RONGGENG

RONGGENG
Misteri Desa Silurah


__ADS_3

Siang itu, terlihat rombongan bapak-bapak dan beberapa pemuda, berbondong-bondong menapaki jalanan yang agak basah.


Semalam, hujan turun di desa Silurah. Mengguyur tanpa tersisa.


mereka berjalan bebarengan, dengan dilengkapi cangkul dan sabit. Mereka juga menenteng teko dan plastik yang didalamnya berisi jajanan,, yang akan disantap untuk menemani istirahat mereka.


Mereka menuju suatu tempat, yang mereka namai dengan kawasan ngelarangan.


Tak lama kemudian, mereka telah sampai dikawasan tersebut.


Kemudian mereka berkumpul dan meletakan bawaanya. terlihat ada seseorang, yang berdiri ditengah. Sepertinya sedang memberikan arahan kepada warga. mereka tampak mengangguk,tanda mengerti apa yang diperintahkanya.


Setelah itu, mereka langsung menyebar,memenuhi kawasan ngelarangan itu. mereka dengan sergap, membabati rumput yang tampak tumbuh mengganggu mengelilingi tempat itu.


Ada pula yang tengah membawa batu dipundaknya. Lalu batu- batu itu ditata, menjadi formasi tiga- tiga. Dan diberi jarak, yang nantinya akan digunakan untuk meletakan kayu bakar.


Kawasan ngelarangan yang berada diawal memasuki desa Silurah. dipercaya warga setempat, sebagai tempat keramat.


Semua warga desa silurah, saat ini sedang disibukan dengan persiapan tradisi legenonan. warga setempat, masih mempercayai tradisi turun temurun itu dan diyakini bisa memberikan keselamatan dan kesehatan bagi warga desa Silurah. Yang dilaksanakan dikawasan tersebut.


Dalam tradisi itu, ada penyembelihan kambing. Yang harus disembelih dan dimasak dikawasan ngelarangan tersebut. menggunakan wajan berukuran besar, di atas batu yang telah dipersiapkan tadi. Bentuknya menyerupai pawon.


Hari semakin terik, Membuat warga yang sedang melakukan kerja bakti melepas penatnya dan duduk dipinggir jalan dengan menggelar daun pisang.


Ada yang sambil merokok,meneguk wedang kopi untuk menyegarkan lidah dan tenggorokan. lalu melahap Singkong atau ketela rebus menggunakan tangan yang masih gelepotan. namun tampaknya orang- orang tak peduli, lebih nikmat katanya.


Pada saat itulah, ketika semua orang sedang menikmati waktu istirahat mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan teriakan seorang warga.


Salah satu warga, melihat bapak-bapak terjatuh diselokan dibawah rumpunan pohon bambu.


Sontak.. mereka mengalihkan pandanganya, dari Singkong yang hendak masuk ke mulut. beralih ke suara teriakan salah satu warga.


Mereka langsung mengerumuni bapak-bapak yang terjatuh itu. Dalam benak mereka, bersemayam banyak sekali pertanyaan bagaimana itu bisa terjadi. Mereka hanya diam tertunduk, sebagian dari mereka tampak ketakutan dan tak berani mendekat.

__ADS_1


Bapak-bapak itu tergeletak,Tampak dibagian tubuh terdapat memar-memar, seperti habis diamuk masa. Darah yang masih mengalir segar, berasal dari tubuhnya. Sehingga mengubah warna baju yang sebelumnya putih, menjadi bercak merah dan tubuhnya terkejang- kejang hebat.


''Cepet!! Gotong Pak Kamto,gowo bili. Ojo kosi sue- sue nang kene.''


( Cepat! Bawa Pak kamto kerumahnya, jangan dibiarkan lama- lama disini )


sahut salah satu warga, dengan nada agak membentak, sepertinya ia mengetahui apa yang terjadi.


Beberapa orang telah membopong tubuhnya Pak Kamto. Dan dibawa kerumahnya. Sedangkan warga yang lainya, mengambil cangkul dan sabitnya sembari menatap penuh kengerian kawasan tersebut, membangkitkan aura mencengkangkan.


Dan kerja bakti dikawasan


ngelarangan itu terpaksa dihentikan. Mereka semua kompak pulang, dengan diliputi rasa was-was. Karena kejadian yang lagi-lagi menimpa warga. Tampaknya kejadian ini sudah pernah terjadi sebelumnya.


Orang-orang yang membawa Pak Kamto telah tiba di rumahnya. Tubuhnya digeletakan di amben[1] yang terletak diruang tengah. Istrinya menangis meronta-ronta. setelah mengetahui suaminya mengalami kejadian naas.


Salah satu warga, berbisik kepada orang didekatnya. Menyuruh untuk memanggil seseorang. Yang paham tentang masalah ini.


‘’ Cepet ngundang Mbah Saan.’’


Tanpa berlama-lama lagi, seseorang telah berlari kerumah Mbk Saan. untuk menyembuhkan Pak Kamto, yang kini tubuhnya terkejang-kejang dengan disertai lumuran darah.


Mbah Saan adalah orang yang dipercaya oleh warga sekitar, sebagai orang yang sakti. Dan bisa menyembuhkan penyakit dari gangguan mahluk-mahluk halus.


Mbah Saan dipercaya oleh warga sekitar sebagai dukun. Jika ada orang sakit didesa itu, maka akan segera dibawa kepadanya. Bahkan sakit demam pun dibawa kepadanya.


Mereka masih mengkaitkan semuanya dengan mahluk-mahluk gaib. Jika seseorang sakit, Mereka akan berfikir telah ketemper [2]disuatu tempat.


Apalagi jika terjadi hal seperti ini, maka orang-orang sudah menduga. Mereka ketemper dan mahluk gaib merasa terganggu dan marah.


Kemudian, datang kakek-kakek berpakaian serba hitam. Mbah Saan telah tiba Dan langsung mengeluarkan sebuah cincin andalanya. Lalu matanya terpejam,mulutnya komat kamit membaca mantra.


Tiba-tiba matanya terbuka, matanya melotot seperti mau keluar.

__ADS_1


‘’Pak kamto wes ganggu demit seng neng alas ngelarangan mau, Pak kamto wes negor pring neng alas mau. Saiki demet kui wes jengkel nemen. Saiki kudu gawe sajen digletake neng duwur watu gedi kae. ‘’


(Pak kamto sudah mengganggu penunggu kawasan ngelarangan itu, Pak kamto sudah memotong bambu yang ada dikawasan itu, sekarang penunggu menjadi marah. Sekarang harus dibuatkan sesaji untuk diletakan diatas batu besar itu).


Kemudian Mbah Saan menyuruh istrinya Pak kamto untuk membuatkan tebusan [3]berupa sesaji. Untuk dibawa ke kawasan larangan. agar penunggu kawasan itu tidak marah lagi.


Sambil menyeka air mata, yang sembari tadi membasahi wajahnya. Istri Pak kamto langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Mbah Saan.


Sementara itu, warga yang lainya menunggu diluar rumah. Mereka berbincang-bincang mengenai kejadian yang menimpa Pak Kamto.


Tampak seorang Pemuda menceritakan kejadian itu kepada orang-orang. Pemuda itu sepertinya adalah orang yang mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Pak Kamto.


Pak kamto telah membuat marah penunggu dikawasan ngelarangan itu, dengan menebang dahan pohon bambu dikawasan tersebut. Padahal Pak Kamto sendiri sudah mengetahui kalau pohon bambu dikawasan ngelarangan itu tidak boleh dipotong. Dan naas kejadian mengerikan dialami olehnya.


Orang-orang didesa itu tampak cemas dan khawatir. mereka takut jika penunggunya murka dan imbasnya akan ke seluruh warga desa Silurah.


Sajen[4] telah selesai dibuat oleh istrinya Pak Kamto.


Kemudian Mbah saan menuju ke kawasan ngelarangan. Disepanjang perjalanan, lagi-lagi mulutnya berkomat kamit, membaca mantra-mantra.


Sajen dibawa menggunakan tangan kirinya. sedangkan tangan kananya memegang benda yang didalamnya dibakar kemenyan.


Sajen diletakan disebuah batu besar yang berada dikawasan itu. Sembari membaca doa -doa, menggunakan bahasa Jawa krama yang sangat halus.


Mbah Saan mengatakan dengan bahasa Jawa krama, meminta maaf atas nama Pak Kamto yang telah mengganggu dedemit penunggu kawasan itu dan memohon agar tidak mengganggu warga desa Silurah.


Mbah Saan menyampaikan bahwa kondisinya sudah tenang kepada warga setempat.


Sementara itu, Pak Kamto telah sadar. Tubuhnya tak lagi kejang-kejang. darah yang mengalir melalui tubuhnya pun telah dibersihkan. Namun kondisinya masih lemas dan lunglai.


Amben : tempat tidur terbuat dari kayu. Orang desa biasa menyebutnya amben.


Ketemper : seseorang yang telah diganggu mahluk halus.

__ADS_1


Tebusan : permintaan mahluk halus.


Sajen : sesaji.


__ADS_2