
Perbatasan Kaspian dan Federasi mulai menunjukkan pergerakan mereka masing-masing. Federasi perlahan mengirim pasukan mereka ke perbatasan Kaspian. Mereka sudah melakukannya jauh sebelum Abhlesh menyadari rencana Federasi.
Pasukan-pasukan kecil perlahan dikirim ke perbatasan. Mereka melakukannya dalam skala kecil hingga Kaspian tidak menyadarinya. Namun kali ini berbeda, Federasi seakan mengerti pikiran Kaspian dan mulai secara terang-terangan mengirim pasukan mereka.
Satu hal yang tidak Federasi sadari adalah kehadiran dua Knight Kaspian yang telah Abhlesh tempatkan di sana. Mereka berdua adalah Igrit dan Ashe. Dua orang Knight yang memiliki reputasi sedikit bertolak belakang.
Igrit terkenal dengan sikap pendiam dan tidak banyak bicara. Pria itu juga dikenal dingin dan selalu berada di bagian paling depan peperangan. Tidak banyak rumor tentang Igrit di kalangan prajurit Kaspian, yang jelas pria itu sangat kuat dan mungkin lebih kuat dari Hektor.
Sementara Ashe, gadis itu dikenal ramah dan mudah bergaul. Namun sedikit liar dan tidak peduli dengan ucapannya. Tetapi di kalangan prajurit, namanya terkenal karena kecantikan serta kemampuan bertarung yang dia miliki. Dirinya setara dengan Kaspian Mad Dog yang kini berada bersama Hektor di tempat lain.
Bagi prajurit normal kekuatan mereka berdua sudah jauh di atas rata-rata. Namun hawa perang tetap saja menakutkan bagi sebagian orang. Kemungkinan untuk terbunuh ketika perang sudah pecah sangat tinggi. Mimpi buruk itu seakan menghantui mereka prajurit rendahan yang berada di kedua sisi.
Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Igrit dan Ashe. Mereka kini tengah asik bermain permainan catur di salah satu balkon kastil perbatasan Kaspian. Ashe terlihat sangat serius menghadapi Igrit yang bermain sembari membaca buku di tangannya. Setelah gilirannya selesai Ashe tersenyum puas menatap wajah Igrit yang masih tanpa ekspresi.
"Hoho kali ini kau akan kalah bro!"
"Skak."
Satu kata dari Igrit menghapus senyum di wajah Ashe. Gadis itu mengambil papan catur yang ada di hadapannya dan melempar benda itu sekuat tenaga ke arah Federasi.
"Fuuh ...."
Ashe menghela napas dan kembali tersenyum pada Igrit. Dirinya sangat kesal karena mengalahkan Igrit hampir mustahil baginya. Liat saja pria itu, dirinya bahkan tidak serius menghadapi Ashe dan pandangannya masih terkunci pada buku kecil di tangannya.
"Kenapa kamu membuangnya Ashe?"
"Membuang apa? ... Hey kau! apa kau melihat aku membuang sesuatu?"
Kalimat itu Ashe tujukan pada salah satu prajurit yang berada di sekitar mereka berdua. Tatapan matanya yang tajam dan aura membunuh yang dia arahkan membuat prajurit itu menggeleng dan Igrit menyuruhnya pergi.
"See? aku bahkan tidak melakukan apapun Sir."
Ashe tersenyum lebar dan memindahkan kursinya di samping Igrit. Pria itu hanya menghela napas dan sedikit membuka ruang untuk gadis di sampingnya masuk.
__ADS_1
"Apa yang kau baca kak?"
Ashe semakin mendekatkan posisinya pada Igrit. Namun bagi mereka berdua hal itu sudah biasa dan tidak jarang mereka bersikap seperti itu di depan orang lain. Ashe menganggap Igrit sebagai figur seorang kakak laki-laki yang penyabar dan Igrit menganggap gadis itu sebagai adik kecil yang merepotkan. Mereka sangat akrab mengingat Igrit adalah mentor serta orang yang berjasa dalam hidup Ashe.
Ashe yang dulunya seorang perompak laut rendahan kini di angkat sebagai Knight yang memiliki kehormatan. Namun sifatnya terkadang membuat orang lain tidak nyaman dan di kerajaan, hanya sedikit orang yang mengerti akan dirinya. Ashe masih menyimpan memori di mana Igrit dan Abhlesh menyelamatkannya dari masa lalu kelam yang mengurung dirinya.
Kini gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Igrit. Igrit sama sekali tidak keberatan karena memang Ashe sedikit berbeda dari manusia lainnya. Gadis itu memiliki suatu rahasia yang hanya di ketahui oleh beberapa orang termasuk dirinya. Bahkan orang sekelas Leo tidak mengetahui rahasia Ashe yang memang Abhlesh perintahkan untuk ditutup.
"Kak, apa kita pasti akan berperang?"
Ashe kembali memecah keheningan yang membuatnya bosan. Igrit menutup bukunya dan menatap perbatasan yang berada tidak jauh dari mereka. Kastil yang mereka tempati hanya satu-satunya tempat pertahanan yang berhadapan langsung dengan Federasi.
"Kenapa kamu bertanya? perang adalah sesuatu membosankan dan kau bisa saja terluka."
"Hehehe aku hanya tidak sabar ingin mencoba hadiah yang Pangeran berikan padaku."
Ashe menunjuk kalung yang melekat di lehernya. Kaling itu berbentuk seperti pita yang menempel erat di lehernya.
"Abhlesh memberikannya padamu bukan untuk kamu jadikan mainan Ashe."
Ashe tersenyum lebar dan memainkan kalung miliknya. Igrit kembali fokus pada bukunya dan menghiraukan Ashe yang kembali menyandarkan kepalanya di pundak Igrit.
"Kak, tidak ada yang ingin kau tanyakan tentangku?"
Igrit kembali menghela napas dan menyimpan bukunya. Pria itu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Leo?"
Ashe ikut memejamkan matanya dan menghela napas pelan.
"Sama seperti hubungan kakak dengan Madam Elizabeth."
Igrit tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari bibir manis Ashe. Gadis itu benar-benar tidak memiliki filter di mulutnya. Abhlesh yang seorang Pangeran Kaspian sekalipun tidak mau mengungkit hubungan Igrit dengan Elizabeth. Tapi gadis ini, dirinya bahkan sangat lancar mengatakannya.
__ADS_1
"Kalau begitu jangan ikuti jalanku, Elizabeth dan aku berbeda, wanita kuat seperti dirinya tidak mungkin melihatku Ashe."
Ashe tertawa mendengar kalimat Igrit. Pria yang sudah dia anggap sebagai saudara itu benar-benar tidak peka dengan perasaan Elizabeth.
"Aku prihatin dengan Madam Elizabeth."
"Maksudmu?"
Igrit menoleh pada Ashe yang masih berada di sampingnya. Gadis itu hanya tersenyum pada Igrit dan kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Igrit. Igrit merasa ada sesuatu dari kalimat gadis itu yang membuatnya penasaran. Namun Ashe bukan orang yang mudah untuk di gali informasi darinya.
"Lupakan tentangku, apa pria itu masih belum melamarmu?"
"Belum."
Ashe menjawab singkat dan menghela napasnya.
"Kenapa? kurasa pria itu beberapa kali terlihat kesal melihatku."
"Itu karena dia bodoh, kak ... jangan bahas pria itu lagi, aku sudah bosan menunggunya, aku berjanji, setelah semua ini usai aku akan mencarinya dan menikmati hal yang selalu kutunggu darinya! liat saja Leo!."
Ashe berdiri dan matanya terlihat berapi-api terbakar semangat. Igrit sekali lagi menghela napas panjang dan mengharapkan keselamatan Leo yang mungkin akan mengalami hari yang panjang nantinya. Pria seperti Leo yang cukup pemalu pasti akan dilumat habis oleh gadis seperti Ashe.
Dirinya hanya bisa melihat kisah mereka dan menyimpannya dalam memori abadi miliknya. Namun sesuatu yang Ashe katakan padanya tadi tetap membuat hatinya sedikit bimbang. Perasaannya pada Elizabeth yang telah lama dia bunuh kembali bangkit. Memori tentang dirinya yang melepas Elizabeth pada pria lain masih berbekas di benaknya.
Pada hari ini, perbatasan Kaspian tidak hanya di penuhi gejolak peperangan. Perasaan Igrit yang kembali hidup dan gejolak asmara Ashe mewarnai tirai waktu yang terus bergerak ke arah yang tidak diinginkan. Kini mereka berdua kembali bersantai dan menghabiskan hari yang membosankan dengan kisah-kisah Igrit yang membuat Ashe tertidur.
********
Wah wah, No romance relationship untuk Ashe dan Igrit hahaha
Kalau Leo tau gimana ganasnya Ashe kira2 Leo takut ga ya? kalau gue sih engga hahahah
Thanks buat yang udah baca, jangan lupa Rate 5, like vote dan komennya untuk meramaikan lapak ini 😌 dukungan adalah kunci berlanjutnya kisah mereka serta terwujudnya misi Ashe untuk 'menelan' Leo 😂
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih, sampai jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋🤩