
Abhlesh berdiri di hadapan peti mati yang berada di Throne hall. Jasad Alexander terbujur kaku dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Sementara Abhlesh berdiri disana tanpa ekspresi sama sekali.
Tatapan matanya seakan kehilangan harapan hidup terakhirnya. Semua perasaan itu berhasil ia tahan dan ia memilih untuk tidak mengulangi kesalahan Ayahnya. Ketika ia berbalik, semua orang memandang padanya.
Abhlesh menuruni anak tangga dan kembali menghadap peti mati itu. Semua pandangan terkunci dan ketika Sang Pangeran memberi penghormatan terakhir dengan berlutut. Semua orang yang berada di ruangan mengikutinya dan menundukan kepala mereka. Bahkan seluruh rakyat yang berada di luar istana serta jalanan kota semuanya berlutut, ketika Pangeran Abhlesh memberikan penghormatan terakhirnya.
Seperti itulah kecintaan Rakyatnya pada sosok pangeran Abhlesh. jika bukan karena jasanya, Raja Alexander mungkin akan mati sebagai Raja yang terhina. Abhlesh berhasil menjaga kehormatan ayahnya hingga akhir. Pelayan kerajaan menutup peti mati itu dengan penuh penghormatan serta 6 orang Knight tertinggi yang menjadi lambang kekuatan Kaspian menggendong peti mati itu. Mengikuti langkah Pangeran keluar menuju tempat peristirahatan terakhir untuk Ayahnya.
Tidak ada percakapan dalam upacara itu dan Abhlesh sama sekali tidak menunjukan ekspresi sedih di wajahnya. Namun siapapun tau jika melihat mata itu, mata manusia adalah hal yang paling jujur di dunia. Pandangan kosongnya menunjukan keadaan Pangeran yang tenggelam dalam kesedihan.
Ketika sampai di depan pintu Throne room, tugas 6 orang Knight digantikan oleh prajurit biasa. Abhlesh berdiri di hadapan semua orang yang berada di depan istana kerajaan. Mulai dari Bangsawan , Petugas Pemerintahan , Prajurit serta seluruh rakyat ibu kota Kaspian berkumpul di hadapannya dan menundukan kepala mereka.
"Pada hari ini ... Raja Alexander Kaspian telah pergi dan bergabung bersama para Raja lainnya dijamuan besar para Dewa ... dan Raja Alexander menitipkan kerajaannya pada kita semua rakyat Kaspian."
Abhlesh berusaha menahan emosinya dan tetap mempertahankan wajah tanpa ekspresinya.
"Apa seluruh Kaspian bersedia menerima permintaan terakhirnya!."
Semua orang masih menundukan kepalanya tanpa suara sedikitpun.
"Apa Kaspian masih bersedia mengikutinya untuk terakhir kalinya!."
Kalimat Abhlesh masih dipenuhi dengan hening dan suara nafasnya yang menahan semua rasa sedihnya.
"Apakah seluruh Kaspian menerima Abhlesh Kaspian sebagai Raja mereka!."
Enam orang Knight yang berada di belakang Abhlesh berlutut dan diikuti semua orang yang berada di kota itu.
"Kaspian menerima Yang Mulia Abhlesh Kaspian sebagai Raja di seluruh Kaspian!."
Semua orang yang berada di tempat itu serta rakyat yang berada di setiap sudut kota meneriakan kalimat yang sama. Membuat seisi Ibu kota Kaspian bergemuruh dengan satu kalimat pengakuan. Apa yang Abhlesh lakukan adalah upacara pemakaman yang memang dilakukan semua Raja terdahulu. Abhlesh harus melakukannya dengan sempurna walaupun kesedihan membuat suaranya bergetar.
Abhlesh menaiki kuda hitam kesayangannya dan diikuti oleh seluruh Bangsawan yang hadir serta 6 Knight yang mengikutinya dari belakang. Lokasi pemakaman Raja Alexander berada di tengah Danau yang terletak tidak jauh dari Gerbang Kaspian. Makam para Raja terdahulu juga berada di sana dan makam itu dijaga oleh sihir yang hanya bisa dibuka oleh keturunan asli Kaspian.
Ibu Abhlesh, Ratu Cleo juga dimakamkan di tempat itu. Kini Abhlesh yang harus memakamkan ayahnya di tempat yang sama. Serta menggantikan posisi ayahnya.
Iring-iringan jasad Sang Raja melewati jalanan utama Kota Kaspian. Di bagian kiri dan kanan jalan yang mereka lalui, seluruh rakyat kota itu berdiri dan melempar bunga tanda bela sungkawa mereka atas kematian Sang Raja. Akan tetapi seluruh pandangan mereka tetap mengarah pada Abhlesh yang memimpin iring-iringan itu.
__ADS_1
Upacara itu berakhir dengan Abhlesh dan enam Knight Kaspian membawa peti mati itu menyeberangi danau. Meletakannya di atas altar yang tertuliskan nama Alexander Kaspian. Di samping altar itu juga terdapat nama Cleo Anastasia dan nama raja-raja terdahulu. Ablesh membuka peti itu dan melekatkan sebuah pedang yang menjadi simbol dari tahta Raja Alexander di pelukan jasadnya.
"Istirahat dengan tenang dan jaga kerajaan Kaspian dalam tidur mu, wahai Raja yang bijaksana."
Setelahnya peti itu ditutup dan sihir di tempat itu bekerja. Membawa peti itu masuk kedalam lubang yang sudah terbentuk serta menutupnya dengan rapat. Abhlesh berjalan menuju Altar dan menggores ujung jarinya pada mata pedang yang berada di tengah Altar kosong yang berada di hadapannya.
Ketika Darahnya menetes di atas altar, sesuatu bergerak di belakangnya dan menuliskan namanya di salah satu bagian yang tertinggi di ruangan itu. Bersanding dengan nama para Raja terdahulu yang terkenal akan nama besar mereka. Ia berbalik dan menutup upacara itu dengan apa yang ia lakukan sebagai bentuk pengakuan tempat itu akan dirinya kelak.
"Hektor ...."
Salah satu Knight yang berlutut di belakang Abhlesh berdiri dan bergegas menuju ke arahnya ketika sadar sang pangeran akan terjatuh dari altar. Keadaan semakin memburuk ketika Sang pangeran kehilangan kesadaran dan tubuhnya rubuh di atas Altar itu. Enam orang Knight membantu hektor yang berhasil tepat waktu menahan tubuh Abhlesh yang kehilangan seluruh tenaganya.
"Cepat! bawa pangeran ke Istana!."
*******
Abhlesh terbangun di sebuah taman bunga yang sangat indah. Ia berjalan menyusuri taman itu mengikuti jalanan yang ada di sana. Taman itu memberikannya keindahan serta rasa nyaman yang tidak pernah ia dapati sebelumnya.
Dia terus berjalan, hingga di hadapannya berdiri sebuah Air mancur yang benar-benar indah. Sebuah gazebo kecil berhiaskan bunga merambat berada tidak jauh dari tempat dirinya berdiri. Ketika ia mendekati Gazebo itu, seorang wanita melihat kearahnya dan tersenyum. Ketika Abhlesh melihat wajah wanita itu, air matanya secara otomatis mengalir membasahi pipinya.
"I ... ibu."
"Kemarilah, Ibu tahu kamu lelah Abh."
Abhlesh yang melihat ibunya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun lamanya berjalan dengan goyah menuju wanita. Dia terus berjalan sembari air mata terus memenuhi setiap langkahnya. Hingga akhirnya dia jatuh di pelukan wanita itu dan berlutut di hadapannya.
Wanita itu mengelus lembut rambut emas Abhlesh yang merupakan ciri utama dari keluarga kerajaan Kaspian. Sementara Abhlesh meluapkan segala emosinya dalam pelukan wanita itu. Hal yang selalu ingin Abhlesh lakukan selama bertahun-tahun.
"Kenapa dengan mu Abh?."
Wanita itu membelai pipi Abhlesh yang dibasahi airmata. Senyumnya berganti menjadi ekspresi sedih ketika melihat keadaan anak yang ia cintai.
"Apa Alexander terlalu keras padamu dear?."
Abhlesh menggelengkan kepalanya dan membenamkan wajahnya dalam pelukan itu. Pelukan yang sangat ia rindukan serta Aroma yang selalu ia impikan kini berada di hadapannya. Ia tidak mau melewatkan momen itu walau ini semua mungkin hanya sekedar mimpi dalam tidurnya.
"Abhlesh, kau tau ibu sangat menyayangi mu dan Ibu juga tau Alexander juga merasakan hal yang sama."
__ADS_1
Abhlesh ingin sekali membantah kalimat itu. Namun sesuatu menahan ucapannya. Sesuatu yang berkata bahwa apa yang dikatakan ibunya adalah kebenaran yang belum terungkap.
"Berhentilah bersedih seperti ayah mu sayang, Ibu akan selalu memperhatikan mu dari sini."
"Abhlesh tahu ibu, Abh tahu ini semua hanya mimpi dan Abh tahu ibu hanyalah sepenggal jiwa yang Abh pegang dalam ingatan."
Wanita itu tersenyum dan membalas pelukan Abhlesh dengan erat.
"Maafkan ibu Abh, ibu telah meninggalkanmu dalam kesendirian."
Abhlesh memandang wajah ibunya dan membalas pelukan itu.
"Ibu tidak pernah salah di mataku begitu juga dengan ayah."
Abhlesh berdiri dan merapikan pakaiannya serta kembali berlutut di hadapan Ibunya.
"Ibu memberiku nama Abhlesh yang memiliki arti Abadi dan padamu Yang Mulia Ratu Cleo Anastasia, Abhlesh Kaspia berjanji akan membuat nama itu terus ada selamanya."
Abhlesh mencium tangan ibunya dan memeluk beliau untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal Ibu, ini semua adalah hadiah yang paling indah dari para Dewa, semoga ibu tenang bersama ayah disana dan sampaikan salam ku pada Ayah bahwa aku menyayanginya."
Abhlesh berjalan meninggalkan Cleo yang tersenyum melihatnya.
"Ah! tunggu My dear, aku ingat Ayahmu selalu punya rahasia di kamarnya dan rahasia itu terletak di ruangan yang berada di perpustakaan pribadinya, carilah dan kau akan tau kebenarannya Abh"
Abhlesh mengangguk dan melambaikan tangan untuk terakhir kalinya pada Cleo Anastasia. Seorang ibu yang menukar nyawanya agar putranya Abhlesh Kaspia bisa hidup. Serta Abhlesh Kaspia, seorang anak yang menukar kebahagiaannya untuk kerajaan serta bermandikan darah demi kehormatan Ayahnya.
Ibu dan anak yang benar-benar rela berkorban demi hal yang mereka cintai. Kini mereka berpisah di antara taman bunga yang membatasi dunia mereka masing-masing. Abhlesh dengan kerajaannya dan Cleo Anastasia dengan istirahat terakhirnya.
*******
Waaah Udah sampai di chapter 3 dan terus berlanjut ! 😌
Abhlesh bukan sadboy jadi dia pasti bisa move on walaupun sulit , Semangat Abh !!!!!
Thanks bagi semuanya yang udah baca And staytune trus ya 👌😌
Sampai Bye2 👋😁
__ADS_1