
Pasukan Kaspian masih belum sepenuhnya menundukkan Teokrasi. Meski berita kemenangan Kaspian sudah lebih dulu di umumkan, semua itu hanya untuk membuat moral pasukan Teokrasi hancur. Kini Hektor dan Emerson masih melakukan penyerangan besar-besaran di Kota Suez. Seluruh pasukan Teokrasi bertahan di menara tertinggi yang mereka sebut menara Babel. Di sanalah perang pengepungan dimulai, ronde kedua dari serangan yang berhasil merebut kota Suez.
Menara Babel dilindungi sebuah kubah sihir yang menutupi seluruh bagian menara. Hal itu yang membuat airship sulit untuk meratakan menara itu dengan meriam mereka. Di sana pasukan Teokrasi dan petinggi mereka berada, terkurung dan tidak punya pilihan selain bertahan. Namun semangat mereka tetap tinggi dan sesekali membuat pasukan Kaspian kewalahan.
"Jangan takut! Dewa bersama kita!" Teriak seorang komandan pasukan yang memimpin pertahanan.
Hal itu membuat moral pasukan Teokrasi semakin meroket dan penyerangan akhirnya dimulai. Seluruh pasukan Teokrasi berkumpul atas pagar raksasa yang mengelilingi menara. Airship tidak bisa menembak mereka karena pelindung dan pasukan Kaspian hanya bisa menyerang melalui jalur darat.
"Kerahkan Dreadnought! Dua meriam utama! Hancurkan pelindung Babel! Semua pasukan menjauh!"
Hektor memberi perintah untuk memulai penyerangan. Dua airship bergerak mengambil posisi, beberapa airship yang berada di dekatnya mengatur jarak dan bisa dikatakan menjauh. Bahkan pasukan Kaspian yang sejak tadi mengepung menara Babel mulai mundur menjauhi tempat itu.
Pasukan Teokrasi sama sekali tidak merasa ada yang aneh dari pergerakan Kaspian. Mereka justru mulai berteriak dan merasa kemenangan ada di tangan mereka. Namun ketika mereka sadar, semuanya sudah terlambat.
Dua airship sudah mengarahkan meriam mereka. Kilatan merah terlihat jelas di badan meriam utama. Senjata yang sejak tadi disimpan oleh Kaspian akhirnya mendapat kesempatan untuk tampil. Meriam itu tidak menggunakan proyektil, melainkan energi yang jauh lebih kuat dari meriam pada umumnya.
Suara gemuruh di langit Suez membuat pasukan Teokrasi yang tadi bergembira berubah hening. Semua pandangan mereka tertuju pada dua benda mengerikan yang mengeluarkan kilat di bagian bawahnya. Sedetik kemudian cahaya yang merah terang membuat semua orang memalingkan pandangan mereka. Kecuali mereka yang terpesona dengan keindahan cahaya kematian dari meriam terkuat Kaspian.
"Mu-mundu-"
Kalimat itu terputus atau lebih tepatnya tenggelam dalam suara ledakan yang dapat membuat gendang telinga pecah. Cahaya yang dihasilkan dapat membuat mata manusia buta dan tidak sedikit pasukan Teokrasi mengalami hal itu. Hawa panas ekstrim menyelimuti bagian depan menara yang menjadi target senjata itu. Semua prajurit Teokrasi yang berada dalam radius ledakan lenyap dan hanya menyisakan genangan merah menyala sisa dari besi yang meleleh.
Bangunan dan segala hal yang ada di sekitar pusat ledakan menghilang. Pelindung yang tadinya tidak tertembus kini menghilang tanpa jejak. Suasana begitu hening, teriakan kemenangan dan semangat lenyap seketika. Bahkan sebagian besar pasukan Kaspian hanya bisa terdiam melihat apa yang ada di hadapan mereka.
"Semua pasukan maju!"
__ADS_1
Suara Hektor memecah keheningan dan pasukan Kaspian mulai memasuki menara Babel. Tidak ada perlawanan dari pasukan Teokrasi atau lebih tepatnya mereka semua sudah lenyap tanpa jejak sama sekali. Meski begitu pasukan Kaspian tetap melakukan tugas mereka dan merangsek masuk kedalam menara. Penyerangan yang harusnya sengit berubah menjadi sesuatu yang begitu mudah. Dalam hitungan jam seluruh pasukan Teokrasi menyerah dan petinggi mereka ditangkap.
Hektor memerintahkan pemeriksaan di seluruh bagian menara dan ketika itulah mereka menemukan jalan rahasia yang mengarah pada bagian bawah tanah menara Babel. Emerson langsung masuk dan memeriksa tempat itu. Baginya penyerangan kota Suez jauh lebih membosankan karena ulah meriam Dreadnought.
Beberapa menit kemudian Hektor menyusulnya dan kini mereka berdua berdiri di hadapan sebuah pintu yang cukup besar. Emerson berniat membuka pintu itu namun entah kenapa instingnya memberikan alarm bahaya. Bukan hanya Emerson, Hektor merasakan hal yang sama dan sudah lebih dulu bersiap dengan pedang miliknya.
"Kau yakin?"
Emerson melempar pertanyaan yang hampir tidak pernah dia katakan. Namun rasa penasaran membuat mereka berdua sepakat untuk membuka pintu itu. Di dalam sana sangat gelap dan tidak ada cahaya sama sekali. Ketika mereka mulai melangkah masuk, ketika itu juga mereka berdua reflek mundur dan kembali berada di luar.
"Oy, oy, energi apa ini."
Hektor sama sekali tidak menghiraukan Emerson dan memusatkan konsentrasinya pada sesuatu yang ada di dalam sana. Apa yang membuat mereka mundur adalah nafsu membunuh yang cukup kuat dan mengarah tepat pada mereka berdua. Hanya sekali dalam hidupnya Hektor merasakan hal seperti ini dan kini kali kedua dia merasakan hal yang sama.
"Kalian semua! Kembali ke atas dan laporkan pada Yang Mulia! Tinggalkan kami berdua! Cepat!"
"Hektor!"
Emerson merasakan sesuatu bergerak di dalam sana. Ketika itu juga sebuah bayangan hitam mengarah tepat di bagian leher Emerson. Beruntung Emerson berhasil menghindar dan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Hektor berusaha menebas bayangan itu dan serangan mereka beradu. Meski Hektor mampu menahan serangan yang itu, namun tangannya bergetar akibat tekanan yang kuat yang dia rasakan.
"Ho ... Kau kuat."
Suara seorang wanita terdengar dari dalam sana dan membuat suasana berubah menjadi sangat tegang. Apapun yang berada di dalam sana berhasil membuat dua orang Knight terkuat Kaspian merasakan bahaya dari insting mereka. Hingga suara langkah kaki terdengar dari dalam sana. Suara langkah itu seperti seorang yang memakai sepatu dan menggema di seluruh ruangan.
Suara itu semakin mendekat dan apa yang keluar dari ruangan itu membuat mereka semua terdiam. Seorang wanita yang sangat cantik dan bisa dibilang sexy menampakan wujudnya. Hektor dan Emerson kini berada di tingkat kewaspadaan yang tertinggi. Insting mereka mengatakan wanita itu sangat berbahaya dan bersiap untuk menyerang.
"Selamat datang tuan-tuan. Apa kalian musuh? kurasa iya. Tapi kontrakku dengan orang itu tadi apa ya? hmmm ... Ah! Aku lupa hehe. Ayo mulai."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum dan di tangannya muncul sebuah tongkat. Dirinya melangkah pelan ke arah dua orang pria yang terlihat begitu tegang.
"Emerson!"
Langkah wanita itu terhenti dan senyumnya menghilang. Wajahnya berubah tanpa ekspresi dan tatapan matanya membuat bulu kuduk Hektor berdiri. Emerson bersiap dengan segala kemungkinan dan ketika itu juga seseorang melewati mereka berdua dan mengarah tepat pada wanita itu.
Dentuman keras menggema ketika mereka berdua bertemu. Debu menutupi pandangan Hektor dan ketika semuanya mulai memudar, Igrit sudah berdiri tepat di hadapan wanita itu. Igrit dan wanita itu saling menahan satu sama lain.
"Igrit! Lama tidak berjumpa! Aku kangen hahaha."
"Tutup simpan ocehanmu Bertia."
"Uuuu masih kasar seperti dulu. Tapi aku suka hahahaha."
Mereka berdua mengambil jarak dan Igrit bersiap memulai ronde kedua. Sementara wanita itu hanya menguap dan berbaring di tongkatnya yang melayang.
***************
Thanks buat yang udah baca 😌 maaf udah nunggu lama juga 😅, beberapa hal harus di susun dulu biar lengkap wkwkwkww
Sekali lagi terima kasih, jangan lupa Rate 5, Like, vote dan Komen banyak2 😌 Apapun yang mau di tanyakan bakalan gue jawab 😌
Sekali lagi terima kasih dan Sampai Bye2 👋🤩
Elizabeth Bertian Aìma Rosalian.
__ADS_1