
Nampan yang berisi teh hangat dan minuman jahe, jatuh seketika dan air menggenang diatas lantai. Namun segera menyerap kedalam, karena lantai rumah itu tanah.
Aku segera membereskan pecahan gelas yang berserakan. Pak Surip yang mungkin mendengar gelas terjatuh, langsung keluar kamar lalu membantuku membersihkan pecahan gelas.
Sembari memunguti pecahan kaca, aku meminta maaf kepada Pak Surip atas kejadian ini. Pak Surip mengatakan untuk tidak perlu mencemaskanya.
Lalu Pak Surip menyuruhku untuk membantu ke dalam saja. biar Pak Surip yang membuatkan teh dan jahe untuk Vito. Aku menuruti perkataan Pak Surip dan segera masuk ke dalam kamar. Aku melihat Vito masih mendekapkan tangan, tubuhnya masih menggigil hebat.
Roni mengecek dahi Vito dan ternyata panas.
‘’ Teh sama Jahenya mana Rat ‘’ Roni bertanya
‘’ Aku tadi terjatuh Ron, trus sekarang masih dibuatkan Pak Surip lagi‘’ jawabku.
Tak lama kemudian, Pak surip menyibak kelambu pintu kamar. Segelas teh dan jahe telah ada di nampan. Lalu dengan cepat, menyuruh Vito untuk meminumnya. Tanganya bergetar hebat saat menerima gelas dari Pak Surip. Roni dan Pak Surip membantu meminumkanya.
Vito beralih menatap kami satu persatu. ia tampak ketakutan melihat kami. Ia menggerakan tubuhnya ke pojok amben.
‘’ ampun jangan ganggu saya, saya minta maaf ‘’ ucapnya seraya terisak.
Kami semua dibuat heran, dengan apa yang tengah terjadi dengan Vito. Ia terus memohon ampun entah kepada siapa.
‘’Ron gimana ini. Vito kenapa?’’ Isak Anggi sambil memegang tanganku.
Roni mencoba mengajaknya bicara, Namun Vito malah seperti orang ketakutan. apalagi ketika Roni mencoba mendekat, ia malah menghindar seraya memohon ampun.
‘’Kalian menunggu disini, tetap jagain teman kalian, sambil disuruh minum wedang jahe sama wedang teh, saya mau menemui Mbah Saan. ‘’ tukas Pak Supri sembari keluar dari kamar.
Mata Roni memperhatikan sesuatu dibelakangku. Aku menoleh kebelakang tak ada apa-apa.
‘’Ron, ada apa?’’ Tanyaku cemas
‘’ Sebentar, kalian tungguin Vito. ‘’ jawabnya tanpa memandang kami, lalu keluar begitu saja
‘’ Ron... ada apa? Kamu mau kemana?’’ Teriaku, namun tak digubris olehnya
Aku dan Anggi langsung mendekati Vito. Namun Vito masih saja berkata seperti tadi. Kami berdua hanya kebingungan. Tak tau, apa yang harus kami dilakukan. Sementara Roni entah pergi kemana, Pak Supri pergi tengah memanggil seseorang.
__ADS_1
***
Roni berlari menuju ke arah kawasan Ngelarangan. Hujan sudah mulai reda, hanya tetesan kecil dari atas langit. Kaki nya terhenti dibawah pohon antab, Matanya memperhatikan pohon antap itu. Kepalanya menegadah keatas, air menetes netes dari daun daun pohon antab. Lalu kakinya melangkah lagi hingga tepat dibawah pohon antab.
Matanya memandangi sesuatu. Ia melihat Kamera Vito tampak tergeletak dibawah galengan. dipandanginya kamera itu cukup lama.
Lalu turun dari jalan ke bawah galengan. Diambilnya kamera itu, kini kamera ada ditanganya, Layarnya masih menyala namun body kamera basah oleh air hujan.
Matanya tak berkedip sekalipun. Sosok Penari Ronggeng yang sangat cantik terpapang dilayar. Penari Ronggeng itu sedang duduk dibawah pohon antab, Tiba tiba layar bergeser dengan sendirinya. Menampilkan foto-foto Penari Ronggeng yang mungkin telah di ambil oleh Vito.
Roni tertegun melihat apa yang tengah terjadi. Bulu romanya berdiri saat itu juga.
tekk....
layar kamera mendadak retak.
Bess....
asap keluar dari kamera itu dan layar kamera tiba tiba mati.
Mas... panggil seorang pemuda dari atas galengan.
‘’ Mas... sedang apa?’’ tanyanya sekali lagi.
‘’ Saya lagi lihat...
Seketika itu Roni kaget bukan main. Kamera yang sedari tadi, digenggamanya telah hilang. Menyadari kameranya telah hilang, Roni kebingungan lalu memanjat menemui dua pemuda itu.
‘’ lihat apa Mas? Sampean bukan orang sini ya.’’ Tanya pemuda itu
‘’ Iya mas, saya bukan orang sini. Saya sama teman-teman datang ke sini dan teman teman saya sedang dirumahnya pak Surip. ‘’ jawab Roni dengan terbata bata
‘’ mau kemana Mas?’’ Tanya Roni pada dua pemuda itu,sambil menguasai kebingunganya
‘’ Ini Saya mau mupu, dibawah pohon antab. ‘’
‘’ Mupu itu apa ya mas? ‘’
__ADS_1
‘’ Mupu itu anu... membuat perangkap untuk laron, sejenis serangga. Nah nanti bambunya ini dilengkungkan mengitari bolongan laron itu mas. Terus di kasih daun-daun diatasnya. Kan nanti jadi gelap, laronya jadi pada keluar tapi nanti di bolonganya dikasih plastik. Nanti laronya pada masuk kesitu mas. Jelas Pemuda bernama Amir
ia terlihat sangat kesulitan menjelaskan kepada Roni. Namun Roni sedikit mengerti dengan penjelasan Amir. Sedangkan pemuda yang satunya diam, Sepertinya ia tidak bisa berbahasa indonesia. Roni memang mengerti bahasa Jawa, namun bahasa Krama alus, sedangkan Amir dan Fauzan berbicara menggunakan bahasa daerah desa Silurah.
‘’ Mas.. saya mau nanya, Apa dulu didesa ini, pernah terjadi sesuatu? Apa ada orang yang meninggal, dengan tidak wajar?’’ Roni bertanya
‘’ Kata emak saya ya mas, dulu itu ada asli Ronggeng sini. Yang meninggal secara tragis mas, didalam gunung Raga kusuma, gunung ini , sambil menunjuk ke arah rumpunan pohon bambu.
‘’ Setahu saya begitu.
Begini saja mas, sampean mampir kerumah saya, nanti bareng sama saya. Nanti Ibu dan bapak saya akan cerita.’’
ajak Amir
Roni tampak ragu. Namun akhirnya mengiyakan. Setelah difikir fikir waktunya cukup. Lagipula ini dirasa kesempatan untuknya, memperoleh informasi yang banyak mengenai Ronggeng yang meneror Ratih.
kedua pemuda itu meminta ditunggu, karena akan memasang perangkap terlebih dahulu. Mereka dengan cepat menancapkan bambu yang sudah dibuat kecil kecil, disekitar lubang laron.
Lalu segera menutupinya menggunakan daun daun banyak diatasnya agar didalamanya gelap. Lalu memasang plastik dan perangkap telah jadi. Kata pemuda itu, ditinggal saja pulang kerumah dan besok pagi akan kembali lagi kesitu, untuk mengambil laronya.
Roni mengangguk tanda setuju. Lalu dua pemuda itu mengajak Roni untuk pulang. Mereka bercengkrama selama perjalanan pulang ke rumah Amir.
Hingga Roni lupa kalau ia telah melewati rumah Pak Surip. Ia menjadi lupa, kalau Vito sedang menggigil.
Ah mungkin dia sekarang uda membaik, pikirnya dalam hati
***
Hujan telah benar benar reda. Hujan telah tuntas tak ada lagi rintik-rintik air. Kabut telah menyingsing dari dari desa Silurah. Membuat desa Silurah tampak hijau nan asri. Senja tiba muncul dilangit-langit Silurah yang tampak indah.
Terdengar suara bedug ditabuh, menandakan akan segera adzan. Dan selang beberapa saat, suara adzan telah terdengar dari dalam mushola desa Silurah.
Yang bisa mendengar mungkin hanya orang yang melewati samping mushola itu. Kebetulan Roni dan dua pemuda itu sedang melintas disamping mushola.
‘’ lampu mati po Zan ‘’ (apa listrik padam Zan) Tanya Amir pada Fauzan.
‘’ Hoo, kozone lestrek mati,mer!
__ADS_1
( Iya, sepertinya listrik padam,Mir ) Jawabnya.
Listrik di desa Silurah malam itu ternyata padam.