
Angin malam, kurasakan bersentuhan langsung dengan kulitku. Rintik-rintik air berjatuhan mengenai tubuhku. Apakah atap rumahnya Pak Surip bocor? Pikirku.
Aku juga mendengar suara angin menggerakan dedaunan, hingga dedaunan mengeluarkan suara mendesir cukup jelas. Walaupun dikamar terasa dingin, tapi tidak dengan sekarang ini. Aku seperti tidur dialam terbuka.
Kenapa, tubuh ini terasa terbaring diatas gundukan tanah. pikirku membuat tubuhku terasa sakit.
Tanganku meraba raba tubuh, tak kudapati sarung yang menyelimuti tubuhku. Disisiku, bukan amben lagi yang kuraba. tapi tanah, tanah? Aku kaget, yang kuraba beneran tanah.
Kurasakan dingin sekali, Tiba -tiba kakiku seperti ada yang menarik. Tubuhku tersendat. Tanpa lama- lama lagi, aku segera membuka mata. Katup mataku terbuka dengan cepat, secepat kilat menyambar. Mataku mendelik, Rumpunan pohon bambu? Aku melirik sedikit, aku sedang tidak terbaring amben, aku sedang tidak dikamar! aku tidur diatas tanah, aku ada dihutan.
Aku segera mengangkat tubuhku saat itu juga. Kenapa aku bisa ada dihutan, dirumpunan pohon bambu. Aku ada diatas gunung Raga Kusuma, aku.. aku ada di atas kawasan ngelarangan. Ucapku tak percaya
Dan aku ingat tempat ini. Tempat ini ada dimimpiku, saat aku bertemu dengan Ronggeng Sri Rahayu.
Apa aku sedang bermimpi? Ya Tuhan, apa yang selanjutnya terjadi, ditempat yang sangat menakutkan ini. Iya mungkin saja, aku sedang bermimpi. aku merasa tenang sesaat lamanya, karena aku mungkin bermimpi.
Aku seperti menantikan sesuatu yang akan terjadi dengan mimpiku. Hingga sepertinya, aku telah menunggu lama namun tak terjadi apa-apa. membuatku penasaran. Apa ini sebenarnya bukan mimpi?
Tempat ini, sungguh nyata dan kenapa aku merasakan kedinginan yang sangat nyata dikulitku. Hingga aku mendekapkan tangan.
Aku berfikir, untuk bisa mengetahui ini mimpi atau bukan adalah dengan mencubit tanganku kuat- kuat. Aku langsung mencubit tanganku saat itu juga dengan keras. dalam hati aku berdoa, semoga ini mimpi.
Arkhhh.... sakit, sangat sakit. hingga terlihat merah, jika ada lampu yang menyinarinya.
Apa? Ini bukan mimpi. Aku tidak sedang bermimpi, kuulangi kata kataku sebanyak mungkin yang aku bisa. Aku sedang tidak bermimpi? Aku tidak bermimpi, sungguh? Hingga sampai kapan aku berhenti mengulang ngulang, bahwa memang aku benar-benar tidak sedang bermimpi. Aku terus bertanya pada diri sendiri dan terjawablah sudah.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, bagaimana aku bisa sampai sini. Hah Bentaku pada diri sendiri.
Perasaan aku tidur dikamar nya Pak Surip tadi, tapi kenapa saat aku bangun, aku sudah ada sini lirihku
__ADS_1
Aku pikir sesuatu seperti ini hanya akan terjadi pada acara TV atau film horor. Namun aku sendiri mengalami, apakah aku tidur sambil berjalan. Bagaimana mungkin, aku bisa berjalan dan sampai sini.
Aku seorang diri ditempat ini, Kurasakan dadaku semakin sesak, tenggorokanku kering. air mata mengalir dari ujung mata, aku tidak peduli. Aku bingung, kemana aku harus kabur dari semua ini. Aku seperti tak mempunyai tempat untuk kabur lagi.
Aku duduk disebuah undukan tanah, yang dibawahnya terdapat banyak sekali pohon bambu. Kali ini, aku sudah tak peduli, bagaimana aku bisa ditempat ini, padahal sebelumnya aku tidur dikamarnya Pak surip, kenapa sekarang pindah kesini. Aku sudah tak memikirkan itu atau berfikir bagaimana caranya aku bisa berada ditempat ini.
Yang hanya bisa kulakukan hanyalah menangis. Menangis tersendu-sendu.
Tubuh,tangan,kaki,bahkan bibirku pun ikut bergetar. Dadaku sangat sesak dan keringat dingin saat itu, juga langsung mengaliri wajahku.
Gong...
Gong...
Gong...
Aku menyeka wajah, dari mana suara gong berasal, siapa yang menabuh gong malam-malam begini.
Wajahnya seperti dipenuhi amarah yang menggebu gebu. mereka mengenakan kain, yang hanya menutupi sampai dadanya, seperti gadis pada jaman dulu.
Harus kah aku menyapa mereka dan meminta tolong? Pikirku Belum sempat aku melakukanya, gadis desa itu seketika ada dihadapanku. menarik tanganku dan menyeretku bagaikan menyeret seorang pembantu, seorang budak.
Mereka seperti seseorang yang dikendalikan oleh atasan, mereka seperti sudah diatur hanya akan melakukan tugas, untuk berbuat sesuatu padaku.
kakiku terkena batu,kayu,benda tajam yang membuat luka,kursakan sangat perih. kurasakan punggungku terkena hantaman batu, kayu.
Air mata sedari tadi telah membasahi bola mataku.
Kulihat bangunan menyerupai candi. Bangunan itu sangat mirip dengan yang ada dimimpiku. Aku pikir, ini adalah tempat yang sama. Dan sekarang, aku benar-benar berada ditempat itu.
__ADS_1
Lalu Aku dibawa masuk ke dalam bangunan itu, aku langsung ditidurkan di amben yang terbuat dari bambu, sama seperti amben dirumahnya Pak Surip. Dengan sangat kejamnya, aku seperti dilempar seperti barang yang tak berguna.
Aku tidak tau, apakah gadis itu manusia atau bukan. Yang jelas, bukan seperti manusia. Tatapanya kosong, seakan mendapat perintah untuk melakukan ini semua padaku.
Lalu datang lagi, rombongan gadis desa dengan pakaian yang sama, menenteng ember yang berisi air. Sekitar ada 4 gadis desa, ada yang membawa gayung yang terbuat dari batok kelapa. Ada pula yang membawa bungkusan dari daun pisang, yang didalamnya entah apa isinya.
Sekarang, sudah ada 8 gadis desa yang sangat menakutkan. Setiap tatapanya membangkitkan suasana merinding.
Aaaaaaaaaaa, huhuhuhu tangisku pecah menembus dini hari.
Bola mata gadis- gadis itu berubah menjadi hitam semua. Bahkan seperti gosong, seperti tak memiliki bola mata.
Gadis desa itu mendekat ke arahku. lalu gadis- gadis desa itu melepas bajuku dan menelanjangiku. Mereka semua melempar bajuku, kesembarang tempat. dan aku dipakaikan oleh kain seperti gadis desa yang dipakainya.
kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku, seraya menitikan air mata. Aku memejamkan mata, sambil sesegukan. Yang hanya bisa ku lakukan adalah meratapi keadaanku sekarang.
Seluruh tenagaku sepertinya telah hilang, hanya resah didalam hati.
Byurr...
Byurr...
Kemudian aku disirami oleh air yang sangat dingin, ya ini bukan mimpi aku bisa merasakan dinginya air itu menembus kulitku. Menembus tulangku dan air ini pun nyata.
Kembang- kembang telah memenuhi tubuhku, dibarengi dengan air yang mengalir ke tubuhku menggunakan gayung batok. Bunga melati dan bunga mawar memenuhi tubuhku, aku dimandikan dengan air kembang.
Air mataku sekarang sudah tidak terlihat lagi, sembabku sudah tidak nampak, Peluhku bercampur dengan air itu. Gadis-gadis desa memandikanku dengan tatapan kosong. Kurasakan tangan,kaki, tubuhku menggigil hebat.
Setelah itu, kulihat Gadis- gadis desa disampingku mengambil sebuah bambu kecil, yang telah ditajamkan. Ujung bambu itu sangat tipis dan tajam.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukanya padaku.