RONGGENG

RONGGENG
Sri Rahayu, Ronggeng Desa Silurah


__ADS_3

Desa Silurah, Tahun 1990


Nama Saya Sri Rahayu. Saya biasa dipanggil Sri. Ibu saya bernama Suntung dan Bapak saya bernama Toso. Saya adalah anak semata wayang. Oleh sebab itu, Ibu dan Bapak saya sangat menyayangi saya.


Setelah lulus SD , saya tak melanjutkan pendidikan. Bukan karena terhalang oleh biaya. Sebenarnya, keluarga saya termasuk berkecukupan. disamping sekolah yang jauh terletak dikota. saya adalah anak perempuan. Kata Ibu anak perempuan itu nggon e nang pawon. (berada didapur/sebagai Ibu rumah tangga )


Saya tak merasa bersedih, karena didesa kami memang tidak terlalu mementingkan pendidikan. Di desa kami yang melanjutkan sekolah hanya satu anak, dua anak. Bisa dihitung menggunakan jari. Itupun anak laki-laki dan berasal dari anak orang kaya atau anak perangkat desa.


Anak-anak didesa kami, rata-rata hanya tamat SD. Bahkan ada pula yang tak sampai lulus. Dengan alasan tak ada biaya. Mereka lebih memilih pergi ke sawah, atau ke ladang menjadi seorang petani.


Dan bagi anak perempuan. Mereka dirumah belajar memasak,menanak nasi,mencuci. Sambil menunggu ada pemuda yang melamarnya.


Teman-teman perempuan saya, banyak yang sudah menikah. Bahkan tetangga saya, yang bernama Suripah. telah menikah diumurnya yang masih 15 tahun.


Orang tua didesa kami, jika memiliki anak perempuan dan belum menikah-menikah akan merasa gusar. Mereka akan cepat-cepat menerima lamaran seseorang. tanpa meminta pertimbangan putrinya lebih dulu.


Saya tumbuh menjadi gadis desa yang lugu dan pemalu. Setiap hari Saya bergelut dipawon,mencuci piring,menyapu,memasak,menanak nasi,mencari kayu bakar dihutan, mencuci pakaian disungai.


Ibu dan Bapak saya sebenarnya sudah menghendaki saya untuk menikah. Namun saya belum menemukan seseorang yang membuat hati saya bermekar. padahal Sudah banyak pemuda didesa saya, bahkan dari desa lain datang melamar saya.


Namun, saya masih belum bisa menemukan laki-laki yang membuat saya merasa nyaman. Ibu dan Bapak saya sebenarnya malu, karena telah menolak banyak lamaran. Ibu dan Bapak takut, dibilang sombong oleh warga sekitar.


Sebenarnya ada seorang pemuda bernama Kang Kasim, yang sempat mengisi hati saya. Dia adalah tetangga saya. Kang kasim sudah melamar saya, namun hitungan lahir kami tidak cocok. Maka jika pernikahan tetap dilanjutkan, akan mendatangkan bahaya. kata sesepuh didesa kami. Begitulah kepercayaan didesa kami.


Setelah Kang Kasim, saya tidak ingin dulu berurusan dengan laki-laki. Sebenarnya saya ingin menekuni kesukaan saya terlebih dahulu. Saya ingin menjadi seorang Penari Ronggeng.


Saya ingin sekali menjadi Penari Ronggeng. Hingga saya berhasil belajar dari Mbk Runi. Dia adalah Penari Ronggeng, yang biasa menari di ngelarangan.


Kata Mbak Runi, saya sangat berbakat menjadi seorang Penari. Akhirnya saya menjadi Penari Ronggeng pertama desa Silurah. karena ketika ada upacara adat di kawasan ngelarangan, warga desa Silurah akan mengundang penari dari desa lain.


Selain itu, saya juga mendapat tawaran untuk mengisi acara-acara desa lainya.

__ADS_1


Orang-orang desa memuji kecantikan saya, memuji kelincahan menari saya, mengaku sangat terpesona dengan saya.


Sehingga banyak dari pemuda desa setempat, yang berbondong-bondong mendatangi rumah saya. Silir berganti hendak melamar, bahkan anaknya Pak Kades orang terkaya didesa Silurah, ikut melamar saya.


Namun saya masih mencari sosok pemuda bernama Kang Adi. Nama lengkapnya Adi Kusuma, Dialah pemuda yang menyawer saya, waktu saya menari pada upacara adat di ngelarangan.


Saya sempat memandangnya. Kurasakan hati ini sedikit berbeda. Hati saya berdegub sangat kencang ketika pertama kali melihatnya.


Kata Bu Iyem, Kang Adi bukan warga sini. Dia datang dari kota, ingin tinggal didesa Kami dan Kang Adi tinggal dirumah Bu Iyem.


Saya bukan orang yang mudah jatuh cinta. Namun setelah bertemu dengan kang Adi, saya rasa saya sedang jatuh cinta.


Setiap saya habis mandi disungai atau mencuci pakaian. Kami pasti bertemu dan berbincang-bincang malu.


Saya menjadi senang sekali. ketika Kang Adi bekerja diladang Bapak saya. Dari situlah saya dapat mencuri pandang denganya. Saya menjadi sering, mengantarkan makanan ke sawah dengan hati yang berbunga-bunga. Ingin bertemu dengan Kang Adi.


Saya merasakan getaran cinta yang begitu dalam. Relung-relung hati saya, telah terisi sepenuhnya oleh kang Adi.


Saya sudah menolak banyak sekali pemuda yang datang melamar. Hanya kang Adi yang saya inginkan, bukan orang lain.


Hingga saya tak habis pikir, cinta ini telah membinasakan kesucian jiwa dan raga. Saya menuruti apa perkataan Kang Adi. Kang Adi berjanji akan menikahi Saya, jika menghadiahkan mahkota yang paling berharga untuknya.


Saya sangat senang sekali, akhirnya Kang Adi membalas cinta saya. Namun disisi lain, saya merasa menjadi orang yang paling buruk didunia ini.


Cinta telah membutakan saya. saya berikan mahkota yang paling berharga untuk Kang Adi. Toh, nanti saya akan menikah dengan Kang Adi. awalnya saya berfikir seperti itu.


Hingga suatu hari, Kang Adi mengajaku ke atas gunung Raga Kusuma. Dia Ingin memadu cinta dengan saya. Kang Adi ingin menyampaikan rasa Cintanya.


Saat itu saya masih memakai pakaian Ronggeng dan selendang yang masih melekat dileher saya. membuat Kang Adi menjadi terkagum kagum.


Kang Adi telah berbohong. Dia tidak bisa menikahi saya. Kang Adi berkata, bahwa ternyata dirinya sudah menikah dan telah mempunyai seorang anak.

__ADS_1


Saya langsung merasa sedih,kecewa,marah kepada Kang Adi. Saya seperti mendapat tumpukan batu-batu mengenai kepala saya. Saya seperti mendapat hantaman yang sangat kuat, dalam diri saya.


Cinta ini membutakan segalanya. Saya sudah mengandung selama 2 bulan, dan apa kata Ibu dan Bapak saya nanti.


Saya dirundung nestapa, bagaimana saya mengatakanya kepada Ibu dan Bapak. Pasti Ibu dan Bapak saya, akan sangat sedih dan mungkin akan mengusir saya.


Saya merengek-rengek kepada kang Adi, agar menikahi saya. Sampai-sampai saya rela kalau harus diduakan, saya tidak peduli. saya harus menikah denganya dan memohon-mohon kepadanya.


Namun tiba-tiba belati menancap diperut. Saya merasakan kepedihan yang amat dalam. Saya tahu, bahwa Kang Adilah yang menikam perut ini.


Oh, Kang Adi kenapa kau begitu tega sama saya. Kau begitu kejam sama saya. Lirih ...


Seketika itu, cinta saya terhadap Kang Adi menjadi kebencian yang tiada tara.


Gelap


hampa


Remuk


Sedih


Perih


Sakit


.........................


Saya telah mati, hanya karena cinta saya kepada Kang Adi. di dalam gunung Raga Kusuma. dengan diri saya, yang masih memakai pakaian Ronggeng dan selendang dileher saya.


Dandanan nan cantik menghiasi wajah saya, namun meyimpan luka dan duka yang menghiasi wajah dan hati saya. menyandang gelar Ronggeng dari Desa Silurah.

__ADS_1


Ngelarangan : sebuah kawasan yang terletak di desa Silurah, dengan dipenuhi rumpunan pohon bambu disekelilingnya. biasa digunakan untuk upacara adat.


__ADS_2