RONGGENG

RONGGENG
Ratih Tersadar


__ADS_3

Matahari telah menampakan dirinya. Menyinari ke berbagai penjuru dunia. Menyinari wajah dan tubuhnya Ratih yang tampak pucat. Bibirnya pun biru.


Anggi,Vito dan Roni tampak diam membisu. Memandangi wajah yang pucat itu, melirik matanya, tanganya kalau kalau bergerak.


Mau sampai kapan Ratih akan sadar. Pikir mereka


‘’ Ron, lo nggak tau gitu. Ratih kenapa?’’ tanya Anggi pada Roni setengah berbisik


‘’Dia dikendalikan oleh sesuatu yang nggak bisa kita ketahui, semoga saja Ratih bisa sadar pas kita sampai di desa Silurah.’’ Jawabnya yakin


Mereka bertiga memasukan barang-barang yang hendak dibawa ke desa Silurah ke dalam mobil. Setelah semuanya dirasa beres, mereka membopong tubuhnya Ratih masuk kedalam mobil.


Disusul oleh mereka satu persatu naik Dan mobil melaju sedikit kencang, menuju Bandara Internasional Halim perdana kusuma, yang terletak di Jakarta Timur.


Mobil Menembus jalanan kota yang tak begitu ramai. Jalanan masih dipenuhi kendaraan kecil, Pagi menyingsing dijalanan Jakarta ini. Pak Rahman adalah sopir yang mengantarkan mereka ber empat.


tampak lincah menyalip berbagai kendaraan yang ada didepanya. Memang harus melaju dengan cepat, karena mereka harus tiba di Bandara jam 07.00.


Vito,Roni dan Anggi memilih untuk berkelanana dengan angan angan mereka. Rasa kantuk masih mendera. Apalagi semalam mereka baru tertidur jam setengah satu malam, berkali kali matanya berdenyut denyut. Kepalnya naik turun.


Terpaksa mereka mengambil penerbangan jam pagi, agar tidak sampai larut malam ketika tiba di desa Silurah.


Mobil yang disopiri oleh Pak Rahman telah sampai di Bandar Udara Internasional Halim Perdana Kusuma. Tepat jam tujuh,tidak kurang dan tidak lebih. jarak dari rumahnya Vito menuju Bandara tidaklah terlalu jauh.


Pak Rahman tampak memberikan nasihat sebelum dirinya pergi. agar berhati-hati ditanah orang ujarnya. Dan mereka mengangguk, tanda mengerti. Pak Rahman kembali masuk kedalam mobil dan membawa mobil lenyap ditelan puluhan kendaraan yang lewat.


Lalu Mereka menuju loket untuk check-in. selang beberapa saat, mereka telah mendapatkan boarding pass. kemudian koper mereka tampak diserahkan untuk ditimbang dan masuk bagasi.


mereka nampak berjalan menuju ke ruang tunggu. Mereka mengambil Kelas Eksekutif, Om Rio yang memesankan tiketnya. agar tidak terlalu lama mengantri dan menunggu.

__ADS_1


Sambil menunggu pengumuman pemberangkatan, mereka tampak menikmati kuris pijat menghilangkan kepenatan tadi malam. menyantap makanan dan minuman.


kelas Eksekutif mendapatkan fasilitas yang sangat memanjakan para penumpangnya. Bahkan disekitarnya ada area hijau,kamar mandi yang bersih dan tempat yang sangat nyaman.


Ketika mereka sedang menikmati waktu bersantai, tiba-tiba terdengar pengumuman pemberangkatan pesawat dari kejauhan, lalu mereka serempak beranjak dari kemewahan kelas Eksekutif dan bersiap-siap untuk menuju pesawat.


Ratih harus dibawa oleh petugas bandara masuk ke dalam pesawat. Diikuti mereka bertiga. Setelah menyerahkan kartu identitas, mereka melangkah mencari nomor kursi yang tertera diboarding pass. Mereka duduk bersebelahan. Sedangkan Ratih ditidurkan dengan tubuh seperti tanpa nyawa.


Mereka menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Tepat pukul 08.00. pesawat yang mereka tumpangi, telah terbang diatas awan. Terbang mengapung diatas langit, dengan tujuan Bandar Udara Internasional Achmad Yani Semarang, Jawa Tengah


ketika berada dalam dipesawat mereka kembali disibukan dengan aktivitasnya masing-masing. Kemudian dimanjakan lagi dengan kemewahan kelas Eksekutif.


Kursi yang mereka duduki adalah kursi ergonomis yang berukuran panjang 208 cm dan lebar 55 cm. Dan dapat diubah menjadi tempat tidur datar lengkap dengan matrasnya.


Satu jam lebih dua puluh menit, pesawat telah mendarat di Bandara Achmad Yani Semarang, Jawa Tengah.


Dari kejauhan, bapak-bapak dipenuhi brewok diwajahnya, melambai lambai kearah mereka bertiga dan menghampiri mereka.


Dialah Pak Udin orang yang akan menjemput mereka. Setelah menceritakan apa maksud kedatanganya dan Ternyata Pak Udin adalah suruhan Om Rio.


Mendengar penjelasan Pak Udin, mereka mengerti dan langsung mengikuti langkahnya, Masuk ke dalam mobil. Lalu dengan dibantu Pak Udin mereka memasukan barang-barangnya lagi ke dalam mobil.


Mobil tengah melaju kencang, melewati jutaan aktivitas manusia yang dilaluinya. Panas terik matahari masuk ke dalam mobil. Membuat Mereka gerah dan lagi-lagi disibukan dengan angan masing-masing.


Mobil melewati kota demi kota, gedung demi gedung,kendaraan demi kendaraan,orang demi orang,pohon demi pohon. Semuanya diterjang tanpa disapa sedikitpun. Sesekali Pak Udin menekan klakson.


Mobil yang disopiri Pak Udin telah sampai di kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Perjalanan akan melewati satu kota lagi, yaitu kota batang .


setelah sampai di kota Batang, tinggal melaju ke kecamatan wonotunggal, Dimana desa itu berada.

__ADS_1


‘’ Pak berhenti dong, Saya kebelet nih. ‘’ sahut Anggi dari arah belakang, nadanya terdengar lemas.


Pak Udin langsung mengarahkan mobilnya ke Adila Resto. Dan mobil telah terparkir seketika itu. Anggi dan Vito bergegas turun dari mobil dan pergi ke toilet. Sementara Roni turun dari mobil seorang diri. Namun langkahnya terhenti sejenak, ia kembali lagi masuk kedalam mobil.


Ada sesuatu yang tertinggal sepertinya. Dan ia ingat bahwa tas nya ada dibelakang. melalui pintu mobil belakang, dimana Ratih masih terbaring disitu. Kepala Roni telah masuk kedalam mobil, dan kakinya ia biarkan menapaki tanah. Tanganya berusaha meraih tasnya. sambil memandang sekilas wajah Ratih yang pucat pasi.


Mau sampai kapan Ratih tersadar gumamnya dalam hati. Ia memandang ke arah wajah pucat itu cukup lama. Ketika ia hendak keluar dari mobil, ia menangkap sesuatu. mengurungkan niatnya keluar, ia memandangi wajahnya lekat-lekat lagi. bahwa ia tak salah lihat.


Mata Anggi bergerak seperti mau terbuka sedangkan jari jemarinya juga melakukan hal yang sama.


‘’ Ratih... ‘’ ucapnya penuh harap.


Roni dengan penuh harap, terus memanggil namanya. Roni terus memperhatikan mata dan jemari yang tampak bergerak. Tak lama kemudian, secara perlahan mata Ratih terbuka namun belum merespon keadaan sekitar.


‘’ Ron...’’ ucapku lirih


Hanya itu yang keluar dari mulutku.


‘’Ratih.. akhirnya kamu sadar juga.’’ jawab Roni, wajahnya saat ini benar-benar memancarkan aura kebahagiaan.


Aku sekilas melihat wajah Roni tepat diatasku. Senyumnya sangat lebar, tapi matanya sedikit sembab.


Apa yang telah terjadi denganku? Aku tidak melihat dinding berwarna putih atau bau obat obatan yang menyengat. Aku ada dimobil, dan aku terbaring dimobil. Semua anggota tubuhku terasa lemas seperti tak bertulang.


‘’ Ron... aku ada dimana?’’ ucapku lirih


‘’ kamu nggak usah pikirin itu, Yang penting kamu uda sadar, aku seneng banget Rat. Nanti aku ceritain semuanya sama kamu. ‘’ Kata Roni dengan penuh kasih sayang


‘’ auuuu... ‘’ ucapku sambil mencoba bangkit, perutku terasa sangat perih sekali

__ADS_1


__ADS_2