
tiba-tiba saja, aku tengah berjalan hendak menuju kawasan ngelarangan. Aku ingat dengan baik jalan ini, Jalan ini adalah jalan aspal, jalan utama menuju desa Silurah. kakiku seperti melangkah dengan sendirinya, gerakanya semakin cepat. Aku tak bisa mengontrol tubuhku sendiri. Disampingku ada dua pemuda desa, yang satunya berkulit putih dan tinggi. sedangkan satunya bertubuh kekar, kulitnya sawo matang, pipinya agak kemerahan.
Pemuda yang berkulit putih dan tinggi itu menanyakan namaku, seolah olah ingin menggodaku.
‘’ Kau sangat cantik Ronggeng, siapa namamu?’’ sambil berjalan
Aku menghentikan langkah, mendengus lalu menjawab
‘’ Sri Rahayu ‘’ dengan singkat,memandang pemuda itu sejenak lalu berjalan kembali
Aku kaget bukan main. Sri Rahayu masih menggunakan tubuhku, mau sampai kapan dia akan berada dalam tubuhku.
Kulihat penanya itu berhenti dibelakang. Sedangkan pemuda yang satunya tetap berjalan bersamaku, dengan langkah semakin cepat. Nampaknya pemuda yang berbadan kekar itu tak menyadari apa yang tengah terjadi.
Dari kejauhan, hamparan orang memenuhi kawasan ngelarangan. Ibu- Ibu dan bapak-bapak telah memadati kawasan tersebut.
‘’ Permisi, Ronggengnya sudah datang ‘’ perintah pemuda disampingku, pada mereka dengan menggunakan bahasa jawa krama halus.
‘’ Ayune Ronggeng e ‘’ Seru Bapak- Bapak yang melihatku, melintas diantara kerumunan
‘’ sungguh seperti bidadari ‘’ kagum Ibu- Ibu.
Aku berjalan dengan sedikit cepat,melewati kerumunan Ibu- Ibu dan Bapak -Bapak yang sudah melingkar ingin segera melihatku menari.
Seperangkat gamelan dan penabuh sudah ada ditempat sambil melihat ke arahku, berbisik mengatakan kalau Ronggengnya sangat cantik.
‘’ Monggo, silahkan duduk ‘’ seorang pemuda mempersilahkan
Aku tersenyum padanya,lalu mengucapkan terima kasih. Aku duduk, semua mata memandang ke arahku, menggeleng tak percaya.
‘’ Ronggengnya sudah datang Bapak- Bapak,Ibu-Ibu ‘’ Seru Bapak lainya, yang memandu acara, lalu mempersilahkanku untuk menari
Aku segera bangkit, menuju tengah- tengah kerumunan warga. seperangkat gamelan berbunyi seketika. Tanganku mengangkat ke atas, kepalaku mendongak, tubuhku telah berlenggak lenggok menari mengikuti alunan gamelan yang ditabuh.
Wajahku berbinar, aku tersenyum sumringah.
__ADS_1
Satu persatu Bapak-Bapak maju ke depan. Mereka dengan lincah menari didepanku, kami menari berpasangan. Bapak yang lainya mundur, kulihat seseorang yang tidak terlalu tua bisa dikatakan masih muda, maju untuk menari bersamaku.
Jantungku berdegub kencang,
Papa…
Aku masih saja berlenggak lenggok, tak mempedulikan dengan seorang pemuda yang sedang menari bersamaku. Dan pemuda itu adalah papaku.
Papa terlihat menari dengan wajah yang berbinar binar,senyumnya mengembang. Papa seperti seseorang yang terlahir kembali. Aku ingin bicara padanya,memeluknya, namun aku tak bisa melakukanya. Tubuhku ini sedang dikuasai oleh Sri Rahayu.
Aku hanya bisa menatap dalam bayangan. batinku seperti teriris iris.
‘’ Itu arwah Sri Rahayu ‘’ seru pemuda yang tadi berjalan bersamaku, membawa seorang kakek. Mata kakek melotot seperti akan keluar. Jenggotnya naik turun.
Aku menghentikan tarianku, aku menurunkan tangan dengan lembut, Aku tak merasa gentar, aku tak merasa takut, tetap dalam keadaan tenang. Walaupun mata kakek itu menatapku dengan geram.
Orang-orang menjadi mengalihkan perhatian ke pemuda itu dan seorang kakek-kakek.
‘’ Sri Rahayu…’’
‘’ Sri Rahayu… ‘’
Sementara aku, mencari cari sosok Papa yang telah menghilang. Papa? Dimana Papa? Hilang ditelan kerumunan orang-orang. Bayangan semu papa, terlihat jelas dipelupuk mata.
Lalu dari kejauhan seorang Ronggeng lainya datang bersama dua orang pemuda yang mengawalnya. Orang- orang seperti mendapat mainan baru, mereka beralih menyaksaikan seorang penari Ronggeng yang baru datang menggantikanku menari disana.
Ratih?
Roni datang menyibak kerumunan.
Ron… tolong aku. Ucapku dalam hati, namun Sri Rahayu telah mengunci mulutku, aku tak bisa berteriak pada Roni. Aku tak bisa berbicara denganya.
Aku tersenyum kecut ke arah mereka. Lalu perlahan membalik badan, berjalan dengan sangat anggun. Lalu aku melompat ke galengan, aku melompat bagaikan singa betina. Aku menggerang gerang, kukuku memanjang,menggaruk garuk tanah. Aku merayap dibalik tanah, dibawah rumpunan pohon bambu.
Kakek itu langsung mengejarku, disusul oleh Roni dibelakangnya.
__ADS_1
Kakek itu lewat jalan setapak yang bertingkat tingkat dari ujung kiri. Aku tertawa keras, lalu aku segera merayap lagi menuju pohon bambu. Aku menaiki pohon bambu itu seperti seekor kera, dalam sekejab, aku telah sampai diatas.
Kakiku menopang tubuhku, tangaku berpegang erat pada pohon bambu yang meliur liur hendak tumbang. Kulihat Kakek itu memejamkan mata, mulutnya berkomat kamit, sedangkan Roni memandangku dengan wajah cemas dan ngeri.
Aku turun kebawah. Lalu menuju arah kakek itu, aku telap siap dengan tangan hendak mencekiknya. Tubuh kakek itu terpental semeter dari tempat berdiri sebelumnya. dengan sigap, aku menuju ke arahnya lalu mencekiknya kembali.
kakek itu kehabisan napas, tangannya ingin meraih tubuhku namun tak sampai. Setelah itu, aku tersenyum lebar-lebar, aku tertawa terbahak bahak. Aku melepaskan cengkramanku dari kakek itu.
Tubuhku terpelanting dua meter dari kakek itu. Kurasakan hantaman yang cukup keras ditanah, Seketika itu mataku tertutup, semua berganti menjadi kegelapan. Dalam dimensi gelap, aku mendengar suara langkah kaki mendekat, seseorang telah duduk disampingku.
‘’ Temui saya di gunung Raga Kusuma Ratih ‘’
Suara itu sangat asing bagiku. Namun aku menebak itu adalah suara Sri Rahayu. Suaranya membangkitkan bulu kuduku meremang, mengunci mulutku untuk tidak bisa berbicara.
Ratih… Ratih…
Lalu terdengar suara yang berbeda, seseorang yang kuyakini sebagai Sri Rahayu telah pergi. Itu adalah suara Roni. Kurasakan Roni menggoyang goyangkan tubuhku, lalu katup mataku terbuka perlahan. Aku bisa melihat dengan jelas, Roni berada tepat diatas wajahku.
‘’ Mbah Saan, Ratih telah sadar ‘’ seru Roni dari kejauhan
Mbah Saan? Kakek itu adalah Mbah Saan. Dia paranormal desa Silurah.
Mbah Saan bangkit dengan badan yang terhuyung huyung.
Kurasakan ada gumpulan sesuatu hendak keluar dari mulutku, gumpalan itu mengalir deras melewati tenggorokanku.
Huekkk…. Huekkkk
Aku mengeluarkan darah segar berkali kali dari dalam mulutku. Darah memuncrat ke pakaianku, tanganku. Dalam sekejab aku telah bersimpuh darah. Aku masih mengenakan pakaian Ronggeng, Sri Rahayu sudah tak mendiami tubuhku lagi, aku telah bersama tubuhku kembali.
‘’ Ayo nak angkat dia, bawa ke rumahnya Pak Surip. Jangan biarkan disini terlalu lama ‘’ Ujar Mbah Saan dengan suara serak, menggunakan bahasa jawa
Roni hanya mengangguk.
Roni memegangi kepala dan pungguku. Diikuti mbah Saan memegang kedua kakiku. Roni terus memandangku, wajah dan tangannya dipenuhi bercak darah.
__ADS_1
‘’ Bertahanlah Ratih, kita akan segera sampai. ‘’ Kata Roni tepat diatas wajahku
Tubuh,kaki,tangan terasa sangat lemas. Bahkan mulutku sangat berat untuk berkata.