
"Apa aku harus membaca semuanya Madam?"
Aurora melihat tumpukan dokumen yang berada di depannya. Dirinya tidak menyangka Elizabeth akan benar-benar mengajarinya dengan dokumen-dokumen itu.
"Apa menurutmu ini semua tidak berguna?"
Elizabeth mengambil salah satu dari dokumen itu dan memberikannya pada Aurora. Gadis itu membacanya dan masih belum mengerti arti dari pergerakan perdagangan Federasi dengan kondisi saat ini.
"Perhatikan ke mana semua pergerakan barang-barang itu, satukan dengan dokumen yang lainnya yang ada di sini dan kamu akan mendapatkan jawabannya."
Aurora melakukan semua yang Elizabeth perintahkan. Dirinya kembali melakukan analisa terhadap semua dokumen itu yang terlihat saling berkaitan. Semua laporan tentang benda-benda yang berasal dari Federasi perlahan mulai sampai pada Teokrasi dengan cara yang cukup rumit.
Namun Aurora dapat mengerti itu semua ketika melihat semua laporan yang ada di hadapannya. Dirinya semakin yakin dengan andil Federasi dalam semua masalah ini. Mereka tercatat melakukan transaksi secara langsung dengan beberapa pedagang dari kerajaan yang tidak mengenal Kaspian. Semua barang itu dikirim secara acak ke beberapa kota dan terus seperti itu hingga mencapai Teokrasi.
Sekilas memang tidak terlihat pergerakan benda-benda itu dan Federasi memiliki alasan yang kuat jika Kaspian menuduh mereka. Beberapa barang itu bahkan dipecah dan masuk ke Teokrasi secara perlahan.
"Sekarang kamu tahu apa itu informasi bukan?"
Elizabeth terlihat santai dengan semua fakta itu. Sementara Aurora terperangah dengan apa yang baru saja dia ketahui.
"Bagi seorang Bangsawan, informasi adalah senjata yang harus dimiliki, kau tidak akan bisa menjadi Ratu jika semua informasi harus datang padamu."
Elizabeth memberikan Aurora dokumen lainnya. Kali ini gadis itu hanya terdiam dan membacanya dengan serius. Mata Aurora tidak percaya dengan apa yang dia baca, informasi tentang kerajaan Arcadian serta hubungan mereka dengan Kekaisaran Naga kini kembali di hamparkan padanya. Bahkan beberapa dokumen mencatat tentang kematian Raja Alfred dan Ratu Halet yang menghilang.
Elizabeth menghela napasnya melihat Aurora yang masih terpaku pada dokumen-dokumen itu. Dirinya berharap gadis yang ada di hadapannya dapat belajar dengan cepat. Elizabeth bahkan berencana membuat Aurora bekerja bersamanya. Jika gadis itu ingin menjadi Ratu, maka dirinya harus menjadi ratu yang kuat. Bukan ratu yang hanya sekedar objek atau hiasan bagi Kaspian.
__ADS_1
"Mulai besok kau akan berada langsung di bawahku."
Elizabeth memutus rantai pikiran Aurora yang tenggelam dalam dokumen-dokumen itu. Dirinya seakan bosan melihat reaksi Aurora yang ternyata tidak mengetahui apapun mengenai kerajaan Arcadian.
"B-baik Madam."
Aurora menjawab lemah kalimat Elizabeth. Dirinya kini sadar bahwa apa yang semalam dia pelajari hanya sekedar titik kecil yang mungkin tidak terlihat di mata Elizabeth. Aurora bahkan sama sekali tidak berusaha mencari informasi ketika dirinya masih berada di sangkar emasnya.
Kini dirinya telah bebas, Elizabeth adalah figur yang sempurna di matanya. Gadis itu semakin bertekad untuk mengimbangi Elizabeth dan mendapat pengakuan darinya. Kini impiannya bukan hanya menjadi seorang Ratu, tapi semakin besar dan terus berkembang. Dirinya tidak ingin kembali dalam sangkar emas dan menunggu takdir seperti dirinya dahulu.
Biarlah rindu akan menyiksanya dalam rentang waktu yang lama. Dirinya seakan malu pada takdir yang memintanya menjadi seorang Ratu. Ketika Aurora melihat Elizabeth, wanita itu seakan berada jauh di atasnya. Segala hal Elizabeth miliki dan Aurora tahu, tidak mungkin Elizabeth mendapatkan itu semua hanya dalam waktu satu malam.
"Sekarang pergilah, lanjutkan pelajaranmu dan jangan terlambat untuk makan malam."
Aurora berdiri dan memberi hormat pada Elizabeth. Langkahnya lemah karena rasa kecewa yang mulai menarik dirinya. Namun gadis itu kembali berdiri tegak, dirinya tidak ingin hal kecil memutus semangatnya dan membuatnya menyerah. Menjadi Ratu memang tidak mungkin mudah dan dirinya harus bisa mencapai itu semua.
Bagi Elizabeth, memuji bakat yang masih hijau sama saja seperti meminta untuk tidak berkembang. Jika gadis itu terjatuh hanya karena standarnya yang tinggi, maka gadis itu tidak pantas bersanding dalam level yang sama dengannya. Elizabeth merapikan semua dokumen itu dan menatap ke arah sudut ruangan.
"Kau boleh keluar Leo."
Seorang pria keluar dari bayangan hitam yang berada di sana. Pria itu adalah Leo, Knight pribadi Elizabeth dan salah satu dari 6 Knight terkuat Kaspian. Abhlesh memintanya untuk terus bersama Elizabeth dan melindungi teritori Perceval.
"Maaf jika saya datang tanpa izin Madam."
Pria itu tersenyum pada Elizabeth dan sedikit membungkukkan badannya. Elizabeth membalasnya dengan tatapan kesal dan menghela napas melihat senyum pria itu.
__ADS_1
"Lupakan itu ... bagaimana menurutmu gadis itu?"
Elizabeth kembali bersandar di kursi dengan secangkir teh di tangannya. Wanita itu mengambil jeda untuk melihat respon Leo yang kini duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya.
"Bagiku semuanya masih belum terlihat Madam, apa Anda yakin gadis itu bisa mengimbangi Yang Mulia? Anda sendiri yang tahu bagaimana jalan pikiran orang itu."
Elizabeth tertawa mendengar kalimat Leo yang dia akhiri dengan menghela napas panjang. Pria itu masih kesal dengan berita deklarasi perang Kaspian dan Teokrasi.
"Apa kau masih kesal dengan dikirimnya Igrit bersama Ashe?"
Leo membalikkan tubuhnya dan berpaling dari Elizabeth. Pria itu terlihat seperti anak kecil yang ditinggalkan ibunya. Elizabeth kembali melepas tawanya melihat tingkah Leo yang meringkuk karena berita itu.
"Kau masih saja cemburu dengan Igrit? Leo, kau tahu siapa Igrit bukan? pria itu hanya memandang Ashe sebagai saudaranya tidak seperti dirimu."
Elizabeth berusaha menahan tawanya dan sekali lagi menghela napas panjang. Dirinya kembali melanjutkan pekerjaannya dan hari ini perasaan Elizabeth terlihat senang. Dirinya bisa melihat perkembangan dua orang yang tengah melalui masa berpisah di ruangan kerjanya. Aurora dengan Abhlesh dan Leo dengan cintanya yang masih belum kesampaian pada Ashe.
Elizabeth menyelesaikan pekerjaan hari itu jauh lebih cepat dari biasanya. Dirinya bergegas bersiap untuk makan malam, mulai hari ini Aurora akan bergabung bersamanya. Wanita itu sebenarnya rindu akan kebersamaan dan sangat senang dengan permintaan Aurora. Namun Elizabeth punya watak yang memang sulit menyampaikan perasaannya, karena itulah dirinya terlihat dingin dan penuh dengan misteri.
Elizabeth bahkan masih sempat untuk memaksa Leo berdiri dan ikut makan bersamanya. Meski Leo adalah Knight, bagi Elizabeth pria itu sudah seperti anaknya sendiri. Malam itu ruang makan mansion Perceval dipenuhi obrolan ringan antara Elizabeth dan Aurora. Sementara Leo, pria itu masih memikirkan wanita yang kini semakin jauh. Pria itu berkali-kali menghela napas dan menjadi bahan tertawaan Aurora dan Elizabeth malam itu.
*********
Wah wah Leo ama Ashe ternyata ada something 😂
Thanks bagi sudah baca, jangan lupa rate 5, like, vote dan komennya ya 😌 dukungan adalah kunci berlangsungnya cerita ini 😌
__ADS_1
sekali lagi terima kasih, sampai jumpa di Next Chapter! Sampai Bye2 👋😍