
Abhlesh memasuki ruangan kerjanya. Di belakangnya Igrit mengikuti langkahnya dan Nana kembali pada posisinya di sudut ruangan. Hanya mereka bertiga di ruangan itu dan sejak dari Airship port tadi, Abhlesh tidak mengeluarkan satu kalimat pun.
"Jadi, menurutmu apa Aurora harus tahu semuanya?"
Abhlesh menyandarkan tubuhnya dan mata biru itu memandang tajam Igrit. Namun Igrit terlihat santai dan bahkan menuangkan teh untuk Abhlesh.
"Kurasa belum waktunya gadis itu mengetahui tentang Gaia."
Nada Igrit yang terkesan santai membuat Abhlesh menghela napas panjang. Pria di hadapannya bukan orang sembarangan dan jika dibandingkan dengan Abhlesh, Igrit mungkin lebih kuat dalam hal bertarung.
"Terserah kau saja. Aurora memang seharusnya tidak mengetahui semua ini. Gadis itu terlalu lembut untuk menerima takdirku."
Abhlesh mengambil teh miliknya dan menikmati aroma serta rasa minuman itu. Dirinya mulai merasakan hal yang paling dia benci dari jiwanya. Gaia sudah mengatur semuanya dan membuat Abhlesh semakin bergantung dengan Aurora.
"Sepertinya Gaia sudah memulai langkahnya."
Igrit kali ini menatap tajam pada Abhlesh yang hanya bisa menghela napas. Igrit sadar kini Abhlesh tengah berjuang keras untuk mengalihkan perhatiannya dari Aurora. Namun semua itu seolah sia-sia.
"Kau tahu aku paling benci dengan permainan jiwa ini. Apa makhluk itu benar-benar Dewa?"
Igrit tersenyum getir dengan pertanyaan Abhlesh. Di dunia ini hanya beberapa orang yang bisa membuat ekspresi Igrit keluar dan Abhlesh adalah salah satunya.
"Sejauh yang kutahu, Gaia memang seorang dewa dan dia adalah salah satu dari 3 Dewa yang seharusnya memerintah dunia."
Abhlesh sedikit mencondongkan tubuhnya karena topik ini baru pertama kali dia dengar.
"Maksudmu? terakhir kali aku bertemu dengannya, Gaia menunjukkan padaku sebuah mural dan kurasa kau juga tahu apa itu bukan?"
Igrit meletakkan cangkir teh miliknya dan kembali menatap Abhlesh. Namun pandangannya kali ini lebih ke rasa heran dan takjub.
__ADS_1
"Kau bertemu dengannya? bagaimana mungkin kau bisa hidup? satu-satunya makhluk yang pernah bertemu dengannya hanya orang itu."
Abhlesh mengangkat kedua bahunya seolah mengatakan bahwa dirinya tidak tahu. Namun dirinya memang berpikir bahwa jika Gaia berniat membunuhnya, mungkin hal itu dapat dengan mudah Gaia lakukan. Sihir dan segala hal sepertinya tidak berpengaruh pada makhluk itu.
"Sepertinya semua mulai kembali rumit. Terakhir kali aku berpikir seperti ini adalah ketika Tree Of Life kehilangan tenaganya. Namun kala itu seseorang merubah jalan peperangan dan berhasil mengambil Seed of life."
Igrit menerawang jauh seolah berusaha mengingat sesuatu. Igrit berusaha membangkitkan kembali memorinya tentang perang itu dan dirinya kembali ingat dengan senyum orang itu. Senyuman yang bahkan membuat naga sekelas dirinya merasakan bahaya dan rasa takut.
"Banyak hal yang harus kita persiapkan jika kau memang ingin mengubah takdir. Namun sepertinya Gaia tidak ingin semua itu terjadi, terlebih untuk menariknya turun butuh sesuatu yang besar."
Igrit menutup matanya dan bersandar di sofa yang dia duduki. Wajahnya mengarah ke langit-langit dan ingatannya kini terbang jauh menuju masa lalu.
"Ah, aku lupa mengatakan padamu sesuatu, apa kau mengetahui sesuatu tentang gadis kecil yang dulu disebut Queen Of Apo-"
"Elizabeth Bertian Aìma Rosalian. Queen Of Disaster, Walking Calamity, True Vampire, Queen of Seven Soul, Sin Of God. Nama itu yang dia sandang, bagaimana kau bisa tahu tentangnya?"
"Kurasa dia menolongku keluar dari perangkap mimpi Gaia."
Kalimat itu membuat ekspresi Igrit berubah dan mata manusianya bahkan sudah berganti dengan mata Naga yang menyerupai reptil. Namun aura yang Igrit keluarkan tidak seperti ketika dia berhadapan dengan Aurora.
"Mustahil, bagaimana mung- tidak,tidak, kurasa semua ini masuk akal. Jika dia menampakkan dirinya itu berarti ...."
Ekspresi wajah Igrit kembali berubah, namun kali ini jauh lebih menyeramkan. Bola mata emas itu menatap dalam pada Abhlesh yang terlihat tegang. Mungkin bagi Abhlesh berhadapan dengan Naga bukan hal yang sulit, namun tidak dengan Naga yang ada di hadapannya. Satu-satunya Naga yang selamat dari perang para dewa dan bukan karena keberuntungan. Tapi karena kekuatannya sebagai individu.
"Kita harus kembali ke Teokrasi! katakan pada Hektor dan Emerson untuk tidak memasuki basement terdalam dari Teokrasi. Wanita gila itu disegel di tempat itu!"
Mendengar apa yang Igrit katakan, ekspresi Abhlesh berubah serius. Tanpa banyak bicara Igrit berdiri dan menatap Abhlesh yang mengikuti gerakannya.
"Apa lagi yang dia katakan?"
__ADS_1
Abhlesh berusaha mengingat kalimat dari gadis kecil yang dia jumpai.
"cari aku di tempat paling gelap namun terang dan jangan bangunkan sebelum kau memutar balik daratan ini."
Kalimat Abhlesh semakin membuat Igrit yakin akan satu hal. Gadis kecil yang paling dia hindari akan kembali bangun dan sepertinya Gaia tidak mengetahui ini semua. Di satu sisi Igrit merasa senang, namun di sisi lain semua ini justru akan semakin rumit baginya.
"Kita harus kesana. Tidak, aku harus kesana. Kau harus tetap di sini dan tunggu kabar dariku. Kali ini semuanya akan kembali jelas."
Abhlesh hanya mengangguk mendengar kalimat Igrit. Dirinya memang tidak berniat untuk membangunkan gadis kecil itu. Namun jika sesuatu memaksanya, bukan tidak mungkin bagi Abhlesh untuk melakukannya. Dirinya hanya kembali duduk di sofa dengan wajah yang letih. Semuanya semakin rumit bagi Abhlesh, dirinya bahkan belum menyelesaikan masalahnya dan kini masalah lain justru datang padanya.
"Apa jiwaku sangat kotor hingga Dewa memberi hukuman seperti ini padaku?"
Abhlesh menghela napas panjang dan membaringkan tubuhnya. Pikirannya menerawang jauh tentang segala hal yang harus dia lakukan. Untuk sekarang, memutus hubungan dengan Aurora bukan pilihannya. Namun dirinya juga tidak ingin melihat kematian Aurora yang Gaia tunjukkan padanya.
"Red Lady, kurasa kita akan bertemu lebih cepat dari yang kau perkirakan."
Suara Abhlesh menghilang ditelan dinding ruangannya. Nana hanya melihat sang Pangeran yang terbaring lemah di sofa. Bagi Nana, Abhlesh adalah penyelamat sekaligus tuannya. Namun takdir selalu bermain dengannya dan menyiksa sang Pangeran yang berjuang sendirian. Di Kaspian sendiri hanya beberapa orang yang mengetahui nasib tragis sang Pangeran. Namun dirinya dan orang-orang bahkan termasuk Igrit tidak bisa berbuat banyak. Kontrak pada Dewa bukan suatu hal yang mudah untuk dihapus dan jelas memerlukan hal yang besar.
Kini ruangan Abhlesh diselimuti suasana sepi dan menenangkan. Nana tidak mau mengganggu istirahat Pangeran dan hanya menjaganya. Tidak ada yang lebih menenangkan dari melihat Abhlesh yang tertidur karena semua bebannya. Semoga pria itu bisa menyelesaikan semua masalahnya dan berdiri satu panggung dengan Gaia untuk melakukan sesuatu tentang takdirnya.
*************
Maaf untuk update yang cukup lama 😅 karena emang lagi sibuk di RL wkwkwkw
Untuk sementara beberapa rahasia mulai terungkap dan sepertinya Love In Kaspian lebih ke Fantasy yang rumit dan di bumbui romance, bukan sebaliknya 😅 entah lah kurasa cerita ini lebih nyaman begini, namun tenang, temanya tetap tentang Love in Kaspian 😌
Thanks buat yang udah baca, jangan lupa rate 5, vote, like dan komen yang banyak ya 😌 dukungan adalah cara untuk membuat cerita ini terus berlanjut 😌
Sampai jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋🤩
__ADS_1