu dia rasakan.
Elizabeth kini menatap gadis itu. Dirinya tidak menyangka Aurora meminta bantuannya dan tidak berusaha melawannya. Gadis itu terlihat pasrah dan menyerah pada Elizabeth yang memang berada jauh di atasnya.
"Apa kamu menyerah?"
Aurora menggeleng dengan pertanyaan itu. Dirinya tidak ingin menyerah, namun tidak pula dia bisa menjawab pertanyaan Elizabeth tentang menjadi seorang Ratu.
"Lalu?"
"Saya hanya belum bisa menjawabnya Madam, semuanya terasa asing dan saya sama sekali tidak mengetahuinya, karena itulah saya meminta pada Anda untuk mengajarkan saya segala hal, agar nantinya saya bisa menjawab pertanyaan Madam dengan bangga."
Aurora menundukkan kepalanya dan terlihat memohon. Sementara Elizabeth masih terperangah dengan jawaban gadis di hadapannya. Dirinya masih tidak percaya bahwa gadis itu justru meminta bantuannya yang terlihat seperti musuh dari pada menghindarinya. Elizabeth sebenarnya tidak menyukai cara gadis ini, namun dirinya juga tidak ingin Aurora jatuh ke tangan bangsawan lain dan menjadi pedang bagi Kaspian.
Keadaan Kaspian memang tenang dan penuh dengan kedamaian. Namun tidak ada yang pasti di dunia ini, segala kemungkinan pasti terjadi dan Elizabeth bukan tipe orang yang suka berandai-andai. Dirinya selalu menyiapkan segala hal untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
__ADS_1
"Tegakkan kepalamu, seorang Ratu tidak boleh menundukkan kepalanya pada siapapun kecuali pada suaminya."
Elizabeth masih penasaran dengan Aurora. Dirinya melihat potensi dari gadis ini, hanya saja Aurora masih sedikit naif. Dirinya masih memandang dunia dengan sebelah mata dan Elizabeth ingin mengubah itu semua. Bagi Elizabeth, Kaspian adalah segalanya.
"Apa kamu siap melalui segalanya Nona Aurora?"
Aurora mengangguk dengan pertanyaan Elizabeth. Dirinya seakan melihat sebuah harapan dari jurang yang membuatnya hampir jatuh. Meski jurang itu terlihat terjal, Aurora tetap bertekad untuk melewatinya dan tidak akan menyesali apapun yang terjadi nantinya.
"Kamu harus tahu satu hal ..."
Elizabeth berdiri dan memandang Aurora. Tatapan matanya seakan pedang yang memaksa Aurora tertunduk. Namun gadis itu berhasil sedikit melawannya dan mengunci pandangannya pada mata itu.
"Sekali saja kamu mengeluh ... maka kamu akan kembali ke tempat ini dan menangisi nasib layaknya pecundang yang membohongi dirinya sendiri."
Kalimat Elizabeth terdengar tajam bagi Aurora. Namun gadis itu tidak peduli dan bertekad untuk membuktikan pada Elizabeth bahwa dirinya pantas untuk bersanding bersama Abhlesh. Tekad gadis itu telah bulat dan matanya seakan api yang tidak pernah padam.
"Persiapkan dirimu, kau akan pergi setelah jamuan istana malam ini dan ...."
Elizabeth berbalik setelah turun beberapa langkah dari tangga. Dirinya menatap Aurora dan kini Aurora dapat melihat senyum yang sejak tadi tidak terlukis di wajahnya. Hanya sesaat, setelah itu wajah Elizabeth kembali tanpa ekspresi dan terkesan dingin.
"Kuharap kamu tidak terlambat untuk acara itu."
Elizabeth berlalu bergegas mempersiapkan dirinya untuk jamuan istana. Sementara Aurora terlihat kegirangan dan berlari menuju kamarnya. Dirinya tidak ingin mengecewakan Elizabeth dan Abhlesh malam ini. Setidaknya gadis itu telah melangkah menuju gerbang baru dari hidupnya. Meski dia sama sekali tidak tahu bahwa berada di bawah pelatihan Elizabeth akan membuatnya menangis sepanjang malam. Biarlah, biarkan gadis itu merasakan keindahan malam ini dan berjuang layaknya prajurit keesokan harinya.
*******
Ntah kenapa gue suka banget ama Elizabeth 😂
Thanks buat yang udah baca, jangan lupa rate 5, vote, like dan tinggalin jejak ya 😌 dukungan adalah kunci berlangsungnya cerita ini 😌
itu adalah visual untuk Elizabeth 😌 awet muda hahahahaha resepnya rahasia 😂
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih, sampai jumpa di Next Episode dan sampai Bye2 👋😍