Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 31 : Two Soul


__ADS_3

Pov 1. Abhlesh


Apa kalian pernah mendengar kisah tentang putri tidur. Seorang putri yang dikutuk oleh penyihir dan harus tertidur selama puluhan bahkan ratusan tahun. Putri itu tertidur selama ratusan tahun hanya karena sebuah kutukan. Lalu seorang pangeran berkuda putih dan melepas kutukannya.


Cerita itu terdengar sangat romantis dan penuh dengan kebahagian. Namun tahukah kalian, di dalam tidurnya tidak satu orang pun yang tahu akan keadaannya. Orang-orang hanya melihat kisah romantis dirinya yang bertemu dengan Pangeran tampan. Tidak ada yang peduli dengan penderitaan yang dia alami dalam tidurnya.


Seperti itulah sebuah takdir. Kadang orang hanya melihat kau sebagai sesuatu yang besar. Sementara untuk menuju titik itu tidak ada yang tahu seberapa banyak darah yang harus kau dikorbankan. Seperti diriku, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan aku dari kutukan itu. Karena aku adalah Pangeran dan kutukan juga terjadi padaku.


Kini aku hanya bisa menatap pada wajah Kardinal yang tertidur karena sihir yang kuberikan. Dirinya mengetahui semua rahasia jiwaku hanya dengan satu tatapan mata. Bagiku tidak masalah semua ini terbongkar atau diketahui orang lain. Namun bagaimana jika mereka mengira aku adalah pembunuh dari pangeran mereka.


Suara ketukan di pintu memecahkan rangkaian hayalku. Seorang pria berambut putih dengan wajah sedikit mengantuk memasuki ruangan. Pria itu adalah Emerson, salah satu K**night yang kupercaya.


"Pangeran, bagaimana keadaannya? apa kau yakin bisa melakukannya?"


Aku hanya tersenyum mendengar kalimat yang dia lontarkan. Emerson memang kuberikan wewenang dalam hal interogasi dan pengumpulan informasi. Namun dirinya masih tidak stabil dan bisa saja Emerson justru 'merusak' Eve dengan semua metodenya.


"Khusus untuknya biarkan menjadi urusanku, bagaimana kondisi penyerangan?"


Pertanyaanku membuat Emerson tersenyum dan pria itu kini berdiri di sampingku. Tata krama yang buruk dan sifat semaunya adalah ciri dari Emerson.


"Pangeran, bisakah kita percepat penyerangan? ibu kota Teokrasi hanya berjarak beberapa ratus kilometer dari Aneta, kurasa jika bergerak malam ini maka-"


"Kita akan sampai di sana ketika fajar?"


Emerson mengangguk dan wajahnya terlihat senang. Pria itu memang selalu membuatku pusing dengan sifat liarnya yang kadang tidak terkendali.


"Hektor."

__ADS_1


Aku menyebut nama Hektor karena pria itu memang berada di luar ruangan. Mereka berdua lebih mudah ditebak ketika sesuatu menarik perhatian mereka.


"Maaf Yang Mulia."


Hektor ikut masuk dan mereka berdua kini terlihat menunggu jawaban dariku. Melihat tingkah mereka berdua membuatku menghela napas dan berdiri.


"Persiapkan semuanya, serta tinggalkan beberapa pasukan untuk menjaga kota Aneta, penyerangan ibu kota Suez aku serahkan pada kalian."


Kalimat yang mereka tunggu akhirnya keluar dari mulutku. Sekali lagi aku harus melepas peluru yang tidak dapat ditarik kembali. Mereka berdua adalah Knight, tugas mereka adalah menuruti segala perintah dan tugas yang kuberikan. Bagi mereka semua itu adalah kewajiban mereka padaku.


Berlumuran darah dan mengambil nyawa orang lain adalah hal yang lumrah bagi mereka. Namun siapa yang bertanggung jawab atas semuanya. Sebuah peluru tidak akan terlepas jika pemiliknya tidak menarik pelatuk. Mereka hanya orang-orang yang tidak bersalah dan akulah yang membuat reputasi mereka mengerikan.


Kini ruangan ini kembali sepi. Hektor dan Emerson sudah meninggalkan ruangan ini. Mereka melakukan semua yang kuperintahkan dan Airship mulai bergerak menuju kota Suez.


Aku berdiri di hadapan cermin yang berada di ruangan ini. Kulihat pada pantulan itu wajah yang tampan dengan mata kristal biru yang indah. Tubuh yang sempurna serta aura bangsawan yang sangat kental dipantulkan oleh cermin itu.


Pertanyaan itu kulontarkan pada bayangan diriku di cermin. Wajah yang mungkin dipuja banyak wanita kini terlihat murung. Pikiranku tenggelam dalam pantulan cermin yang mengarahkan semuanya pada satu orang. Orang itu adalah apa yang membuatku kembali melakukan semua ini.


Jika saja takdir tidak mempertemukan kami, mungkin Kaspian hanya sebuah kerajaan dengan teknologi yang sangat maju. Semua itu kubawa dari dunia lamaku. Dunia yang memiliki konsep senjata dan kendaraan yang hanya bisa diwujudkan di dunia ini. Semuanya kuciptakan hanya untuk mempertahankan Kaspian dari serangan kerajaan lain. Namun lihat yang kulakukan, aku membuat daratan ini kembali dalam gejolak perang yang mengerikan.


"Kenapa kau tidak mati saja!"


Cermin di hadapanku retak setelah menerima pukulan dari tanganku. Darah segar keluar dari luka yang kini seakan menambah rasa sakitku. Namun tubuh ini mengerikan, tidak peduli berapa kali aku berusaha untuk melukainya semua akan kembali seperti semula.


Aku hanya bisa sekali lagi menghela napasku. Langkahku membawa diriku keluar dari ruangan itu dan pergi menuju ruang kendali benda ini. Di tempat itu semua pergerakan pasukanku terlihat. Semuanya mengarah pada ibu kota Suez yang dulunya dikenal dengan sebutan kota suci Gaia.


Kota itu adalah target dari panggung yang aku dan Gaia mainkan. Dewa itu mungkin kini tertawa melihatku yang mengejarnya dan justru berputar di atas telapak tangannya.

__ADS_1


"Semua pasukan, jangan biarkan kota Suez membalas serangan kita, hancurkan semua pertahanan udara mereka dan turunkan pasukan di beberapa titik."


Suara Hektor yang memandu pergerakan pasukan menggema di ruangan itu. Hektor memang pria yang bisa diandalkan dalam urusan pergerakan pasukan. Namun lagi-lagi aku harus membuatnya mengambil nyawa orang lain dan pulang memeluk putrinya dengan tangan yang berdarah.


"Semua persiapan sudah dilaksanakan Yang Mulia."


Kalimat Hektor membuatku tersadar bahwa pasukan ini dan Kaspian memang butuh seorang pemimpin. Meski mereka harus berdarah dan menjadi mesin pembunuh, semuanya akan mereka lakukan demi kesejahteraan Kaspian. Aku sebagai Pangeran serta raja mereka harus jauh lebih kuat dan memimpin mereka.


"Mulai pergerakan dan ingat ... tidak ada kejahatan perang dalam pasukan Kaspian, pemerkosaan, penjarahan dan membunuh rakyat sipil tidak diperbolehkan, apa kalian semua mengerti!"


Kalimat dariku disambut teriakan penuh semangat dari seluruh pasukan Kaspian.


"Mulai operasi pembersihan Suez!"


Satu kalimat dariku membuat puluhan Airship terbang meninggalkan kota Aneta yang telah jatuh. Semua suplai makanan serta benda-benda berharga sama sekali tidak kusentuh. Rakyat Teokrasi terlalu menyedihkan dengan kondisi Teokrasi yang berubah. Bahkan salah satu mantan Kardinal yang bernama Jhon dengan senang hati membuka pintu kota Aneta ketika tahu Eve jatuh ketangan Emerson.


Pria itu sempat bertarung dengan Hektor dan hampir kehilangan nyawanya. Namun Jhon menyerah dan memberikan kota Aneta pada Kaspian. Ketika dirinya melihat pasukan Kaspian memberikan makanan pada rakyat yang kelaparan, pria itu berlutut. Dirinya sadar bahwa Teokrasi memang harus dihapuskan. Kini pria itu mengatur pembagian makanan pada rakyat dan mengembalikan kota itu seperti semula.


Sementara Eve, wanita itu jelas masih diperlukan untuk tujuan terakhirku datang ke Teokrasi. Mantan Kardinal yang paling berbakat dan dirinyalah salah satu kunci untukku bertemu Gaia. Malam itu seluruh pasukan Kaspian bergerak menuju kota Suez tanpa satu orangpun yang sadar. Pergerakan udara yang begitu kuat menjadi momok bagi seluruh lawanku. Kini aku hanya menghitung mundur dan bersiap untuk bertemu dengan makhluk yang paling kubenci di seluruh daratan.


*******


Kutukan kutukan dan kutukan, ckckckckck bar bar banget dewa nya 😅


Thanks untuk yang udah baca 😌 jangan lupa rate 5, vote, like dan komen yang banyak ya 😌, dukungan adalah kunci cerita ini berlanjut 😌


Sekali lagi terima kasih, Sampai Jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋🤩

__ADS_1


__ADS_2