RONGGENG

RONGGENG
Mereka Belum Ditemukan


__ADS_3

Saat aku tiba dirumah Pak Surip kudapati rumah begitu sepi. Ruangan tampak gelap sekali lampu sentir diruang tamu telah padam, sedangkan diruang tengah masih menyala namun nyalanya tak begitu terang.


Aku memanggil manggil Pak Surip dan Bu Turah istirnya, namun tak ada sahutan sama sekali. Kucoba keraskan suara ketika didepan pintu kamar mereka. Namun tak ada sahutan juga.


Aku sebenarnya tak berani membuka pintu kamarnya mereka. Namun kondisi sangat darurat, dengan amat hati hati aku membuka pintu kamar mereka


Ternyata pintunya tak dikunci dan membuatku terasa lega. Kumasukan kepalaku ke dalam kamar, tidak ada seorang pun dikamar. Mereka tak ada dikamarnya.


Aku kebingungan yang tak kunjung ada habisnya. Lalu kulangkahkan kakiku ke dapur, dapur gelap tak ada penerangan. Aku kembali keruang tengah lalu duduk diamben. Sekujur tubuhku bergetar hingga membuat amben ikut bergetar. Berkali kali aku menggulung mulutku.


Lalu kudengar angin datang berembus. Hingga masuk melalui celah celah pagar rumah. Lampu sentir tertiup tiup angin hingga mau padam. Aku cemas, berharap lampu sentir tak padam. Aku segera mengurungnya menggunakan kedua tanganku, agar tak terterpa angin.


Tak lama kemudian, petir menyambar nyambar terdengar dari dalam rumahnya Pak Surip.


Blarr....


Blarrr....


Suara petir masih saja menyambar nyambar, keras.


Apakah mau turun hujan? Pikirnya


Kilat masuk kedalam rumah, aku yang masih menjaga lampu sentir agar tak padam Dikejutkan dengan penampakan wujud seseorang perempuan dibalik kegelapan.


Sosok itu terlihat jika kilat masuk kedalam rumah, namun ketika kilat tidak ada, penampakan seseorang itu tak terlihat lagi. Membuatku menelan lidah, kalau- kalau sosok perempuan itu masih berada dikegelapan.


Dan benar, hujan mengguyur lagi disertai angin yang berhembus dengan kencang. Disertai dengan petir, yang menyambar nyambar tak henti hentinya.


Aku menyandarkan tubuh dipagar, yang terasa hampir reyot itu.

__ADS_1


masalah satu belum selesai, timbul masalah lagi dan lagi. Semuanya tak ada ujungnya.


Petir terus menggelegar,hujan mengguyur dengan deras, hingga air menetes dari atap. Sepertinya atap bocor. Karena atap rumahnya Pak Surip terbuat dari anyaman daun.


Aku terus memikirkan Roni,Vito dan Anggi. Terus Pak Surip dan Bu Turah mereka juga ada dimana?


Aku berada didalam kesendirian dirumah ini. Aku mendekap dalam kesendirian.


Suara-suara seperti memanggil namaku, namun tak terdengar jelas karena suara derasnya hujan. suara suara orang tertawa, suara suara bernyanyi. Lalu kurasakan ada seseorang yang berjalan disekitar rumahnya Pak Surip.


‘’ Rat... kamu baik- baik saja kan? ‘’ Sahut Roni sambil menyibak kelambu,rambutnya basah oleh air hujan. Roni basah karena menerjang hujan


‘’ Roni... aku takut banget, Pak Surip sama Bu Turah tidak ada dirumah.’’ Isaku


Saat Roni duduk disampingku, aku kembali memeluk tubuh Roni. Didalam dekapanya, aku merasakan ketenangan dan degub jantungku kembali normal. Aku merasa Roni sangat berarti dalam hidupku, Roni seperti seorang kakak, seperti seorang sahabat.


‘’ Ron, Vito sama Anggi dimana? Lo kok nggak sama mereka? Tanyaku cemas,sambil melepas pelukanku


‘’ Ini semua salah aku Ron, seharusnya aku nggak ajak mereka kesini. Sekarang mereka kena imbas nya, aku tidak mau ini terjadi pada sahabat sahabatku ‘’


Kurasakan tangan Roni memegangi tanganku dan menatapku dalam dalam.


‘’ Hei... kamu nggak salah Rat. Kamu jangan salahin dirimu seperti ini, kita nggak tau kalau semuanya bakalan jadi seperti ini. Sekarang kita istirahat malam ini, pagi pagi kita cari Vito dan Anggi, dengan bantuan Pak Surip dan Warga. ‘’ ujarnya kini Roni menyeka air mataku


Hatiku sungguh kacau. Aku masih saja menyalahkan diriku, terhadap apa yang tengah dialami oleh sahabat sahabatku.


Aku menyeka hidung, lalu berkata pada Roni ‘’ Ron, bisa nggak kalau kita mencari Vito sama Anggi malam ini. Terus, kita pergi dari sini malam ini juga. rasanya aku sudah tidak tahan dengan semua ini ‘’


Roni menduduk lalu menjawab ‘’ Rat, kamu yakin mau pergi malam ini, lihat kondisimu, sangat lemas kaya gitu. Kamu perlu istirahat, kamu udah nangis seharian ini. Wajahmu juga uda pucat, mata kamu udah sayu. Kamu harus tidur. Biar aku sama Pak Surip yang mencoba cari Anggi sama Vito ‘’.

__ADS_1


Roni mentatih tubuhku masuk ke dalam kamar. dan kubiarkan tubuh ini bersentuhan dengan amben. Kurasakan tubuhku sudah sangat tak berdaya.


Aku sudah tak bisa memiliki tenaga untuk bangkit, mencari kedua sahabatku. pikiranku juga sudah tak jernih, kepalaku sangat sakit sekali.


Mataku terus mengalir air mata. Hingga menetes netes dibantal. Kurasakan mata Ini sungguh perih hingga katup mata naik turun. Selang beberapa saat, aku telah berkelana dengan mimpi mimpi. Semoga aku memimpikan hal yang indah indah saja.


Anggi,Vito kalian dimana?


***


Pak Surip dan Bu Turah akhirnya pulang, dengan menenteng sesuatu diplastik. Pak Surip berkata pada Roni bahwa dirinya habis rapat dengan RT dan RW didukuh sini, untuk membahas Nyadran besok, yang diadakan di kawasan ngelarangan.


Pak Surip menyadari Roni terlihat basah lalu beliau menanyakan teman temanya sudah pada tidur apa belum, karena dari tadi tidak mendapati mereka. Tak lupa ia menanyakan keadaan Vito dan berkata bahwa ia tidak bisa membawa Mbah Saan untuk mengobati Vito karena Mbah Saan sedang tidak berada dirumah. Jelas Pak Surip pada Roni panjang lebar.


Roni akhirnya menceritakan kejadian yang menimpa teman temanya. Pak Surip sangat kaget, mendengar penjelasan Roni. Dan rencananya Pak Surip akan membantu mencari besok pagi, bersama Roni Dan jika Vito dan Anggi belum juga ditemukan. Pak Surip akan meminta bantuan warga.


Perbincangan mereka akhirnya berakhir. Pak Surip dan Istirinya tampak kelelahan dan telah memasuki kamar dan bersiap untuk tidur. Begitu juga dengan Roni, ia memilih untuk tidur diruang tamu.


Belum sempat Ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Ia merasakan kehadiran mahluk halus, yang akan mencoba berbicara denganya. Mata Roni sebenarnya sudah minta dipejamkan dan telinganya sudah tak mau menerima suara-suara lagi.


Kreket...


Pintu ruang tamu yang terbuat dari kayu terbuka perlahan lahan. Hingga terbuka sangat lebar.


Wusss....


Seketika itu angin malam berembus masuk ke dalam rumah.


Membuat angin membuatnya kedinginan, dengan terpaksa Roni mengangkat tubuhnya dan segera menutup pintu tersebut. Namun terasa berat, mungkinkah dirinya yang sudah tak mampu karena tenaganya yang sangat lemas, atau Tapi sepertinya karena ada kekuatan gaib yang menahanya. Pikirnya Ia biarkan pintu itu terbuka, lalu melangkah keluar untuk mengecek.

__ADS_1


Sekelabat bayangan seseorang lewat disamping tubuhnya Roni. Dengan sigap mata Roni mencari bayangan yang lewat dengan cepat itu.


__ADS_2