Romance Of The Kingdom

Romance Of The Kingdom
Chapter 2 : King Regret


__ADS_3

Abhlesh menyusuri koridor King Palace. Ketika ia sampai di sebuah ruangan yang dijaga 2 orang Knight, Abhlesh mengetuk pintu itu. Beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya keluar dan mempersilahkannya masuk.


"Bagaimana keadaan ayah, Prime minister?."


"Keadaan Yang Mulia sudah mulai membaik Pangeran dan beliau meminta Anda untuk masuk serta beliau ingin menyampaikan sesuatu pada Anda Pangeran."


Abhlesh sedikit menundukan kepalanya dan mengepalkan telapak tangannya.


"Kalau begitu saya permisi Pangeran."


Pria paruh baya yang merupakan perdana mentri Kaspian berlalu meninggalkan Abhlesh. Dia masih berdiri mematung di depan pintu itu hingga perdana mentri itu menghilang di ujung koridor. Ia seakan mengumpulkan mentalnya untuk masuk ke dalam ruangan yang hanya sekali ia masuki selama hidupnya di Kaspian.


Ketika ia memasuki ruangan itu. Seorang pria tua yang terbaring lemah di atas ranjang mewah miliknya melihat ke arahnya. Wajahnya memandang Abhlesh dengan pandangan yang sama selama bertahun-tahun lamanya. Pria itu mengisyaratkan pada pelayan-pelayan nya untuk keluar dan meninggalkannya berdua dengan Abhlesh.


"Long life Ki ...."


Kalimat Abhlesh dipotong gestur tangan yang menyuruhnya untuk berhenti.


"Kau tidak perlu mengatakan itu padaku."


Pria tua itu berusaha berdiri. Tetapi tubuhnya terlalu lemah dan Abhlesh bergegas membantu pria itu. Tidak pernah selama hidupnya Abhlesh menyentuh pria itu begitu pula sebaliknya. Tetapi kali ini pria tua itu membiarkan tubuhnya dalam bantuan rangkulan Abhlesh.


"Bawa aku ke balkon itu."


Abhlesh menuruti perintah Ayahnya yang mungkin tidak pernah ia panggil ayah secara langsung.


Abhlesh membawa tubuh itu dengan merangkulnya, dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Dia mendudukan Raja itu di bangku balkon yang menghadap Danau. Pemandangan yang benar-benar indah terhampar di depan matanya.


Angin mendayu mengelus tubuh Abhlesh. Memintanya untuk bertahan sedikit lagi menahan semua perasaannya. Bagaimana pun Abhlesh sama sekali tidak bisa membenci orang yang berada di hadapannya.


Abhlesh selalu merasa berterima kasih pada Ayahnya. Karena Ayahnya telah memberi segala hal yang ia perlukan. Walau mungkin kasih sayang serta waktu bersama tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Abhlesh tetap menganggap orang itu Ayahnya dan satu-satunya keluarga yang ia punya meski orang itu sama sekali tidak melihatnya.


"Tau kah kau, tempat ini merupakan tempat yang sangat disukai Cleo."

__ADS_1


Abhlesh hanya menundukan kepalanya. Kalimat itu seakan hukuman mati baginya. Kalimat dari seorang Raja yang mengenang rindunya pada Ratu yang paling ia cintai.


"Tau kah kau, aku bahkan tidak pernah duduk di tempat ini sejak kau lahir."


Abhlesh semakin menundukkan kepalanya. Dia berusaha sekeras mungkin untuk menahan semua perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Perasaan sedih bercampur marah melihat keadaan ayahnya, serta pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan harus ia tahan dan menyimpannya di dalam hatinya.


"Cleo meminta ku untuk menjaga hal yang mengambil hidupnya, bagaimana bisa aku melakukannya? katakan padaku, bagaimana aku bisa melakukan nya?."


Nada suara Pria tua itu semakin bergetar dan melemah. Sesekali Abhlesh melihat butiran air mata dari wajah nya yang berpaling menuju permungkaan danau. Danau yang terlihat seperti sebuah cermin raksasa seakan memantulkan kesedihan Sang Raja.


"Ia mengatakan padaku bahwa kau lebih berarti dari hidupnya, ia menganggapku gila karena ingin agar dia tetap hidup dengan mengorbankanmu, Apa aku salah? katakan apa aku salah?."


Abhlesh sama sekali tidak menjawab pertanyaan demi pertanyaan itu. Dirinya hanya menggenggam erat telapak tangannya yang bergumul di balik punggungnya.


"Katakan Anakku! apa aku yang salah karena mencintai ibumu terlalu dalam!? katakan padaku Pangeran Kaspian!."


Tubuh lemah itu memaksakan dirinya untuk berdiri dan terjatuh di hadapan Abhlesh. Ketika Abhlesh membantunya berdiri, pria itu menepis tangannya. Pria tua itu terus berusaha berdiri namun berkali kali ia jatuh.


"Pikirkan kesehatan anda Yang Mulia , And ...."


Wajah pria itu benar-benar menunjukan ekspresi marahnya untuk pertama kalinya di hadapan Abhlesh.


"Kalian semua menganggapku Raja yang gagal! kalian menganggapku Raja yang bodoh dan kau! kau mencuri semuanya dariku!."


Abhlesh menahan air matanya melihat keadaan ayahnya yang benar-benar kacau. Keadaan kaspian yang dulu merupakan kerajaan paling makmur berubah sedikit demi sedikit menjadi kerajaan yang menuju kearah kehancuran. Tetapi Abhles adalah orang yang berhasil membawa kerajaan itu kembali ke jalurnya. Ablesh melakukannya dengan keringat dan darah yang ia perjuangkan demi kerajaan itu tetap berdiri.


Sementara Sang Raja?. Dia hanya mendekam dalam kamarnya menangisi kematian sang Ratu. Menenggelamkan dirinya dalam kesedihan yang tiada ujungnya.


Kematian Prime minister terbaik kerajaan ketika Abhles berumur 10 tahun. Serta berbagai permasalahan internal, Membawa kerajaan itu mengalami krisis dalam kurun waktu 5 tahun. Di tambah ketika kerajaan itu berada bawah pimpinan petugas kerajaan yang penuh dengan korupsi, membuat keadaan semakin memburuk.


Abhles yang sadar akan hal itu berusaha mencari cara dan berhasil mengumpulkan dukungan untuk dirinya. Dukungan yang berasal dari kalangan bangsawan terdahulu serta petugas negara yang jujur membawa kerjaan itu pada jalur yang tepat. Hingga ketika umurnya 15 tahun, Abhles melakukan pembersihan besar-besaran setelah penyelidikan nya selama 2 tahun di balik bayangan Raja.


Pada saat itu Kerajaan Kaspian mengalami tragedi yang masuk dalam catatan sejarah. Tragedi yang dikenal sebagai pembersihan Kaspian paling brutal sepanjang sejarah kerajaan itu berdiri. Sebanyak 50 orang dieksekusi secara publik dan mayat mereka dibiarkan membusuk di atas tiang gantungan selama berhari-hari.

__ADS_1


Sementara sang Raja menangisi Ratunya. Pangeran Kaspian membasahi dirinya dengan darah. Semua itu untuk melindungi ayahnya serta kerajaan yang amat dicintai ibunya.


Kini Raja itu berada di ambang kematiannya. Abhles berusaha keras agar sang raja tetap hidup dengan mencarikannya dokter paling hebat di seluruh Kaspian, bahkan hingga ke kerajaan tetangga. Tetapi seberapa keraspun ia berusaha, Ayahnya selalu menolak semuanya. Serta melempar tuduhan bahwa Abhles ingin membunuhnya dengan segala obat-obatan itu.


"Yang Mulia, saya mohon, anda harus menjaga kesehatan an ...."


"Ku bilang diam! biarkan aku mati! biarkan aku mati bersama Cleo! peduli apa kerajaan ini padaku! aku bahkan tidak bisa menjaga Ratu ku!."


Abhles sekali lagi tidak mau melawan ucapan Ayahnya yang kini wajahnya dibasahi air mata. Beberapa menit berlalu dan tidak satu patah katapun terucap dari bibir mereka berdua. Abhles hanya menerima semua perkataan ayahnya, sementara Ayahnya memakinya atas sesuatu yang tidak ia lakukan.


"Abhles, bawa aku kembali."


Abhles menuruti permintaan itu. Dia merangkul tubuh lemah ayahnya yang dulu dikenal dengan sebutan sebagai Raja yang bijak. Kini tubuh itu termakan usia serta segala kesedihannya mendatangkan berbagai penyakit baginya. Raja yang dulu begitu gagah dan tampan. Kini terkulai lemah dan wajah nya terlihat begitu tua. Abhles membaringkan ayahnya dan menutupi tubuh beliau dengan selimut.


"Maafkan aku Abhles, kau tumbuh menjadi pribadi yang begitu serupa dengan ibumu dan mata itu, kau benar benar mewarisinya."


Abhles menggenggam telapak tangan kanan pria itu dan menundukan kepalanya. Tangan pria tua itu bergetar hebat di dalam genggaman Abhlesh. Sementara tangan kirinya bergerak membelai lembut rambut Abhles yang berlutut di sampingnya.


"Dari dulu aku sangat ingin melakukan ini ... maafkan aku anakku ... bahkan sampai akhir aku hanya seorang Raja bodoh ... maafkan aku anak ku ... kerajaan ini ku serahkan pada ... mu."


Kalimat itu adalah kalimat terakhir Raja Alexander Kaspian. Ia mengembuskan napas terakhirnya di hadapan putranya. Tidak satupun yang menyangka bahwa Raja Alexander menyembunyikan rasa sakitnya agar Abhles datang padanya.


Pada saat itu pula air mata pria itu tidak lagi dapat dibendung. Abhles menangisi kematian Ayahnya dan satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini. Ketika para pelayan kerajaan memasuki ruangan itu Abhles terduduk di samping jasad ayahnya dan tetap menggenggam telapak tangan dingin itu.


Beberapa pelayan wanita bahkan tidak sanggup menahan air mata mereka melihat keadaan menyedihkan Sang Pangeran yang benar benar tulus mencintai Ayahnya. Berita duka tentang kematian Sang Raja menyebar cepat ke seluruh penjuru kerajaan. Serta berita itu juga sampai di kerajaan-kerajaan lain yang berhubungan baik dengan Kaspian.


Alexander dikenang sebagai Raja yang menjaga cintanya hingga akhir. Akan tetapi bagi sebagian orang, Alexander disebut sebagai Foolish King. Semua itu mereka sembunyikan dari Abhles yang merupakan pahlawan di kerajaan Kaspian.


**********


Gimana tentang kesedihan Abhles ketika harus kehilangan ayahnya ? terkadang kita terlalu fokus pada satu hal hingga kita melupakan hal yang paling penting yang harusnya kita jaga 😌


Btw thanks All udah mampir , jangan lupa Vote , like, rate 5 n Komen ya 😌

__ADS_1


sampai jumpa di Chapter selanjutnya 👌😎


Sampai Bye2 ✌😁


__ADS_2