Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 39 : Bloody Road


__ADS_3

Istana Kaspian hari ini terlihat sangat sibuk. Seluruh pelayan istana mempersiapkan segala hal untuk menyambut tiga Knight Kaspian serta pasukan mereka pulang. Bangsawan dan delegasi dari kerajaan lain dijadwalkan hadir malam ini. Namun suasana itu berbanding terbalik dengan suasana ruangan Abhlesh. Di dalam sana dirinya duduk menghadap Elizabeth Perceval. Madam Elizabeth terlihat tenang dengan secangkir teh di tangannya, sementara Abhlesh hanya bisa menghela napas dan menyandarkan tubuhnya.


"Apa kau yakin akan melakukan semua ini?"


Elizabeth menatap tajam pada Abhlesh yang terlihat lelah. Matanya seolah meminta sang Pangeran untuk menjawab tanpa menghindari pertanyaannya. Sejak awal kedatangan Elizabeth di ruangan ini, Abhlesh selalu menghindari permasalah menyangkut niatnya untuk Kaspian.


"Apa kau berpikir jalan itu mudah?"


Abhlesh menggeleng dan berdiri. Dirinya berjalan menuju balkon dan Elizabeth mengikutinya. Mereka berdua duduk di bangku yang menghadap danau Kaspian.


"Ibu, apa menurutmu yang harus kulakukan? Anda tahu soal kutukan Gaia dan aku adalah pemegang kontrak. Tidak ada pilihan lain bagiku, aku tidak mungkin membuat Aurora menanggung semua ini. Kontrak ini harus dihentikan."


Elizabeth hanya bisa menatap permukaan danau yang begitu tenang. Elizabeth menutup matanya dan merasakan angin lembut yang menari melintasinya. Namun sebenarnya pikiran Elizabeth berkecamuk tentang semua rencana Abhlesh membentuk Kaspian menjadi Kekaisaran. Semua itu terlalu beresiko meskipun Elizabeth tahu bagaimana kekuatan militer Kaspian.


"Abhlesh anakku, apapun yang kau lakukan, jangan pernah menghianati rakyatmu. Kaspian dan seluruh isinya adalah milikmu, namun bukan berarti kau bisa mengorbankan rakyatmu demi satu orang. Kau tahu tentang politik dan segala hal, namun jika kau mengorbankan Kaspian demi seorang wanita, kurasa kau gagal menjadi raja."


Kalimat Elizabeth seolah ujung tombak yang menancap di kepala Abhlesh. Semua perkataan Elizabeth selalu menyangkut kemakmuran rakyat Kaspian dan segala hal tentang kerajaan Kaspian yang aman dan damai. Namun jika kekerasan diperlukan, Elizabeth adalah orang pertama yang melakukannya.


"Aku hanya ingin menghapus kutukan dan membawa Kaspian ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Semua ini tidak ada kaitannya dengan Aurora dan-"


"Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri Abh. Segala hal yang kau lakukan memang untuk Kaspian, tapi semuanya berubah ketika kau bertemu Aurora dan tujuan awal Kaspian melenceng jauh karena hal itu."


Elizabeth menatap tajam mata kristal biru Abhlesh. Dirinya sangat tidak menyukai seorang pria yang hanya bisa mengikuti hawa napsu dan bertindak gegabah. Namun mata itu menggambarkan ambisi yang jauh lebih besar dari dugaan Elizabeth.

__ADS_1


"Tujuanku tidak berubah Ibu. Segala hal yang aku lakukan bukan hanya untuk Kaspian, tapi untuk seluruh daratan utama. Tanah ini butuh pemimpin dan Kaspian sanggup menyatukan segalanya. Aku berjanji padamu Ibu, Kaspian akan menjadi Kekaisaran paling kuat di seluruh daratan."


Abhlesh berdiri dan meninggalkan Elizabeth yang menggelengkan kepalanya. Bagi Elizabeth, tujuan Abhlesh sangat besar dan Abhlesh memang memiliki kekuatan untuk itu. Namun tetap saja, Elizabeth khawatir semua itu akan merubah Abhlesh dan melukainya.


"Tahan langkahmu anak muda."


Abhlesh terdiam dan menoleh pada Elizabeth yang berdiri menghadapnya. Mata tajam Elizabeth membuat Abhlesh tidak dapat berkata dan hanya tertunduk.


"Kau melupakan satu hal anakku. Di balik kekuatan yang besar datang tanggung jawab yang sama besarnya. Kuharap kau tidak melupakan itu semua dan tetap pada jalanmu. Perceval akan tetap mendukung keputusan kerajaan apapun itu. Tapi kuharap, kau memikirkan semuanya sebelum bergerak. Kita akan membahasnya di pertemuan bangsawan. Kuharap kau bisa meyakinkan semua orang."


Elizabeth mendekati Abhlesh yang hanya bisa tertunduk. Bagi Elizabeth pria di hadapannya hanya seorang bocah kecil yang butuh bimbingan. Karena itu dirinya rela bermain peran sebagai cambuk agar Abhlesh tidak salah dalam mengambil arah. Kini Elizabeth menggandeng lengan Abhlesh dan tersenyum.


"Singkirkan wajah tegangmu, Yang Mulia. Kau adalah kebanggaan Kaspian dan kau adalah sesuatu yang paling berharga bagiku. Tunjukkan wibawamu atau kau bisa berhenti menjadi anakku."


Elizabeth tersenyum pada Abhlesh yang terlihat lega.


Elizabeth tertawa kecil dan memilih untuk menaruh rasa percaya pada Abhlesh. Hal yang tadi ia ucapkan hanya sebagai pengingat bagi Abhlesh bahwa Kaspian adalah hal yang lebih penting baginya. Kini mereka berdua berjalan menuju Aurora yang berada di perpustakaan Kaspian. Gadis itu kini selalu sibuk dengan segala pengetahuan yang menjadi tujuannya.


********


"Selamat siang nona Aurora."


Suara seorang wanita memecah konsentrasi Aurora. Dirinya reflek berbalik dan melihat seorang pria yang tersenyum padanya. Aurora sejenak tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Beberapa hari sejak kedatangannya Abhlesh selalu sibuk dan menghindarinya. Pria itu menjadi penyebab Aurora murung dan memilih untuk menghabiskan waktu di perpustakaan Kaspian. Meski begitu, Aurora sadar bahwa Abhlesh memiliki tanggung jawab yang besar dan kini pria itu berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"P-pangeran?"


Abhlesh tersenyum dan Aurora berdiri memberi hormat. Dirinya tidak sadar dengan kedatangan Abhlesh dan hal itu membuatnya gugup.


"Kenapa? Apa aku mengusik waktumu Aurora?"


Aurora menggeleng dan wajah cantiknya hanya bisa tertunduk. Namun Abhlesh membelai rambutnya dan mengambil tangan Aurora.


"Mau menemaniku hari ini?"


Aurora mengangguk lemah dan Abhlesh tersenyum melihat tingkah malu-malunya. Semua ini kembali menjadi hipnotis bagi Abhlesh dan sedikit meringankan bebannya. Namun tetap saja dirinya tidak bisa membiarkan Aurora celaka karena ulahnya. Kini mereka meninggalkan perpustakaan dan berjalan menuju taman Cleo.


Sepanjang perjalanan Aurora hanya tertunduk dan sepertinya Abhlesh harus mengulang semuanya dari awal. Bahkan mata Aurora tidak berani melihat langsung mata Abhlesh dan hanya bisa tertunduk ketika mereka saling berhadapan. Abhlesh hanya tertawa kecil dan mulai dengan segala godaan kecilnya. Mereka berdua menghabiskan waktu dengan obrolan kecil dan tawa canda yang membuat hangat suasana. Hingga berita kedatangan pasukan Kaspian merusak suasana mereka dan Abhlesh bergegas menyambut pasukan Kaspian.


Aurora hanya mengikuti dari belakang bersama Elizabeth dan beberapa petinggi kerajaan. Namun ketika pintu airship terbuka, Abhlesh dikagetkan dengan seorang wanita yang langsung terbang ke arahnya. Wanita itu memeluk Abhlesh dengan erat dan bahkan mencuri bibir Abhlesh. Semuanya terjadi begitu cepat dan Abhlesh hanya bisa terdiam tanpa bisa melawan semua ini. Sementara Elizabeth dan Aurora termenung melihat kejadian yang begitu cepat itu.


"Senang bisa mengenalmu Pangeran. Ah! aku sangat lemah dengan pria tampan."


Wanita itu kembali mengulang ciuman ganasnya dan Abhlesh berusaha melepas pelukan wanita itu namun gagal. Beberapa orang prajurit bahkan tidak bisa mendekati mereka karena sihir menutupi area di sekitar Abhlesh. Ketika Elizabeth sadar, dirinya langsung bertindak dan kejadian itu akhirnya bisa dihentikan. Igrit yang datang terlambat hanya bisa menghela napas dan menarik wanita itu. Abhlesh masih terdiam dengan bekas lipstick di seluruh wajahnya. Kejadian itu benar-benar membuat heboh Kaspian untuk beberapa hari kedepan.


************


Terima kasiu untuk yang sudah baca, Jangan lupa Rate 5, Like , Vote dan Komen banyak2 ya, Dukungan adalah kunci jalannya cerita ini.

__ADS_1


Untuk yang promo tolong jangan spam ya, sekali aja, trus tolong ikhlas lah sedikit kasih like buat yang promo, kalau mau saling membantu, ada baiknya untuk melakukan hal yang sama. Sekali lagi tidak di larang promo hanya saja tolong jangan spam 😅


Terima kasih dan Sampai Bye2 👋


__ADS_2