RONGGENG

RONGGENG
Pencarian


__ADS_3

Arkhhhggg... saaaa kitttt, Roni, Vito,Anggi.


Kali ini aku tak tahan lagi, aku menggerang gerang kesakitan. Aku berteriak teriak, namun tak dipedulikan oleh gadis desa yang ada disampingku.


Aku telah diseset menggunakan bambu tadi, Bambu yang telah ditajamkan, membuat pergelangan tanganku mengeluarkan darah bercucuran. Darah segar mengalir dari pergelangan tanganku.


Gadis itu memasukan darahku ke dalam wadah kecil. Lalu gadis desa yang lainya mengangkat tubuhku dan menyandarkanku pada tembok. Darahku ditempelkan dibibirku, seperti lipstik merah. Lalu ditempelkan dikuku-kuku, seperti pacar kuku.


Selepas itu, tubuhku diangkat lagi oleh mereka. Aku kembali ditelanjangi, lalu dikenakan pakaian Ronggeng. Aku dirias dengan sangat kejam,sangat tidak manusiawi. rasa sakit diwajahku,tanganku,tubuhku mendera, menyayat nyayat.


Dalam sekejab, aku sudah seperti Penari Ronggeng. dandananku sangat mirip dengan Ronggeng.


Setelah itu, gadis gadis desa itu lenyap entah kemana. Aku berjalan keluar dari bangunan seperti candi itu, Aku hendak kemana malam- malam begini berjalan seorang diri? Kakiku seperti melangkah sendiri, tubuhku seperti bergerak dengan sendiri. Namun aku sadar, ini bukan keinginanku. Aku tidak berniat untuk melangkahkan kaki.


Aku seperti melihatku berjalan anggun, bagaikan penari Ronggeng. Wajahku sangat menawan, mataku sangat indah, rambutku sangat bagus. Bibirku merah segar, ya itu adalah darahku sendiri. Kukuku berwarna merah berkilauan, itu juga adalah darahku.


Aku melihat diriku seperti tersenyum merekah, menunggu seorang pria yang datang ke arahku.


Papa...


Tidak mungkin, papa udah meninggal. Tidak mungkin, ada disini. Dan sekarang, ada dihadapanku. Pikirku Papa terlihat sangat muda. Berbeda dengan papa waktu 2 tahun yang lalu.


Papaku berjalan dengan gagah sekali bak seorang pangeran, menuju ke arahku. Papaku tersenyum lebar ke arahku, Kulit wajahnya sama sekali belum berkerut, masih sangat keras.


Pikiranku dipenuhi dengan kerinduan pada papa. Papa... aku ingin memeluk papa, aku rindu dengan papa. Aku ingin mengejarnya dan mendekapnya lalu akan kuceritakan bahwa aku mengalami kejadian yang sangat mengerikan.


‘’ Sri, kau sangat cantik ‘’ Papa memuji


‘’ Kang Adi, Kang aku ingin menikah denganmu, sungguh ‘’ kata Sri Rahayu


Apa? Sri Rahayu sedang menggunakan tubuhku!


Aku seperti keluar,masuk dari tubuhku dan bisa menyaksikan mereka. Namun, aku seperti kembali lagi ke dalam tubuhku seperti merasakan apa yang dialami oleh Sri Rahayu.


Wajah Papa menjadi dingin, Papa memegangi tanganku. Seraya berkata


‘’ Sri, Kang Adi tidak bisa menikah denganmu, Kang Adi sudah beristri dan mempunyai seorang anak ‘’

__ADS_1


‘’ Kang, aku sangat mencintaimu. Aku sudah mengandung 2 bulan, dan kau lihat Kang, kita sebentar lagi punya anak. ‘’


Papa sangat kaget mendengar penjelasanku,


‘’ Aku tidak bisa Sri, aku tidak bisa. Maafkan saya ‘’


‘’ Tidak Kang, Kang Adi sudah berjanji denganku. Selepas kita bercinta, kau berjanji denganku. Apa kau lupa Kang? Aku sudah mengandung. Mengandung anak mu. ‘’ Ucapku padanya,dengan air mata mulai menetes diujung mata


‘’ Kau bisa gugurkan kandunganmu itu Sri, Aku akan segera pergi dari desa ini. Dan kau lupakan saya, kau lebih baik terima pemuda lain. ‘’


‘’ Kau jahat kang,jahat...’’


Jlepp...


kurasakan belati menancap diperutku. Dadaku sesak, kurasakan saraf- sarafku telah lepas satu persatu, aku memegangi perutku menggunakan tanganku. Dan kulihat darah segar bergelepotan ditangan. Darah mengalir bercurcuran dari perutku.


aku tertancap belati tajam, kurasakan nyawa ini hampir melayang diudara. Napasku tersendat ditenggorokan, aku seperti mau mati.


Perih,pedih,sedih,sakit... apakah aku mau mati? Ya sepertinya aku akan mati.


Aku merasakan kepedihan yang amat dalam.


Apakah Sri Rahayu ingin menunjukan tentang kepedihanya? Tentang kematianya? Dan benar Sri Rahayu ingin menunjukan, bahwa Papaku lah yang membunuhnya.


Lalu aku seperti berada dalam tubuh tubuhku lagi.


Aaaaakh.... sakit sekali, sakit...


Lalu semuanya gelap. Katup mataku perlahan menutup, aku sudah mati.


***


Roni terbangun karena sentuhan tangan dingin membelai wajahnya. Wajah yang terlihat lelah itu bergerak gerak, menepis tangan itu. Ia masih enggan untuk bangun.


Lima menit kemudian, tangan jail itu menyusuri kaki Roni. Ia menepis lagi menggunakan tanganya. sedangkan matanya masih terpejam.


‘’ Baiklah, aku akan bangun kali ini. ‘’ Roni berbicara sendiri

__ADS_1


Perlahan Roni membuka mata. Menghela napas, lalu terdiam memandang langit- langit rumah. Ia belum beranjak dari tidurnya.


Kepalanya mengangkat, lalu kedua telapak tanganya dijadikan sebagai bantal, ia menutup matanya kembali, setelah itu membukanya lagi.


Ia masih memikirkan ucapan Bapak nya Sri Rahayu. Tampaknya ia belum melupakan kejadian semalam. Ia mendengus pelan, ia mencoba mengingat ngingat apa yang diucapkan arwah Bapaknya Sri Rahayu.


Kata-kata terakhir dirasa sangat mengganjal baginya. Ia mencoba mengingat ingat, tak lama kemudian, ia sudah ingat, apa maksud perkataan terakhirnya.


Malam itu adalah hari kematian Sri Rahayu. Ia akan membalas dendam kepada keturunan Adi Kusuma, Roni mulai mengingat kata kata yang diucapkan Bapaknya Sri Rahayu tadi mala.


Ratih...


Ratih...


Ia segera bangkit dari tidurnya, buru- buru menerjang kelambu dan menerobos masuk ke kamar.


Ratih...


Matanya mendelik ke arah amben, Ratih sudah tidak ada dikamarnya. Ia langsung menuju dapur, didapatinya Pak Surip sedang membuat kopi.


‘’ Pak, Ratih menghilang. Ratih hilang’’ suaranya serak,bibirnya pun bergetar


Pak Surip tersentak kaget. Hampir saja, air panas mengenai kaki beliau.


‘’ Maa maksudnya bagaimana nak Roni? Mbak Ratih hilang? ‘’ Pak Surip bertanya


‘’ Iya pak, Ratih sudah tidak ada dikamarnya ‘’ Roni menjelaskan


Rencananya, mereka akan mencari Anggi dan Vito pagi ini. Namun belum sempat mencari Anggi dan Vito, kini harus ditambah Ratih dalam daftar pencarian, nampaknya mereka akan sekaligus mencari Anggi dan Vito.


Hari ini, sebenarnya Pak Surip akan ngambeng dikawasan ngelarangan. Namun karena kondisi sangat genting, membuat beliau harus membantu Roni mencari teman temanya. Sementara itu, Bu Turah tampak kebingungan. Suaminya mondar mandir tak karuan, Bu Turah kaget mendengar kejadian tadi malam. Bu Turah hanya memandangi mereka, tanpa ekspresi.


Roni dengan wajah yang masih lesu, rambut yang acak acakan, keluar rumah dibarengi dengan Pak Surip untuk mulai mencari Ratih,Anggi dan Vito.


Roni langsung terfikir kawasan ngelarangan, dengan cepat dan sergap mereka berjalan setengah berlari menuju ngelarangan. Sebenarnya Roni ingin berlari, tapi ia tak tega dengan Pak Surip yang tampak kelelahan, napasnya terengah engah padahal baru berjalan sebentar.


Membuat Roni memperlambat jalanya dan menunggu Pak Surip dibelakang. Sambil berjalan Roni memikirkan plan B, jika mereka tak ditemukan di ngelarangan.

__ADS_1


__ADS_2