
Kulihat Anggi mulai menyeka air matanya dan berjalan pelan ke arahku. Anggi langsung memeluku. Sambil terisak-isak, Meminta maaf keapadaku. Aku pun tak tahan melihatnya begini, aku ikut terisak isak.
Kami semua sepakat untuk menghadapi ini semua bersama sama. Rasa marah dan egois diantara aku dan Anggi mulai reda. Aku pun paham dengan situasi seperti ini, seseorang kerap merasa putus asa. Apalagi denganku. Yang telah putus asa dengan penyakit anehku.
Aku dan Anggi berjalan bergandengan tangan. Kami berjanji tidak akan ada lagi, perselisihan diantara kita.
Kami serempak mengikuti langkah kaki Pak Supri dengan kayu bakar yang dipikul dipundaknya. Kulihat Roni mencoba membantu Pak Supri. melihat Pak Supri basah oleh air keringat, Roni menawarkan diri untuk membawakanya. Diam- diam Roni membuatku kagum lagi.
‘’ Rat, lo lagi liatin Roni ya?’’ bisik Anggi.
Anggi ternyata mengetahui diriku, yang diam-diam memperhatikan Roni.
‘’ ih enggak. Aku lagi liatin itu tuh, kayu gede banget. ‘’ jawabku sambil terbata-bata
‘’ alah boong lo. Lo suka kan sama Roni ‘’ Ledeknya
Aku bagaikan mendapat sengatan listrik. Apa yang harus kujawab dengan pertanyaan konyol itu.
‘’Apaan sih Nggi, gue sama Roni itu cuma teman. Aku Cuma kagum aja, sama dia. ‘’ jawabku lebih santai.
Kenapa aku malah menjawab gurauan Anggi, dengan jawabanku yang semakin membuat Anggi terus meledeku.
Aku segera menguasai diri. Aku mencoba jalan terlebih dahulu, karena jalanya sempit dan menurun. Aku sedikit mempercepat langkah karena tak mau digoda terus-terusan. Sedangkan Vito, kulihat masih asik dengan kameranya.
Kami melewati sebuah area rumpunan pohon bambu yang sangat lebat. Terasa sangat dingin ketika kami berada dibawahnya. padahal waktu siang hari.
Kata Pak Surip, jika berada dibawah rumpun pohon bambu itu akan terasa dingin. ketika sudah keluar dari area tersebut, dingin yang menyejukan itu akan hilang. Kami mendengarkan cerita dari Pak Supri sambil berjalan.
Tiba-tiba kakiku terkilir, karena jalanan sedikit licin. Aku terjatuh dijalanan yang turun itu.
Roni langsung memberikan kayu itu pada Pak Supri dan segera menuju kearahku.
‘’ kamu nggak papa? ‘’ tanya Roni padaku.
‘’ nggak papa kok Ron. Jalanya tadi licin, aku terpeleset.’’ Lirihku.
‘’ sini,aku bantu bangun ‘’ sembari memegang tanganku
__ADS_1
‘’ ehem … batuk nih ‘’ Ledek Anggi.
‘’ hayo… kalian tertangkap basah, sedang bermesraan.’’ Ujar Vito sambil merekamku dan Roni.
‘’Kalian apaan sih. Bukanya nolongin’’ celetusku.
Kini kurasakan wajahku memerah seketika. Ditambah malu dengan Roni, ngapain juga aku harus jatuh gini sih, malu-maluin aja. Gumamku.
Kulihat Roni berjalan lagi. Aku pun melakukan hal yang sama. Diikuti oleh Vito dan Anggi yang tampak cengengesan.
Kami menemukan pemandangan yang cukup langka setelah itu. Dibawah rumpunan pohon-pohon bambu. Ada beberapa Batu yang ditata menjadi tiga-tiga dan disekitarnya terdapat Wajan yang cukup besar.
Di sekitarnya tampak bersih, rumput-rumput tak menumbuhi tempat itu, sepertinya telah dibersihkan oleh warga setempat.
Pak Supri Berkata, kalau besok didesa Silurah akan ada acara tahunan, di kawasan rumpunan bambu-bambu ini.
Kata Pak Surip kawasan ini bernama ngelarangan.
Roni yang selalu penasaran, bertanya kenapa disebut ngelarangan. Tampaknya Pak Surip tidak keberatan dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Roni.
Makanya disebut kawasan ngelarangan kita dilarang memotong atau menebang pohon bambu yang ada dikawasan ini.
Kami mendengarkan penjelasan dari Pak Surip dengan seksama. sesekali kami mengangguk-angguk.
Tanpa terasa, kami sudah sampai dijalan aspal. Sebentar lagi, kami akan tiba di desa Silurah.
Tepat disamping jalan. Terdapat batu yang sangat besar. Batu itu ditumbuhi oleh lumut-lumut. Menambah suasana mistis di kawasan ngelarangan.
kami dibuat ternganga oleh pohon yang sangat besar, yang tumbuh dikawasan ngelarangan tersebut. Pohon itu mirip seperti pohon beringin, Namun batangnya tidak seperti pohon-pohon pada umumnya. Ada semacam sekat sekat.
Menurut penuturan warga sekitar, pohon itu dulunya telah dicoba untuk ditebang, Namun mesin penebang kayunya malah patah. Sudah berkali-kali mencoba ditebang, tetapi selalu gagal.
Warga sekitar percaya, jika pohon itu ada penunggunya. Maka setiap jumat kliwon, pohon itu diberi sesaji. Begitu kata Pak Surip menjelaskan.
****
Akhirnya Kami telah sampai di desa Silurah. Setelah melewati teror yang mencengkangkan, membuatku dan Anggi hampir saja berseteru.
__ADS_1
Tubuh dan pikiran ini terasa sangat lelah sekali. Ingin rasanya langsung ambruk dikasur. Kulihat rumah-rumah warga yang mulai terlihat. Rumah Pak Surip berada tepat memasuki desa Silurah. Bisa dikatakan, rumah pertama memasuki desa Silurah.
Dari jalan, akan langsung terlihat rumah kecil diatas undukan tanah. Lalu kami diajak Pak Surip untuk beristirahat di rumahnya. rumahnya tampak sederhana, Atapnya terbuat dari anyaman dari daun, sedangkan dindingnya dari kayu.
Kami masih berdiri didepan rumah, Pak Surip segera mengajak kami untuk masuk. Lalu kami memasuki rumah itu, mengikuti Pak Surip. kudapati kursi kayu yang kuno, tapi masih agak bagus.
Kami serempak mengistirahatkan tubuh dan pikiran dikursi kuno itu. Selang kemudian, seorang wanita yang tidak terlalu tua, membawa nampan mendekati kami. Mungkin wanita itu adalah istrinya Pak Surip.
Nampan itu diletakan dimeja. berisi singkong rebus,ketela rebus,sawi rebus semuanya direbus. Dan tak lama kemudian, Pak Surip datang membawa teh hangat.
‘’di monggo, ngapuntene le, ndok. wonten e kados niki ‘’
( silahkan, maaf adanya seperti ini )
kami hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu Roni berterima kasih, dengan menggunakan bahasa jawa.
Pak Surip dan Istrinya ijin ke belakang sebentar. Dan kami mempersilahkanya.
Aku,Anggi dan Vito hanya memandangi makanan yang tersaji diatas meja. Tak sedikitpun kami menyentuhnya. Lalu Roni mengambil teh dan meminumnya.
Lalu mengambil makanan yang ada dimeja itu, yang sembari tadi dibiarkan begitu saja. Roni menyuruh kita ber tiga untuk memakanya, namun serempak kita bertiga menolaknya.
Aku memang belum pernah mencoba makanan desa itu. Rasanya tidak menggugah selera,namun hanya kusimpan didalam hati. Tak kuucapkan, Begitupun juga dengan Anggi dan Vito.
‘’ Nggak baik, menolak pemberian orang lain. ‘’ suruh Roni pada kami.
Aku langsung mengambil teh yang ada didepanku. Kurasakan pahit, mengalir di tenggorokanku. Tehnya sangat pahit, sepertinya tidak dikasih gula.
Anggi dan Vito yang melihatku tampak mengernyutkan wajah dan Bertanya seketika itu.
‘’ kenapa Rat? Lirih Vito
‘’Teh nya pahit’’ ujarku lirih
.
Kulihat Roni melakukan hal yang sama, Serentak Vito dan Anggi mencicipi tehnya. Dan seketika itu mereka memuntahkanya.
__ADS_1