Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 38 : Contract


__ADS_3

Bangun wahai pemilik darah kaisar.



Suara itu membuat Abhlesh membuka kelopak matanya dan mendapati dirinya kembali berada di tempat yang asing. Kali ini dirinya berdiri di tengah tempat yang sepertinya bekas medan perang. Jutaan mayat bergelimpangan sejauh matanya memandang dan Abhlesh merasakan aura kematian yang sangat kuat di tempat ini. Namun di hadapannya berdiri seorang gadis kecil yang tidak asing bagi Abhlesh. Wajah gadis itu sangat mirip dengan wajah Elizabeth Rosalian yang pernah Igrit katakan.


"Kenapa kau membawaku ke tempat ini?"


Gadis itu menatap Abhlesh dan tersenyum. Jika saja Abhlesh tidak merasakan aura kematian dari gadis itu, mungkin senyuman gadis itu adalah senyuman yang bisa menenangkan hati siapapun yang melihatnya. Namun aura kematian gadis itu terasa sangat kuat dan semua itu seolah mengatakan bahwa gadis itu adalah pelaku dari semua ini.


"Tempat ini adalah tempat yang selalu kurindukan. Di belakangmu, kau bahkan bisa melihat Tree of life dari tempat ini."


Abhlesh berbalik ketika gadis itu mengatakan tentang Tree of life yang dia cari. Namun apa yang ada di hadapannya benar-benar berbeda dari informasi yang dia dapatkan. Di depan mata Abhlesh terlihat sebuah pohon raksasa yang tengah terbakar hebat. Riuh peperangan yang tadinya tidak terdengar perlahan menghampiri telinga Abhlesh. Ledakan demi ledakan terdengar dari arah pohon itu dan Abhlesh semakin penasaran dengan tempat ini.


"Kau ingin tahu tentang tempat ini?"


Suara gadis itu terdengar sangat dekat dan benar saja, gadis itu sudah berada di samping kanan Abhlesh. Kali ini Abhlesh dapat melihat jelas bola mata merah gadis itu dan tubuhnya yang memang seperti gadis berusia 10 tahun.



Bayangan hitam mengelilingi gadis itu dan Abhlesh reflek menjauhinya. Mata gadis itu terlihat tanpa semangat dan jiwanya seolah kosong. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuat bulu kuduk Abhlesh berdiri, baru kali ini Abhlesh merasakan kekuatan yang membuat dirinya takut.


"Tempat apa ini?"


Gadis itu menatap Tree of life yang perlahan hancur karena api yang membakarnya.


"Lembah kematian, tempat yang paling kurindukan. Di tempat ini semuanya terjadi, perang yang membuatku terbangun dan kembali melihat dunia."


Abhlesh masih belum mengerti dengan ucapan aneh gadis itu. Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Abhlesh tercengang. Sesuatu mengarah tepat ke arah mereka dan jatuh tidak jauh dari tempat Abhlesh berdiri. Hantaman itu sangat kuat dan bahkan menciptakan tirai debu yang cukup tebal.


"Cih!"


Suara seorang pria terdengar dari dalam debu yang menutupi pandangan Abhlesh. Sedetik kemudian sebuah bola api hitam mengarah di tempat hantaman tadi dan membakar apapun yang ada di sana. Abhlesh bahkan berniat membuat dinding es, namun sihir miliknya seolah tidak berfungsi. Di dalam kobaran api hitam itu berdiri seorang pria yang wajahnya tidak asing bagi Abhlesh.


"Siapa dia?"


Gadis itu menoleh pada Abhlesh dan tersenyum. Sementara Abhlesh masih berusaha mencari jawaban dari ingatannya. Wajah pria itu benar-benar tidak asing, namun sepertinya ingatan itu berasal dari kehidupannya sebelum reinkarnasi.

__ADS_1


"Itu tidak penting. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu."


Gadis itu menepuk tangannya dan semua berubah. Layaknya video yang dipercepat, semua kejadian berlangsung dengan sangat cepat dan ketika berhenti, sebuah retakan raksasa terbuka di langit. Sesuatu keluar dari retakan itu dan ketika itu juga Abhlesh terdiam. Gaia menampakkan wujudnya dan ratusan orang berusaha menyerang Gaia seolah semuanya telah direncanakan.


Hingga ketika mereka mulai menyerang, semuanya menghitam. Kini Abhlesh dan gadis itu berdiri tempat berbeda. Tempat ini begitu gelap tanpa ada sedikitpun cahaya. Namun Abhlesh dapat melihat gadis itu yang tersenyum padanya. Gadis itu mengulurkan tangannya dan senyuman kembali menghilang dari wajahnya.


"Jika kau mau, aku bisa membantu apa yang kau inginkan. Dengan syarat kau harus membantuku balas dendam. Bagaimana?"


Abhlesh terdiam, semua yang gadis itu katakan membuatnya ragu. Abhlesh menatap mata gadis itu, dirinya ingin memastikan sesuatu sebelum menerima tawaran yang terdengar mencurigakan itu.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


Gadis itu kembali tersenyum dan mendekati Abhlesh.


"Membawa Gaia turun dari sarang kotornya dan membunuhnya. Terima atau tidak?"


"Baiklah, bantu aku maka aku akan membantumu. Darahku adalah bukti dari kontrak, Aku, Abhlesh Kaspian menerima persyaratanmu dan mengajukan kontrak darah."


Gadis itu tersenyum dan membungkukkan badannya. Gerakan gadis itu seperti seorang bangsawan yang sempurna.


"Esperanto. Bagaimana kau-"


"Senang bisa melayanimu, master."


********


Kota Suez kini kembali dilanda kekacauan. Airship milik Kaspian bergerak menjauh atas perintah Hektor. Sementara itu ledakan demi ledakan terjadi di kota Suez. Pasukan Kaspian berusaha melakukan evakuasi bagi seluruh rakyat kota Suez. Kejadian ini terjadi setelah Hektor keluar dari ruang bawah tanah menara Babel. Igrit dan Elizabeth Bertia terlibat pertarungan sengit. Akibatnya menara Babel hancur dan kini mereka berdua mulai menghancurkan banyak bangunan.


"Igrit! pernah melihat kadal bakar?"


Kalimat Bertia disambut ayunan pedang Igrit. Wanita itu dengan mudah menahan serangan Igrit dan sedetik kemudian Hektor muncul di belakang Bertia dan mengayunkan pedang miliknya. Namun kali ini sial bagi Hektor, Bertia tersenyum dan mendaratkan tendangan akrobatik yang bersarang di perut Hektor.


"Bye-bye."


Tendangan Bertia begitu cepat dan Hektor terpental ke arah bangunan yang ada di belakangnya. Belum sampai di sana, Emerson kali muncul dari bawah dan memanfaatkan situasi Bertia yang masih di udara.


"Mati!"

__ADS_1


"Tidak terima kasih."


Bertia menghindari tebasan Emerson dengan menendang udara dan membalas serangan Emerson. Kali ini wajah Emerson harus menerima lutut Bertia dan serangan Bertia membuat kepala Emerson menghantam tanah.


"Hoo ... Igrit! mereka kuat hahaha. Ayo lagi!"


Bertia menghindari serangan Igrit dan melayang di langit Suez. Dirinya mengarahkan tongkat di tangannya pada Igrit dan tersenyum.


"Satu porsi kadal bakar datang! Inferno!"


"tch. Menjauh dariku!"


Igrit melempar Emerson menjauh dan menerima serangan Bertia. Bola api hitam mengarah pada Igrit dan membakar apapun yang ada di hadapannya. Namun ketika semuanya kembali tenang, Igrit masih berdiri dengan luka yang tidak berarti. Matanya Igrit berubah dan dua tanduk keluar dari kepalanya.


"Pernah melihat nyamuk bakar?"


"Siapa yang kau bilang nyamuk! Vendu Δ‰ion!"


Igrit mengarahkan tangannya pada Bertia. Dua bayangan hitam mengarah pada Igrit dan bayangan itu berbentuk tengkorak dengan sabit raksasa di tangannya.


"Void."


Waktu terhenti bagi semua orang di kota Suez. Namun itu tidak berlaku terhadap Bertia dan Igrit tahu itu.


"Heeee ... Void? kau tahu hal seperti itu tidak berpengaruh padaku bukan? haaaa Igritku sudah mulai tua."


Apa yang Bertia katakan memang benar, namun tujuan Igrit bukan untuk menyerang Bertia. Tapi menghancurkan apa yang Bertia panggil, wanita itu memanggil makhluk yang bisa saja membunuh ratusan orang saat ini. Namun makhluk itu menghilang ketika Igrit baru mau menghapusnya. Kali ini Bertia terlihat tersenyum pada Igrit.


"Hey Igrit, sepertinya kali ini kita teman. Pride mengatakan padaku bahwa kontrak darah telah dibuat dan kurasa kau juga punya kontrak yang sama bukan?"


**********


Untuk penjelasan tentang Elizabeth Bertian akan dijelaskan di next chapter wkwkwk. Yang jelas dia punya 7 kepribadian dan yang ketemu Abhlesh Pride atau kesombongan. Sementara yang bertarung sama Igrit itu Lust atau hawa nafsu. Diambil dari Seven deadly sin atau tujuh dosa terbesar (bukan Anime ya😌)


Thanks buat yang udah baca, jangan lupa Rate 5 nya, Like banyak2 dan komen banyak2 😌 jangan takut buat komen, gue g gigit beneran deh πŸ˜…


Sekali lgi terima kasih dan Sampai Bye2 πŸ‘‹πŸ€©

__ADS_1


__ADS_2