Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 5 : King Chamber part 2


__ADS_3


Claude yang membaca potongan surat itu seakan tidak percaya. Bahwa apa yang Raja Alexander katakan dalam surat itu merupakan apa yang Raja itu rasakan. Bukan hanya satu, tapi masih banyak surat serupa yang tergeletak di atas meja itu.


Surat yang berada di tangan Claude, serta yang berada di atas meja itu bukan jumlah keseluruhannya. Ketika Abhlesh menunjukan padanya laci rahasia sang Raja serta buku harian yang tersimpan rapi di dalamnya. Membuat Claude terperangah dan berkali-kali membaca tulisan itu.


Untaian kata demi kata yang sangat menyedihkan untuk keadaan seorang Raja seperti Alexander. Seharusnya dia menyampaikan itu semua pada Abhlesh. Bukan menyimpannya dalam laci rahasia dan tersembunyi dalam gelap.


Hal yang membuat segala hal bergerak ke arah yang rumit dan membingungkan. Jika saja Abhlesh bukan Pangeran yang bijak dan menghormati Ayahnya serta menaruh dendam yang dalam. Mungkin Raja Alexander akan tewas dan berakhir di tiang gantungan serta membawa kerajaan ini dalam kekacauan.


Sementara Abhlesh akan tenggelam dalam penyesalan karena membunuh orang yang seharusnya tidak ia bunuh. Beruntungnya Abhlesh bukan Pangeran yang seperti itu dan tetap menjaga Ayahnya hingga akhir. menjaga kehormatan Ayahnya sebagai seorang Raja Kaspian tetap terjaga sampai akhir hayat Sang Raja.


"Claude, aku ingin tempat ini dirubah menjadi ruangan kerjaku dan pustaka pribadi Ayahku jangan diusik"


Abhlesh melipat surat yang Claude letakkan di atas meja dan merapikannya.


"Nana, katakan pada pelayan lainnya agar membereskan tempat ini dan katakan pada mereka untuk menyimpan semua surat ini di dalam peti kecil agar mudah menyimpannya"


Nana menerima perintah itu dan meninggalkan ruangan. Sementara Claude masih bingung dengan tujuan sang Pangeran yang seharusnya tidak menempati ruangan ini.


"Ruangan ini tidak cocok untuk anda Pangeran, di istana ini ada ratusan ruangan yang bisa anda pilih dan anda justru memilih ruangan ini?"


Claude menghela nafas panjang dan Abhlesh tersenyum melihat reaksinya. Claude bukan orang yang meragukan semua perintah dan permintaan Abhlesh. Namun jika topiknya tentang Raja Alexander dan apapun yang berkaitan dengannya, hal itu akan membuat Claude sedikit tidak menyukainya. Serta Abhlesh akan dihujani berbagai pertanyaan darinya.


"Claude ... aku memilih ruangan ini bukan karena Ayah, tapi karena hanya di ruangan ini yang terdapat potret ibuku"


Abhlesh melihat ke arah dinding yang berada di sebelah kanan mereka. Di atas perapian itu terpajang lukisan indah seorang wanita yang benar-benar menjerat semua mata yang melihatnya. Claude juga baru menyadari terdapat potret Ratu Cleo di ruangan ini dan hal itu membuatnya menghela nafas panjang serta menyandarkan tubuhnya.


"Baiklah Yang Mulia, berikan kami waktu seminggu untuk merubah tempat ini menjadi ruangan anda ... tapi bagaimana dengan ruangan rahasia yang ada di belakang rak buku ini?"


Claude berjalan menuju rak-rak buku yang berada tidak jauh dari perapian. Dia mengambil 3 buku yang berada di rak tengah dan menekan dinding yang tadinya tertutup 3 buku yang ada di tangannya. Sesuatu bergerak di balik dinding itu dan sebuah pintu terbuka tepat di sampingnya.



"Sudah kuduga anda pasti mengetahuinya Yang Mulia."


Abhlesh berdiri dan berjalan memasuki ruangan itu diikuti dengan Claude. Di dalamnya terdapat banyak sekali buku serta lukisan Ratu Cleo dan juga lukisan Abhlesh ketika ia masih bayi. Raja Alexander menyimpan semua ini di dalam ruangannya dan menyembunyikannya dari semua orang termasuk dirinya sendiri.


Claude yang lagi-lagi melihat hal yang tidak terduga itu hanya bisa tercengang. Dia terduduk di bangku yang paling dekat dengannya. Dirinya mengamati semua lukisan itu dengan emosi yang kembali memuncak.


"Apa-apaan semua ini! jika dia benar menyayangi mu kenapa dia melakukan semua itu! apa dia tidak mengetahui bahwa kau lebih membutuhkan kasih sayang dari pada kumpulan potret dan kalimat sampah seperti ini!"


Claude kali ini benar-benar marah. Dia melempar semua perkataannya pada Abhlesh yang hanya terdiam mengamati salah satu lukisan di ruangan itu. Lukisan itu menggambarkan Alexander dan Ratu Cleo ketika sedang mengandung Abhlesh di dalam kandungannya. Abhlesh melihat ekspresi bahagia mereka berdua di lukisan itu dan menghiraukan ocehan tanpa henti Claude tentang ayahnya.



"Mungkin di mata Kaspian Ayahku adalah Raja yang gagal ... serta Raja Kaspian yang memalukan, tapi beliau tetaplah Ayahku."


Abhlesh menundukkan kepalanya dan mata birunya seakan mengenang sesuatu dalam pikirannya.

__ADS_1


"Claude, berhenti berbicara buruk tentangnya."


Claude reflek berlutut dan meminta maaf atas ucapannya. Namun hal itu justru membuat mood Abhlesh semakin rusak. Abhlesh menghela nafas panjang dan meminta Claude untuk berdiri serta melakukan apa yang ia minta.


Kali ini Claude tidak protes dan langsung bergegas mengurus segala keperluannya. Mengumpulkan orang-orang yang akan ia perintahkan untuk melakukan pekerjaan itu. Claude bergerak secepat mungkin setelah dua kali berada dalam teguran Abhlesh.


Abhlesh menutup pintu rahasia itu dan merapikan kembali tata letak buku-buku itu. Ketika dia keluar Nana sudah berdiri di posisinya membereskan surat yang masih berserakan di atas meja. Gadis itu berbalik ketika mendengar Abhlesh keluar dari ruang rahasia itu.


"Nana, apa hektor sudah kembali?"


"Sir Hektor sudah menunggu anda di Throne Room Yang Mulia"


Nana menjawab pertanyaan Abhlesh setelah terlebih dahulu memberi hormat pada sang Pangeran. Abhlesh berdiri dan meninggalkan ruangan itu, sementara Nana mengikutinya dari belakang setelah membukakan pintu untuk Abhlesh. Langkah Abhlesh terhenti dan Nana hampir menabrak Sang Pangeran karena hal itu.


Abhlesh tertawa kecil dan mengelus kepala gadis itu sambil tersenyum.


"Nana, jangan biarkan Janet mendengar hal ini dan katakan pada Emerson untuk menyiapkan ruangan itu"


Nana yang memang merasa gugup karena mengetahui ruangan itu hanya mengangguk dan wajahnya memerah. Gadis itu membungkukkan badannya dan melakukan apa yang Abhlesh bicarakan. Nana bergerak mencari Emerson dan pelayan lainnya menggantikan posisi Nana sementara.


*******


Di depan singgasana itu Abhlesh berdiri dan memandang pria yang di bawa Hektor. Wajahnya menunjukan ekspresi dingin dan mata biru itu memandang rendah pada orang yang berlutut di hadapannya. Hektor yang berdiri di dekat pria itu menjambak rambutnya agar mata pria itu melihat ke arah Abhlesh.


Pria itu benar-benar pucat ketika mata biru Abhlesh yang dingin layaknya es memandangnya. Pandangan itu seakan sebuah mata pedang yang siap menusuknya serta mengambil nyawanya kapanpun. Tubuh pria itu seakan merasakan hawa dingin dari tatapan Abhlesh.


"Kau tau apa yang paling kubenci?"


"Apa kau tau apa yang paling kubenci tuan pelayan?"


Pria itu adalah seorang pelayan istana. Dia mulai bekerja di istana Kaspian tepat setelah kematian Perdana Mentri Spencer Perceval yang di bunuh di rumahnya. Pertanyaan Abhlesh membuat pria itu pucat dan seluruh darahnya seakan pergi meninggalkannya.


"Aku benci 2 hal, penghianatan dan kebohongan"


Abhlesh memandang rendah pada pria itu. Abhlesh terus mendekat hingga Kini jarak mereka hanya beberapa inci. Abhlesh memandang mata pria itu dengan mata biru kristalnya. Sementara Pria itu berusaha mengalihkan pandangannya dari Pangeran Kaspian itu.


Keluarga Kaspian terkenal akan keunikan yang ada di mata mereka. Setiap Raja yang naik tahta pasti memiliki perbedaan pada mata mereka. Layaknya Abhlesh yang memiliki bola mata seperti kristal yang berwarna biru.


Di Kaspian hanya dia dan satu orang lagi yang memiliki mata yang sama. Bahkan Hektor yang termasuk dalam garis keturunan Kaspian memiliki bola mata yang unik. Karena hal itulah tidak sulit untuk mengenali keluarga kerajaan Kaspian.


"Kau tau kenapa aku membenci dua hal itu tuan pelayan?"


Pria itu benar-benar berada dalam tekanan Abhlesh dan Hektor yang menahan kepalanya menyalurkan emosinya ke rambut pria itu.


"Kerajaan ini hampir musnah karena penghianatan dan Ayahku mati karena kebohongan"


Abhlesh berlalu dari hadapan pria itu dan menepuk pundak Hektor.


"Bawa dia pada Emerson, biarkan dia bernyanyi di tempat itu ... dan untukmu tuan pelayan, kuharap nyanyianmu seindah segala hal yang telah kau lakukan"

__ADS_1


Abhlesh meninggalkan Throne Room dan Hektor yang masih menarik rambut pria itu. Di belakangnya suara teriakan meminta pengampunan bergema di ruangan itu. Suara yang menghilang ketika pelayan yang bertugas menutup pintu itu untuknya.


Abhlesh sudah memulai pembersihannya di istana Kaspian. Semua orang yang ia selidiki satu-persatu menghabiskan waktu mereka di tangan Emerson. Semua itu berkaitan dengan kejadian kematian Spencer Perceval dan beberapa dari mereka bahkan mata-mata dari kerjaan lain.


Abhlesh kini berada di taman bunga dan menghabiskan waktunya di tempat itu. Taman itu merupakan taman yang dulu sering ibunya kunjungi dan taman itu adalah hadiah dari Ayahnya untuk kehamilan Ratu Cleo. Di tengah taman itu terdapat sebuah gazebo dan di sanalah Abhlesh sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku.


Dari kejauhan seseorang yang ia kenal berjalan menyusuri jalanan taman bunga yang mengarah ke gazebo di mana Abhlesh berada. Orang itu adalah Hektor dan dia menggendong seorang anak kecil yang Abhlesh kenal. Wajah Abhlesh berubah menjadi cerah ketika melihat gadis itu melambaikan tangan mungilnya dan Abhlesh tersenyum membalas lambaian gadis itu.


"Astrid, sudah ku katakan padamu untuk menjaga sikapmu di hadapan Pangeran"



Mata biru gadis itu yang serupa dengan Abhlesh memandang wajah hektor.


"Astlid baik, Astlid sayang Pangelan hehe"


Abhlesh tertawa mendengar kalimat gadis itu yang masih belum terlalu sempurna.


"Kemari ... duduk di sini Astrid, Aku punya sebuah kisah menarik untukmu"


Hektor menurunkan gadis itu dan gadis itu berlari ke arah Abhlesh tanpa aba-aba hingga berakhir dipelukannya.


"Celita apa Kak?"


Gadis itu memeluk Abhlesh dan Abhlesh mendudukkannya di pangkuan.


"Hey Astrid ...."


Abhlesh menahan ucapan Hektor yang berniat memarahi Astrid. Hektor marah karena Astrid yang lancang memanggil Abhlesh dengan sebutan kakak. Namun Abhlesh menahan kalimat itu dan mengelus lembut kepala Astrid.


"Setidaknya biarkan dia berada bersamaku Hektor dan katakan pada Emily, Abhlesh Kaspian memintanya untuk mengizinkan Astrid Perceval agar bermain bersamanya untuk beberapa saat"


Hektor tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menghela nafas panjang melihat tatapan dua pasang bola mata biru itu. Mereka berdua menatap Hektor dengan tatapan penuh permohonan.


Astrid Perceval merupakan anak perempuan dari Hektor dan Emily Perceval. Emily dan Hektor memiliki darah Kaspian hingga mereka juga mewarisi bola mata yang unik ciri khas keluarga Kaspian. Sementara anak mereka Astrid, memiliki bola mata kristal yang sangat mirip dengan Abhlesh.


Ketika pertama kali mereka bertemu, Astrid sangat takut dengan ekspresi dingin Abhlesh. Gadis itu bahkan bersembunyi di balik punggung Hektor kala itu. Setelah Abhlesh membujuknya dengan berbagai macam cara akhirnya gadis itu begitu lengket dengannya dan selalu berkunjung jika Abhlesh bersantai di taman itu.


"Baiklah jika Anda yang meminta Yang Mulia ... Astrid jangan merepotkan Pangeran dan Nana, Aku titip Astrid padamu"


Nana mengangguk dan Hektor pergi menuju tempat yang paling ia tunggu, ruangan introgasi Emerson. Abhlesh dan Astrid melambaikan tangan pada Hektor yang berjalan menjauh. Sementara Nana memberi hormat pada Hektor yang berlalu di hadapannya.


*********


Fueeeeehhhh , Kira2 kemana Hektor akan pergi? dan apa yang bakalan dia lakukan di ruangan Emerson?


Astrid itu salah satu karakter penyegar di novel ini wkwkwkwk


Thanks udah mampir ya All, Jangan lupa Vote, Rate, like n komennya ya 😌

__ADS_1


Staytune dan Sampai Bye2 👋😁


__ADS_2