RONGGENG

RONGGENG
Akar Mimang


__ADS_3

‘’ Ron,itu mereka. ‘’ ucapku pada Roni.


‘’ Anggi… Vit… ‘’ teriak kami berdua pada saat bersamaan.


Aku dan Roni akhirnya menemukan Anggi dan Vito yang sedang duduk-duduk diatas rumput. Kami langsung berlari menuju ke arahnya.


kami kembali berpelukan. Kami semua sangat lega. Aku dan Roni ikut mereka duduk diatas rumput untuk menghilangkam rasa lelah, karena telah berlari untuk keluar dari kabut tebal itu.


Anggi dan Vito kemudian menceritakan kenapa mereka sampai berpisah. Penjelasan mereka membuatku dan Roni kembali ternganga dan membantah semua itu.


Mereka mengatakan kalau melihatku dan Roni terjatuh, dan mereka buru-buru menolongnya. Namun ketika mereka hendak menolongnya, aku dan Roni katanya menghilang. seperti tidak ada seseorang yang duduk disitu.


Membuat mereka bingung, lalu kembali mencari jalan setapak, namun tak menemukanku dan Roni. Hingga mereka berhasil keluar dari kabut tebal itu.


Anggi juga menceritakan kepada kami, kalau dirinya dan Vito menemukan sesaji dibawah pohon pinus ini. Mereka menebak, kalau desa Silurah tak jauh lagi dari sini.


Tanpa berlama lama lagi, kami langsung beranjak dan melanjutkan perjalanan.


Hutan yang sepi, tidak ada sesorang pun yang berada di hutan tersebut. Kecuali kami berempat, ditemani Kicauan burung yang hanya terdengar sekali dua kali. Suara angin yang mendesir membunyikan suara-suaranya. sedikit membuat suasana setidaknya tidak terlalu sepi.


Jalanan setapak masih saja jauh, seperti tak ada ujungnya. Hingga kami semua tak menyadari kalau kami kembali ke tempat yang sebelumnya kami duduk-duduk melepaskan penat.


‘’eh bentar, perasaan kita kembali lagi ke tempat ini lagi deh, tuh lihat tempat ini sama kaya yang tadi. Tadi kita duduk-duduk disini kan? Terus sesaji itu, sama persis kaya yang tadi ‘’ Ucap Anggi heran.


Keanehan selalu meneror kami Tanpa henti-hentinya. mulai dari malam yang begitu cepat, kabut putih yang tiba-tiba mengepung hutan ini dan sesuatu yang menggerikan terjadi didalamnya.


Dan kini,lagi-lagi kami semua dibuat kebingungan yang tak ada ujungnya. Jalanan seperti hanya berputar-putar. Kami ingat dengan benar, jika kami mendapati jalan yang sama dan tempat yang sama pula.

__ADS_1


Kami mencoba mencari solusi. Dan kami sepakat untuk berjalan lagi, terik panas matahari yang menyengat kulit, membuat kami semua kebasahan oleh keringat yang bercucuran.


Dan kami semua terbelalak kaget. Ketika mendapati tempat semula. Rasa kesal,bingung bercampur aduk menjadi satu.


Sudah tiga kali sepertinya kami berjalan di jalan yang sama. Kembali ke tempat awal, yang ditandai dengan sesaji dibawah pohon pinus.


‘’ hiks…gue nggak tahan dengan semua ini, gue pingin pulang. gue nggak mau mati disini. ‘’ isak Anggi pasrah diri.


Anggi tampak menundukan kepala dan menangis.


‘’ ini semua gara-gara lo Rat, coba kalo lo nggak gegabah ngotot buat pergi kesini, pasti semuanya nggak akan kaya gini.’’ Tangisan Anggi semakin menjadi-jadi.


Tiba-tiba aku bagaikan mendapat palu menghantam kepalaku. Anggi menyalahkan diriku. Aku terdiam dan tak berani berbicara apa-apa. Namun aku memberanikan diri untuk bicara. Aku sendiripun tak tau, kalau akan menjadi seperti ini.


‘’ gue juga nggak tau, kalau semuanya bakalan jadi seperti ini. Om gue yang nyuruh buat kesini dan Kakeknya Roni juga menyuruh buat dateng kesini, demi kesembuhan gue. gue juga uda capek menghadapi ini semua, persetan dengan mahluk-mahluk dan dunia gaib. Coba lo jadi gue, coba bayangkan nggi. ‘’ jawabku dengan nada sedikit keras


‘’ Tapi kenapa lo ajak gue… lo ajak Vito lo ajak Roni. Tadi itu apa hah? Tadi itu hantu kan? Iya kan Ron. ‘’ bentak Anggi sambil memandang Roni


Kulihat Roni diam seribu bahasa. Dan membalasnya dengan singkat.


‘’ Terus kita ngalamin kejadian yang nggak wajar, kita tiba- tiba udah ada di hutan dan sekarang, kenapa kita nggak sampai-sampai juga, kita balik ketempat ini lagi. Ini udah nggak wajar. ‘’ bentak Anggi lebih kencang. Seraya menangis tersendu sendu


Aku tidak tahu kenapa Anggi bisa berucap sekejam itu padaku. Baru pertama kali ini, semenjak berteman. Aku dan Anggi tidak pernah saling menyalahkan sebelumnya. Paling-paling kesal sedikit, namun tak seperti ini. Baru kali ini.


‘’ Karna lo ,satu satunya sahabat gue. Lo sahabat gue dari SMA. Nggi gue bener bener nggak tau, kenapa lo bisa ngomong kaya gitu ‘’ jawabku terbata bata


Aku tak dapat membendung air mata. Tiba-tiba memberontak ingin keluar dan aku tak melanjutkan kata-kataku. Aku diam tertunduk, mengalihkan pandangan darinya.

__ADS_1


Roni dan Vito mengernyitkan kening. Mereka berdua yang dari tadi diam, kini mencoba menengahiku dan Anggi.


‘’Kalian apa apan sih. malah berantem. Lo juga nggi, lo nggak peduli sama perasaannya Ratih. Ratih juga nggak bakalan tau, kalau akhirnya jadi seperti ini. Kita semua juga ngalamin itu,kita disini sama-sama bingung. Lo nggak seharusnya bilang kaya gitu. Ratih itu sahabat kita sejak SMA. ‘’ Ujar Vito mengingatkan


‘’Kok, lo jadi belain Ratih sih’’ jawab Anggi membentak


‘’Udah, cukup.. ‘’ teriaku pada Anggi dan Vito.


‘’gue emang yang salah, gue yang maksa kalian buat ikut. Gue nggak seharusnya bawa kalian ke dalam masalah gue, Sekarang kalian boleh pulang, gue mau pergi ke desa itu sendiri. ‘’


‘’ Rat, diluar sana lebih bahaya. Lo jangan nekad gitu. ‘’cegah Roni padaku.


Aku merasa bersalah kepada mereka. Aku membawa mereka ikut campur ke dalam masalahku. Biar masalahku aku hadapai sendiri. Aku bertekad untuk pergi mencari desa Silurah seorang diri. Aku berdiri dan mengambil tas dan melangkah pergi meninggalkan mereka.


Namun Roni mencegahku untuk tidak bertindak gegabah. Bahwa diluar sana, lebih berbahaya apalagi kalau menghadapi seorang diri dan menyuruhku untuk mendinginkan hati dan pikiran, berbaikan dengan Anggi.


Aku memberhentikan langkah. Kulihat Anggi dan Vito masih duduk ditanah.


‘’ eh, ada bapak- bapak disana. Kalian tunggu sini, gue mau kesana. Siapa tau bapak-bapak itu bisa membantu ‘’ ucap Roni pada kami.


Mata kami saling berpandangan dan mencari sosok bapak- bapak yang dimaksud Roni. Dan benar, mataku melihat bapak-bapak sedang mencari kayu bakar.


Roni langsung menghampiri Bapak itu. Kulihat dia sedang bercakap-cakap denganya. Aku berharap kabar baik datang darinya. Dan kulihat dia tersenyum, ketika kembali menghampiri kami.


‘’ Apa kata Bapak itu,Ron’’ tanya Vito


‘’ Rat,Nggi,Vit kebetulan Bapak itu warga desa Silurah. Biar kita nggak tersesat kaya kemarin. kita harus mengikuti Bapak itu, dan bapak itu bersedia.’’ Kata Roni

__ADS_1


Aku langsung lega mendengar kabar dari Roni. Semoga saja, Anggi sudah tak marah lagi denganku.


__ADS_2