
Matahari telah keluar dari peraduanya. Menyinari rumah-rumah,kebun-kebun,hutan-hutan,sawah-sawah,jalan- jalan, yang terasa lembab,basah dan dingin. Embun pagi itu masih bergelantungan didedaunan.
Celah-celah yang tak dapat disinari oleh sinar matahari tetap menjadi dingin dan gelap. Menjadi sarang nyamuk,sarang hewan,sarang kegelapan,sarang misteri hingga sarang kemistisan.
Tempat yang tidak bisa terjamah oleh sinar matahari salah satunya adalah rumpunan pohon bambu yang ada dikawasan ngelarangan. Pohon bambu itu berdiri kokoh diereng yang diatasnya berdiri gunung Raga Kusuma.
Sinar matahari jatuh ke bumi memberikan kehangatan bagi manusia. Seakan menghilangkan jejak kejadian-kejadian yang menyeramkan yang dialami oleh Ratih,Anggi,Vito dan Roni. Setidaknya, pagi ini berhasil membuat mereka bernapas dengan lega, bernapas sejenak, beristirahat sebentar dari teror-teror malam yang mencengkam. Mereka telah berhasil melewati malam itu, yang sejatinya menyimpan beribu ribu teror demi teror. Namun tidak tau dengan pagi ini, siang ini atau menjelang malam lagi. Apakah mereka akan melewatinya dengan cucuran keringat,ketakutan,kesedihan atau bahkan lebih dari itu.
Kira-kira pukul 07.00 pagi, Satu persatu warga desa Silurah datang menuju kawasan ngelarangan. Ibu-Ibu menenteng ceteng dipinggulnya dan Bapak- Bapak membawa ceteng dipundaknya.
Ibu Ibu memakai kain jarit dan kebaya. Sedangkan Bapak- Bapak memakai celana hitam dan Batik.
Mereka berbondong bondong melewati jalan utama desa Silurah dengan berjalan kaki, jalan aspal yang mulai mengelupas ditengahnya, dipinggir, membuat kerikil-kerikil berserakan. Jalanan menjadi berlubang. Namun masih layak untuk dipandang.
Ditepi jalan nampak bersih, rumput-rumput liar tidak menjalar memenuhi tepian jalan. Rumput-rumput telah ditebas oleh warga beberapa hari yang lalu. rumpunan pohon bambu melambai lambai, bergerak,berdesir menari lebih dulu sebelum Ronggeng datang untuk menari.
Dalam sekejab, Warga desa Silurah telah memenuhi kawasan ngelarangan. Ceteng yang mereka bawa dari rumah, diletakan dibawahnya. Ceteng itu berisi ambeng yang terdiri dari nasi yang dicetak menggunakan mangkok, dan ada lauk pauknya seperti mie,oseng oseng, gorengan,telur didalamnya.
__ADS_1
Mereka menyebutnya sebagai ambeng, ambeng yang mereka bawa selanjutnya diberikan kepada Bapak-Bapak yang bertugas mengurusi jalanya Tradisi Nyadran gunung itu. Nantinya ambeng- ambeng tersebut dikumpulkan menjadi satu. Lalu dibagikan kembali kepada warga.
Dari atas galeng, tampak Bapak-Bapak lainya bertugas merebus daging kambing, tengah melakukan tugasnya. Kobaran api telah memanasi kuali besar dan wajan. Kuali dan wajan diletakan diatas batu yang sudah ditata sebelumnya. Kambing telah disembelih sejak pagi tadi, Kambing disembelih ditempat tersebut.
Dibawah galengan, nampak undukan tanah berwarna merah kecoklatan. Tanah tersebut masih terlihat baru, didalamnya terdapat Kepala kambing dan darah kambing yang dikubur disekitar tempat itu. Warga sekitar mempercayai hal itu untuk persembahan mahluk halus yang menjaga kawasan tersebut. Agar orang- orang tak diganggu. Agar warga desa Silurah selamat dari marabahaya yang mengintai.
Bapak- Bapak yang berada diatas galengan sesekali menyeka keringatnya yang bercucuran. Mereka menjaga api, agar tidak padam. Sehingga daging kambing akan segera matang. Asap mengepul keluar dari kuali dan wajan besar itu.
Dikanan jalan, berjejer seperangkat gamelan lengkap dengan penabuhnya yang sudah siap. Nantinya akan mengiringi Ronggeng menari.
Sesaji telah ditempatkan diberbagai tempat itu. Dibawah pohon antab,batu besar, dirumpunan pohon bambu,awal memasuki desa Silurah dan disekitar kawasan tersebut.
Lalu ada juga kemenyan yang dibakar, disampingnya ada bawang merah dan cabai merah yang ditancapkan ditanah. Kepulan asap kemenyan, bersatu dengan kemistisan kawasan tersebut.
Dijalan utama digelar selametan, yang menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Diatasnya ada serba tujuh jenis makanan yang diselametkan yang serba berwarna hitam. diantaranya ayam ireng, sego ireng,bubur ireng, kupat ireng, lepet ireng, golong ireng,buju ireng. makanan itu akan dimakan setelah dilakukan doa bersama.
Seorang Bapak berbadan pendek, berkumis tebal maju ke tengah- tengah kerumunan warga. Beliau adalah kepala desa Silurah, yang akan memimpin doa bersama.
__ADS_1
***
Sementara itu, Pak Surip tak ikut warga mengikuti Tradisi Nyadran gunung dikawasan ngelarangan. Pak Surip dan Roni telah berangkat sedari pagi melakukan pencarian.
Mereka sudah mondar mandir mencari sekitar kawasan ngelarangan,di hutan- hutan, gunung Raga Kusuma. Namun belum menemukan mereka.
Roni dan Pak Surip belum terjamah oleh nasi sama sekali sedari pagi. Karena dilanda kecemasan yang luar biasa terhadap hilangnya teman-teman Roni. Mereka tengah mengistirahatkan tubuh yang kehabisan tenaga itu, keringat nampak bercucuran membasahi wajah dan tubuh. Napasnya terengah-engah, Karena telah menuruni lereng yang naik turun.
Dug…
Saat mereka sedang mengistirahatkan tubuh, dari arah belakang terdengar sesuatu terjatuh. Pak Surip dan Roni saling pandang, lalu Roni beranjak dan mencari apa yang telah terjatuh. Matanya mencoba melirik ke arah pohon yang agak besar, akarnya menjalar seperti pohon antab namun tak berukuran besar.
Roni melangkah pelan mendekati pohon itu. Jantungnya berdegub kencang, diikuti oleh keringat yang masih menetes. Ia cukup kaget, dengan sosok yang ternyata adalah sosok yang menjaga Ratih, yang sedang berdiri dibalik pohon itu. Sosok hitam itu menunjuk nunjuk ke arah bawah. Roni telah tau apa yang harus dilakukanya. Mengikuti arahan mahluk itu, nampaknya mengetahui keberadaan Ratih saat ini.
Sebelum itu, Roni berbalik badan dan menghampiri Pak Surip untuk menyuruhnya pulang. Dirinya sudah mengetahui Ratih ada dimana, Pak Surip tak perlu untuk ikut. Pak Surip mengangguk pelan, Pak Surip berkata pada Roni, bahwa ia akan berjalan lewat jalur yang nantinya akan sampai dipemakaman desa Silurah, siapa tau ia akan menemukan Anggi dan Vito disana.
Roni mengangguk tanda setuju, lalu segera mengikuti mahluk itu menuruni jalan setapak yang miring. Sesekali Roni diperlihatkan sosok-sosok yang membuat jantungnya mau copot.
__ADS_1
Tempat ini ia rasakan auranya sangat dalam. Hutan ini menyimpan banyak misteri, yang membuatnya bergidik berkali kali. Jalan setapak berkelok kelok, disekelilingnya ditumbuhi pohon bambu yang sangat lebat, sehingga didalamnya agak gelap, sinar matahari tak mampu menembus tempat ini.