
Elizabeth Bertia Aìma Rosalian, seorang yang terkenal pada perang besar ratusan tahun lalu. Dirinya memegang banyak sekali gelar dan tidak satupun dari gelarnya yang membuat orang lain tidak takut. Salah satunya adalah Queen of Disaster, gelar diberikan padanya dan Bertia sangat menyukai gelar itu.
Kini dirinya berdiri di hadapan ratusan orang yabg memenuhi tempat latihan. Dirinya menerima tantangan yang menurutnya sangat membosankan. Di hadapannya berdiri seorang pria berambut pirang dan wajah tampannya terlihat memerah. Pria itu adalah Leo, salah satu dari Knight terkuat Kaspian yang menantangnya. Namun wajah Leo memerah bukan tanpa alasan, hal itu karena Bertia tidak menerima pertarungan ini jika satu lawan satu.
"Seperti yang kukatakan. Kalian berdua hadapi aku dan jangan bergantian. Hal itu terlalu banyak memakan waktu dan membosankan."
Bertia tersenyum remeh dan membuat emosi Leo memuncak. Namun bagi seorang Knight emosi adalah sesuatu yang bisa mempengaruhi konsentrasi dan Leo mengerti hal itu. Kini dirinya memandang ke arah Abhlesh yang duduk di bangku penonton. Di samping Abhlesh Knight lainnya termasuk Claude duduk melihat ke arahnya.
"Claude, ikuti permintaannya."
Seolah mengerti dengan kode dari Leo, Abhlesh memberikan izin pada Claude untuk ikut dalam pertarungan. Kini posisi Bertia hanya sendiri, sementara di hadapannya Leo dan Claude terlihat serius dengan senjata yang mengarah pada Bertia. Claude adalah pengguna tombak dan dirinya merupakan petarung yang mampu membuat namanya dikenal di seluruh Kaspian. Sementara Leo menggunakan pedang khusus yang Abhlesh berikan padanya. Semua senjata Knight Kaspian adalah rancangan Abhlesh dan kekuatan senjata mereka tidak bisa diremehkan.
Bertia hanya memandang mereka berdua dengan tatapan bosan dan bahkan dirinya seperti tidak menganggap serius semua ini. Igrit hanya menghela napas dan memilih untuk fokus pada Leo dan Claude jika sesuatu berada di luar kendali. Igrit berdiri dan menjadi juri pada pertarungan 2 vs 1 yang mungkin terlihat tidak seimbang. Namun bagi Igrit, pertarungan kali ini hanya sebuah permainan bagi Bertia.
"Kerahkan semua kemampuan kalian. Jika lawan menyerah maka pertandingan kuhentikan. Jika menurutku lawan tidak lagi sanggup bertarung, pertandingan juga akan kuhentikan. Membunuh lawan adalah pelanggaran terutama kau Bertia. Baiklah ... mulai!"
Tepat setelah Igrit memulainya, Leo dan Claude bergerak dengan kecepatan yang sulit dipercaya manusia. Dalam sekejap mata mereka yang tadinya berjarak hampir 50 meter dari Bertia kini berada tepat di depannya. Leo mengayunkan pedang di tangan kirinya dan bagian leher Bertia adalah target untuk Leo. Sementara Claude secara bersamaaan mengarahkan ujung tombaknya pada Bertia yang sama sekali tidak bergerak.
"Hanya itu?"
Bertia menghentikan serangan mereka berdua dengan mudah. Dirinya bahkan menangkap pedang dan tombak dua Knight Kaspian hanya dengan dua jarinya. Semua orang terdiam dengan apa yang mereka lihat. Semua orang kecuali Abhlesh dan Igrit yang sudah mengetahui kemampuan Bertia.
__ADS_1
Leo dan Claude berusaha melepas senjata mereka dari jepitan jari Bertia. Namun senjata mereka seolah tertancap di batu dan sangat sulit untuk menariknya. Bertia tersenyum melihat dua Knight yang berusaha keras menarik senjata mereka.
"Ulangi lagi."
Bertia melepas senjata mereka dan mundur beberapa langkah. Apa yang Bertia lakukan adalah bentuk rasa remehnya pada dua orang yang menjadi lawannya.
"Lust, kurahap Pride tidak tahu soal ini."
Kalimat dari Igrit membuat Bertia tersenyum. Hanya Igrit yang mengetahui tentang Bertia dan dirinya yang sekarang adalah yang paling lemah dari Bertia-bertia lainnya. Namun Lust adalah yang paling kejam dan suka mempermainkan lawannya.
"Ah! kau mau bergabung Igrit? mereka berdua terlalu lemah bagiku. Dua orang yang di sana itu bahkan jauh lebih kuat dari mereka."
"Tidak mau maju? Kalau begitu giliran-ku."
Bertia menghilang dan muncul tepat di belakang Leo. Namun ketika Leo sadar, kaki Bertia sudah berada tepat di depan matanya. Leo bahkan tidak sempat bereaksi dan menerima tendangan itu dengan sempurna. Tubuhnya terpental jauh dan menghantam dinding penghalang yang berjarak 100 meter di belakangnya.
Dalam keadaan itu Claude tidak hanya diam dan ternyata melancarkan serangan pada Bertia yang seakan lengah. Namun semua itu hanya tipuan Bertia dan ketika Claude mendekat, Bertia melayangkan pukulan yang bersarang di perut Claude. Pria itu bernasib sama dengan Leo dan Bertia hanya tersenyum melihat keadaan mereka berdua.
"Hey Igrit! kau serius mereka termasuk dalam pasukan terkuat yang kau sebutkan tadi?"
Igrit hanya menghela napas panjang mendengar kalimat Bertia. Menangani Bertia adalah sesuatu yang memuakan bagi Igrit. Jika bukan karena kontrak, dirinya mungkin sudah bertarung matian-matian agar Bertia tidak keluar dari sarangnya.
__ADS_1
Secara mendadak sebuah pedang melesat dengan cepat ke arah Bertia. Meski Bertia dengan mudah menghindarinya, namun kali ini ujung mata tombak sudah menunggunya. Bertia tidak punya pilihan selain melompat dan mengambil jarak.
"Wah ... kalian ce-"
Kalimat Bertia terputus karena Claude sudah berada di sampingnya. Pertarungan mereka benar-benar cepat dan suara besi beradu besi terdengar nyaring di telinga penonton. Hanya beberapa orang yang mampu menonton pertandingan itu dengan sempurna. Sisanya hanya melihat 2 bayangan merah dan putih yang mengejar satu bayangan ungu.
Bertia tersenyum melihat perubahan kekuatan yang berbeda dari dua lawannya. Mereka berdua bahkan terlihat sangat serius dan satu kesalahan dapat melukai Bertia. Namun semua itu jika Bertia berada di level yang sama dengan mereka.
"Hop!"
Bertia melompat menghindari serangan berantai dari Leo dan Claude. Kini dirinya berada di udara dan kesempatan emas bagi dua lawannya. Leo dan Claude berpikir kali ini mereka dapat membuat luka pada Bertia dan menutup mulutnya agar tidak meremehkan mereka. Namun mereka berdua kini justru terbaring dengan rasa sakit yang sangat kuat di seluruh tubuh mereka.
Igrit menghentikan pertandingan dan Bertia terlihat tertawa melihat mereka berdua. Kejadian yang terjadi sangat cepat yang bahkan mereka tidak menyadari kapan dan bagaimana Bertia menyerang mereka. Hal terakhir yang mereka ingat adalah Bertia yang berada di udara dan setelah itu ingatan mereka seolah kabur. Kini Igrit bahkan berdiri di samping mereka dan Bertia masih dengan tawanya.
"Hey hey, dua orang yang di sana itu bahkan lebih kuat dari kalian. Pria yang berambut putih itu bisa menahan seranganku dengan tubuhnya. Sementara si penutup mata bahkan sanggup memotong sedikit dari jubahku. Kalian lemah dan besar omongan hahaha."
Kalimat Bertia membuat Claude dan Leo terdiam. Mereka sadar bahwa alasan kenapa Knight lainnya tidak menolak Bertia adalah karena kekuatan yang telah mereka lihat. Sementara mereka berdua sama sekali tidak menyadari itu dan justru meremehkan lawan. Sepertinya kali ini Claude dan Leo mendapatkan pelajaran berarti yang cukup untuk merubah pandangan mereka.
**********
Thanks untuk yang udah baca, jangan lupa rate 5, Like, vote dan komen banyak2.
__ADS_1