
Hingga langkahnya terhenti saat gadis itu berhenti disebuah jurang yang tidak terlalu dalam. Roni menerangi tubuh manusia yang tampak tergeletak disemak-semak menggunakan senter. Tubuhnya sudah hampir membusuk dan bau busuk tercium. Membuat Roni menutup hidungnya. Itu adalah mayat dari sosok gadis yang duduk disebelahnya ikut memandanginya.
Ternyata gadis itu telah meninggal selama satu bulan. Dan jasadnya masih tergeletak disini. Dan gadis itu sekarang menjadi arwah penasaran.
Ketika Roni menanyakan kenapa sebabnya dia meninggal. Dia merubah ekspresi wajahnya. Menjadi lebih tak bersahabat.
Lalu hilang entah kemana. Roni mencoba mencari cari sosok tersebut. hingga sebuah tangan dingin, memegang lenganya Dan gadis itu telah berada disampingnya lagi.
Lalu membisikan kata-kata yang dapat menyeringkan telinga. Gadis itu berkata bahwa hutan ini bukan tempat untuk mereka. Ia menyuruh Roni untuk segera keluar dari hutan ini.
Lalu bisikan itu hilang seketika diikuti oleh sosok gadis tersebut. Roni langsung berlari terbirit-birit menuju arah tendanya. Lalu ia masuk kedalam tenda dan tidur bersebelahan dengan Vito
***
Semua panca inderaku telah normal seperti sedia kala. Telah siap untuk bekerja kembali. Mendengar,melihat,merasakan sesuatu yang akan terjadi. Mampukah aku menghadapi ini semua.
Satu malam telah kulalui, dimalam yang penuh misteri, namun menyimpan begitu banyak chemistri.
Aku melihat semburat cahaya dari luar. Tak seperti biasa, aku bangun tidur dalam keadaan seperti ini. Biasanya adalah ruangan kamarku. Seperti apa kamarku sekarang ini?
Terakhir kali ku lihat waktu aku sedang sakit, waktu itu adalah terakhir kalinya melihat Mama, Bi Marni . sampai aku ada ditempat yang sangat asing saat ini. Didalam hutan, yang tak pernah terlintas sedikitpun dibenaku.
Disampingku, Anggi masih terlelap. aku membangunkanya dan Anggi segera mengangkat tubuhnya.
Aku melangkah keluar dari tenda. Ternyata Roni dan Vito masih mendengkur. Anggi membangunkan mereka. Sementara diriku, keluar lebih dulu, untuk menikmati suasana pagi, yang masih terasa dingin.
Udara diluar tenda langsung menyerangku. Kabut tipis-tipis tampak menyelimuti hutan ini. Aku tak menyadari jaketnya Roni masih menempel ditubuhku. Aku semalam tidur dengan jaketnya. Kulepaskan jaketnya, lalu kutaruh ditenda.
Aku tak mau Anggi ataupun Vito berfikiran yang tidak-tidak. Kulihat mereka segera keluar. Mereka masih saja menguap, sambil mendekapkan tanganya. Udara pagi dihutan ini masih sangat dingin.
‘’ gaes… mie instanya tinggal 3 doang nih‘’ ujar Anggi.
‘’Yaudah, kita sarapan pakai mie buat ber 4. Trus lanjutin perjalanan, pas kita sampai didesa Silurah, kita bisa minta bantuan warga.’’ Ucap Roni sambil menyiapkan kompor kecil
Kami segera menyalakan kompor. Dan merebus mie instan. Dalam beberapa menit, mie telah matang. Kami segera menyantap mie itu dengan sangat lahap. Sebenarnya rasa lapar masih kita rasakan setelah itu. Tapi mie instan yang kami bawa telah habis.
Untungnya masih ada beberapa roti dan susu. Beberapa snack, yang bisa digunakan untuk sarapan. Setelah perut kami semua terisi. Kami segera membongkar tenda. Lalu melipatnya. Semua barang-barang telah masuk ke dalam tas. Kami melanjutkan perjalanan.
Menapakai jalanan setapak seperti kemarin. Yang sepertinya sudah hampir setengah jam namun belum sampai-sampai juga.
Tiba-tiba kabut putih menyergap. Kabut datang dari arah timur, membuat kami tidak melihat dengan jelas. Kawasan hutan itu, kini dipenuhi oleh kabut yang sangat tebal.
__ADS_1
‘’ jangan sampai kita menyebar. Tetap bergandengan tangan oke.’’ Teriak Roni memandu didepan.
Vito yang sedang merekam perjalanan. Segera menyimpan kameranya dan mendekat kearah kami.
Anggi menggandengku dengan sangat erat. Kami merasa ketakutan. Kabut semakin tebal, memenuhi hutan tersebut. yang bisa kami lihat adalah bayang-bayang pohon pinus yang tak begitu jelas.
Aku merasa tanganku kosong, yang sebelumnya tangan Anggi menggengamku. Namun sekarang tanganya sudah tidak ada digenggamanku. Aku menoleh kebelakang dan sontak membuatku kaget bukan main Anggi dan Vito sudah tidak ada dibelakangku.
‘’ Nggi… lo dimana! ‘’ Vit… ‘’ teriaku pada mereka.
‘’ kenapa Rat?’’ tanya Roni.
‘’ Ron… Anggi sama Vito hilang’’
‘’ hah hilang. Kok bisa?
‘’ Iya. Tadi mereka ada dibelakangku padahal, tapi sekarang udah nggak ada. ‘’ jawabku cemas
‘’Yaudah kita kembali ke jalan yang tadi, siapa tau mereka tertinggal. ‘’
Aku memegang lengan Roni erat-erat. Aku berjalan membuntuti Roni.
tak ada jawaban dari mereka. Kami tak bisa melihat sekeliling, hanya terlihat samar-samar pohon pinus.
‘’ gimana ini Ron, mereka nggak ada. ‘’
‘’Kita lurus kedepan aja, Siapa tau, mereka udah ada didepan ‘’
Aku mengangguk dan kami terus berjalan berusaha keluar dari kabut tersebut. Aku tetap memegang lenganya Roni.
dari belakang, terdengar seseorang seperti memanggil namaku.
‘’ Ratih… tolong… ‘’
Itu Anggi lirihku. Aku segera mencari arah suara tersebut,hingga mataku menangkap sosok perempuan terjatuh ditanah. Namun aku tidak terlalu melihatnya dengan jelas.
Kini tanganku sudah tak memegang lenganya Roni. Aku segera menghampiri Anggi, Ya itu adalah Anggi. gumamku
‘’ Rat, kamu mau kemana? ‘’ teriak Roni
‘’Aku mau nolongin Anggi, dia terjatuh Ron ‘’ sahutku padanya
__ADS_1
‘’Rat… itu bukan Anggi. ‘’ sahutnya sambil menghampiriku
‘’Hah… maksudnya, dia Anggi, dia terjatuh. ‘’ jawabku
Roni bergegas mengahampiriku dan menarik tanganku. kamipun lari meninggalkan tempat itu. Aku tak sempat lagi melihat ke arah perempuan itu . Aku bertanya-tanya sepanjang lari, namun Roni tidak memperdulikanya
Akhirnya kami berhasil keluar dari kabut tebal itu. Kami sangat kelelahan, napas kami sangat terengah engah. hingga Kami langsung menjatuhkan tubuh ditanah.
***
‘’Roni sama Ratih dimana Vit. ‘’Lirih Anggi gemetaran.
‘’Gue juga nggak tau, tadi mereka ada didepan kita padahal. ‘’ jawabnya dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.
‘’Gue haus banget Vit. Lo masih ada air nggak?’’
‘’Gue juga habis nggi, lo tunggu sini sebentar. biar gue cari air. ‘’
‘’Enggah ah gue takut. Gue ikut’’
Anggi terpaksa ikut Vito mencari air. Mata mereka tiba- tiba tertuju pada sesaji dibawah pohon pinus.
Sesaji itu berisi buah pisang, telur ayam rebus, kelapa muda, bunga mawar dan bunga melawati, wedang kopi dan kendi yang berisi air. Diletakan diatas sebuah wadah yang dilapisi menggunakan daun pisang.
Dan disampingnya ada dupa yang dibakar. Dibawah pohon pinus, ada bawang merah dan cabai merah yang ditusuk menggunakan bambu kecil.
Karena mereka sangat kehausan. Mereka mendekati sesaji itu. Vito langsung mengambil Kendi itu dan meminumnya.
‘’ gilak lo. Itu sesaji Vit, Bukan untuk manusia.’’ Ucap Anggi mengingatkan
‘’Gue haus banget, terpaksa. ‘’ jawabnya sambil meminum air dari kendi
‘’Nih, lo mau nggak? ‘’ Ucap Vito menyodorkan kendi
Karena dahaga Anggi yang juga kering. Akhirnya Anggi pun menengguk air dari dalam kendi itu. Rasa haus sedikit terobati.
Ratih dan Vito secara bersamaan menjatuhkan tubuhnya dibawah rerumputan. Menyeka keringat yang tampak basah, karena berlari.
‘’Eh Vit. disini kan ada Sesaji. Berarti ada orang yang membawanya kesini dong, Desa silurah pasti nggak jauh dari sini. ‘’ Ujarnya
‘’Iya bener. Kita tunggu Roni sama Ratih aja disini. mereka juga pasti cari kita, kalau kita juga ikut nyari mereka, nanti malah nggak ketemu ‘‘ timpal Vito
__ADS_1