
‘’ kenapa Rat’’
tanya Roni cemas
‘’Perutku sakit Ron. Aku laper banget.’’ Ujarku parau.
‘’iya ya kamu pasti laper, ayok aku bantu, kita turun cari makan ‘’ ucap Roni sembari membantuku keluar dari mobil.
Kakiku seperti tak siap menapakan di tanah. Tulung tulangku seakan telah hilang. Aku hampir terjatuh ketika menapaki tanah.
Roni langsung menangkap tubuhku dan tangan Roni memegangi lenganku membantuku berjalan. Sedangkan tanganku berpegang pada bahu Roni. Kurasakan kepalaku masih terasa pusing. Kepala ini terasa senat senut.
‘’ apa kamu sebaiknya tiduran dulu, kayaknya kamu belum bisa buat jalan deh, masih lemas kaya gini. kamu tunggu dimobil aja, biar aku yang beli makanan nanti aku bawa kesini ya‘’ Ujar Roni cemas
‘’ udah nggak usah, aku nggak papa kok Ron. Aku udah bisa jalan, Cuma kepalaku masih agak pusing sedikit’’ Jawabku sambil mencoba melangkahkan kaki
Sementara itu, dari kejauhan. Anggi dan Vito memanggil manggil namaku.
‘’ Ratih....’’ seketika itu, botol minum yang ada digenggaman Anggi terjatuh.
Anggi masih berdiri ditempat. kulihat wajahnya datar, mulutnya terbuka. Sepertinya ia tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
Aku segera melambaikan tanganku ke arah mereka. Walaupun tangan ini masih lemas, aku berusaha mengangkat tangan.
Vito yang melihat Anggi seperti itu, langsung menarik tanganya lalu mengajaknya berlari kearahku.
Anggi dan Vito langsung memeluku dengan sangat erat. Entah mau sampai kapan melepaskanya Dan Roni tersenyum berseri seri melihat kami berpelukan. Sesekali kulihat menyeka air matanya.
Setelah puas memeluku, Lalu Anggi memandangiku dengan penuh haru.
‘’Kita takut banget tau Rat, lo nggak sadar- sadar. gue khawatir banget sama lo ’’ Isak Anggi.
‘’Iya tau Rat, kita semua khawatir sama lo. Lo dari kemarin nggak sadar-sadar.‘’ Lanjut Vito menitikan air mata, Vito jarang menitikan air mata. Namun kali ini, dia benar benar menitikan air matanya dan tentunya bercampur bahagia.
‘’Maaf gue ya... uda bikin kalian semua pada khawatir.’’ Isaku yang ikut menitikan air mata.
Perasaan haru bercampur bahagia kini menyelimuti kami semua. Disela sela air mata yang mengalir, tawa terdengar selang beberapa saat.
__ADS_1
‘’Eh Ron, kok lo nggak panggil kita dari tadi sih, kalo Ratih udah sadar. ‘’ celetus Vito
‘’kan kalian lagi ke kamar mandi, aku aja lihat Ratih udah sadar, pas aku ngecek kebelakang. Udah sekarang, waktunya kita kasih kesempatan buat Ratih makan, kasian, dia laperr. Nangis-nangisnya dilanjut nanti okee. ‘’ Sahut Roni sambil melirik Vito dan Anggi
‘’ Yampun lo pasti laper banget, Ayok kita makan. lo mau makan apaaa ajaaa ... gue traktir.’’ Ucapnya dengan kaget, sekaligus bahagia setelah itu.
Anggi segera menarik tanganku dan merangkulku, sembari meneteskan air matanya kembali. Diikuti Roni dan Vito dibelakangnya.
Kami telah mengelilingi meja makan. Selang beberapa menit, pelayan Resto telah membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Aku kesetanan mengambil semua lauk. Aku makan bagaikan tidak diberi makan selama satu bulan. aku makan dengan sangat lahap. Bahkan akupun tak menghiraukan sahabat-sahabatku melihatku penuh heran.
Ahh aku tak peduli saat ini, aku benar-benar merasakan lapar yang begitu dahsyat. Hingga sepertinya makanan yang masuk kemulutku, tak kukunyah sama sekali.
Aku menelan semua makanan yang masuk tanpa tersisa. Dalam sekejab, makanan telah habis ludes didepanku. Dan kulanjut minum es jeruk, yang begitu menyegarkan tenggorokan.
‘’ Mau tambah lagi Rat makananya?’’ Tanya Anggi padaku,dengan wajah seperti ketakutan melihatku
‘’ Udah gue uda kenyang. ‘’ Jawabku lantang, kali ini suaraku lebih keras daripada sebelumnya.
Mereka saling berpandangan. Kulirik mereka satu satu, tak ada yang menjawabnya.
‘’ lebih baik lo mandi dulu aja deh, Lo segerin badan lo dulu. Habis itu gue kasih tau semuanya ke lo oke. ‘’ kata Anggi sembari beranjak dari kursi. Mengajaku ke toilet untuk mengantarku mandi.
Aku hanya mengganggukan kepala dan mengikutinya. Aku masuk ke toilet untuk mandi Dan Anggi menunggu diluar.
Bau badanku sangat menyengat di hidung, rambutku terasa lengket, Badanku terasa pegal-pegal Dan wajahku pun sangat kusam.
Dalam siraman air membasahi tubuhku. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengingat kejadian sebelumnya.
Setelah mandi, Tubuhku terasa bugar kembali dan kepalaku juga sudah tak merasa pusing.
Aku memghampiri Anggi.
‘’ udah? Tanyanya singkat
‘’ Udah.
__ADS_1
Nggi, gue pingsan? ‘’ tanyaku ragu
‘’ Iya lo pingsan dan sampai sekarang lo baru tersadar. ‘’ Ucap Anggi dengan nada yang hati hati
‘’ Jangan bilang kita lagi perjalanan ke desa Silurah? ‘’ tanyaku lagi
‘’ Bener banget. Kita lagi perjalanan ke desa Silurah dan sebentar lagi akan sampai. ‘’ Jawabnya dengan hati hati lagi
‘’ Nggi, handphone gue mana?’’ Tanyaku lagi, sambil kuletakan handuk dan peralatan mandi disembarang tempat.
Anggi langsung mengambil handphone dari dalam tasnya dan menyodorkanya ke arahku. Aku langsung menelpon mama.
‘’ Ayolah lah ma, diangkat please’’ cemasku dalam hati
Selang beberapa saat terdengar suara mama diujung handphone, Hatiku langsung merasa sangat lega. Kupejamkan mata lalu kubuka lagi, kuhirup napas dalam dalam.
Kudengar mama menangis tersendu sendu dari sebrang sana, Mama bilang akan menjemputku. Aku segera menenangkan mama, agar tidak khawatir denganku. Setidaknya akan membuat mama lebih tenang dirumah.
‘’ Ma, Mama nggak usah khawatir sama Ratih. Ratih sama orang orang yang menyanyangi Ratih dan melindungi Ratih. Jadi mama nggak usah mikirin Ratih, Ratih akan segera sembuh Ma. Ratih akan segera sembuh dari penyakit aneh ini, Ratih janji setelah menyelesaikan urusan disini, Ratih akan segera pulang ya ‘’ tak henti hentinya aku kembali menitikan air mata
Aku sayang mama. gumamku dalam hati Lega rasanya telah mengetahui keadaan mama sekarang. Aku telah mengakhiri panggilan dengan mama Dan Anggi menghampiriku.
Dan kukatakan kepadanya bahwa Mama baik baik saja. Sudah mulai tenang sekarang. Dan Anggi menghela napas lega, Ia juga meminta maaf kepadaku atas kelancangannya membawaku tanpa seiijin mamaku.
Aku bilang, tak perlu merasa khawatir. Ini satu satunya cara biar bisa pergi ke desa Silurah.
Lalu aku dan Ratih berjalan menemui Vito,Roni dan Pak Udin yang mungkin sudah menunggu.
Pak Udin yang telah selesai menghisap rokok, mengomando kami untuk masuk ke dalam mobil.
Kami langsung beranjak dari tempat duduk dan melangkah keluar dari Aldelia Resto. Kini senyum mengembang terlukiskan dari wajah mereka masing-masing. tak lain dan tak bukan, karena aku telah kembali seperti semula.
Pak Udin menancap gas, dan keluar dari area tersebut. kini mobil yang ditumpangi kami telah berjalan diatas aspal yang panas.
Namun suasana yang panas ini, tak dipedulikan oleh kami. kami bernyanyi, bergurau, tertawa melepaskan semua beban kekhawatiran.
30 menit kemudian, mobil telah sampai dikabupaten Batang. Mobil Sedan hitam ini, telah memasuki wilayah kabupaten Batang dan telah siap meluncur ke kecamatan Wonotunggal.
__ADS_1