RONGGENG

RONGGENG
Nama Ronggeng itu Sri Rahayu


__ADS_3

Akhirnya kami lega setelah Vito tertidur. Aku segera mengambil sarung untuk menyelimutinya. Kami tak menyadari bahwa malam telah tiba. Dari luar tampak gelap. Dan didalam pun terasa gelap.


Kemudian Bu Turah datang membawa sebuah wadah menyerupai gelas diatasnya menyala api kemerah merahan sedikit kuning. Wadah itu menyerupai gelas, namun ujungnya berbentuk kerucut. Api menyala berasal dari kapas yang dicelupkan didalam wadah itu. Didalamnya terdapat minyak tanah.


Orang-orang didesa silurah menyebutnya dengan lampu sentir.


‘’ oh, lestrek mati. Pantesan omahe ju Siem peteng ‘’ sahut Bu Turah dari ruang tamu. ( Oh lampu padam, pantas saja rumahnya Bu Siem gelap )


Listrik di desa Silurah ternyata padam. Namun keluarganya Bu Turah dan Pak Surip belum tercukupi. Belum mampu membeli lampu dan menyalur listrik.


Hanya orang-orang kaya didesa ini, yang dapat merasakan terangnya lampu. Sebagai alternatif penerangan, Bagi keluarga misikin, menggunakan lampu sentir.


Aku duduk bersama Bu Turah dengan ditemani lampu Sentir itu.


Bu Turah banyak bercerita tentang desa ini, kata Bu Turah, TV pun masih jarang yang punya. Lagi- lagi orang yang berduit, yang bisa beli TV. Dan biasanya banyak warga yang suka ngendong salah satunya ingin menonton TV.


Suara jangkrik menemani kami bercerita, Malam sangat sunyi didesa Silurah.


‘’ Ndok, Ibu tinggal ke Bu Zaenab dulu ya. ‘’ sambil melangkah keluar.


Aku segera masuk kamar,kudapati Anggi sudah terlelap,nampaknya Anggi sangat kelelahan. Dan Vito pun sama. Lalu kuingat Roni. Dimana kah dia sekarang? Dia tampaknya merasakan sesuatu buruk dan dia berburu-buru pergi entah kemana.


Aku sebenarnya sedikit merasa takut. Suasana begitu gelap, hanya ada lampu sentir menempel didinding. Cahaya yang kekuningan. Sesekali bergoyang-goyang diterpa oleh angin yang masuk kedalam rumah. Angin sangat mudah masuk kedalam rumah, karena dinding rumah Pak Surip tampak bolong-bolong.


Aku akan keruang tamu menunggu Roni pulang. Aku sendirian didalam rumah itu, aku yang masih terjaga. Aku merebahkan kepala diatas meja. Badan ini terasa pegal-pegal, Namun aku akan menunggu sampai Bu Turah dan Roni pulang. Aku berusaha untuk tidak tertidur lebih dulu, sebelum mereka pulang, namun kantup mata ini terasa sangat berat sekali, hingga akupun tertidur.


***


Aku sedang berada di hutan belantara. Hutan


itu dipenuhi oleh pohon pinus besar-besar. Aku sedang menapaki jalanan setapak yang menanjak keatas. Tempat itu sama persis dengan hutan yang sewaktu kami tersesat. Namun bedanya tanah itu tampak menanjak tinggi seperti bukit.


Kakiku melangkah dengan sendirinya menapaki jalanan yang bertingkat tingkat itu.


Telingaku kemudian mendengar suara gong ditabuh serta gamelan berbunyi. Aku seperti ditarik untuk melihat sesuatu yang tengah terjadi dihutan ini.


Aku melihat Ronggeng sedang menari dikegelapan dari kejauhan. Sekeliling kulihat rumpunan pohon bambu, tampak memenuhi area tersebut. Aku mungkin sedang berada di kawasan ngelarangan diatasnya.


Suara gamelan masih terdengar dengan jelas. Mengiringi Ronggeng yang tampak melenggak lenggokan tubuhnya.

__ADS_1


Lagi-lagi aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah Ronggeng tersebut. Karena melihatnya dari belakang, Ronggeng yang kulihat ini, sama dengan Ronggeng yang kulihat didalam mimpi, didalam Bus, sepertinya itu adalah Ronggeng yang sama.


Aku semakin dekat dengan Ronggeng itu. Kini antara aku dan Ronggeng itu hanya berjarak sekitar tiga langkah kaki.


‘’ Permisi Mbk, siapa namamu. Kenapa kau menari ditengah hutan sendirian?’’ tanyaku pada Ronggeng itu


Entah apa yang membuatku bertanya seperti itu. Aku mendadak bertanya kepada


Ronggeng itu menghentikan tarianya. Seketika itu, suara gamelan ditabuh pun tak terdengar lagi.


Suasana menjadi sunyi, sepertinya Ronggeng itu mendengar suaraku. Namun Dia tak kunjung menjawabnya.


Akupun mencoba mendekatinya. Rasa penasaran ini sungguh menyiksaku. Kali ini aku bisa melihatnya dengan jelas. Aku ingin melihat wajahnya. sekaligus aku ingin menanyakan siapa namanya.


Ronggeng itu telah ada dihadapanku. Jantungku berdegub dengan kencang, Jantungku terus memompa, ketika aku menjadi dekat dan semakin dekat dengannya.


Kakiku sudah melangkah hendak mengitari Ronggeng, kulihat leher dan sedikit pipi telah terlihat dengan jelas. Sedikit lagi aku akan melihat wajahnya.


Aku akan melihat wajahnya.


‘’ Nama saya Sri Rahayu. ‘’ sahut seseorang dari kejauhan


Ronggeng itu sangat cantik dengan dandannya yang membuat orang melihatnya terkagum kagum.


''Saya ingin... ''


belum sempat aku ingin bertanya kepadanya. Ronggeng itu menghilang dari pandanganku. Mata dan kepalaku bergerak mencari Ronggeng yang tiba- tiba menghilang.


Tanpa kusadari aku merasakan Ronggeng yang tadi masih ditempat. Aku menelan ludah, kurasakan keringat sebesar biji jagung berjatuhan dari wajahku.


'' Rat, kamu ngapain dihutan malam malam ini sendirian?'' Sahut Roni


Kulihat Roni berada dimana Ronggeng tadi berdiri. Aku tak menghiraukan suara Roni memanggilku.


Kali ini aku akan melihat wajah Ronggeng.


'' Aaaaaaaa......


''

__ADS_1


Aku berteriak sangat kencang. Hingga mungkin akan membangunkan semua mahluk yang ada disitu. Nafasku tersenggal-senggal, keringat sebesar biji jagung terus mengalir dari wajahku.


Aku melihat wajah Ronggeng itu terbakar gosong. Wajahnya sangat hitam.


'' Assalamualaikum...


''


Aku terperanjat kaget, lalu membuka mata, aku masih duduk diruang tamu dan ini adalah rumahnya Pak surip.


‘’ Mbk Ratih ketiduran ya, mending Mbak Ratih tidur dikamar aja. ‘’ suruh Pak Surip


Aku masih bengong, aku masih memikirkan mimpiku barusan


Sri Rahayu


Nama Ronggeng itu Sri Rahayu. gumamku


***


‘’ sampean, saudaranya Pak de Surip yaa? Saya kok baru tau, kalo Pak Surip ternyata punya saudara dikota. ‘’


Roni langsung menjelaskan kedatangan sebenarnya ke desa ini. Sampai ia menjelaskan bagaimana bisa bertemu dengan Pak Surip. Ia juga menjelaskan kalau dirinya dan teman-temanya mengalami hal yang sangat mengerikan didalam hutan.


Amir terbelalak kaget.


‘’ walah walah Mas, sampean sama teman teman sampean melewati hutan? Yang hutan diatas ngelarangan itu? Untung saja mas sampean bisa selamat. ‘’


Amir cemas


Roni pun ikut terbelalak mendengar ucapan Amir.


Amir menjelaskan panjang lebar. Bahwa hutan itu adalah hutan larangan. mereka tidak berniat untuk melewati Hutan tersebut, mereka seperti ditempatkan begitu saja dihutan itu.


Amir kemudian menjelaskan lagi kalau mereka ber empat menginjak uyut mimang (akar mimang ) ketika kita sudah menginjak akar mimang itu, maka kita akan berputar putar kembali ke tempat semula. Begitu seterusnya.


Menurut kepercayaan orang-orang desa Silurah, Jika ingin menemukan jalan keluar, harus meminum air kencingnya sendiri.


Tak terasa mereka berbincang bincang cukup lama dalam perjalanan. Kini mereka telah sampai dirumah Amir.

__ADS_1


__ADS_2