
Lalu Pak Surip datang dan duduk dikursi berhadapan dengan kami.
‘’maaf ya mbak mbak, mas mas tadi saya tinggal sebentar, saya habis mandi, gerah sekali. silahkan diminum tehnya, Sama itu dicicipi camilan desa, singkong rebus sama ketela rebus ‘’ Pak Surip mempersilahkan dengan bahasa jawa
Kami pun mengangguk dan tersenyum. Vito tampak gelisah sekali dan kulihat dia mengambil kamera dari dalam tasnya, lalu beranjak dari kursi dan meminta ijin keluar pada Pak Surip.
**
Vito mengitari rumah Pak Supri. Matanya mendelik, melihat gunung-gunung berjejeran apik dari kejauhan. Membuat ia mengangkat kameranya dan membidiknya berkali kali.
Entah apa yang ada dipikiranya. ia berjalan menuju kawasan ngelarangan kembali. Sambil bersiul santai dan sesekali berhenti, lalu membidik sesuatu yang ia anggap bagus.
Hingga ia sudah berada di kawasan ngelarangan lagi. Ia naik ke atas, dimana terdapat batu-batu yang akan digunakan untuk memasak daging kambing untuk acara besok. Dengan cepat, ia sudah mengabadikan batu-batu itu menggunakan kameranya.
Sesekali mengecek layar kamera untuk mengetahui hasilnya, tampak ia tersenyum senyum sendiri. Menandakan hasilnya memuaskan hati.
lalu pandanganya beralih ke pohon besar yang mirip dengan pohon beringin, pohon itu adalah pohon antab. Pohon yang tumbuh disekitar kawasan ngelarangan yang sudah sangat tua.
Ia terjun dari galengan, menuju ke arah pohon itu. dengan cepat, mencari angel yang tepat dan terus mengatur lensanya untuk mulai membidik.
Tanpa ia sadari, tiba-tiba dari arah kayu antap meluncur sebuah bambu runcing yang ujungnya benar-benar runcing sekali. Seperti halnya senjata tradisional yang digunakan pada zaman penjajahan.
Vito terbelalak melihat sebuah bambu runcing itu meluncur ke arah dirinya. dengan sangat cepat, bambu runcing itu menancap lensa kamera. Menembus ke layar kamera dan sedikit lagi, mata Vito hampir terkena tancapan bambu itu.
Untung saja, Vito segera menjauhkan pandanganya dari layar kamera. Jika matanya masih menempel pada layar, Mungkin bambu runcing itu akan mencancap matanya.
Bambu itu benar benar tajam, seperti habis diruncingkan menggunakan pisau. Hingga membuat apa saja yang dikenainya akan tembus.
Jika kamera saja bisa ditembus, lalu bagaimana dengan mata manusia? Tak bisa dibayangkan bagaimana jika itu terjadi padanya.
__ADS_1
Vito masih saja berdiri ditempat, tanganya gemetar sambil memegangi kamera yang sedang tertancap bambu itu. sekujur badanya menjadi ikut bergetar hebat. matanya tak sedikitpun berkedip.
lalu ia dengan tangan yang masih gemetaran, mencoba melepaskan bambu itu dari kameranya. Bambu itu tak kunjung lepas, ditarik tarik bambu itu. Namun usahanya sia-sia.
Jantungnya masih berdegub kencang, lagi-lagi ia harus dikagetkan dengan suara ayam yang terkeok keok. Suara ayam itu, seperti sedang diterkam oleh binatang buas atau bahkan sedang diterkam oleh mahluk yang ada di rumpunan pohon bambu tersebut. suara keokan ayam itu menelusup masuk, ke dalam pendengaran Vito.
Hingga membuatnya kembali gemetaran tak terkendali. Kameranya seketika itu terjatuh dari gengamanya.
Ia memandang ke arah kameranya sejenak. Lalu menelan ludah dalam dalam. perlahan mundur ke belakang dan memutar badanya, lalu berlari sekuat tenaga yang ia punya saat itu.
***
Aku membisikan sesuatu ke telinga Roni, agar menyampaikan tujuanku datang kesini dan bertanya mengenai Ronggeng kepada Pak Surip. Ronipun mengangguk dan kulihat ia mulai bercerita kepada Pak Surip.
Pak Surip mulai bercerita kemana mana. Sampai- sampai menceritakan seluk beluk desa Silurah.
Hingga aku disarankan pergi ke tempat Mbah Saan saja. Mbah Saan adalah paranormal didesa ini. Mbah Saan biasa mengobati orang sakit, apalagi jika sakitnya karena diganggu oleh mahluk halus, maka Mbah Saan lah orang yang tepat.
Kulihat Roni minta diri pergi ke belakang dan Pak Surip beranjak akan memberitahunya. Tak lama kemudian, beliau sudah duduk kembali.
‘’ Kenapa mendatangkan Ronggeng dari luar desa Pak?’’ Tanyaku pada Pak Surip
‘’ Karena di desa ini, tidak memiliki seorang penari Ronggeng lagi. Dulu, desa sini pernah mempunyai Ronggeng. Namun dia ditemukan meninggal secara tragis, di dalam gunung Raga kusuma. ‘’ Pak Surip menjelaskan
‘’ Itu terjadi pada tahun berapa ya Pak? ‘’ Tanyaku lagi
‘’ Kalau tidak salah tahun 1990 ‘’
‘’ Kalau boleh tau, Ronggeng itu dibunuh oleh siapa Pak?’’
__ADS_1
‘’ Beritanya sliweran mbak, lagian itu cerita sudah lama sekali. ‘’ jawabnya singkat
Sepertinya Pak Surip tidak mau membahas kejadian dulu lagi. Tampak ada sesuatu yang ditutup tutupi.
‘’ Pak, Apa benar Penari Ronggeng itu bisa menyembuhkan orang sakit?’’ Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan
‘’ Iya bisa mbk, kami percaya jika Ronggeng bisa menyembuhkan penyakit, menjauhkan dari marabahaya, dan memberikan kesalamatan. Biasanya Ibu Ibu akan membawa anaknya besok, meminta Ronggeng itu, untuk mengelus ngelus kepalanya. Biar anaknya selamet mbk. Besok Mbk Ratih bisa menonton tradisi itu, di kawasan ngelarangan.’’ Kata pak Surip
Dan kami harus menunggu besok, sampai Ronggeng datang kesini.
Anggi berbisik padaku, katanya akan keluar menyusul Roni, aku pun memberi tau untuk jangan jauh- jauh dari sini. Anggi menyetujuinya.
Tak lama setelah itu, Roni sudah kembali lagi dan duduk disampingku.
‘’ Apa kata Pak Surip Rat?’’ Bisik Roni pelan
‘’ Di desa ini ada paranormal namanya Mbah Saan, katanya bisa menyembuhkan orang yang biasa kerasukan mahluk halus. Trus kita harus nunggu sampai besok, soalnya Penari Ronggeng yang akan menari di ngelarangan datangnya besok ‘’ lirihku lebih dekat ke telinga Roni
Tiba tiba Pak surip bertanya mengenai rencana kami tidur dimana. Aku dan Roni saling berpandangan, Kami mengernyitkan kening.
memikirkan untuk tidur dimana malam ini. Sedangkan Om Rio tak kunjung kesini, kami pun kebingungan. Pak Surip yang melihat kami kebingungan, langsung menawarkan diri, untuk tidur dirumahnya saja malam ini.
‘’ Kebetulan anak saya, sedang merantau dikota dan kamar anak saya kosong, mbk Ratih sama mbk Anggi nanti bisa tidur dikamar itu. Sedangkan nak Roni, sama nak Vito bisa tidur menggelar tikar. Tidak apa-apa kan? Ujar Pak Supri.
‘’ Tidak apa apa pak, kami malah berterima kasih kepada Bapak. Kami yang meminta maaf, karena telah merepotkan‘’ jawab Roni.
Dari luar Anggi memanggilku. aku segera beranjak dari kursi lalu meninggalkan Roni dan Pak Surip yang tengah asik berbincang bincang.
Vito kemana sih Rat? Anggi bertanya
__ADS_1
‘’ Mungkin ke sana kali, nyari pemandangan yang bagus buat di foto. Atau nggak mungkin lagi jalan- jalan sekitar sini ‘’ kataku